Biodata

Sinta Ridwan, lahir 11 Januari 1985 di salah satu rumah sakit Kota Cirebon, sebuah kota yang berada di pesisir utara Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Dibesarkan di sebuah desa yang secara administratif berada di Kabupaten Cirebon namun posisinya terletak di pusat Kota Cirebon. Di Cirebon, ia tumbuh bersama orangtua yang berwirausaha. Mereka sering berganti usaha mulai dari penjual kain meteran di Tegal Gubuk, penjual baso dan es campur di pelabuhan Tanjung Priuk, supir angkot, usaha angkutan umum, sewa kamar kost, hingga broker kendaraan dan tanah. Besar di kehidupan ekonomi yang naik-turun. Memulai pendidikan dari Taman Kanak-kanak Bhayangkara 46 di Jalan Cipto yang saat ini menjadi kawasan mall terbesar, CSB. Masa kecil dan remajanya dihabiskan dengan mengeksplor wilayah Pecilon Timur dan Pancalang (wilayah perbatasan Cirebon-Kuningan) ketika liburan sekolah. Seperti bermain di sawah, pinggir kali (sungai), depan mushala, naik pohon, main layangan, dan lompat karet, serta permainan anak tradisional lainnya yang musim di akhir tahun 80-an dan awal 90-an. Masa kecil yang dihabiskan dengan bermain sejak sepulang sekolah sampai senja muncul.

Meski kelahiran Cirebon tetapi darah yang bercampur di tubuhnya berasal dari “berbagai etnis”. Dari pihak ibunya berasal dari wilayah Kuningan, Galuh dan Cirebon Girang. Sedangkan dari pihak ayahnya lebih beragam lagi yaitu Purwakarta, Sumedang, Bandung, Karawang, Pagaruyung, Madura, hingga Gowa. Mungkin ada lagi, tapi belum ditelusuri lebih dalam. Perempuan ini memiliki satu saudara kandung adik lelaki yang berbeda usia empat tahun jaraknya. Lanjut belajar di Sekolah Dasar Negeri Pamitran I angkatan 1991-1997, lalu di SMP Negeri 4 Cirebon angkatan 1997-2000 dan lanjut di SMU Negeri 7 Cirebon angkatan 2000-2003. Di masa-masa itu ia aktif mengikuti Pramuka, Paskibra sekolah hingga Paskibraka Kota Cirebon (angkatan 2001), olahraga softball yang ada di sekolah dan di wilayah kota, OSIS dan beberapa kegiatan ekstrakulikuler lainnya juga bermain musik bersama beberapa grup musik band sejak kelas 1 SMP sampai kelas 3 SMA, sedikitnya lima band berjalan bertahap dan stop “bermain” musik sejak pindah ke Bandung, kuliah. Dengan keputusan yang diambil dan dipikirnya sendiri, ia mengambil Jurusan Bahasa di tahun terakhirnya saat SMA. Dari sanalah semakin mengenal dan menyukai bahasa, sastra, budaya, dan sejarah. Bukan hanya materi pelajaran yang menarik untuk dipelajari juga karena beberapa guru telah memberi kesan menyenangkan, sehingga ia betah dan merasa senang berada di dunia itu. Di kelas 3-Bahasa tersebut, ia belajar beberapa bahasa seperti bahasa Jerman, bahasa Jepang, bahasa Inggris dan memperdalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Minat terbesarnya sudah muncul pada dunia kesusastraan dan sejarah budaya Indonesia ditambah mengulik soal aksara, saat itu baru mempelajari aksara Jepang.

