Folklor Tarawangsa

Oleh Sinta Ridwan |

Ini adalah salah satu bagian dari semacam tugas mata kuliah folklor saat semester 3 waktu kuliah S2 Filologi. Waktu penelitiannya sendiri dilakukan pada 22 dan 23 November 2009, di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Ada panjang banget isi makalahnya sampai 41 halaman, jadi sama aku dipotong-potong, tidak apa-apa ya.

Analisis Folklor Tarawangsa

Pagi hari yang sangat cerah diawali dengan mewawancarai salah satu pelaku seni yang memainkan tarawangsa, yaitu Kang Pupung, 34 tahun. Satu hal paling utama yang harus ditanya adalah dari manakah sumber yang menyebutkan sejarah tarawangsa dan wilayah sini, Kang Pupung menyebutkan satu naskah kuna sebagai rujukan sumber sejarah yaitu Kitab Purwa Daksina, yang menceritakan kehidupan awal manusia hingga akhir jamannya. Kemudian demikianlah sejarah awal mula terciptanya tarawangsa versi Rancakalong.

Tarawangsa, lahir sesudah sejarah ti karugian. Negeri yang mengalami kerugian, dari segi kehidupannya. Tadinya negeri ini sangat subur, namun ketika Ratu Mataram ke-II melarang tradisi Sunda dipakai lagi, tradisi karuhun Sunda tidak boleh dilakoni lagi karena akan merusak nilai-nilai dalam agama Islam. Pada jaman Prabu Siliwangi terakhir, Mataram menguasai Kerajaan Padjadjaran lalu mereka menyebarkan agama Islam dan tradisi Sunda dilarang.

Setelah dilarang, Padjadjaran dan wilayah lain langsung mengalami kerugian di sektor pertanian, termasuk manusia-manusianya, yaitu menjadi kelaparan. Kenapa jadi sengsara? Karena sebenarnya aturan-aturan tradisi memiliki paralelisme sareung agama, nu hirup disambung kanu hirup. Dalam tradisi ada aturan, makhluk nyaring (hewan), makhluk cicing (tumbuhan), makhluk eling (manusia) sebagai umat Gusti.

Setelah mengalami kegagalan, oleh Ratu Mataram hasil-hasil panen 5 ton dikumpulkan dan hanya menjadi 2 kg, Ratu Mataram mengumpulkan padi-padi tersebut lalu dibubur dan diberikan kepada rakyatnya, yang disebut bubur suro (tempat di Bogor) karena makan bubur melulu masyarakat lalu merasa bosan, kemudian Ratu Mataram ke-II mendatangi sesepuh di Rancakalong, bertemu dengan sesepuh Eyang Prabu Panarosan. Ratu Mataram bertanya bagaimana mengatasi kelaparan ini, lalu diberi hanjeuli (sebesar gulungan tasbih) adalah pengganti padi. Di Rancakalong hanya sebagian kecil yang mengalami kesengsaraan sehingga masih memiliki bahan makanan, yaitu hanjeuli. Lalu Ratu Mataram ke-II itu dinasehati oleh Eyang Prabu Panarosan, “Mungkin kanu nyaram tradisi nu dianut Pajajaran anu agem na nyaeta agama boleh dijalankan tradisi juga dijalankan jadi kudu seimbang,” lalu Ratu Mataram ke-II menurut.

Ratu Mataram ke-II mau menjalankannya lagi, agama dan tradisi tapi bibitnya ia harus mencari dimana, lalu dia disuruh bertapa di Gunung Padang (alam kesucian) kemudian selama bertapa ia mendapat petunjuk dari Gusti akan mendapat bibit tatali paranti/adab-adabnya harus dijalankan lagi.

Kaping 10 hapit, Keraton Mataram ditojo cahaya, ada cahaya masuk ke dalam keraton, langsung menyorot seikat padi, arang, kain putih, dan kekembangan. Lalu Ratu Mataram menemukan padi langsung dipeluk seperti memeluk bayi, dan menari-nari, meluapkan kegembiraan, tiba-tiba ada suara yang bilang, “Wayahna ulah ugal-ugalan, jangan suka dulu, ambil pare, kaya dulu lagi…”. Maksudnya adalah harus memakai ritual terlebih dulu (yang berasal dari Rancakalong), ditanam memakai tatali karuhun, hal inilah konon yang menyebabkan Mataram dan Padjadjaran bersatu kembali gara-gara petuah dari Rancakalong.

