Bebersih Situs Pejambon

Asal Mula Kegelisahan
Oleh Sinta Ridwan

Pada suatu hari di tahun 2008, saat saya masih kuliah filologi program master semester satu, saya mengunjungi Museum Sri Baduga Bandung. Betapa terkejutnya saya melihat ada tiga arca yang diberi keterangan berasal dari masa Megalitik tempatnya di Pejambon, Kabupaten Cirebon. Tiga arca tersebut di ruangan paling depan bersamaan dengan replika manusia purba yang ada di gua. Begitu antusiasnya saya, sampai saya menjanjikan diri suatu saat nanti harus ke Pejambon!

Sayangnya, sampai tahun 2016, sampai saya harus ke Prancis dulu tiga tahun lamanya, baru kesampaian mengunjungi tempat penyimpanan arca-arca di Pejambon. Pertama kali di akhir Mei 2016, saya mengajak Mas Ayu Yulia dari Yogyakarta, Rahar Palsu dan Bambang Trisunu dari Bandung, Imam Saofi dan Algo Yus Pratama dari Cirebon, serta beberapa kawan lainnya untuk mengunjungi situs tersebut. Dua bulan sebelumnya, saya sebenarnya sempat mencari situs tersebut bersama Ibu dan Kekasihnya, namun tidak sampai mendekat. Hanya melihat dugaan bangunan situs dari jauh. Belum ada kekuatan besar untuk mendatanginya meski sangat penasaran, mungkin karena sudah malam saat itu.

Betapa terkejutnya saya, ketika memandangi arca-arca yang menunggu untuk didatangi, dikunjungi, dan dibelai dengan penuh perhatian. Seolah kakek-nenek-buyut yang sedang menanti lama cucu-cicitnya menengok dan membawa senyum untuk minta didongengkan. Selain menatap kagum karena bentuk arca-arca di dalam situs, meski terjadi penambahan, penambalan pun termasuk pengrusakan pada arca-arca itu sendiri. Saya merasa sedih melihat bangunan yang penuh coretan tidak senonoh, kaca jendela yang pecah, pintu yang tak bisa dibuka, sampai-sampai saya masuk harus lompat dari jendela, lalu sampah non organik berserakan.

Bebersih Situs Pejambon 1

Terlepas dari kondisi bangunan, saya hanya merasa bahwa arca-arca yang ada di hadapan saya adalah kakek-nenek-buyut saya sendiri yang harus tinggal di dalam kondisi atau tempat yang layak dan sepantasnya. Seketika itu juga tangan saya dan Mas Ayu reflek memunguti sampah plastik dan mencabuti rumput di sekitar arca, sambil sesekali meraba-raba arca-arca untuk dapat menemukan sesuatu, dengan perasaan berdebar dan penasaran yang luar biasa. Satu pertanyaan yang muncul saat itu adalah arca-arca ini berasal dari zaman apa dan ditemukan pertama kali di mana.

Hingga akhirnya terceletuk sebuah niat, nanti kalau balik lagi ke situs ini, saya mau bebersih dan mengajak kawan-kawan yang juga punya rasa penasaran dengan arca-arca ini.

Begitulah awal mulanya, meski saya (masih juga) mahasiswi jurusan filologi (kajian naskah kuna) dan bukan berasal dari ilmu yang mempelajari arca-arca, namun niat saya hanya ingin bebersih saja. Entah itu bebersih arcanya sendiri, tempat bangunannya, atau cerita yang beredar. (Foto: Mas Ayu Yulia)

“Arca ini berbelalai,
menyerupai gajah,
tapi ia bukan sembarang gajah,
memegang dua senjata,
tersenyum lebar,
mewadah masa lalu.” – SR

Bebersih Situs Pejambon 3

(Sumber Foto: Mas Ayu Yulia, https://www.facebook.com/groups/1089291874433847/permalink/1359341174095581/?comment_id=1361144740581891&__mref=message_bubble)

