Apresiasi Tinta

Oleh Sinta Ridwan

Sebelum saya menyajikan hasil wawancara dengan seorang perempuan spesial ini, saya ingin bercerita terlebih dahulu awal mulanya saya bertemu dan kenalan dengannya.

Alkisah, pada suatu hari di 2009, saya ingat betul kala itu Juni tetapi tidak ada hujannya. Tempatnya di Yogyakarta, saya dikenalkan teman dekat saya (waktu itu) dengan seorang perempuan satu-satunya di tengah kerumunan pemain musik indie yang genrenya ada elektronik, ambientexperimental, dan apa-apanya lagi saya lupa.

Mereka yang terdiri dari beberapa grup musik dari Bandung itu sengaja datang satu rombongan memakai bis itu datang ke Yogyakarta. Tujuannya hendak main musik di dua kota. Kalau tidak salah ingat di Yogyakarta dan Semarang.

Seorang perempuan ini bukan dari Yogyakarta, bukan juga dari Semarang atau pun dari Bandung. Dia datang dari Surabaya. Saya, sebagai orang yang menganggap Surabaya itu jauh dari Bandung dan belum pernah ke sana, merasa heran dan bertanya-tanya, lagi apa dia sebenarnya di Yogyakarta ini? Jawabnya sambil senyum, hanya ingin nonton gigs ini. Gigsnya rombangan dari Bandung ini.

Kening saya mengkerut. Apalagi setelah tahu dia datang sendirian dan hanya melihat kawan-kawannya main musik lalu kembali pulang ke Surabaya.

Anitha Silvia

Untuk saya pribadi. Saya belum pernah sampai segitunya datang sengaja melewati kota demi nonton musik. Seringnya saya menonton acara musik di kota saya tinggal, tidak sampai ke luar kota. Kalau pun keluar kota, itu karena ada musisi dari luar Indonesia yang manggung di Jakarta. Dan jarak Bandung ke Jakarta tidak seperti ke Surabaya atau Yogyakarta.

Bahkan alasan saya ada di Yogyakarta saat itu, bukan untuk melihat teman dekat saya main musik. Saya sengaja datang dari Bandung hendak berkunjung ke perpustakaan Sanabudaya dekat Keraton Ngayogyakarta, untuk meminta kopian naskah kuna sebagai bahan kajian penelitian master saya. Kebetulan waktu itu saya punya waktu luang jadi saya samper teman dekat saya ini ke tempatnya istirahat dan berkumpul bersama kawan-kawan lainnya. Itu pun bukan sekadar main, tapi karena ada urusan tertentu, memberikan apa begitu, saya sampai lupa.

Jadi perempuan ini niat benar! Pikir saya.

Bahkan katanya, dia sering dan bisa datang ke Bandung, Jakarta, Semarang, atau Yogyakarta dari Surabaya saat Sabtu atau Minggu. Dan kegiatan antarkota itu bisa langsung pulang-pergi demi datang ke acara gigs musik atau pameran seni dan lainnya.

Serius saya terpukau. Apalagi ia juga suka menulis pengalamannya dan disebarkan di media sosial lengkap dengan foto jepretannya. Semenjak pertemuan di hari itu, saya pun berteman dengannya.

Dari medsosnya, saya bisa mengikuti atau sekadar tahu apa yang sedang ia lakukan. Tahun-tahun terakhir, saya suka mendapat kabar kalau dirinya sering membuat acara di kotanya sendiri, ya di Surabaya, bersama kawan-kawannya. Mengadakan acara dan kegiatan selain musik indie, diskusi soal dunia perbukuan, termasuk seni kontemporer. Selain itu acara-acara di kota lain yang membuatnya tertarik, masih didatangi, dan sengaja dikunjungi sampai sekarang.

Tahun kemarin (2014) saya sempat khawatir padanya, karena acara diskusi dengan tokoh sejarah Harry A. Poeze dari Leiden, sang peneliti sejati Tan Malaka yang dibubarkan paksa. Saat saya mencari tahu keadaannya bagaimana, ia langsung membalas kontak saya yang kala itu sedang berada di La Rochelle. Ia memberi penjelaskan mengenai kronologi yang terjadi dan mengabarkan dirinya juga kawan-kawan di tempat diskusinya di Surabaya baik-baik saja. Saya pun bisa tidur tenang.