Namun sayangnya, minat besar pada sastra Indonesia dan budaya Jepang tersebut tidak kuat dipertahankan untuk melawan keinginan ibunya yang mengharuskan mengambil Jurusan Bahasa Inggris. Sebelum lulus SMA sejak SD sudah diberikan les tambahan untuk belajar bahasa Inggris. Dasarnya memang sudah tidak begitu berminat jadi semakin dipaksa semakin lupa. Sampai-sampai menambah lagi tiga setengah tahun sampai lulus sarjana bahasa dan sastra Inggris di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Yayasan Pariwisata Indonesia – Akademi Bahasa Asing atau disingkat STBA Yapari – ABA. Sebuah sekolah tinggi yang ada di Kota Bandung angkatan 2003 dan lulus 2007. Meski demikian, ia aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan Inggris selama dua periode awal. Di luar kampus, pernah mengikuti program Djarum Cokelat di Pangalengan selama tiga hari di bulan Agustus 2004 bersama sekitar tujuh puluh mahasiswa sewilayah tiga Jawa Barat bersama musisi Nughie. Acara tersebut dikelola oleh Wanadri, sebuah organisasi pecinta alam yang sampai sekarang begitu diimpikan untuk diikuti dan menjadi anggotanya, tapi belum punya keberanian kuat untuk ikut pendidikan dasarnya. Meski tujuh semester memperdalam bahasa dan sastra Inggris, ada kesempatan belajar bahasa Jepang selama dua semester di mata kuliah pilihan dan bekerja sambilan di rumah makan khusus kuliner Jepang pada 2005 selama satu semester. Selain bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran juga magang di sebuah lembaga pendidikan bahasa khusus bahasa Inggris selama dua semester terakhir sambil mengerjakan skripsi yang membahas puisi. Setelah lulus sarjana sempat satu tahun bekerja di lembaga pendidikan bahasa yang sama, yaitu The British Institute.

Sejak 2004, mulai mengenal teater dan sastra. Rajin menonton pertunjukan teater di Sunan Ambu, STSI Bandung dan Rumentang Siang. Pada November 2007, ia mendapat penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi di STBA Yapari-ABA Bandung dengan membuat sebuah jurnal tentang polemik wisata penyu di Cilacap, Jawa Tengah. Hijrahnya masa kecil sampai SMA di Cirebon ke masa kuliah di Bandung dan hidup seorang diri membuat pelatihan tersendiri tentang mengenal dan menjalani hidup. Lingkungan dan orang-orang yang berbeda setiap pengalamannya berpengaruh pada laku sosial yang lebih senang memilih untuk sendiri meski memiliki banyak kenalan ditambah pada masa tersebut harus berusaha menstabilkan keseimbangan kesehatan fisik dengan waktu yang terus berkejaran dengan mimpi-mimpi yang dibangunnya. Meski kuliah di dunia bahasa dan sastra Inggris, ia juga memiliki kegiatan “khusus” yaitu bulak-balik ke Rumah Sakit Hasan Sadikin setiap bulan. Termasuk keluar masuk laboratorium darah dan mengikuti seminar kesehatan yang diselenggarakan di Jurusan Farmasi kampus Institute Teknologi Bandung. Kegiatan khusus ini membuatnya mengenal istilah kesehatan yang pernah menjadi minatnya pada saat berumur 10 tahun. Sewaktu kecil pernah bercita-cita menjadi dokter. Sejak divonis sebagai penderita lupus oleh dokter pada 2004 itulah mengapa ada kegiatan tambahan tentang kesehatan dan senang mengobrol dengan dokter penyakit dalam untuk menambah pengetahuan.

Setelah lulus dan bekerja pada lembaga pendidikan yang ada di gedung pascasarjana Dipati Ukur membuat minat untuk belajar bahasa selain Inggris dan mendalami sejarah dan budaya semakin besar sehingga pada 2008 memutuskan untuk keluar kerja dan mengganti status dari seorang karyawan kontrak menjadi mahasiswa magister di Universitas Padjadjaran. Pada saat itu yang dirasa sesuai dengan minat sastra, bahasa, sejarah, dan tidak membahas bahasa Inggris lagi adalah Jurusan Filologi yang sebelumnya ilmu tersebut sama sekali tidak diketahuinya. Disertai rasa penasaran dan ketertarikan tersendiri juga hasil berbincang dengan orang-orang yang tahu Jurusan Filologi seperti Kimung (penulis buku sejarah musik metal di Ujungberung) yang adalah lulusan sejarah Universitas Padjadjaran dengan menyebut dua contoh filolog keren yang membuat semakin penasaran yaitu F. Nietzsche dan Edi S. Ekadjati. Termasuk hasil dirinya mengobrol dengan Soni Farid Maulana (penyair dan wartawan di Bandung) yang pada saat itu menjadi obyek penelitian sewaktu mengerjakan skripsinya yang mengangkat tema puisi dan proses menulis para penyair, yang juga mendukung ketika mengutarakan minat untuk lanjut studi filologi. Dengan modal nekat dan uang pas-pasan hasil bantuan beberapa orang terdekat dan mengumpulkan sisa-sisa gajinya berhasil melanjutkan pendidikan di tingkat master Jurusan Filologi atau sebutan ilmu lainnya yaitu kajian naskah kuna atau sastra kuna yang ada di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (sebelum berganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya beberapa tahun lalu).

