Bagaimana Latih Naga

Oleh Sinta Ridwan

Setelah sekian lama menunda nonton film animasi satu ini sekitar dua-tiga tahun, akhirnya pecah juga tengah malam tadi. Langsung, saya jadi ingin mengetik semacam ulasan(?) untuk sekadar mengomentari film ini. Tidak akan mengulas secara serius. Ulasan ini ditulis karena kekaguman saya. Tidak apa ya? Soalnya saya sedang belajar menulis ulasan.

Tahun lalu, awal 2015, saya kembali ke Paris. Dengan fasilitas internet super kencang sepanjang malam sengaja saya lewati sambil dengar lagu-lagu pengiring film yang hanya memainkan alat musik instrumen atau semacam orkestra secara acak. Semuanya saya dengar. Bahkan saya tidak menentukan lagu mana dan dari film apa. Beruntungnya, di Youtube ada beberapa penikmat lagu pengiring film yang mengumpulkan dan memberi peringkat. Misalnya 10 the best original soundtrack tahun segini-dan-segini. Jadi saya enak, tinggal klik, dan dengar.

Saat itu lagi musim-musimnya ost. Frozen, judulnya Let It Go. Saya suka malas dengar lagu yang lagi musim, tapi terdengar juga karena muncul begitu saja saat saya sedang mendengar kumpulan lagu pengiring film pada suatu malam. Sebenarnya, saya juga sempat sengaja menonton filmnya, ingin tahu. Dan lumayan suka, apalagi penyanyinya sempat datang ke Indonesia hadir di ulang tahun salah satu televisi swasta. Tapi rasa senang itu hanya sebentar dan jadi biasa saja. Lagu ini sengaja saya bawa di tulisan ini untuk “membandingkan” beberapa unsur dan hal soal musik latar/pengiring film. Duh, saya masih belum ketemu istilah dalam bahasa Indonesianya apa original soundtrack. Ada yang bisa bantu?

Sama halnya seperti lagu Let It Go, tetiba saja muncul lagu latar filmnya How To Train Your Dragon (selanjutnya akan disingkat jadi HTTYD). Kalau ada lagu yang saya suka, saya suka berhenti aktivitas menulis, eh, mengetik, saya dengarkan dengan seksama. Lalu saya cari tahu itu lagu dari film apa. Ternyata film tentang naga. Termasuk saat saya dengar lagu pengisi film Avatar. Rata-rata yang saya suka yang bentuknya orkestra, tapi lumayan ada beberapa juga yang genrenya pop atau yang lainnya lengkap dengan lirik lagu.

Judul lagu dari film HTTYD ini Forbidden Friendship, di kepala saya muncul pernyataan, wah ini lagu digarap serius. Ya, seperti lagu-lagu orkestra lainnya, serius. Tapi maksudnya, garapan lagu ini tidak sembarangan. Jadinya saat mendengar terasa ada sesuatu yang bukan hanya enak didengar tapi mendapatkan sebuah rasa. Padahal waktu itu saya belum tonton filmnya.

Kenapa belum mau nonton film itu? Padahal film tentang naga. Dan sebagai penggemar naga, harusnya diikuti. Alasannya karena, sebelum saya pulang ke Indonesia tahun 2014, saya sempat melihat beberapa poster film HTTYD di lorong-lorong metro. Melihat tampang naganya yang polos dan kurang meyakinkan, bikin saya kurang antusias. Naganya kok begitu?

Ternyata salah besar tuduhan saya soal tampang naga hitam di poster film HTTYD yang begitu itu.

Sebenarnya saya mau tulis soal filmnya bagaimana, sampai saat ini saya lumayan percaya bahwa film yang bagus terdapat/diiringi lagu-lagu yang bagus. Saya pernah lihat sebuah film yang tokohnya memiliki pekerjaan membuat lagu untuk film. Di situ saya tahu, ada beberapa film yang mengisi khusus dengan lagu-lagu tertentu yang dibuat khusus untuk film itu dan ada juga yang ambil lagu-lagu yang sudah ada yang sekiranya cocok dengan adegan film. Misalnya pengiring lagu yang saya suka dari sekian yang saya suka dan kalau dengar lagu itu langsung ingat film dan cerita di film. Ada kumpulan lagu untuk film P.S. I Love You digarap beberapa musisi, yang tokoh filmnya juga ada yang berperan jadi musisi. Itu bagus. Ada juga Amélie Poulain yang digarap Yann Tiersen juga lumayan bikin sesak dada.