Di tengah kegiatan-kegiatan yang dilakukannya saat ini, saya melihat ada usaha untuk membuat ruang publik di Surabaya. Katanya, untuk mewadahi kreativitas anak-anak muda di sana. Bagi saya, ia seorang pendukung karya-karya teman-temannya sendiri maupun seniman muda lainnya, yang lahir secara terbatas dan masih di lingkungan minoritas.

Ia mampu mengapresiasi karya teman-temannya salah satunya dengan mendatangi acara yang berlangsung. Bagi saya, adanya apresiator-apresiator macam dirinya, yang dapat membuat karya-karya seni, musik, bahkan keberadaan benda/tempat bersejarah dan beragam bentuk kreativitas anak muda lainnya menjadi lebih hidup.

Membuatkan karya itu ada dan didukung keberadaannya agar tetap menjadi ada.

Akhir kata, tak usah berpanjang-panjang lagi tuturan dari saya. Sekarang ayo kita masuk ke wawancara-wawancaraan saya bersama perempuan yang biasa saya panggil Mbak Tinta ini lewat surat elektronik.

*

Hai, Mbak Tinta. Saya boleh ya tanya-tanya.

Halo, Sinta!

Mbak, Tinta. Sebelum bahas kegiatanmu yang seabrek itu, boleh dong saya minta biodatamu dulu. Biar lebih tahu Mbak Tinta ini dari mana sih asalnya.

Nama lengkap Anitha Silvia. Saya lahir di Jakarta, 30 Agustus 1983. Ibu saya asalnya dari Pasuruan dan ayah saya dari Tual, Maluku Tenggara. Sedihnya, saya belum pernah menjejakkan kaki di Maluku.

Saya sekolah di SD Strada Bhakti Utama di Bintaro, Jakarta Selatan. Lalu SMPN 19 di Mayestik, Jakarta Selatan. Dan SMUN 70 di Bulungan, Jakarta Selatan. Nah, saat kuliah saya baru hijrah ke Surabaya mengambil Jurusan Administrasi Negara, FISIP, Universitas Airlangga.

Nah kan, saya jadi tahu kalau Mbak Tinta ternyata lahir dan besar di Jakarta. Selama ini saya mengira Mbak Tinta lahir dan besar di Surabaya. Orangtua masih tinggal di Jakarta sekarang? Di Surabaya ada keluarga?

Bapak dan Mama saya pisah sejak awal tahun 2000-an, tapi belum cerai. Bapak tinggal di Jakarta. Mama tinggal di Banyuwangi. Di Surabaya ada satu keluarga, keluarga besar dan suami sepupu saya, mereka tinggal di Jalan Plampitan, kampung tua di Surabaya, saya sering berkunjung ke sana karena kampungnya bersejarah dan nyaman.

Jadi begitu. Saya lanjut ya, apa kegiatan terbaru Mbak Tinta? Sedang mengerjakan kegiatan apa saja di Surabaya?

Masih bergerak di C2O Library & Collabtive. Kami pindah ke rumah baru dengan program yang baru pula, selain ada perpustakaan, juga ada galeri, artist residency, dan co-working space.

Di C20 Library & Collabtive itu, Mbak Tinta berperan dan mengurusi kegiatan apa saja di sana? Artis atau seniman yang bagaimana yang bisa tinggal dan membuat karya di residensi senimannya?

Saya koordinator untuk program Manic Street Walkers dan turut serta mengerjakan program lainnya di C2O Library & Collabtive. Kalau di kartu nama tertulisnya sebagai Public Relations C2O Library & Collabtive, karena saya sering keluar kota dan jalan-jalan di Surabaya bertemu dengan beragam individu dan organisasi.

Program artist residency masih digodok, jadi sementara ini masih bersifat undangan dan sesuai dengan kebutuhan C2O Library & Collabtive. Seniman yang datang juga bisa hanya menyewa kamar, lalu membuat karya sesuai dengan kebutuhan si seniman. Tahun depan semoga sudah berjalan program artist residency itu.

Program terbaru yang lagi dikerjakan adalah Surabaya Johnny Walker (bisa dilihat di link ini www.surabayawalk.com). Itu program tur jalan kaki berbayar di Surabaya.

Program berjalan kaki yang gratis tetap ada, namanya Manic Street Walkers. Nah, program kami lainnya adalah Ayorek! Yaitu semacam platform distribusi atau produksi pengetahuan perkotaan di Surabaya (bisa dilihat di sini www.ayorek.org).

