Cerita Tanpa Judul

Oleh Sinta Ridwan

Ratu Angin meliuk-liukkan kedua kaki dan tangannya, bahunya berselendangkan dedaunan yang gugur dan hampir kering. Ia muncul dari belakang kepalaku lalu menukik ke bawah telinga dan berbelok ke depan hidungku mereka bersentuhan seperti sepasang penari yang hanyut dalam perasaannya masing-masing.

Ratu Angin pun masuk ke lubang hidungku, menerobos ke jalur kerongkongan, mampir dan say hello doang pada paru-paru, lalu berpulang di jantung membantu memompa dan menambah rasa pada sel-sel darah yang mengalir di seluruh tubuhku. Kedatangan Ratu Angin seperti udara yang masuk jendela rumah, membuat segar seisinya.

Pada saat merasakan Ratu Angin yang sedang menjalari tubuhku, pandanganku sedang bermain jauh menerobos ranting-ranting pohon yang juga kering tetapi setia bertengger di Ibu Pohon yang sudah lapuk tetapi masih bisa menghangatkan anak-anak daunnya. Tepat di sebelah Ibu Pohonlah aku berbaring, berharap refleksi ini bisa mengusir rasa jenuhku pada pertemuan tadi pagi di kampus. Kalau aku tidak pergi saat itu juga, mungkin pikiranku akan tercampur pada metode pemikiran yang mereka doktrinkan turun temurun tanpa ada inovasi dan penyesuaian perubahan zaman, hal yang menurutku sangat menjengkelkan dan tidak membawa kemajuan padahal mereka adalah orang-orang yang melahirkan sistem pendidikan yang akan dipakai seluruh pendidik.

Dadaku sesak selama mendengarkan mereka membicarakan hal-hal yang menurutku sudah usang, jadi aku butuh udara segar, pun dengan sengaja aku menemui Ratu Angin karena hanya ia yang bisa membuat perasaan dan pikiranku yang kalut seperti benang kusut menjadi lancar digulung kembali. Aku juga bertemu prajurit rumput liar yang menjadi tempatku berbaring saat ini. Mereka bagaikan tikar empuk walau kering, berwarna cokelat, layaknya prajurit lapuk dimakan waktu, tak ada kerjaan karena dunia sudah damai. Atau jangan-jangan dunia masih dalam kondisi perang tetapi strategi menggunakan alat teknologi hingga keberadaan prajurit tak dibutuhkan lagi, tergantikan mesin-mesin dan akal-akalan.

Sebenarnya aku sedang tidak melamun, tetapi menerawang jauh, jauh sekali. Tiba-tiba, temanku datang menghampiri dan ikut berbaring di atas prajurit rumput kering yang sudah kukumpulkan, posisinya tepat di sebelah kiriku.

Nama lelaki di sebelahku itu Array, ia teman diskusi yang sedang kuliah di tetangga kanan Fakultas Sastra. Sementara aku sedang mengambil program pasca untuk Jurusan Sastra Kuna. Aku dan Array sering bertemu di acara sastra maupun diskusi bertopik yang kami suka. Biasanya acara-acara tersebut diselenggarakan di kota, kami berdua suka berangkat bersama naik bis ekonomi Damri dan menggunakan waktu perjalanan dengan membaca buku sambil mendengar kompilasi musik yang kami kumpulkan dalam alat musik digital.

Aku tidak tahu kenapa Array bisa tahu tempat persembunyianku ini. Tempatku menerawang jauh yang selama ini aku sembunyikan.

“Woi, kamu sedang memikirkan apa di sini, Ta? Tadi aku bertanya ke teman sekelasmu, kenapa tadi tidak masuk kuliah setelah pertemuan tadi pagi? Malah kabur ke hutan sini. Hati-hati lho, kata Pak Satpam yang berjaga di gerbang masuk kampus, tempat ini angker dan aneh.” Array terus berceloteh tanpa memberi tahu bagaimana ia bisa tahu aku ada di hutan ini. Ya, aku sedang berbaring di tengah hutan. Jangan bayangkan seperti hutan di Kalimantan atau Sulawesi. Hutan ini masih berada di lingkungan kampus, dibandingkan daerah sekitar kampus yang rata-rata adalah sawah dan kebun sayur, di sini ada banyak pepohonan besar.

“Aneh bagaimana?” Aku memotong ucapan Array.