Ada juga contoh lain, kalau lihat film Disney (nah ini, masuk ke perbandingan film Disney dulu, 60-70 tahun yang lalu. Dengan yang sekarang seperti film Frozen itu), masih ingat film Mickey Mouse yang masih hitam putih belum berwarna? Pengiring lagunya enak, orkestra. Beberapa waktu lalu saya baru tahu proses memasukkan lagunya, langsung dimainkan musik orkestranya ramai-ramai sambil melihat adegan-tiap-adegan filmnya pakai penyorot film. Seru. Bayangkan kalau ada yang salah, diulang lagi. Kalau sekarang, dibayangan saya, mungkin teknologi canggih dapat membantu mempermudah proses itu. Saya tidak tahu apa nama proses dan tekniknya.

Tapi melalui pemilihan lagu Let It Go yang mudah diingat, enak didengar, Disney termasuk yang lumayan memperhatikan lagu-lagu untuk filmnya. Mungkin ini masuk ke dalam strategi pemasarannya, bikin tambah laku. Buktinya film Frozen ini paket lengkap, yang terkenal mulai dari ikon, fashion, lagu, penyanyi, dan filmnya juga. Komplit. Dari anak kecil sampai dewasa bahkan ada yang mengumpulkan pernah-perniknya yang berbau Frozen.

Ya, lagu pengiring film menentukan juga filmnya. Entah itu tingkat pemasaran atau daya sentuh film.

Misalnya ketika ada adegan dalam film itu yang menyentuh sampai bikin menangis, ditambah lagu yangs sedih dan sungguh detail masuk ke dalam pori-pori kesedihan, langsung bisa bray bray nangis si penonton. Atau saat adegan marah, semangat, cinta, perang, dan lainnya. Peran lagu pengiring di sini sungguh penting menurut saya. Kecocokan dan mendapat momen yang pas perlu kepekaan yang lumayan besar. Termasuk soal selera musik si operator film, bisa terlihat juga.

Akan terasa terganggu atau sayang bila adegannya sebenarnya sudah dimainkan dengan sungguh-sungguh tapi lagu pengiringnya kurang tepat.

Saat pertama kali terpukau dengan lagu Forbidden Friendship itu, saya langsung cari tahu siapa yang membuatnya, barangkali saya tahu nama musisinya. Ternyata John Powell. Adalah ahlinya komposer film. Dan ia menggarap kedua seri film HTTYD itu. Saya dengarkan terus setiap malam lagu-lagu lainnya. Wah, seru sepertinya. Jadi terpancing untuk menontonnya. Meski sempat ditunda berapa lama.

Akhirnya saya tonton film itu setelah menemukan kedua serinya di tempat biasa saya nonton film streaming dari internet, teks bahasanya juga sudah dibahasa-Indonesiakan.

Saat saya selesai menonton kedua filmnya di malam yang bersamaan. Banyak pertanyaan muncul, berapa banyak anak-anak di Indonesia, khususnya, yang telah menonton film ini? Atau selain di dunia anak-anak, seberapa besar ketenaran film ini di Indonesia berbagai kalangan. Ada banyakkah yang mengikuti dan mengetahui film ini? Apakah film HTTYD ini beredar dan ditayangkan di bioskop-bioskop yang ada di kota-kota di Indonesia? Sungguh sayang jika film bagus dan menarik ini hanya sedikit yang mengetahui, jika sangat jauh perbandingannya dengan ketenaran film Frozen, atau macam Angry Bird? Memangnya ada ya filmnya Angry Bird?

Saya saja sangat terlambat menonton kedua filmnya di tahun 2016. Karena film pertamanya dirilis tahun 2010 dan yang kedua di tahun 2014. Nah, kenapa saya pesimis menghitung banyaknya penonton film ini di Indonesia, karena jarang lihat tanda-tandanya. Misalnya, saya hampir tidak pernah melihat ada foto anak kecil yang memakai kaos bergambar naga si hitam atau tokoh lainnya dari film HTTYD ini. Sempit juga ya kalau mengukur ketenaran film atau banyaknya peminat film dilihat dari gambar-gambar yang dipakai dalam benda sehari-hari atau benda koleksi. Habisnya, saya suka tidak habis pikir dengan fenomena film Star Wars yang sampai segitunya. Heboh benar! Kok bisa orang-orang dewasa sampai segitunya, ya. Ini hanya pikiran saya saja yang mungkin penyebabnya karena saya belum mau menonton film-film Star Wars. Jadi tidak tahu asyik dan serunya di mana.

