Dinamika Diri

Oleh Sinta Ridwan |

Aku menemukan tugas ini, sepertinya ditulis pada semester ganjil di 2005. Mata kuliah psikologi. Ibu yang mengajar namanya Ibu Tina. Orangnya asyik banget. Tugasnya ini menulis tentang diri sendiri dan cita-citanya. Aku jadi terharu membacanya, ada beberapa yang tercapai, ada yang tidak dan belum tercapai. Seru juga, saya bagikan tulisan ini barangkali ada manfaatnya.

Dinamika Kepribadian Diri

Langsung saja ya, Bu, sebelumnya saya minta maaf kalau saya menggunakan bahasa yang kurang sopan, tujuan saya cuma mau dapat mengungkapkan semuanya secara bebas tanpa ada batasan, yang salah satunya dari cara penyampaiannya.

Bu, terima kasih ya, sudah kasih tugas kayak begini, saya suka deh Bu, soalnya saya suka menulis, namun, hasil karya saya masih dipendam, tidak ada keberanian untuk mencoba dan mengalami gagal.

Bu, awal kata dalam mendeskripsikan saya adalah saya ini baru menginjak 21 tahun, dan saya merupakan orang yang tidak suka basa-basi, pencontekan dalam segala hal, orang lain yang mengatur saya, bahkan orang tua saya juga, saya merasa hidup ini adalah perjuangan diri saya sendiri, dan terkadang dari hal itu saya selalu merasa sendiri.

Saya ingat saat Ibu menerangkan tentang karakter manusia, dulu sebelum saya berubah karena keadaan, saya merasa saya adalah seorang kolerik sejati, seorang yang suka sekali pembaharuan dan tantangan, orang yang suka mencemoohi saya tidak dianggap, suka mengobrol dengan siapa saja, dan suka melakukan kegiatan banyak sekali.

Terakhir saya menjadi wakil ketua HMJI 2004-2005, Ibu ingat? Pokonya semua sifat kolerik ada pada saya, tiba-tiba tidak sampai 2,5 tahun semuanya berubah total Bu, semenjak saya menjadi wakil ketua dan ikut sebentar teater dan kesenian. Kadang keberadaan saya disenangi banyak orang, namun, ternyata banyak juga orang yang tidak suka akan keberadaan saya, dan mencoba menyingkirkan saya. 

Satu demi satu mereka menjuhi saya, setiap pemikiran dan ide yang saya keluarkan selalu saja diperdebatkan dan menjatuhkan, saya juga merasa saya mendapat tekanan batin dari perceraian keluarga saya, saya di Bandung seorang diri, benar-benar sendiri.

Saat libur panjang saya bekerja sebagai pelayan di restoran Jepang, dengan gaji lumayan, saya mengenal uang dengan dapat sendiri, bekerja dengan orang Jepang membuat saya jadi lebih banyak berpikir, gesit dan bertambah disiplin, dengan modal itu saya pernah menganggap remeh orang-orang yang hanya bisa ngomong besar, saya tidak suka dengan sifat itu, saya berubah menjadi pribadi yang individualistic, lebih banyak diam di kamar sendiri ketimbang ngobrol-ngobrol mencari tantangan baru seperti dulu, malah saya sempat merokok setelah tahu saya terkena penyakit kelainan darah, perhatian orang tua pun berkurang.

Saya merasa hidup benar-benar sendiri, krisis kepercayaan pada semua orang, sensitif, mudah tersinggung, dan akhirnya saya jarang sekali berbicara, seperti melankolik, apa yang saya rasakan, perhatikan, pikirkan, saya tumpahkan dalam tulisan, ketimbang ngobrol dengan orang yang saya tidak percayai sama sekali, tulisan bisa berupa novel, cerpen, dan puisi-puisi. Saya lakukan di rumah sendiri tanpa ada yang menemani.

Saya juga menjadi pribadi yang sulit memaafkan kesalahan orang lain, terlalu sensitif dan moody, bagaimana ya, Bu? Terkadang saya benar-benar menjadi canggung untuk berinteraksi dengan orang lain, saya pikir saya terlalu memegang prinsip “terserah apa yang dilakukan orang lain, asal jangan ganggu saya, kesendirian saya, urusan saya bahkan sok-sokan menasehati saya, saya akan cuek, tidak peduli pada keberadaan orang itu”, tetapi Bu, imbasnya saya tidak punya satu pun orang yang saya percaya.