Setelah tanamannya subur, masyarakat boga pamilik, boga niat, panen pertama, kedua, ketiga, hingga panen keempat, masyarakat berniat untuk melaksanakan nga-Rasulkeun, sujud ka Kawasa dengan alat media berupa seni. Syukurannya mimitina terbangan, Salawatan Nabi barjanji untuk pagi harinya, lalu malam harinya tarawangsaan (awal mulanya: sawer gerak dan tari, lalu diiringi oleh karinding dan celempung, kemudian oleh Sunan Kalijaga, sareung sesepuh Rancakalong menciptakan Tarawangsa). Mereka adalah Sunan Kalijaga, Eyang Geleng Pangancingan, Eyang Prang Ageni, Eyang Prabu Panarosan, Embah Estu, Mbah Muhidin, Eyang Rentang Kusuma, Eyang Prabu Ebeul Lisung, Mbah Saleh, panutup, Eyang Nasja Kusuma.

Mereka menciptakan tarawangsa, inspirasi awalnya adalah dua kawat tarawangsa, dan tujuh kawat untuk kecapi. Dari sinilah awal mula keberadaan tarawangsa hingga saat ini masih dipergunakan dan difungsikan sebagai media seni dalam upacara penghormatan dan syukuran atas kebaikan Dewi Kesuburan.

Di Rancakalong hanya Kang Pupung yang dapat membuat alat musik Tarawangsa, Tri Utami, seorang artis 5 tahun yang lalu memesan padanya dua pasang tarawangsa, entah dipergunakan sebagai apa. Kang Pupung itu berguru pada Bapak Oting (tetangga), Bapak Oting berguru pada Aki Awatma (pamannya).

Pembahasan Hasil Analisis

Tarawangsa, dahulu pada awal mulanya terbuat dari kayu kembang kenanga, alasannya karena hampos (hampa) dan dagingnya yang lunak. Lalu berganti pada kayu suren, kemudian beralih pada kayu pohon jengkol sejak jaman Eyang Oting hingga saat ini. Proses pembuatannya, untuk kayu ukuran jentreng adalah panjang 1 m dan lebar 30 cm serta tarawangsa panjang 50 cm dan lebar 20 cm. Bentuk kepala naga yang dipakai pada jaman dahulu, lalu Pak Oting menciptakan bentuk wayang, simbol orang. Pada 2002 Kang Pupung menciptakan inovasi baru yaitu bentuk atasnya pada tarawangsa menyerupai kujang (pisau). Arti seni semiokanya adalah Padjadjaran (melalui sejarahnya). Arti dari tarawangsa itu sendiri menurut Kang Pupung adalah:

Ta: tatabeuhan (pukul-pukulan)
Ra: rakyat
Wa: wali
Ang: ngalalana (kehidupan)
Sa: sanga (sembilan)

Yang artinya adalah tarian atau seni untuk para Wali Sanga. Adapun 7 lagu pokok atau sakral yang dipakai oleh alat musik tarawangsa dan selalu dimainkan oleh grup milik Kang Pupung baik dalam upacara seren taun atau dalam hiburan yang khusus diadakan, seperti dalam penelitian kali ini, lagu-lagu tersebut sesuai dengan pakem dan selalu diturunkan kepada generasi selanjutnya, di antaranya adalah:

  1. Nangis Pohaci, durasi 5 menit, alunan tarawangsa sangat lambat.
  2. Pangapungan, durasi 5 menit, alunan tarawangsa agak cepat, tarian atau ngibing-nya berbeda.
  3. Pamapag (papag), durasi 5 menit.
  4. Batin, papag kasucian, Mataraman, durasi 5 menit.
  5. Iring-iringan (meluapkan rasa gembira) setelah beras sudah sampai atau tiba.
  6. Jemplang, kartosna ulah jeujeun ulang malang, kalau kerja harus fokus, jangan pamaleusan (malas), durasi 5 menit.
  7. Limbangan, harus seimbang, selaras, lamun hirup teh kudu saimbang, durasi 5 menit.

Nangis Pohaci, dimaksudkan untuk tumbuh-tumbuhan, contohnya ketika kita memakan pisang, dan pisang itu adalah makhluk hidup, lalu kita makan kemudian kita berbuat keburukan, oleh karena itu Pohaci akan menangis melihat kelakuan buruk kita, bagian tubuhnya digunakan untuk sesuatu yang buruk, Pohaci sangat mengharapkan apa yang sudah ia korbankan dipakai oleh manusia dalam berbuat kebaikan. Maksudnya adalah tujuan kita hidup yaitu bukan hanya untuk mencapai kebenaran tetapi juga mendapatkan keiklasan dan keridhaan Gusti, “Mulih ka jati kalih ka asal…uwih. Lahir, bubur lajur”, begitu ucap Kang Pupung.

Ujungberung II, 21 Desember 2009

Kategori: Artikel dan Tulisan.