Saya merasa heran, kenapa program gerakan utamanya adalah jalan kaki? Apa ada misi tertentu soal kemacetan atau gaya hidup? Karena setahu saya Surabaya panas sekali udara dan hawanya, meski belum pernah ke sana tapi saya langsung ciut kalau diminta jalan kaki berpanas-panasan. Siapa saja peserta yang datang ikut-serta kegiatan ini? Apa yang dilihat dan dikunjungi selama berjalan kaki bersama?

Kami percaya bahwa dengan berjalan kaki akan membuat kota Surabaya lebih baik. Ini adalah salah satu bentuk kontribusi kita sebagai warga kota Surabaya. Mulai dari mengurangi polusi udara (dan kemacetan) hingga membuat hati dan pikiran lebih santai sambil mengenal lingkungan sekitar. Berjalan kaki membuat kita lebih peka dengan permasalahan yang ada di kota, sehingga kita bisa lebih bijak merespon masalah kota ini.

Kendalanya adalah buruknya kondisi transportasi umum di Surabaya. Sehingga membuat yang berjalan kaki menjadi moda transportasi yang sangat tidak populer di kalangan warga sendiri. Tapi kami pelan-pelan mengkampanyekan pentingnya berjalan kaki di kota Surabaya. Sinar matahari yang melimpah di kota Surabaya perlu disyukuri, sebelum berjalan kaki pastikan perut tidak dalam keadaan kosong (atau bisa makan sambil jalan kaki), membawa air mineral dalam botol, atau memakai topi. Itu triknya.

Peserta Manic Street Walkers kebanyakan mahasiswa Surabaya, jumlah peserta tiap tur sekitar 10 orang. Tur biasanya tematik, seperti yang terakhir kami lakukan adalah berjalan kaki menyusuri Jalan Walikota Mustajab yang memiliki deretan toko tua dan depot makan serta kampung di belakang jalan tersebut. Kami berkunjung ke toko perlengkapan olahraga dan pemilik tokonya bercerita mengenai sejarah dan kegiatan tokonya sekarang menjadi seperti apa. Lalu kami mencicipi makanan yang dijual di sekitar jalan dan berkunjung ke rumah warga di Kampung Ketabang yang berada di belakang Jalan Walikota Mustajab.

Lalu apa saja kegiatan lain yang sedang dilakukan di luar C2O, Mbak Tinta?

Saya masih bekerja di event-organizer SATSCo dan tahun ini saya mulai menjadi manajer grup musik folk dari Surabaya, Silampukau, yang sekarang sedang sibuk tur album perdana judulnya Dosa, Kota & Kenangan. November ini Silampukau tur di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Keduanya itu (EO dan menjadi manajer Silampukau) adalah pekerjaan saya sekarang. Jadi saya harus bisa bagi waktu lagi. Itu resiko.

Sekarang isu kekinian apa yang masih menjadi ketertarikan Mbak Tinta dan yang sedang dikerjakan?

Saya masih tertarik dan penasaran dengan isu-isu internet dan sharing culture melalui Indonesian Netlabel Union (INU). Di tahun ini akan menyelenggarakan acara online, MP3 Day dan tahun depan ingin sekali melanjutkan Indonesian Netaudio Festival, festival offline dua tahunan INU (bisa dilihat di www.indonesiannetlabelunion).

Mendengar MP3 Day saya jadi ingat di kalangan anak-anak muda di beberapa kota di Indonesia justru sedang mengembalikan musik ke rumahnya. Seperti bentuk kaset dan piringan hitam sebagai bentuk dokumentasi musik yang baik dan bahkan trend ini menjadi gaya hidup tersendiri. Bisa menikmati musik dari fisiknya langsung. Sementara sisi lain, keberadaan MP3 membuat perkembangan tersendiri di dunia permusikan salah satunya, entah itu baik atau tidak. Nah, bagaimana menurut Mbak Tinta menyikapi dua hal ini?

Jumlah anak-anak muda yang kembali mengkonsumsi rilisan fisik (kaset, CD, vinyl) hanyalah sedikit jika dibandingkan jumlah anak muda di Indonesia. Anak-anak muda yang mengkonsumsi rilisan fisik hanya di skena musik independen yang jumlahnya tidak banyak (dan mereka adalah kelas menengah). Jadi kami melihat fenomena di masyarakat yang masih sangat mengkonsumsi musik dengan format MP3, distribusi MP3 dengan bluetooth, menjual MP3 dengan harga 10.000 rupiah mendapatkan 100 lagu dengan format MP3. Distribusi rekaman audio lawakan lokal di daerah Jawa Barat dalam format MP3 (aku lupa nama grup lawaknya tapi semua anak-anak kecil di desa-desa suka sekali mendengar lawakan lokal ini).