Munculnya kendala biaya dan keinginan membuat penelitian akhir yang tidak biasa, menyeret waktu kelulusan yang seharusnya empat semester menjadi tujuh semester. Selama menjadi mahasiswa master itulah berkesempatan belajar banyak soal sejarah, tradisi, budaya, bahasa dan sastra masa lalu di Nusantara. Mengenal naskah kuna sebagai obyek penelitian ilmu filologi membuat mengenal dunia puisi dan mengunjungi situs-situs bersejarah termasuk museum di kota lain. Selama belajar berkenalan dengan peninggalan masa lalu dan bertemu banyak lingkungan baru sementara sifat menyendirinya semakin merajalela di tubuhnya, membuatnya sebuah catatan tertulis yang kebanyakan berbentuk puisi. Beberapanya dikumpulkan dan diterbitkan secara manual dengan cara diprint lalu ujung kertasnya dibolongi untuk dijahit benang kasur sebagai jilidnya. Ada beberapa puisi yang dimusikalisasi beberapa musisi seperti Mukti Mukti, Aulia Akbar, Egi Fedly dan beberapa lagi. Kumpulan puisi yang dibuat sekitar 400-500 eksemplar secara berkala itu sebagian besar diberikan cuma-cuma selain dijual dengan harga Rp. 17.311 kepada kenalan-kenalan dan yang menjadi teman sejak 2009 hingga Mei 2010. Buku mini tersebut berjudul Secangkir Bintang. Sejumlah puisi di dalamnya pernah dimuat di lembaran kolom puisi halaman Khazanah koran Pikiran Rakyat antara 2008-2009. Sebelumnya, pernah mengirim puisi berbahasa Cirebon pada lomba puisi bahasa daerah yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat dan memperoleh juara tiga. Puisi yang menang itu berjudul “Kala Wangsakerta” pada November, 2008.

Selama bekerja di lembaga pendidikan sampai menjadi mahasiswi magister ia punya hobi baru yaitu menulis catatan di blog yang terkoneksi daring, Multiply. Dari sanalah awal mula mendapatkan banyak kenalan maya yang menjadi kenalan di kehidupan nyata, hingga sekarang, seperti Gustar Mono (aktivis) dan Arut S. Batan (ilustrator). Catatan-catatan yang ada di blog tersebut selain informasi pernaskahan kuna juga pengalaman perjalanan hingga bercerita bagaimana menjalani kondisi tubuh yang memiliki lupus. Dari blog (yang sekarang sudah dihapus meski banyak memiliki kenangan itu) duniasintaridwan.multiply.com inilah ia belajar menulis cerita dan mengenal banyak kegiatan komunitas yang ada di Bandung, mulai dari komunitas metal sampai komunitas kreatif lainnya di Bandung sejak 2007. Berawal dari keisengan mengirim kumpulan catatan yang ada di blog kepada penerbit besar Gramedia dan ditolak mentah-mentah, malah membuatnya menjadi serius menggarap tulisannya menjadi lebih rapih dan mengirimkan kembali kepada penerbit yang berbeda, yaitu Penerbit Ombak yang ada di Yogyakarta. Tak disangka tak diduga, mereka tertarik menerbitkan meski menambah banyak catatan untuk direvisi.

Proses penulisan naskah ini sejak akhir 2009 hingga April 2010. Diterbitkan pada Mei 2010 sebanyak 4500 eksemplar untuk cetakan pertama. Dari pemasukan royalti penulis itulah membantu segi keuangan selama menjadi mahasiswa magister hingga lulus. Sampai 2012 buku kumpulan catatan pribadi yang diberi judul Berteman Dengan Kematian: Catatan Gadis Lupus telah dicetak sampai empat kali, tiap-tiap cetakannya setelah cetakan pertama sebanyak 5000 eksemplar. Sejak menjadi mahasiswi Jurusan Filologi dan beberapa kenalan meminta untuk dikenali ilmu “yang aneh dan tidak biasa” ini, sejak Agustus 2009 ia membuat sebuah kelas belajar-mengajar aksara-aksara kuna secara gratis untuk umum sampai pertengahan September 2013. Secara rutin kelas diadakan setiap Jumat malam diikuti berbagai kalangan dari muda hingga tua, beragam latar pendidikannya juga. Sering juga diminta secara khusus berbagi informasi mengenai aksara Sunda di beberapa kegiatan seperti penyambutan mahasiswa baru di beberapa fakultas, bercerita di komunitas, karantina Mojang Jajaka Kota Bandung, sampai event-event besar seperti mengisi stand di konser musik metal, dan acara juga kegiatan lainnya.