“Ya, aneh. Lihat saja sendiri sama kamu, hutan ini posisinya lumayan jauh dari aktivitas mahasiswa dan berada di atas kampus, hampir mendekati kaki Gunung Manglayang. Hutan ini tersembunyi seperti tidak ingin ditemui orang-orang. Bahkan, hampir jarang ada mahasiswa yang nongkrong-nongkrong duduk-duduk di sini. Atau jangan-jangan mereka juga tidak tahu kalau ada hutan di kampus, termasuk aku, aku baru kali ini ada di dalam sini. Nah, keanehannya itu kamu tahu? Lihat bentuk pohon itu, seperti manusia yang sedang meliuk, atau mungkin meringkuk. Dan bukan hanya satu pohon itu saja, tapi semuanya. Mereka tampak sama. Seragam, meringkuk bersama serupa patung-patung zaman Romawi Kuno.” Aku melirik ke satu pohon yang ditunjuk Array.

Dengan saksama aku menjadi lebih memperhatikan tubuh pohon-pohon yang ada di sekelilingku. Aneh apanya? Mereka itu kan indah dan seksi. Aku sering ke hutan kampus ini kalau sedang ingin sendirian. Merenung, melamun, atau sekadar menumpang tidur siang untuk menunggu jam kuliah selanjutnya karena tempat tinggalku lumayan jauh jaraknya dari kampus. Mereka, pohon-pohon itu termasuk Ibu Pohon, seperti menemaniku dengan kasih. Tidak seperti berada di kantin atau tempat yang ramai mahasiswa. Meski pepohonan ada banyak, tetapi hening yang hanya menyapa. Dan aku suka sekali dengan keheningan yang mereka bisikkan lewat jatuhnya daun di sebelah telinga, atau yang jatuh di mukaku. Kalau menongkrong di pinggir jalan depan kampus, ampun, sungguh berisik.

“Kamu mau tahu hal paling aneh yang dibilang Pak Satpam, Ta?”

“Apa katanya?” tanyaku penasaran juga.

“Ia sering melihat ada satu mahasiswi berambut panjang sepinggul yang suka tidur-tiduran di hutan sini sampai berjam-jam.”

Eh, aku dong. “Sialan!” Temanku tertawa kencang, bahkan tawanya itu dapat mengganggu tarian Ratu Angin yang sedang asyik meliuk melalui frekuensi suara tawanya tersebut.

“Habisnya kamu itu aneh banget, sih, kebanyakan cewek kan pergi ke mal. Jalan sama teman-temannya, beli baju, ke kafe minum kopi dan makan camilan, sekadar nongkrong, atau cuci mata lihat produk terbaru. Kamu malah tidur-tiduran di hutan seperti ini dan melamun.”

“Mumpung masih ada hutan di sini,” jawabku singkat. “Mungkin dua atau tiga tahun lagi tak akan ada hutan seperti ini di kampus atau malah di kampung-kampung sekitar sini juga.”

“Iya deh, terserah situ. Asal jangan sampai kemalaman saja kamu pulangnya. Nanti ada yang nyulik lho. Oh, iya, ngomong-ngomong bagaimana perjalananmu ke Baduy?”

“Baduy?” Aku bangkit dan duduk bersila.

“Iya, Baduy.” Array memperjelas katanya.

“Tolong, Array. Jangan sebut kata ‘Baduy’ di depanku. Sebut wilayah atau etnis itu dengan ‘Kanekes’. Aku rasanya tidak enak mendengar kata itu, ya, ketika orang-orang menyebut komunitas masyarakat itu dengan ‘Baduy’ seperti ada kesan mengejek. Sepertinya Badui juga ada di wilayah Timur Tengah sana, etnis yang dianggap beberapa pihak itu barbar, kan? Padahal mungkin mereka punya nama sendiri. Kamu pasti lebih tahu Ray, nah sekarang sama saja kalau begitu dong kita-kita tak boleh menyebutnya etnis yang tinggal di pedalaman Banten itu Baduy.”

“Ah, iya, hampir lupa, ya sudah deh, aku ulang lagi. Bagaimana perjalananmu ke Kanekes? Kamu akhirnya bisa masuk sampai Kanekes Dalam?”

“Tidak, sayangnya aku tidak bisa masuk ke Kanekes Dalam, karena aku tidak membawa apa pun untuk mereka. Semacam tiga syarat yang harus dibawa jika ingin mengunjungi Kanekes Dalam. Dan itu tidak bisa mendadak, meski aku baru tahu saat di dalam pulang melewati jalan umum, ada banyak warga luar wilayah Kanekes menjual syarat-syarat itu bak suvenir. Lagi pula, aku datang bersama kawan dari Meksiko. Orang luar, yang benar-benar dari luar negeri, dilarang masuk. Jadi aku juga enggak bisa meninggalkannya. Tidak enak. Lain kali aku mau ke sana lagi. Perjalanan kemarin itu, beberapa malam aku tidur di salah satu rumah temanku, orang asli sana. Kampungnya jauh sekali dari jalan raya, di tempat pemberhentian mobil elf terakhir di perjalanan. Butuh waktu tiga sampai empat jam jalan kaki untuk sampai ke kampungnya. Melewati tiga kampung terlebih dahulu.”