***

Cerita Tentang Situs Arca Pejambon
Oleh Miftakhurrokhman Hadi

Situs Arca Pejambon merupakan peninggalan purbakala yang terletak di Blok Pejambon Lor, Kelurahan Pejambon, Kecamatan Cirebon Selatan. Namun, baru tahun sekarang, Pejambon masuk dalam wilayah Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Di Situs Arca Pejambon terdapat 25 arca dengan berbagai wujud yang terkumpul dalam bangunan permanen yang didirikan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang. Bangunan Situs Arca Pejambon atau warga setempat menyebutnya Situs Watu Semar, berada di tepi jalan Ki Ageng Tapa. Tepatnya dalam koordinat -6.737587, 108502420. Bangunan ini berdiri di lahan milik pemerintah Kabupaten Cirebon.

Bentuk arca yang terdapat pada Situs Watu Semar ini beragam. Bentuk tangan dan kaki semuanya digambarkan melekat ke badan yang ditampilkan dengan goresan.

Sejarah Arca-Arca di Situs Pejambon

Menurut Elang Subagyo, pada awalnya arca-arca yang berada di Situs Arca Pejambon sekarang bukan berasal dari satu tempat. Sebelum dipindahkan ke lokasi saat ini, arca-arca tercecer di salah satu pekarangan rumah warga. dan sebelumnya lagi ditemukan di pinggir sungai daerah Pejambon.

Karena beberapa arca bentuknya dianggap mirip tokoh pewayangan Semar, maka oleh warga arca-arca tersebut dinamai “Watu Semar”. Beberapa tahun lalu, satu arca yang mirip Semar dipindahkan ke Pemerintah Daerah Sumber oleh Elang Subagyo. Sehingga ada arca yang sudah tidak berada di tempatnya.

Menurut Kang Jae, pada 2013 ada 27 figur arca dan hanya 5 arca yang dapat diindentifikasi sebagai peninggalan zaman kuna. Sedangkan sisanya adalah karya Mang Cayet, yang merupakan penduduk setempat. Kuncen situs saat ini dipegang oleh Suparta, seorang keponakan Mang Cayet. Namun pada 2016, arca-arca yang tersisa tinggal 25. Diperkirakan sering terjadi pencurian atau pemindahan oleh oknum-oknum tertentu. Sehingga tidak diketahui keberadaan arca-arca asal Pejambon lainnya yang pernah terkumpul dan diketemukan. (Foto: Arut S. Batan)

Bebersih Situs Pejambon 4

Sekilas Sejarah Pejambon

Wilayah Pejambon dahulunya merupakan daerah yang banyak ditumbuhi pohon jambu. Pejambon merupakan daerah kekuasan Cirebon Girang. Sebelum Cirebon Girang berdiri ada Kerajaan Indraprahasta yang didirikan Maharesi Sentanu pada 365 M di wilayah Cirebon Girang, yang sekarang disebut Cirebon Selatan.

Resi Sentanu berasal dari Sungai Gangga, India. Ketika itu kerajaannya diserang Pasukan Samudera Gupta. Maharesi Sentanu melarikan diri ke Salakanagara. Saat itu Salakanagara dipimpin Prabu Darmawirya Dewawarman VIII. Maharesi Sentanu kemudian menikahi Indari putri Dewawarman VIII. Indraprahasta merupakan cikal bakal Cirebon Girang. Kemungkinan besar arca-arca yang ada diperkirakan sebagai wadah ritual kabuyutan masyarakat dan menghadap Gunung Ceremai yang dianggap suci.

Simpang Siur Cerita

Kumpulan arca yang ada di Situs Pejambon sekarang ini, mempunyai beberapa versi cerita dari sumber yang kami dapatkan. Menurut Raden Subagyo, semua arca yang ada di situs merupakan hasil karya Mang Cayet yang dibuat pasca 1965 dengan menggunakan bahan baku batu dari sungai di daerah Pejambon. Mang Cayet adalah warga sekitar Pejambon. Sedangkan menurut Kang Suparta yang menjabat sebagai kuncen saat ini dan sudah dikukuhkan oleh Sultan Kasepuhan, arca ini memang sebagian buatan Mang Cayet (paman Suparta sendiri). Akan tetapi ada juga arca lama yang diambil Mang Cayet di sungai daerah Pejambon, Kang Suparta sendiri tidak mengetahui arca mana yang merupakan peninggalan kuna. Sedangkan menurut Kang Jae, ada lima wujud arca yang merupakan peninggalan kuna dan ada satu arca dengan wujud semar yang dibawa oleh Pemerintah Daerah Sumber.