Sambil tetap belajar menulis puisi, mengajar aksara kuna dan melakukan perjalanan ke daerah-daerah untuk memperluas pengetahuan, sekaligus penelitian lapangan dan belajar menulis yang baik juga tetap menulis tugas akhir yang akhirnya selesai karya akhir tersebut untuk master setebal 1500 halaman HVS mengangkat naskah kuna di pesisir utara Cirebon dengan judul “Mitos Masyarakat Pesisir Cirebon Serat Satriya Budug Basu: Kajian Filologis” ini membawanya lulus pada 2011, meski harus berada di detik terakhir dan melampaui beberapa kendala administrasi. Selama kuliah magister, ia mendapat bantuan biaya kuliah dari Penerbit Ombak dan pengelola Wacana Nusantara yaitu organisasi pecinta sejarah dan budaya yang pernah membuat game Nusantara Online berisi konten peperangan tiga kerajaan besar di Nusantara. Seminggu setelah lulus master, kelas belajar aksara kuna didatangi program acara Kick Andy Hope yang memberi dukungan moral dan finansial untuk terus menggeluti aksara dan naskah kuna. Sebelum Kick Andy datang beberapa media cetak, online, dan televisi membahas Kelas Aksara Kuna dan buku Berteman Dengan Kematian. Kemudian kegiatan tulis, belajar, dan mengajar tersebut membawanya mendapatkan beberapa pernghargaan seperti Kick Andy Award – Young Hero pada 2012 lalu Netty Award Istri Gubernur Jawa Barat dan Republika pada 2012 juga.

Dimulai dari 2011 sampai awal 2013 mengelola toko buku dan aktif melakukan beberapa kegiatan di Gedung Indonesia Menggugat bersama beberapa kawan. Toko buku kecil tersebut merupakan kerjasama Penerbit dan Toko Buku Ultimus Bandung dengan pengelola Gedung Indonesia Menggugat di daerah Jalan Perintis Kemerdekaan, Bandung lantai dua. Namanya IM Books. Rutin mengadakan kelas gratis dan acara diskusi serta mengobrol soal musik, pengetahuan, bahasa, aksara, budaya, usai menonton film bersama dan diskusi isu-isu lainnya. Dari belajar mengelola toko buku tersebut, dapat menambah pengetahuan soal perindustrian buku, manajemen perbukuan hingga lingkungan penulis dan penerbitan buku. Setelah setahun lulus master, mendapat dukungan kembali ketika lolos seleksi memperoleh Beasiswa Unggulan Calon Dosen (nama sekarangnya BPPDN) dari Dirjen Pendidikan Tinggi atau DIKTI demi melanjutkan pendidikan program doktor di Universitas Padjadjaran dengan jurusan sama yaitu Ilmu Filologi yang dimulai pada 2012. Sampai dua semester, ia menikmati status menjadi mahasiswa S3 tiba-tiba mendapat tawaran untuk program belajar di Prancis. Sejak akhir semester satu ngebut belajar bahasa yang belum pernah dipelajari sama sekali, bahasa Prancis di Institut Français d’Indonésie. Dengan mengikuti seleksi antar-negara ketiga di Asia, akhirnya terpilih mendapatkan beasiswa dari Erasmus Mundus Mover untuk program doktor di Université de La Rochelle yang ada di Prancis Barat. Sejak akhir September 2013 berangkatlah ke Prancis dengan modal bahasa Prancis yang sangat minim dan nekat, serta persiapan seadanya.