Saat saya sedang asyik mencari tahu rumah produksi dan penggarap film HTTYD ini, saya dapat informasi yang menyenangkan. Bakal ada serial ketiga di tahun 2018. Uwow!

Dua seri film HTTYD yang sudah beredar digarap studio animasi Dreamworks. Biasanya studio animasi Pixar yang ada di urutan pertama menurut saya untuk urusan jalan cerita, kualitas gambar, dan lainnya. Bukan, bukan karena Pixar punyanya Prancis dan saya sedang ada di Paris. Tapi serius, bagus-bagus film animasi keluaran Pixar. Studio lain juga ada beberapa filmnya yang bagus, tapi tidak sekuat Pixar. Pixar juga suka digandeng Disney untuk menggarap beberapa fillm dan hasilnya bagus.

Nah, ini tumben. Dreamworks mampu menyajikan kualitas yang keren untuk sebuah film animasi. Atau saya saja yang baru ngeh, baru sadar, dan terlambat. Tapi melihat persaingan antarstudio animasi lumayan keras juga. Bukan menyindir ketertinggalan Indonesia dalam teknik ini yang tidak bisa mengejar, tapi Jepang kalau diperhatikan, jalannya mundur sekali. Terakhir saya lihat film barunya Doraemon, Dragon Ball, dan beberapa lagi. Sama kualitasnya dengan yang saya tonton sewaktu SD. Tidak ada perkembangan yang drastis. Atau Jepang memang sengaja mempertahankan itu? Saya tidak tahu.

Ketika memperhatikan siapa yang membuat ini semua dan mengetahui pola pengerjaannya, hasil sebelum-sebelumnya, standarnya, bahkan karakternya, jadi bertambah pengetahuan tersendiri dan ketertarikan sendiri. Saya suka film animasi, saya juga suka film-film macam superhero Marvel, tapi tetap saya paling suka film romantis dari negara mana pun. Drama-romantis, atau drama-komedi, atau komedi-romantis. Pun film-film biografi-sejarah saya juga suka. Apapun sebenarnya, asal enak dilihat dan enak didengar. Kalau dari awal sudah kurang berkenan biasanya saya tidak lanjut menontonnya. Saya punya standar (selera) sendiri soal film. Kadang cerita cinta-cintaan ala anak SMA di Jepang atau Indonesia, saya bisa tonton juga. Ah, iya, saya juga suka mengikuti film-film produksi Indonesia. Dari yang begini sampai yang begitu, saya ikuti. Kalau film Indonesia, saya secara tidak langsung sedang belajar tentang pola ceritanya. Siapa tahu saya akan menulis naskah film. Siapa tahu. Tapi untuk sekarang saya belum bisa menguasai dan tahu tekniknya, itu kenapa saya sengaja tonton semua film Indonesia kecuali yang setan-setanan, ya.

Kembali lagi ke film HTTYD.

Garapan maksimal dengan eksplorasi teknologi visual yang secara bahasa teknisnya saya tidak tahu, tampak di film HTTYD ini, utuh. Ya, jalan ceritanya bagus, menarik, gambar-gambar ilustrasinya bagus, pemilihan warna, dan lagunya seru, serta aspek lainnya.

Kalau mau dibandingkan lagi dengan Frozen, jangan lha ya. Sama film Le Petit Prince saja. Film itu promosi iklannya luar biasa. Seperti sedang mewakili Prancis sekali (karena ketenaran bukunya). Film ini garapan Prancis dan Kanada, salah satunya studio Paramount Animation. Nah, film Le Petit Prince ini lumayan juga perbedaannya dengan film HTTYD. Entah kenapa, rasanya kurang menggebu dan ikut semangat saat menontonnya. Melihat tampilan visual dan dengar lagunya juga tidak ada kesan yang mendalam. Terlepas dari isi ceritanya Le Petit Prince yang bagus dan berhasil membuat saya menangis berkali-kali nonton filmnya, tapi dari kualitas gambar, warna, dan lainnya, sangat kurang jika dibandingkan dengan film HTTYD ya.