Dari berbagai sumber lisan, terdapat ketidaksaamaan informasi mengenai arca yang ada pada Situs Pejambon. Beberapa arca yang merupakan peninggalan kuna dan ada juga buatan Mang Cayet. Karena di Cirebon sendiri pernah berdiri kerajaan Indraprahasta pada tahun 285 Saka yang berlokasi di wilayah Cirebon Girang. Dugaan sementara, bahwa Situs Pejambon mempunyai keterikatan dengan zaman Kerajaan Indraprahasta yang didirikan oleh Brahma Sentanu. Untuk mengetahui berapa arca yang merupakan peninggalan kuna tersebut, perlu diilakukan penelitian lebih lanjut terhadap arca-arca yang ada di Situs Pejambon saat ini, sebelum semuanya hilang.

Sejarah Religi

Indraprahasta merupakan kerajaan bercorak Hindu seperti negara asalnya India. Pada masa Indraprahasta, Maharesi Sentanu menamai Gunung Ceremai yang terletak di sebelahnya dengan nama Indrakila, serta aliran sungai yang mengalir di tengah daerahnya diberi nama Gangga Nadi atau Situ Gangga.

Menurut Kang Jae dari komunitas pecinta sejarah Purwadaksina, sebelum kedatangan Maharesi Sentanu, daerah Cirebon Girang dan sekitarnya menganut agama Sanghyang atau Sunda Wiwitan. Aktivitas masyarakat pedalaman Cirebon Girang pada masa Indraprahasta adalah bertani huma dan bercocok tanam seperti mangga, pisang, padi, dan lainnya.

Koleksi Arca Di Situs Pejambon

Dalam bangunan situs yang berukuran tidak lebih dari 4×4 meter ini, terdapat arca manusia berbentuk gajah dengan posisi duduk, mulut lebar, belalai menjulur ke depan bersentuhan dengan tangan, tangan kanan memegang gadha, tangan kiri memegang gading. Terdapat arca lingga, yoni, macan, arca menyerupai tokoh-tokoh wayang, ular, sapi, dan beberapa bentuk lagi seperti wanita berambut panjang yang dililit ular berbentuk wajah bulat dengan bibir tebal terbuat dari batuan andesit, tidak bertangan dan berkaki. Termasuk ada arca yang berbentuk Batara Guru dengan posisi duduk di permukaan singgasana kecil, dua tangan sedakep, dan tangan lain sebelah kanan memegang kampak, sebelah kiri memegang bunga Wijaya Kusuma, serta masih banyak beberapa arca lain yang harus diteliti lebih lanjut. (Poster: Miftakhurrokhman Hadi)

Bebersih Situs Pejambon 5

Bebersih Situs Arca Pejambon, Sabtu – 25 Juni 2016 bersama Cana, Carudin, Oos, Budi, Naska, Anas, Nuwawi, Rarwina, Sukarno, Imam, Untas, Imam, Palpov, Sinta, Abdul, difoto Arut. Bongkar kusen, amplas tembok, dan membuat urugan jalan setapak.

Bebersih Situs Pejambon 6

Sedang mengar cerita dari Raden Subagyo tentang arca-arca Pejambon dan sejarah penemuannya. Difoto Imam Saofi, Pejambon – 14 Juni 2016 bersama Sinta, Alam, Miftak, Imam, Daru dan Marcell.