Hampir delapan bulan tinggal di La Rochelle. Langkah kakinya diajak juga ke beberapa negara seperti Rusia, Jerman, Belgia, Belanda dan beberapa kota di Prancis. Sebelum pulang ke Indonesia pada akhir Juni 2014 sempat dua kali mengunjungi Perpustakaan Leiden di Belanda untuk mengambil beberapa foto naskah kuna dari Nusantara. Sempat tinggal enam bulan di Cirebon Selatan (Juli 2014 hingga Januari 2015) sambil membangun rumah dan perpustakaan kecil. Kemudian Februari 2015, kembali hidup di Paris dan melanjutkan menggarap beberapa proyek yang belum selesai dan tulisan-tulisan yang masih tergantung di ujung ruangan. Dengan mengisi hari-harinya di Paris sambil mengerjakan penelitian mengenai pengobatan tradisional yang tertulis di naskah kuna pesisiran utara di Jawa Barat, juga sambil menyempurnakan proyek museum digital aksara aksakun.org terkait naskah-naskah kuna Nusantara, termasuk menulis tulisan pendek dan tulisan panjang mengenai hal-hal yang menarik minat. Di samping itu kegiatan lainnya adalah menonton film, merancang dan merintis kios daring Godong Semanggén. Ia juga asyik berlatih dan bereksperimen mengolah masakan tradisional Indonesia dan Prancis untuk dapat disajikan pada ritual makan malam. Terakhir, belajar gerak badan silat untuk terapi kesehatan tubuhnya dengan ikut bergabung bersama PGB Bangau Putih Cabang Paris sejak awal Oktober 2015. Pada November 2015 pernah mengikuti sebuah pengadilan rakyat di Den Haag untuk kasus kelam dan sejarah gelap di Indonesia pada 1965. Merupakan sebuah pengalaman yang luar biasa berada di kegiatan tersebut. Saat ini sedang menjalani dan menyelesaikan beberapa rencana penulisan dan proyek-proyek indie lainnya.

Ia suka mengumpulkan buku bergenre sejarah, bahasa, sastra, seni, pariwisata, dan budaya juga senang melakukan perjalanan atau sekadar main, mengunjungi museum dan tempat bersejarah, serta mencoba makanan tradisional. Hingga sekarang masih berjuang menyelesaikan sekolahnya dan berniat jika selesai akan melanjutkan di program yang lainnya lagi. Masih tetap menyukai kesendirian, menggunakan waktu dan semangat untuk menulis puisi dan cerita-cerita pendek yang dicobanya dikirim ke media, mengoleksi kacamata baca berbingkai besar dan lebih memilih berkegiatan nulis di dalam kamar sambil mendengarkan musik kesukaan yang enak didengar. Di Paris, sesekali saat akhir pekan mengunjungi pasar brocante atau flea-market sambil asyik memilih vinyl, buku dan pernak-pernik jadul. Dan baru saja berhenti mengemil daun teh melati sejak awal Oktober 2015 demi kesehatannya dan masih sedikit mencemil biji kopi. Cemil-cemilan itu seperti yang dilakukan ibu dan almarhum neneknya.

Sangat menyukai kopi ekspresso tunggal untuk penutup makan malam dan memilih minum es teh tawar untuk menemani makan apapun di mana pun sewaktu di Indonesia. Sedangkan selama di Paris lebih memilih banyak minum air putih dan ragam jus buah segar. Dengan berat badan hampir 40 kilogram dan tinggi badan hampir 163 centimeter ini hanya mengetahui tiga bahasa ibu yaitu bahasa Cirebon, bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Akan terus mempertahankan kewarganegaraannya sebagai WNI sampai kapanpun. Penyuka buah-buahan apa saja, hobi tidur lama dan nonton film romantris-drama. Kini usianya sudah tiga puluh dua tahun. Merupakan salah satu jenis manusia yang sangat moodian, kaku dan canggung dalam berkomunikasi dan pemalu ini memiliki impian punya kebun buah dan sayuran serta sawah yang luas. Impiannya ingin berkebun dan punya rumah di daerah pegunungan serta menjadi pustakawan yang perpustakaannya memiliki banyak buku dan dibuka untuk umum. Lebih senang memilih cuaca dingin daripada harus berkeringat dan kepanasan karena akan berimbas pada kesehatannya meski dalam keadaan kedinginan pun imbasnya sama-sama ngilu.

