Aku Mau Hidup

Oleh Pikiran Rakyat |

Penulisnya Kang Ahda Imran, bisa dianggap Abang sekaligus Bapak selama aku tinggal di Bandung. Aku kaget mampus ketika tahu dia menuliskan ini untuk korannya tempat beliau bekerja dulu. Sebagai anak yang suka mengirim puisi dan ditolak untuk dimuat olehnya, ditulis seperti ini bikin terharu, hehehe. Foto di atas pada saat launching buku Berteman dengan Kematian pada 10 Mei 2010.

Sinta Ridwan, “Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi”

Satu kata yang patut ditiru dari gadis 25 tahun ini, “semangat”. Ya, di antara hari-harinya yang dibayangi penyakit lupus, Sinta Ridwan tak pernah patah semangat untuk membuat banyak karya. Menulis puisi, dan novel menjadi salah satu bagian hidupnya. Kajian naskah kuno pun jadi pilihannya untuk dieksplorasi.

Dan benar kata Bung Chairil Anwar. Aku mau hidup seribu tahun lagi

Demikian Sinta Ridwan menulis di halaman terakhir bukunya, Berteman dengan Kematian: Catatan Gadis Lupus (Ombak: 2010). Sebuah penutup yang terasa berbeda dengan judul buku tersebut. Namun, tampaknya gadis cantik kelahiran Cirebon 11 Januari 1985 ini, merasa perlu menutup bukunya dengan cara seperti itu untuk melukiskan semangat hidupnya. Meski tahu, sebagai orang pengidap lupus (odapus) ia setiap hari harus berteman dengan ancaman kematian melalui penyakit yang terus mengancam berbagai organ tubuhnya.

Buku ini diluncurkan di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung, Minggu 9 Mei 2010, bertepatan dengan peringatan Hari Lupus Sedunia. Lewat buku yang ditulis dengan gaya catatan harian itu, Sinta tak hanya menuturkan ihwal penyakit lupus dan bagaimana mulanya ia divonis menjadi seorang odapus. Akan tetapi, nyaris mengisahkan seluruh dirinya, dari masa kecil, perceraian kedua orang tuanya, kematian orang-orang yang disayanginya, perjuangannya bekerja keras di Bandung, gaya hidup, hingga perubahan besar pada dirinya dalam memandang hidup ketika lupus bersarang dalam tubuhnya.

Dan satu hal yang amat terasa dalam buku ini adalah semangat hidup. Semangat seorang gadis yang sejak remaja ditempa oleh berbagai pengalaman pahit. Tak cukup hanya penderitaan psikologis akibat keluarganya yang berantakan, penderitaan fisik akibat lupus pun harus diterimanya. Dan itu terjadi ketika ia sedang tumbuh sebagai seorang mahasiswi yang penuh dengan cita-cita.

Namun, lupus tidaklah lantas menyurutkan semangat hidup dan cita-citanya. Meski penyakit yang belum ada obatnya ini telah menyerang tubuhnya, setamat menyelesaikan pendidikan di sebuah sekolah tinggi bahasa, sambil bekerja, Sinta meneruskan pendidikannya ke Pascasarjana Jurusan Filologi Unpad. Kini, sambil menyelesaikan tesisnya, ia masih terus menulis puisi. “Secangkir Bintang” merupakan kumpulan puisinya yang pertama.

Semangat ini pula yang terasa dalam gaya penulisan bukunya. Seluruh penderitaan sampai yang paling mendebarkan sekalipun, ditulis dengan gaya khas anak muda. Polos, santai, penuh celetukan konyol, dan jauh dari tujuan mendramatisasi nasib demi mendapat empati, apalagi untuk minta dikasihani. Justru dengan cara seperti inilah kesedihan itu amat terasa. Kebersahajaan dan kepolosan seorang gadis menuturkan penyakit yang mengancam jiwanya, tanpa sedikit pun ia mengeluh.