Bebersih Situs Pejambon 7

***

Orasi Budaya: Arca-Arca Pejambon
Cirebon, 26 Juni 2016
Oleh Bakrie Jethro

Salam…

Dalam orasi budaya ini, perkenankanlah saya—seorang yang menurut orang lain adalah amatiran. Pendatang baru yang masih perlu belajar banyak untuk berbasa-basi terlebih dahulu. Di hari asah asuh asih ini, saya terlebih dahulu mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT, atas segala peristiwa, pihak RW dan RT setempat, seluruh warga Desa Pejambon, rekan-rekan dari berbagai komunitas yang telah hadir di antaranya penggiat dari Losari, Ambulu, Lobunta, Gegesik, Bedulan, Pejambon, Tengah Tani, Plered, Pondok Asem, Sumber, Perpustakaan Niskala Senja, HC Punk, komunitas peduli lingkungan hidup, komunitas grafiti dan street art, Artkillery, juga beberapa akademisi dari kampus-kampus, Plumbon, Jamblang, Karang Taruna Pejambon, Gunung Jati, kelompok metal, dan beberapa budayawan di wilayah Kabupaten dan Kotamadya Cirebon. Serta tentu saja, untuk menghimpun sekaligus memprakarsai kegiatan ini ada seorang penggagas utama dari semuanya, seorang pencerah yang tidak bersentuhan dengan pemerintahan, saya harap pemerintah tidak alergi; yaitu Sinta Ridwan. Selain sebagai bentuk kepedulian pada Situs Arca Pejambon, ini juga menyangkut tridharma lainnya.

Mengingat peradaban 4l4y, sambalado, sakitnya tuh di sini, generasi virtual, dan tawaran menjadi boneka seks televisi, serta penyembah berhala-berhala uang. It’s end of an era. Meski kita masih bisa bergerak secara loyal untuk mencapai sesuatu kesepakatan tanpa tuan dengan menyumbangkan waktu, tenaga, materi, dan peristiwa untuk peristiwa besar (butterfly effects).

Cirebon memiliki banyak artefak sejarah yang masih bisa ditemukan, dilihat, dan disentuh serta yang tak tersentuh sekaligus. Terlepas dari peninggalan masa sesudah masuknya Islam atau sebelum masuknya Islam. Tidak sedikit juga peninggalan-peninggalan sejarah tersebut tidak diperhatikan atau bahkan diketahui keberadaannya oleh para peneliti sejarah sendiri, tidak disadari oleh para keturunan, maupun masyarakat umum.

Salah satu peninggalan sejarah penting yang tidak disadari itu adalah sisa-sisa artefak sejarah yang masih ada, berasal dari masa pra Islam. Lebih tepatnya, masa ketika agama Sanghyang, Hindu, dan Buddha sedang dianut. Ialah arca-arca yang berada di Situs Pejambon.
Wilayah Pejambon dulunya merupakan daerah yang banyak ditumbuhi pohon jambu. Pejambon merupakan daerah kekuasan Cirebon Girang. Sebelum Cirebon Girang berdiri, ada Kerajaan Indraprahasta yang didirikan Maharesi Sentanu pada 365 M di wilayah Cirebon Girang, yang sekarang disebut Cirebon Selatan. Resi Sentanu berasal dari Sungai Gangga, India. Ketika itu kerajaannya diserang Pasukan Samudera Gupta. Maharesi Sentanu melarikan diri ke Salakanagara. Di kala itu Salakanagara dipimpin Prabu Darmawirya Dewawarman VIII. Maharesi Sentanu kemudian menikahi Indari putri Dewawarman VIII. Indraprahasta merupakan cikal bakal Cirebon Girang. Kemungkinan besar Situs Arca Pejambon atau Situs Watu Semar ini diperkirakan sebagai tempat kabuyutan masyarakat yang dijadikan tempat ritual yang menghadap Gunung Ceremai yang dianggap suci.

Arca merupakan sebuah Rupadatu yang memiliki nilai keruhanian holistik, media spiritual, juga bentuk representatif identitas religi pada saat itu, yang akhirnya dapat memberikan wacana-wacana abstrak untuk para pengkaji. Dalam bentuk rupa, seni yang pada saat itu didedikasikan pada leluhur maupun bathara-batharinya, dibagi atas dua jenis, arca figuratif dan stilasi-stilasi dwimatra yang biasanya berupa ukiran motif dan aksara-aksara.