Anehnya, sangat suka memasak untuk orang lain, tetapi tidak suka memasak untuk dirinya sendiri. Menyukai makanan pedas dan cenderung asin. Tidak menyukai makanan dan masakan manis. Ia membawa cabai bubuk nanami togarasi dari Jepang ke manapun. Baginya tanpa cabai bubuk itu, hidupnya seperti hambar. Saat itu sering membeli pepohonan kecil yang disimpan di kamarnya yang ada di sekitar Paris VII. Baginya, merawat tumbuhan dan berbagi rasa dengan mereka merupakan salah satu terapi untuk pikiran dan tubuhnya juga. Untuk mengabadikan momen dalam hidupnya, selain menulis, menggunakan iPhone tipe 4 warna putih dan kamera Canon LSR D600 pemberian Datascrip (di acara Kick Andy, 2012) yang juga untuk mendokumentasikan naskah kuna. Saat ini asyik mengetik ria di MacBook Air 11″ inchi. Sampai kini, masih tidak suka mengikuti trend fashion atau gaya hidup modern. Sangat bisa terbawa suasana bila mendengar saluran radio yang menyiarkan lagu-lagu kenangan dan cinta tahun 70-an, 80-an, dan 90-an, Nostalgie. Paling tidak bisa menahan diri kalau ke pasar loak, apalagi toko buku dan musik. Saat ini masih asyik mencatat semua impian, keinginan, dan cita-cita pada sebuah buku yang sering dibukanya kembali tulisan itu untuk memberinya semangat menjalani hidup. Ia pernah belajar mengikuti terapi pernapasan, pikiran juga hati dengan mendengarkan kelasnya Gede Prama via dokumentasi audio. Sambil mewarnai doodle dan mandala sebagaimana seorang psikolog menyuruhnya untuk belajar fokus. Karena salah satu akibat dari lupus adalah berkurangnya fokus dan konsentrasi selain melemahnya daya tahan tubuh akibat stress dan depresi. Karenanya belajar meditasi adalah cara untuk belajar memaknai kehidupan.

Sekitar akhir Maret, 2016, ia memutuskan kembali ke Cirebon, kota kelahirannya. Tujuannya demi menyelesaikan penelitian disertasi dan fokus menulis novel tentang tradisi pesta laut yang baru diselesaikannya setahun kemudian. Selama di Cirebon membuat acara dan kegiatan yang berhubungan dengan situs, literasi, dan kopi. Kini sedang fokus menggerakkan usaha kios daring Godong Semanggén, menunggu selesainya novel yang akan diberi judul Pulang Memeluk Laut, pernah berjualan kaos bertuliskan Berteman dengan Kematian dan aksara Sunda kuna yang tak dinyananya begitu banyak peminatnya sejak akhir November 2016 hingga Februari 2017. Ia memiliki ketertarikan dan sebuah nazaar untuk membuat dokumentasi soal perkopingopian di wilayah III dan sekitar Gunung Ceremai. Masih berusaha menyelesaikan peta interaktif dan memulainya segera pendokumentasian aksara yang pernah hidup di Nusantara. Saat Mei, 2016, pernah masuk rumah sakit untuk pertama kalinya. Dan diketahui selain penyakit lupusnya masih aktif, meski tidak meminum obat-obatan sama sekali, terdapat dua buah tumor jinak di dalam rahimnya. Hingga kini, ia masih menjalankan rutinitas dengan segala batasan yang bisa membuatnya jatuh kelelahan dan harus menghabiskan waktu dengan memutuskan diri untuk tidur lebih lama dari orang sehat.

Namun begitu, kebiasaan memakan biji kopi masih saja dilakukan, bahkan merokok. Ia berusaha menikmati hidupnya dengan melakukan apa yang menurutnya baik dan benar. Berusaha agar hatinya tidak menangis dan sedih berlebihan karena akan berpengaruh pada fisik dan mentalnya. Ia sedang menikmati hawa panas di Cirebon, dan berusaha agar bisa pindah ke tempat lebih dingin dan tinggi. Saat ini ia kembali menggunakan MacBook putih yang dicicilnya sejak 2008, laptop pertamanya, ditemani iPad Mini II, dan masih menggunakan iPhone 4 ditambah kamera Sony A5000. Semua peralatan itu berwarna putih, warna kesukaannya. Demikian sedikit biodata yang sudah beberapa kali mengalami perubahan, pengurangan dan tambahan tiap kalimatnya. Untuk cerita selanjutnya akan dilengkapi lewat tulisan-tulisan yang ada di pojok-pojok ruang sintaridwan.com ini. Salam hangat darinya dan penuh semangat, Sinta Ridwan.

Paris Tujuh, 19 Januari 2016 – Cirebon Selatan, 22 April 2017