Pernah saya punya pacar, saya peduli orang itu, dan dia memberi banyak arti hidup, hanya 8 bulan kita bersama, dia meninggalkan saya untuk bekerja di negeri seberang, saya merasa sedih ditinggal, dan saya hanya melakukan apa yang saya lakukan ini tuh tidak menggangu orang lain, jadi janganlah menggangu saya. Dan saya merasa sudah jatuh juga kalah di lingkungan sekitar.

Saat ini yang saya rasakan adalah, pikiran untuk segera lulus dengan nilai tinggi, sebelum lulus saya ingin sekali memberikan rumah yang di dalamnya ada beberapa kamar untuk disewakan. Dan itu untuk mamah saya. Ibu tahu, saya tidak punya rumah di Cirebon, sejak perpisahan orang tua, mamah mencari uang di Cirebon, papah pergi ke Purwakarta, saya mencari arti hidup dan impian di Bandung, dan satu adik saya tinggal bersama nenek di Kuningan, mamah dan adik saya pulang pergi tiap hari ke Cirebon untuk sekolah dan bekerja. Saya suka sedih kalau memikirkan ini.

Seharusnya keluarga itu bersatu kan, Bu? Setiap saya pulang ke Cirebon, tidak tega melihat kehidupan mereka, rumah dijual dan kini keluarga saya menumpang di rumah nenek.

Saya ingin merubah keadaan, saya ingin membalas jasa mamah, yang sudah banting tulang, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki untuk menghidupi saya di kota yang serba mahal ini, saya ingin cepat-cepat lulus, menikah dengan orang pilihan mamah, untungnya saya bisa menerima orang itu, karena sudah punya “kriteria” yang saya punya, yaitu pekerjaan, agama, jujur dan pekerja keras, serta tentunya harus sayang dan menerima keadaan saya.

Lalu saya ingin mengambil S2, jika dapat beasiswa ke Jepang, saya ingin ambil jika Tuhan berkehendak lain, saya akan mengambil di UPI, S2 pendidikan karena saya ingin menjadi dosen, seperti Ibu.

Terkadang saya sedih melihat teman yang pola pikirnya masih ingin main. Ternyata benar teori tentang “watak wanita lebih dewasa 2 tahun jika umurnya sama dengan pria”, dan itu yang dialami saya, pola pikir dan cara berbicara dan bahan diskusi dengan teman seumuran sebisa mungkin saya hindari, karena saya pikir itu membuang waktu dengan membicarakan hal-hal sepele, saya cenderung suka mengobrol dengan orang yang lebih tua, dan membicarakan hal-hal yang bermakna.

Saya tak punya motivasi lagi dalam berorganisasi khususnya, tapi saya masih punya harapan dan impian yang ingin saya capai. Ini juga tugas dari Ibu yang pernah saya tulis, Bu kalau punya waktu dan ingin memberi saya masukan tolong SMS saya ya Bu, saya ingin mendengarkan pendapat Ibu, hubungi saya ke nomor 081573281731.

Harapan dan keinginan yang ingin saya capai dalam jangka waktu yang saya usahakan terwujud adalah:

  • ingin punya suami yang saya cintai dan sudah bekerja. (2-3 tahun)
  • ingin ke Jepang, saya suka Jepang, saya sebenarnya salah masuk Jurusan Inggris karena ini merupakan keinginan mamah bukan saya, saya ingin melanjutkan study ngambil S2 di sana (2-3 tahun)
  • ingin dihargai pemikiran dan kreativitasnya (sekarang-1 bulan)
  • ingin berangkatkan haji: papah, mamah, kakek sama nenek (4 tahun)
  • ingin menjadi pramugari maskapai besar (2 tahun)
  • ingin menjadi sastrawan yang terkenal dan diakui (sekarang)
  • ingin membelikan mamah rumah, kendaraan (6-12 bulan)
  • ingin punya uang yang banyak (sekarang-5 tahun)
  • ingin membayar utang puasa (1 tahun)
  • ingin punya anak kembar (4 tahun)
  • ingin mamah, papah, kakek, nenek selalu sehat dan bahagia (2 tahun)
  • ingin masuk surga (100 tahun)
  • ingin punya restoran dan butik (5 tahun)
  • ingin bahagia dan sehat (sekarang-selamanya)
  • ingin nilai IPK 3,6 (1,5 tahun)
  • ingin punya rumah dan kendaraan (1,5 tahun)

Sudah ya Bu, terima kasih sudah kasih kesempatan buat menjelaskan siapa saya secara singkat, kalau ada waktu kita bertemu lagi ya Bu, saya bisa sharing sama Ibu.

Kategori: Catatan dan Tulisan.