Ingin menulis novel

Bersahaja dan polos, begitulah Sinta Ridwan dalam kesehariannya. Berpakaian santai, selalu berbicara diiringi senyum, kadang terkesan manja dan agak cerewet. Namun sesekali ia bisa bicara penuh semangat, terutama tentang nasib naskah-naskah kuno yang tak terawat dan banyak diperjualbelikan ke negara asing. Atau tentang aksara Sunda, perjalanannya meneliti naskah kuno ke berbagai kota di Kalimantan, cita-citanya meneruskan studi ke Leiden Belanda, atau mendirikan perpustakaan naskah-naskah Nusantara. Termasuk ceritanya tentang Naskah Wangsakerta.

“Saya ingin menulis novel tentang Wangsakerta,” ujar gadis manis ini bersemangat. Wangsakerta merupakan seorang pangeran Cirebon yang merupakan tokoh penting dalam proses penulisan sejarah Nusantara tahun 1698.

Memang aneh, di tengah kegandrungan anak-anak muda memilih studi bidang keilmuan yang mudah mendapatkan lapangan kerja, gadis yang pernah menjadi pemain sofbol dan vokalis group band di Cirebon ini, memilih bidang studi filologi yang melulu mengurusi naskah kuno. Alasan ia memilih kajian sastra kuno atau filologi tak bisa dilepaskan dari kesukaannya pada sastra.

Di bidang yang satu ini, gadis yang sebelumnya perokok dan suka begadang ini telah menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul “Secangkir Bintang”. Dengan mengesplorasinaskah naskah kuno, gadis ini juga berharap bahwa suatu hari ia bisa menjadi pengajar atau peneliti yang bisa berkeliling dunia.

Karena itulah, puisi dan nasib naskah-naskah kuno, merupakan topik obrolan yang paling disukainya. Bahkan, jika ia sedang bercerita tentang naskah-naskah kuno tampak bahwa pembicaraan itu lebih menarik baginya ketimbang membicarakan penyakit lupus yang ada dalam tubuhnya.

Sinta menuturkan bahwa ia kerap merasa kurang nyaman berada di tengah berbagai kegiatan perkumpulan pengindap penyakit yang dilembagakan. Namun ia merasa terpanggil jika ada orang yang mengajaknya membicarakan kasus penyakit lupus.

“Tapi saya harus mempersiapkan mental agar saya tidak terpancing ke dalam suasana yang menyedihkan, sehingga membuat saya sendiri jadi gelisah dan cemas. Saya harus menerima semuanya dengan lapang dada. Dulu ketika saya divonis mengidap lupus saya marah dan kecewa sekali. Tapi sekarang ia saya jadikan teman,” katanya.

Sejak ia divonis mengindap lupus tahun 2006, Sinta giat mencari tahu tentang penyakit tersebut. Dari mulai pengalamannya sendiri, konsultasi dengan para dokter yang merawatnya, hingga mencari berbagai buku dan referensi di internet. Karena penyakit mengerikan ini dalam dunia medis belum ada obatnya, maka bagi Sinta obat itu harus ada dalam diri seorang odapus. Dan itu adalah semangat hidup dan merasa berbahagia.

“Saya ingin sekali merasakan obat itu, karena saya ingin sembuh. Dan obat itu adalah kebahagiaan,” ujarnya dengan semangat.

Akan tetapi bagaimanakah memunculkan bahagia sedangkan lupus terus menyerang organ tubuh dengan ancaman kematian? Tentu saja tak mudah, terlebih lagi kebahagian itu sangat relatif. Demikian pula bagi Sinta. Namun baginya, sebagai odapus kebahagian itu adalah dengan memaknai hidup dan menghargainya.

Tentu manusiawi sekali jika ia pun merasa takut pada kematian. Akan tapi, seperti juga pada penyakitnya Sinta memandang ketakutan pada kematian itu sebagai teman. Dan itulah yang membuatnya bisa memandang ke arah sebaliknya, ke arah bagaimana menghargai dan memaknai hidup dengan sebuah semangat.

“Saya masih ingin hidup. Hidup harus hidup. Tapi jika memang kematian itu akhirnya datang, yang saya takutkan hanyalah saya mati sendirian tanpa ada siapa pun,” ujar gadis yang hingga sekarang keluarganya belum tahu bahwa ia mengidap lupus. (Ahda Imran)***

Sumber: Koran Harian Pikiran Rakyat, 30 Mei 2010

Kategori: Kliping dan Tulisan.