Ya, ulasan ini lebih membahas ke arah kualitas film secara utuh. Di film HTTYD visualnya saya suka, gambarnya tidak aneh dan berlebihan. Nuansa bangsa dan budaya Vikingnya kuat. Detail gurat-gurat naga-naga yang muncul di film ini seru-seru. Apalagi kalau bahas gambar tokohnya, pemandangannya, dan detail-detail lainnya bagus dan maksimal. Saya tidak mungkin bilang film animasi ini film biasa saja. Gambarnya bisa kuat begitu apa karena berasal dari gambar bukunya sendiri? Dari gambar komik (apa animasi) menjadi film animasi (apa kartun) apa bedanya ya? Dan bisa saling mempengaruhi. Contohnya seperti komik Doraemon dan diaplikasikan ke film atau serialnya, tidak beda jauh dari warna sama teknik gambarnya. Hampir sama.

Mungkin gambar dasarnya diambil dari buku animasinya HTTYD. Tapi tetap ada imajinasi yang dikeluarkan di sini. Tiap-tiap pembaca bukunya pun pasti punya imajinasi gambaran sendiri tentang gambar keseluruhannya. Lebih enak sepertinya mengangkat film animasi dari buku animasi, daripada buku cerita yang isinya lebih banyak teks. Jelas lebih membutuhkan banyak imajinasi di sana.

Salah satu alasan saya suka film HTTYD ini karena mengkombinasi cerita legenda, mitos, ada cerita rakyat bangsa Viking, sejarahnya juga nyempil, dan paling utama, ada naganya. Jalan ceritanya mengandung nilai dan menyampaikan banyak pesan. Bukan sekadar cerita bertengkarnya anjing dan kucing yang tiap hari merebutkan makanan atau mencoba saling bunuh. Tapi di film HTTYD ini ada sebuah cerita yang diangkat dari kehidupan masa lampau lewat imajinasi pengarangnya dan bukan sekadar gambar animasi tapi ada banyak yang dikomunikasikan. Misalnya tentang hubungan antara makhluk hidup, manusia dengan naga di film ini.

Saya kepincut film ini karena naganya. Iya, saya penggemar naga. Bisa dibilang saya maniak dengan naga. Meski saya belum sampai tergila-gila mengumpulkan semua hal berbau naga. Tapi ada kecintaan dan kenangan tersendiri mengenai naga. Hampir dibilang obsesi. Imajinasi di kepala saya salah satu tokohnya ada naga. Di film HTTYD, naga berterbangan di mana-mana. Wujudnya macam-macam, ada yang seram, nakal, baik, mulai dari ukuran bayi sampai yang hidupnya ribuan tahun seperti raja diraja penguasa para naga, Si Alpha yang hampir mirip triceratops horridus atau leluhurnya badak(?). Naga tokoh utamanya sendiri, si hitam pas lihat filmnya enggak begitu kok tampangnya. Malah jadi tahu dan suka! Semua imajinasi bentuk naga muncul di film ini, bagaimana saya tidak menjerit-jerit selama film tayang?

Tampang Naga HTTYD

Belum lama, ada film dinosaurus yang tokohnya bernama Arlo. Dino yang bisa bertani dan berternak. Jalan ceritanya bagus dan lucu, tapi secara kualitas untuk ukuran teknologi tahun 2015, apa ya? Kurang. Malah merasa sayang film itu kurang garapan maksimal, tapi saya tidak tahu dan tidak bisa menyebutkan detail kekurangannya. Itu karena dibandingkan dengan film HTTYD. Teknik visual, kekuatan warna dan bentuk yang maksimal, isi cerita bagus, ditambah lagu-lagu pengiringnya yang tidak sembarangan garapannya, berselera (menurut saya yang awam ini ya).