“Wah, asyik kamu bisa tahu banyak sekarang ya tentang Kanekes, tapi sayang sekali kamu tidak sampai Kanekes Dalam, ya, Ta.”

“Ah, tidak apa-apa. Bukan itu tujuanku paling utama. Maksudnya, kalaupun tidak sampai Kanekes Dalam ya tak apa. Aku sudah senang melihat Kanekes Luar dan dapat keluar masuk hutan, naik-turun bukit tanpa alas kaki, melihat ladang, bertemu dan bercakap dengan orang-orang yang kutemui. Aku dapat belajar banyak lewat interaksi dengan mereka. Bahkan aku sempat bertemu yang dianggap dukun di salah satu kampung.”

Hening pun menguasai keadaan. Kurasakan Ratu Angin menjalari tubuhku lagi, sambil mengembuskannya kembali aku berbisik pada Array, “Rasanya seperti umrah pergi ke sana. Apalagi kalau bisa sampai ke Kanekes Dalam, rasanya mungkin seperti sudah naik haji aku, hehehe.”

“Dasar Zita, cewek aneh!” Array menepuk jidatku pelan.

“Iya, benar. Aku pernah membayangkan kalau naik haji mungkin seperti itu. Semacam perjalanan spiritual, bukan mengejar gelar hajinya, tapi mengunjungi dan membawa niat silaturahmi dengan para leluhur di sana, mempelajari karakter dan spiritual mereka juga. Hal seperti itulah yang terpenting, menurut pribadiku, lho, ya.”

Aku terdiam sesaat, lalu melanjutkan kalimat yang sempat terpotong, “Ah, sudahlah, kali ini tak usah bahas haji. Sebenarnya dari tadi aku sedang merenungkan beberapa petuah ucapan tetua di sana. Bukan tetua adat, tapi orang-orang yang sudah tua betul. Mereka dihormati oleh yang lain. Dan ini ada hubungannya dengan pertemuan tadi pagi di kampus, aku menjadi merasa kesal sendiri.”

“Apa yang kaurenungkan tadi memangnya, Ta, sampai kesal begitu?” Array selalu ingin tahu.

“Waktu aku bermain bersama anak-anak kecil di sana, di bawah alam sadar aku mengasihani anak-anak itu karena mereka tak pernah menjalani sekolah formal. Sekolah yang distandarkan pemerintah. Kamu ingat ada berita yang membahas tentang program pendidikan yang ditekan paksa oleh pemerintah daerah sana pada kampung-kampung sekitar wilayah Kanekes itu?”

“Ya, aku ingat berita itu, Zita.”

“Itu benar, aku melihatnya dengan mataku sendiri di sepanjang perjalanan keluar masuk hutan, memang ada beberapa anak-anak Kanekes yang pergi sekolah formal. Bergabung dengan masyarakat luar kampung adat,” kataku sambil menyalakan sebatang rokok lalu mengisapnya dalam-dalam, asapnya telah mengusik Ratu Angin.

“Lalu apa masalahnya? Bukannya bagus mereka sekolah? Biar pintar.”

“Nah, justru mereka mendapat masalah baru. Beberapa anak mengalami diskriminasi di sekolah formal itu. Misalnya, ketika mereka tetap memegang cara adat tidak menggunakan pakaian lain selain pakaian khas mereka, mereka akan tampak berbeda dengan anak-anak lain yang memakai seragam merah putih. Andai mereka memaksakan diri memakai seragam yang dianjurkan sekolah formal, apakah itu tidak akan menjadi masalah dalam adat di kampungnya dan batin si anaknya sendiri?”

Kulihat Array mengangguk-angguk dan ikut menyalakan sebatang rokok.

“Selain itu, aku ingin cerita. Sewaktu aku bermain bersama anak-anak Kanekes meski yang ada di luar itu, aku sempat sedih karena mereka tidak mengenyam pendidikan di sekolah formal, tidak dididik ala sekolah umum, sekolah yang sejarahnya sudah ada sejak zaman kolonial sebelum negeri ini merdeka. Saat itu juga dengan sengaja aku bertanya pada orang-orang tua di sekitar anak-anak itu.”

Array masih mendengarkan ceritaku dengan saksama.

“Kang, naha budakna teu disakolakeun di sakola nu aya di luar kampung éta?”

“Ah, teu aya nanaon. Ngan sieun wéh jadi pinter si budak téh.”

“Lah, Kang. Lain na alus barudak di dieu jadi pinter?”