Pada kesempatan ini, paling tidak saya mencoba untuk mengutarakan beberapa poin permasalahan.

Yang pertama, adalah mengenai artefak-artefak yang berangsur-angsur berkurang dari tahun ke tahunnya. Pada awalnya ditemukan lebih dari 80-an arca sejak masa peralihan Orde Baru. Diperkirakan arca-arca tersebut mengalami pengurangan, diduga akibat dari pemindahan materi artefak, dicuri, atau sengaja dihancurkan.

Menurut beberapa narasumber, arca-arca yang ditemukan di sepanjang sungai yang ada di wilayah Pejambon, oleh masyarakat setempat lebih dikenal sebagai Situs Watu Semar. Terlepas dari penamaan tokoh Semar sendiri masih dipertanyakan, karena belum ditemukan arca yang begitu mirip dengan “sosok Semar” (kemungkinan besar arcanya ada, namun hancur atau dicuri). Dan penamaan ini harus dibuktikan oleh para ahli lebih lanjut, agar ke depannya mendapatkan penamaan yang sesuai. Terdapat koleksi tiga arca yang diberi keterangan berasal dari Pejambon di Museum Sri Baduga, Bandung ditulis berasal dari zaman Megalitikum. Arca-arca tersebut dinyatakan sebagai figur nenek moyang atau leluhur. Namun, setelah dikonfirmasi, arca yang berada di Museum Sri Baduga ternyata arca replika saja. Jadi sangat memungkinan arca-arca yang “asli” masih berada di Situs Pejambon, Cirebon saat ini. Sisa artefak lain dicurigai masih belum diketahui keberadaannya.

Situs Pejambon awalnya masuk di wilayah Blok Pejambon Lor, Kelurahan Pejambon, Kecamatan Cirebon Selatan. Namun, pada tahun ini, Pejambon bagian dari Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Tinggal menyisa 25 arca yang masih tersimpan di sebuah bangunan kecil dan permanen, yang didirikan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, sekitar 2001. Awalnya, arca-arca ditemukan di pinggir sungai pada 1960-1970, namun seiring dengan waktu dan banyak peristiwa terjadi, arca-arca tersebut terkumpul menjadi satu dalam satu bangunan. Meski berasal dari beberapa waktu atau zaman yang berbeda.

Sejarah arca Situs Pejambon menurut Elang Subagyo, pada awalnya arca-arca yang ada di Situs Pejambon sekarang tidak berada pada satu tempat, melainkan tercecer di pekarangan rumah warga dan pinggir sungai di daerah Pejambon. Salah satu arca ada yang bentuknya dianggap mirip dengan tokoh pewayangan Semar, oleh sebab itu arca tersebut dinamai “Watu Semar” oleh warga. Pada 1988, arca yang mirip Semar dipindahkan ke Pemerintah Daerah Sumber oleh Elang Subagyo, sehingga arca tersebut sudah tidak ada lagi di tempatnya.

Menurut Jae, dari komunitas pecinta sejarah Purwadaksina, pada 2013 ada 27 figur arca dan hanya ada 5 arca yang dapat diindentifikasi sebagai peninggalan zaman kuna. Sedangkan sisanya “diperkirakan” sebagai karya Mang Cayet, yang merupakan penduduk setempat. Kuncen situs saat ini dipegang Suparta, seorang keponakan Mang Cayet.

Poin yang kedua adalah permasalahan bersama, bangunan yang didirikan di atas tanah pemerintah kabupaten ini tidak terurus, bahkan terabaikan. Kondisi kaca-kaca jendela yang berantakan dan membahayakan, kemudian kondisi arca itu sendiri mengalami pengrusakan materil dan sudah tentu hilang nilai bentuk orisinalitasnya. Miris sekaligus mengerikan. Ketika kita memasuki era absurd ini, di mana paradoksal sekular terlalu kuat, artinya tidak ada lagi kualitas kepedulian. Adapun solusi dari kami, yaitu merevitalisasi bangunan tempat arca-arca tersebut, agar menjadi lebih layak dan dihormati.