(Sambil geleng-geleng kepala) Hmm, gila ya, saya kagum sama Mbak Tinta. Sampai saat ini masih saja segudang kegiatannya dan mempertanyakan bagaimana cara membagi waktunya. Saya juga suka mengikuti informasi dari medsos yang dikelola Mbak Tinta. Keheranan saya misalnya, di dalam satu minggu, Mbak Tinta bisa datang dan muncul di acara-acara yang diselenggarakan di dua atau tiga kota. Nah, ceritakan dong pengalaman tur sendirian pergi antarkota seperti itu. Sejak kapan awalnya? Terus yang menjadi kriteria acara yang harus Mbak Tinta datangi itu yang seperti apa? Kenapa harus sampai “bela-belain” datang dukung langsung teman-teman yang berkarya oleh seorang Tinta? Apa salah satu kriteria acaranya itu adalah acara yang dibuat dan diisi kawan-kawan dekat Mbak Tinta saja?

Sejak saya pindah ke Surabaya tahun 2001, saya mulai berkelana. Awalnya karena tinggal di Jawa Timur adalah hal yang baru dan menarik bagi saya. Lalu tahun-tahun berikutnya saya berkunjung ke Yogyakarta dan Malang untuk menikmati pertunjukan musik dan pameran seni karena di Surabaya masih tidak banyak kegiatan seni saat itu.

Niatnya, saya mendukung acara-acara tersebut dengan datang sebagai penonton. Acara yang saya datangi biasanya digelar organisasi atau kolektif yang sudah saya kenal di dunia maya atau melalui rekomendasi kawan, mulai dari event kecil sampai festival. Mulai dari teman sendiri yang organize sampai orang lain yang tidak saya kenal.

Tema seperti musik, urban dan sejarah selalu menarik perhatian saya. Tentu saja akan senang sekali berkenalan dengan orang-orang baru yang punya minat yang sama. Saya juga bisa belajar dari acara yang saya datangi. Mulai dari belajar bagaimana cara menyediakan konsumsi pembukaan pameran sampai ke pengelolaan konsep acara.

Bagaimana pendapat pribadi Mbak Tinta tentang pergerakan independen di musik, seni dan kegiatan lainnya di beberapa kota yang sering dikunjungi? Kota mana saja yang menurut Mbak Tinta pergerakannya “terkeren” dan menginspirasi kota lain? Acara atau kegiatan apa yang bikin Mbak Tinta sangat bahagia bisa mendatanginya dan sangat menyesal karena tak bisa menghadiri?

Selama ini, saya hanya mengunjungi sejumlah kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Malang, dan Semarang untuk menikmati acara-acara di sana. Semua kota yang saya datangi punya kesan masing-masing dan memberi inspirasi yang berbeda.

Dulu, saya datang ke gigs di kota lain untuk menyaksikan band-band lokal yang saya temukan di Myspace. Lalu bertemu offline dengan band tersebut (termasuk bertemu penyelenggara acaranya juga) adalah suatu kebahagiaan buat saya.

Musik adalah salah satu bentuk pengetahuan. Mencari musik itu seperti mencari ilmu. Selama masih di Pulau Jawa, saya masih bisa berkeliling kota-kota di Jawa karena biayanya masih terjangkau dan waktunya masih cukup aman untuk tidak terlalu meninggalkan pekerjaan saya di Surabaya.

Bagaimana caranya Mbak Tinta membagi waktu dan budget pengeluaran untuk ongkos serta mengurus penginapannya selama berada di kota-kota tersebut?

Hidup di Surabaya termasuk murah. Biaya kost per bulan Rp. 300.000,- lalu biaya makan sekitar Rp. 25.000,- per hari. Paling banyak saya belanja buku dan rilisan fisik musik. Setelah menyisihkan uang untuk Mama, sisa pendapatan saya biasanya untuk perjalanan keluar kota.

Saya biasanya naik kereta api mulai dari ekonomi sampai eksekutif (atau untuk bisa lebih hemat naik bis eksekutif). Cara menghemat saya biasanya perjalanan langsung pulang pergi jadi tidak perlu ada biaya penginapan, jika butuh menginap saya mengandalkan kawan-kawan baik untuk menumpang bermalam di rumahnya (termasuk kamu, Sinta).