“Ah, ulah ah Neng, lamun si éta jadi pinter, engké minteran jalma séjén. Cekap belajar di dieu ogé. Belajar mah di mana waé bisa, Néng. Jeung jalma kolot, tatanggi, dulur-dulur, jeung alam ogé bisa.”[1]

Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskan Ratu Angin sekali, lalu mengisap rokok dalam-dalam juga, sampai-sampai Ratu Angin terbatuk kesal.

“Kamu tahu, Ray? Seketika itu juga, aku langsung diam. Kulihat anak-anak yang sangat polos tapi memiliki karakter dan pendirian yang kuat dan itu terlihat dari wajah mereka. Ternyata mereka telah dididik langsung oleh alam, orang tua, orang sekitarnya, dan leluhurnya. Rasanya otakku ini seperti dibenturkan ke tembok. Aku merasa malu sendiri. Aku sangat bernafsu ingin pintar dan tidak mau menjadi bodoh, sehingga aku sekolah terus terusan setinggi-tingginya. Entah kenapa, ya Ray, saat mendengar ujaran orang tua itu, aku merasa seperti ditampar. Rasanya kata belajar, sekolah dan pintar di negeri ini sudah diracik sedemikian rupa oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan, entahlah apakah itu kepentingan terselubung untuk mengelola dunia ini bagaimana. Dan kamu pasti sadar, Ray, lewat orang-orang pintar jugalah mereka menghancurkan nilai-nilai kearifan yang dipegang orang-orang yang justru melindungi alam dan lingkungannya sendiri menurut kepercayaannya sendiri. Lalu orang-orang pintar itu mengubah desa menjadi kota, mengutak-atik hukum yang jauh dari Ratu Adil dan bahkan menjadi politikus-politikus yang merasa paling pintar dan memintari rakyatnya sendiri demi kepentingan golongannya. Atau malah di dunia ekonomi yang menjalankan ladang bisnis dengan cara memintari usaha-usaha kecil. Ya, Ray, orang-orang pintar itu menjadi buta karena kepintarannya, demi mengumpulkan puing-puing nilai yang bernama kaya.”

Ratu Angin pun menari-nari lagi di atas hidungku, kali ini mengenakan selendang embun yang ia pinjam dari ujung rumput saat kupejamkan mata dan mengingat binar mata anak-anak yang bermain bersamaku di Kanekes, meninggalkan bekas senyum-senyum orang di yang tinggal di dalamnya dengan penuh arti.

“Ah, sudah waktunya belajar menjadi orang pintar nih, Ray. Aku ada jam kuliah lagi sore ini, aku harus segera ke kelas. Tapi Ray, aku tidak ingin menjadi orang yang memintari orang lain hanya untuk kepentingan sendiri. Aku ingin sekali minimalnya mengubah pola pikir orang-orang di sekitarku dan memberi tahu mereka aku sekolah terus seperti ini untuk bisa mengubah sistem yang sudah turun-temurun didoktrin oleh para pendidik. Aku belum tahu caranya bagaimana, tapi suatu hari nanti akan aku buktikan dengan tanganku sendiri. Yuk, ah, aku ingin ke kelas sekarang biar pintar.”

Array hanya memandangiku seraya menggeleng-gelengkan kepala ketika aku memeluk erat tubuh Ibu Pohon sebelum berjalan meninggalkan hutan.

Jatinangor – Ciseke Dalam, 27 September 2012

[1] + Kak, kenapa anaknya tidak disekolahkan di sekolah yang ada luar kampung itu?

– Ah, tak ada apa-apa. Hanya takut saja jadi pintar si anaknya.

+ Lah, Kak. Bukannya bagus anak-anak di sini jadi pintar?

– Ah, jangan lah Dik, kalau dia jadi pin tar, nanti memintari orang lain. Cukup belajar di sini juga. Belajar itu di mana saja bisa, Dik. Dengan orangtua, tetangga, saudara-saudara, dengan alam juga bisa.

*Cerpen ini dimuat di koran Tribun Jabar, 21 Oktober 2012. Foto di IM Books Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, 28 Oktober 2011. Selengkapnya dan edisi editan ada di buku kumpulan cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, terbitan Ultimus Bandung, Desember 2017. Foto oleh Prima Mulia. Keterangan: Sinta Ridwan, pengidap lupus yang juga seorang pengajar aksara kuno di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat. Ia menjadi inspirasi para pengidap lupus untuk selalu tersenyum dalam “mengisi kematian”. Ia juga masih memendam cita-cita untuk mendirikan musium tentang huruf kuno di Nusantara. TEMPO/Prima Mulia

Kategori: Cerpen dan Tulisan.