Filologi Dunia Kuna

Oleh Sinta Ridwan |

 Ceritanya ini adalah refleksi satu tahun masuk dunia filologi, hehehe. Foto di atas saat di kelas belajar bersama Prof. Partini Sardjono di kampus Dipati Ukur pada 13 April 2009.

Pernah dengar istilah atau kata filologi? Pasti ada yang sudah tahu, tetapi kemungkinan besar juga banyak yang tidak pernah dengar, belum pernah bertemu dunianya dan terdengar sangat asing. Jadi apa itu filologi? Mirip psikologi? Jelas, jauh bedanya.

Saat aku memutuskan untuk melanjutkan studi dengan mengambil filologi, orang banyak yang bertanya-tanya, apa itu filologi? Aku pun pada awalnya belum mengenal filologi, saat kuliah S1 aku mengambil Sastra Inggris. Begitu cintanya pada sastra, aku sangat ingin mempertanggungjawabkan sarjana sastra dengan melanjutkan itu di program master.

Niat awal aku padahal ingin sekali mengambil ilmu sastra murni di Universitas Padjajaran. Tetapi di sana tidak ada program itu, yang ada linguistik Inggris, linguistik umum, linguistik Jepang, ilmu sejarah, museumologi, dan filologi. Pertama kali yang ada dipikiran, aku ingin mengambil ilmu sejarah, tapi begitu penasaran dengan filologi, pada akhirnya aku mengambil langkah nekat lebih tepatnya. Pertama-tama, membandingkan dulu ilmu sejarah dan filologi, dengan cara membandingkan mata kuliah-mata kuliah dan bertanya pada kawan lulusan sejarah dan sastra, yang kira-kira tahu tentang kedua ilmu yang mau aku pilih.

Akhirnya setelah menimbang sana-sini dan mendapat pencerahan walau hanya sedikit, aku memutuskan untuk mengambil filologi dengan alasan utama, dibandingkan ilmu sejarah ya, filologi mengandung lebih banyak unsur utamanya itu sastra dan budaya. Sudah, sesimple itu, dan nekat masuk situ.

Dan setiap kali aku ditanya oleh teman atau saudara pada masa sebelum masa perkuliahan, ambil jurusan apa? Filologi. Apa itu filologi? Aku jawab gampangnya, sastra kuna. Dan kening mereka semakin mengkerut.

Aku juga bingung menjelaskannya secara gamblang apa itu filologi pada saat itu. Tetapi setelah memasuki masa-masa belajar di Universitas Padjajaran, dengan banyak mencari informasi tambahan, dan mendapat inisiasi awal belajar dasar-dasar filologi sekaligus terjun langsung ke lapangan lihat skriptorium, museum dan perpustakaan. Melihat langsung fungsi ilmu filologi di area museum, sejarah, sastra hingga kebudayaan.

Belum pernah aku merasa puas sekaligus bangga dengan pilihanku dalam melanjutkan studi. Tidak sia-sia dan gue banget ini mah, pada akhirnya. Dengan niat besar, aku harus memperdalam ilmu baru ini, aku harus meluangkan banyak waktu dengan belajar dan belajar, membaca banyak referensi, dan mencari banyak data serta informasi di dunia nyata, maksudnya di masyarakat langsung.

Filologi, secara teori berasal dari kata Yunani, dari kata philos yang artinya teman, logos itu ilmu atau pembicaraan, dan philologia sendiri artinya senang berbicara (padahal aku kurang begitu suka berbicara, hehehe). Secara istilah filologi merupakan ilmu untuk mengkaji atau menelaah tulisan yang dianggap penting dari masa lalu, misalnya tulisan dari jaman dahulu kala, jaman nenek moyang atau para leluhur yang di atas 5 generasi jaraknya. Filologi dapat juga disebut ilmu yang mengungkapkan kandungan karya tulis kuna atau masa lalu.

Ilmu filologi lahir akibat dari adanya pernyataan: kita ada saat ini di masa sekarang, berasal dari masa lalu, dan tulisan masa lalu yang yang ditinggal nenek moyang, pasti tulisan yang mengandung makna dan “penting”. Nah, tugas filologi adalah mengungkapkan apa makna yang terkandung dari dalam teks manuskrip tersebut.

Dan sejalan dengan tugas filologi di atas, tujuan ilmu filologi adalah untuk mengetahui dan memaknai alam pikiran masa lalu dari berbagai seni baik materialnya ataupun kehidupan spiritualnya.

To be continued…

Ujungberung V, 20 Maret 2009

 

Kategori: Tulisan dan Ulasan.