Masyarakat cendekia rasanya belum ada yang mengkaji secara utuh dan benar apalagi menjadikannya sebuah catatan hipotesis, oleh karenanya metodologi yang kami tempuh dengan mengumpulkan premis-premis lisan yang kami rekam dari berbagai praktisi, informan, ahli, dan ragam diskusi dalam waktu singkat saja. Karena kesimpang-siuran sejarah arca itu sendiri masih terlalu kabur dalam sebuah pemetaan. Salah satu kesimpang-siuran cerita, adalah adanya berita yang menyebutkan bahwa beberapa arca yang berasal dari era pra Islam, sebenarnya merupakan karya seni rupa seorang “seniman” bernama Pak Cayet yang berasal dari Pejambon.

Ini yang menjadi poin selanjutnya. Bahwa kita telah mengalami proses sinkretisme sejak berabad-abad lalu, ketika kebudayaan eksternal beserta perangkat agamanya telah berbaur. Sebelum kita memasuki subpoin arca-arca di Pejambon, ada baiknya sebagai latar belakang kita memahami sedikitnya ajaran-ajaran padi, Hindu-Buddha. Penganut agama nenek moyang memosisikan dirinya sebagai mikrokosmos yang meyakini bahwa sesuatu di sekitar (makro) merupakan perwujudan holistik, melalui zat-zat anima untuk masuk ke dalam ruang transendensi kebatinan. Konsep kosong-isi, “cangkang reujeung eusi kudu sarua lobana”. Hal ini merupakan sebuah cerminan keseimbangan kosmis hubungan antara niskala dan sakala pada peradaban Sunda Wiwitan.

Era Hindu-India mengalami tiga periode besar, yakni Veda kuna—oleh Dewa Indra, kemudian muncul konsep Trimurti: Shiwa, Brahma, dan Wisnu. Periode tersebut melahirkan awatara-awatara heroik sebagai catatan periode epos. Uniknya, peran Mahayana berpengaruh pasca periode tersebut, ketika Hindu mulai berbaur dengan Mahayana dan romantisme ke zaman Veda kuna lagi, akan tetapi dengan konsepsi yang jauh lebih spiritual, Shiwa kembali menjadi dewa tertinggi. Konsep ini adalah Wajrayana, dengan metodenya Tantra, yang meyakini bahwa Mantra (bunyi), Yantra (visual), dan Mudra (sikap) adalah sebagai kendaraan pengantar menuju dimensi kebatinan (esoterik). Akan tetapi, yang perlu dibatasi adalah, bahwa Yantra memiliki simbol-simbol khas dalam bentuk Mandala. Dan ini dianut oleh kaum yang lebih tinggi tingkat teologisnya. Sedangkan arca, banyak digunakan oleh masyarakat awam pada saat itu.

Tantra menjadi dugaan kasar pada perspektif kali ini, melihat kecenderungan artefak-artefak yang tersisa bentuknya memiliki nilai figuratif secara visual. Arca-arca di Pejambon diduga sebagai jejak penting dari kehadiran Wajrayana dan merupakan peninggalan dari kerajaan Indrapahasta. Dugaan ini diperoleh dari hasil wawancara bersama Kang Jae.

Adapun figur-figur arca yang masih tersisa di situs ini yaitu, arca manusia gajah, mulut lebar, belalai menjulur ke depan bersentuhan dengan tangan, tangan kanan memegang gadha, tangan kiri memegang gading. Arca lingga, arca macan, arca monyet, dan arca ular sedang makan kodok. Sedangkan arca di lokasi tengah, ada arca wanita berambut panjang dililit naga berbentuk wajah bulat dengan bibir tebal terbuat dari batuan andesi, tidak bertangan dan kaki. Arca Batara Guru dengan posisi duduk di permukaan, dua tangan sedakep, dan tangan lain sebelah kanan memegang kampak, sebelah kiri memegang seperti bunga dan ada beberapa arca lain yang masih harus diteliti lebih lanjut.