Untuk membagi waktu, saya biasanya pulang-pergi, atau bepergian saat tidak ada aktivitas di Surabaya. Waktu bepergian tidak selalu di akhir pekan, karena di akhir pekan saya biasanya kerja di Surabaya. Saya selalu terhubung dengan internet. Karena itu adalah hal penting untuk bisa membagi waktu dan mengatur sejumlah proyek yang bisa dikerjakan lewat internet.

Minta lima list musisi atau band lokal yang sering didengarkan saat ini.

Silampukau, Sigmun, Zoo, Sajama Cut, dan Orkes Moral Pengantar Minum Racun.

Apa gigs pertama yang Mbak Tinta tonton dan yang terakhir didatangi? Di daerah mana serta kegiatan apa yang paling jauh lokasinya dan yang paling lama tinggalnya?

Gigs pertama yang saya tonton di luar kota Surabaya adalah The Sastro di Malang, lupa tahun berapa. Yang terakhir pertunjukan musik pembukaan Biennale Yogyakarta 2015 yang menampilkan Senyawa dan Punkasila.

Bandung adalah kota yang terasa paling jauh saat perjalanan dari Surabaya (biasanya saya ke Bandung naik kereta api dan bis). Tahun 2014 lalu saya rutin ke Bandung untuk mempersiapkan Indonesian Netaudio Festival yang ke-2.

Pada akhir tahun 2011 saya resign dari pekerjaan tetap saya lalu tinggal di Yogyakarta selama kurang lebih setahun pada tahun 2012. Kebetulan saya mempersiapkan Indonesian Netaudio Festival yang pertama di Yogyakarta pada tahun 2012. Setahun tinggal di Yogyakarta, pekerjaannya hanya datang ke pameran seni, diskusi buku, diskusi lainnya, dan menyiapkan INF. Berasa liburan panjang di Yogyakarta. Antara Yogyakarta dan Surabaya berjarak 6 jam, jadi saya lumayan sering bulak-balik Surabaya-Yogyakarta.

Apa impian dan keinginan Mbak Tinta dalam hidup ini?

Nah itu, saya juga tidak tahu pasti apa impian dan keinginan saya. Saya ingin sekolah lagi tapi malas untuk berkomitmen untuk belajar. Saya ingin pergi ke Sumatra, Kalimantan, dan Maluku.

Soal impian, saya mungkin tidak punya impian.

Selama ini, saya hanya menjalankan hidup ini saja dengan lebih baik, lebih banyak baca buku, lebih banyak berolahraga, dan lebih banyak mencari uang, hahaha, karena kebanyakannya saya bikin proyek-proyek itu tidak ada uangnya.

Apa harapan dan impian Mbak Tinta buat grup band lokal, senimannya, serta penggerak dunia kreatif?

Tidak menyerah dengan karya yang akan dibuat, sedang dibuat, atau yang sudah diciptakan, trial and error, memperluas diri dengan menjadi penikmat karya orang lain.

Menurutmu, apa kelemahan pemerintah daerah dalam hal mewadahi kreativitas anak muda di kotanya sendiri?

Sistem pendidikan di Indonesia yang perlu diperbaiki. Banyak sekali kekurangannya yang malah tidak mendukung kreativitas manusia.

Berharap pemerintah daerah membuat transportasi publik yang layak dan terjangkau karena mobilitas adalah salah satu kunci kreativitas. Pemerintah daerah juga diharapkan bisa membuat infrastruktur yang baik seperti community center, perpustakaan, taman, museum, galeri seni, dan dukungan dana kepada seniman.

Kalau di Pemerintah Kota Surabaya sendiri masih bersifat top down dan hanya menjalankan program saja, tidak ada empati terhadap subyek. Tidak ada transparansi dana program juga, jika kami terlibat di program tersebut. Kami anak muda belum dianggap partner yang setara, hanya sekadar vendor program.

Antara Paris dan Surabaya, 17 Oktober – 2 November 2015

*Gambar: https://www.facebook.com/anitha.silvia?fref=ts untuk kontak langsung Mbak Tinta bisa menghubungi alamat surelnya di anithasilvia[at]gmail.com dan bisa melihat foto-foto aktivitasnya di https://instagram.com/anithasilvia/. Foto saya waktu di Paris, 2015.

Kategori: Tulisan dan Wawancara.