Saya merasa persaingan antarstudio animasi semakin ke sini, semakin canggih teknologi seperti berkejar-kejaran, memanas. Bagusnya, mereka akan memberi penampilan terbaiknya. Jangan sampai hanya mengejar setoran dan akhirnya kurang melihat isi cerita yang ingin disampaikan sendiri, seperti film, ah tak usah disebut lagi ya. Sepertinya tahun-tahun ke depan bakal banyak film animasi lain yang muncul. Saya sebagai penikmat, setia menunggu dan lebih memberi perhatian pada jalan cerita. Buat belajar. Hampir lupa, tahun kemarin juga ada film animasi Tintin dan Asterix, seru ya. Ramai. Tintin bagus. Asterix juga. Catatan untuk kedua film ini mungkin tidak di sini.

Karena saya suka dengan film HTTYD ini dan film ini berdasarkan buku animasi berseri, saya jadi mau punya bukunya dan dua film atau kalau ketemu film serinya juga. Kalau bisa dibawa ke Indonesia nanti nonton bareng anak-anak tetangga sekitar atau di sekolah-sekolah. Dijadwalkan khusus nonton film ini bersama anak kecil di Indonesia, biar bisa berimajinasi bersama dan ngobrol soal naga. Untuk sekadar mengira-ngira naga itu spesies hewan apa ya zaman dulu dan apa masih ada turunannya di zaman sekarang. Kita tidak pernah tahu hewan seperti jerapah, gajak, badak, orangutan, tapir, bahkan tokek, atau hewan lainnya akan bertahan berapa lama sampai hilang musnah dan punah dari bumi ini. Dan puluhan tahun atau ratusan tahun yang akan datang muncul cerita tentang hewan-hewan yang disebutkan tadi, seperti cerita naga dan burung phoenix di kehidupan sekarang yang menganggap keduanya adalah hewan mitologi.

Tulisan ini sepertinya ada yang kurang bila tidak menyebut sedikit saja jalan cerita filmnya. Untuk saya pribadi, saya tidak begitu suka bila diceritakan jalan ceritanya sebelum menonton filmnya. Jadi akan saya bahas sedikit saja di sini. Minimal dengan tulisan ini saya merekomendasikan film ini untuk ditonton yang masih kecil, anak-anak, remaja, dewasa dan tua juga bisa. Satu keluarga menonton bersama pasti seru. Karena ini film bagus. Sayang kalau dilewatkan begitu saja. Karena garapan film ini serius, konsepnya jelas dan luar bisa. Cara penyajiannya sudah yang terbaik sudah diberikan oleh yang menggarapnya. Jadi film ini patut untuk dinikmati orang tersayang.

Saya coba bercerita sedikit tentang jalan ceritanya ya.

Alkisah, ada sebuah desa pada zaman Viking berkuasa. Di mana bangsa Viking tersebut hidup sezaman dengan kehidupan para naga, hewan mitologi yang bersahaja. Anak dari kepala desa yang sejak awal mendapat perlakuan khusus karena peristiwa masa lalu membuat dirinya bertemu dengan petualangan yang luar biasa. Atau ini takdir? Bersahabat dengan para naga, yang awalnya naga adalah musuh para manusia. Dan ternyata itu kesalahpahaman.

Anak kepala desa ini punya bakat dan keahlian mendekati para naga dari ibunya. Ia menganggap naga bisa menjadi teman. Untuk bisa berteman harus saling mengasihi. Sedangkan ayahnya yang keras karena demi apapun ia ingin melindungi anak satu-satunya dan desa yang dipimpinnya, ia menjauhkan manusia dari naga sejauh-jauhnya. Selain itu ia juga membenci para naga karena ada alasannya yang kuat. Hingga pada akhirnya saling pengertian antara bapak, anak, dan naga ada di film animasi yang seru ini.

Ceritanya segitu saja. Saya juga punya kesulitan sendiri jika diminta untuk menceritakan ulang apa yang saya tonton. Saran saya, lebih baik tonton sendiri, apa yang dirasa dan apa yang didapat itu berdasarkan tiap-tiap jiwa. Jadi tiap orang pasti berbeda cara menangkapnya.

Selain cerita singkat, saya juga ingin menyinggung sedikit tentang penampilan para tokoh. Dilihat dari apa yang dipakai dan digunakan dalam kehidupan sehari-harinya. Misalnya seperti pacarnya si anak kepala desa yang gaul dan bergaya anak muda kekinian. Pada seri kedua, perempuan kecil ini memakai celana jeans. Gaya rambutnya juga kekinian, malah seperti dua gadis di film Frozen, ups. Ada dua perempuan di film ini, satu perempuan lagi baru muncul di seri kedua, yaitu ibunya yang selama ini dianggap sudah meninggal karena dibunuh naga. Dan rambutnya, lagi-lagi seperti dua gadis di film Frozen.