Dalam kerupaan dan pahatan di setiap arca yang tersisa, mempunyai tingkat kerumitan yang berbeda-beda. Hal ini menandakan, bahwa arca-arca tersebut dihasilkan dari periode yang berbeda pula. Terdapat ikon gajah dibaca secara premis yaitu sebagai kendaraan Dewa Indra, kemudian ditemukannya arca Batara Guru yang menurut kepercayaan Wajrayana adalah perwujudan Dewa Indra sekaligus Shiwa itu sendiri. Karena dalam penelitian sebelumnya terhadap batu Nyantra yang ada di Museum Sribaduga, oleh Saleh Danasasmita yang berhipotesis, bahwa Dewa Indra berkendaraan gajah. Meskipun saya pribadi lebih condong kepada Dewi Parwati dengan stilasi motif ularnya. Masih dalam ruang yang sama ada pula dua arca ular. Salah satunya diperkirakan melilit seperti Kundhalini Chakra, sebuah unsur dualitas dari tubuh, ruh. Sebagai batari pasangan Bhatara/Svami. Ini disimbolkan dengan bentuk ular yang melilit menyerupai angka 8. Kerap kali disebut “Serpent Coiled” pada sikap Cakra.
Lingga tanpa yoni, yoni telah hilang. Karaktertiristik penempatan lingga yoni di pelataran Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat sangat berbeda. Di Jawa Barat, lingga yoni di Jawa Barat penempatan keduanya ada jarak, berbeda dengan lingga yoni yang telah ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mereka cenderung lebih rapat atau ditumpuk. Ini menyinggung pada wacana pemilahan gaya Tantra sayap kanan dan kiri. Pada isu yang lebih besar, lingga yoni merupakan refleksi dari keseimbangan kosmik, lingga adalah bentuk perwujudan Shiwa, imanen, semesta besar dalam bentuk benjolan kelamin lelaki secara simbolik. Yoni identik dengan bumi, mereflesikan dirinya sebagai ibu, penjaga lingga, berbentuk cawan.

Dari figur-figur arca yang masih tersisa, kami belum dapat mengidentifikasi lebih dalam, meskipun jejak-jejak yang ada lebih mengarah kepada peninggalan pra Islam, mungkin pula masa prasejarah. Walaupun biasanya artefak prasejarah [terutama masa paleolitik] tidak bermotif, dan kalaupun ada, motifnya sangat sederhana. Maka sangat masuk akal, bila arca-arca ini adalah peninggalan Hindu-Buddha atau Tantra, atau sudah terintervensi konsep teologis heroik.

Tujuan utama dari revitalisasi ini adalah, agar nantinya dapat terus dijaga dan dirawat, selain karena arca-arca tersebut merupakan aset budaya, dan sebagai stimulus besar bagi para peneliti. Arca-arca ini akan mencapai titik objektif, apabila berbagai disiplin ilmu dapat saling mengisi satu sama lain. Harapan utamanya, adalah agar para budayawan yang “beratap”, dapat melunturkan egosentrisnya dan memberi pencerahan melalui diskusi-diskusi cendekia. Kegiatan ini diharapkan menjadi sebuah acuan bagi para peneliti, untuk dapat merangkai melalui sebuah gerakan, yaitu hasil lisan dari satu objek ke objek lainnya ke daerah yang mempunyai jaringan korelasi maupun komparasinya dengan objek sebelumnya.

Saya bukan penutup orasi yang baik, mungkin kita selesaikan saja semuanya dengan menuai harapan dan gerakan konsisten untuk situs awal yang kita kerjakan ini.

Pun ampun,
matur suksma,
rahayu,
salam.

(Poster: Arut S. Batan)

Bebersih Situs Pejambon 8

Cirebon, 26 Juni 2016

*Tulisan ini dipublikasikan dalam bentuk zine dan diedarkan selama acara Bebersih Situs Pejambon. Gambar (koleksi pribadi) di Cirebon, 12 Oktober 2017 difoto oleh Riza AS dalam rangka bebersih kesekian.

Kategori: Artikel dan Tulisan.