Penampilan ibunya juga modis. Selain modis, pilihan hidup sang ibu bikin saya takjub dan merasa ia adalah tokoh terkeren di film ini, bukan sang anak atau sang ayah. Karena, pada saat ia terpisah dengan keluarga dan lingkungannya. Ia punya kesempatan berkali-kali untuk kembali ke keluarganya. Tapi ia lebih memilih mengabdi untuk sesuatu di luar dirinya. Di luar kebutuhan dan kepentingannya sendiri. Ia mengabdi seorang diri, menyerahkan hidupnya demi menjaga dunia naga. Perempuan ini sangat pemberani dan ia peduli pada kelestarian hidup para naga dan melindungi dari manusia-manusia yang jahat, yang suka membunuh naga tanpa alasan apapun.

Jadi begitulah, kenapa saya terpikat film ini. Apalagi ikut membayangkan mulai dari cara berpakaian, cara hidup masyarakat pada masa itu, cara menunggang naga, cara bersentuhan dengan para naga, plus terpikat pada ikatan rambut panjang dan jenggotanya sang ayah yang juga modis dan kekinian. Badan kekar ketika berdansa dengan perempuan yang dicintainya, sambil mengingat apa yang membuat mereka jatuh cinta. Saya meleleh di situ.

Di film ini ada banyak adegan bertengkar dan berkelahi. Meski ada beberapa alasannya. Tapi sebenarnya ada yang ingin saya bahas di sini. Mungkin ini kesempatannya. Meski film HTTYD adalah film animasi yang mengangkat konflik perang dan gaya berkelahinya juga mengangkat karakter tradisional. Maksud saya, di dunia perfilman sedang musim adegan berkelahi, perang, berantem, dan memunculkan unsur kekerasan. Kadang dimasukkan unsur tradisionalnya seperti silat, karate, dan jenis kelahi lainnya. Tapi film-film aksi yang muncul belakangan ini meski sangat menonjolkan adegan beraksinya, berkelahinya, tapi jalan cerita yang diangkat masih banyak yang kurang, bisa jadi malah dilupakan. Ada satu film yang kombinasinya bagus yaitu IP Man. Tapi kalau dibandingkan dengan The Raid bagaimana? Ah, saya tidak mau menjawabnya.

Bukan berarti gaya berkelahi di film HTTYD ini seperti yang disebutkan di atas. Tapi film ini memperhatikan soal komposisi isi, jalan cerita, teknik, aksi, adegan, dan lainnya harus sama-sama kuat dan tidak dipaksakan sekadar pukul sana pukul sini. Bahkan ada beberapa film yang laris, yang hampir melupakan pesan yang harus disampaikan. Lupa bahwa setiap film bertugas untuk menyampaikan misi, pesan, visi, serta memiliki tujuan.

Begitulah kira-kira komentar saya tentang film animasi bagus How To Train Your Dragon ini. Saya akan menanti yang ketiga. Ah ya, meski kedua film seri HTTYD ini digarap John Powell, tapi di sela-sela seri kedua saya seperti mendengar suara Jónsi (vokalisnya Sigur Rós) yang bernyanyi. Setelah saya cek ternyata benar, dia yang membawakan dan menyanyikan lagu utama di serial kedua. Lagunya berjudul Stick & Stones. Dasar, ya! Pantas saja saya suka. Eh.

Paris Ketujuh, 25 Januari & 20 Februari 2016

*Gambar: http://blacknwhitewallpapers.com/black-and-white-how-to-train-your-dragon-2-banner-wallpaper/movies-black-and-white-how-to-train-your-dragon-2-banner-wallpaper/ – gambar kedua: http://animeanimal.deviantart.com/art/How-to-Train-Your-Dragon-DM-162171918 dan untuk bisa dengar lagu komplitnya bisa buka ini https://www.youtube.com/watch?v=SagTkN19veU&feature=player_embedded 

Kategori: Tulisan dan Ulasan.
  • Khemal Andrias

    Setuju teh juara pisan nih film, jadi berdebar.ditambah soundtack yang ciamik, Jadi penasaran seri selanjutnya :D