Kampung Naga II

Oleh Sinta Ridwan |

Ini adalah catatan lapangan di Kampung Naga sekaligus tugas untuk mata kuliah antropologi budaya.

Perekonomian Kampung Naga

Dalam lingkaran budaya sesungguhnya tidak terdapat jenjang skala prioritas. Bahkan segenap bagian dari unsur kebudayaan itu harus tumbuh dan berkembang secara bersama. Pada awalnya peradaban dan kebudayaan nyaris tak dapat dipisahkan. Sebab bagaimanapun kedua-duanya berasal dari manusia dan sekaligus keduanya menjadi bukti keberadaannya (human being). Manusia yang senantiasa berada dan berhadapan dengan alam sesungguhnya selalu berada pada posisi yang lemah. Ketidakmampuan manusia menghadapi alam pada akhirnya menimbulkan persoalan.

Setiap persoalan yang timbul akan selalu beriringan dengan penemuan berbagai solusi terhadap persoalan tersebut. Di dalam proses itulah peradaban dan kebudayaan dilahirkan. Di satu sisi menghasilkan sistem teknologi yang kita sebut sebagai bagian dari peradaban misalnya sistem ekonomi dan disisi lain menghasilkan sistem penghayatan terhadap individu. Hal inilah yang menjadi modal dasar terbentuknya sebuah struktur budaya dalam sebuah tatanan masyarakat.

Tujuan kajian antropologi budaya ini melihat dari sudut pandang perekonomian masyarakat Kampung Naga. Melalui penelitian ini diharapkan akan memberikan gambaran tentang penerapan nilai-nilai tradisi terhadap modifikasi sistem perekonomian masyarakat di kampung Kampung Naga.

Kampung Naga terletak di Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya. Secara geografis Kampung Naga terletak diatas ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Terletak di kaki Gunung Cikuray dengan kontur tanah yang berbukit-bukit curam. Tidak ada yang tahu kenapa kampung ini dinamakan Kampung Naga. Populasinya dihuni sekitar 314 jiwa. Jumlah perempuan 139 orang dan jumlah laki-laki 175 orang. Hampir sebagian besar masyarakatnya telah mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar. Walaupun telah bersentuhan dengan dunia modern masyarakatnya masih “memegang kuat” adat istiadat dan tradisi leluhurnya. Bagi mereka, menjalankan adat berarti menghormati para leluhur (atau biasa disebut karuhun). Sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun dianggap tabu, yang bila dilanggar akan menimbulkan petaka.

Untuk memasuki Kampung Naga kita harus menapaki tiga ratus anak tangga. Pepohonan yang tumbuh banyak di dominasi oleh deretan pohon eboni dan albasia. Kampung Naga berdiri di lembah subur seluas 1,5 hektar dan dibagi menjadi hutan, sungai, daerah persawahan, dan daerah perkampungan. Setiap area memiliki batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Area perkampungan, misalnya, tidak boleh dibangun di lahan persawahan, dan begitu pula sebaliknya. Masyarakat Kampung Naga percaya bahwa pada batas antardaerah tersebut ada mahkluk halus. Jika batas dilanggar, mahkluk halus itu akan marah dan menimbulkan petaka.

Daerah perkampungan memiliki 112 bangunan. Terdiri atas 109 rumah, 1 balai pertemuan (bale patemon), 1 masjid, dan 1 lumbung. Masjid, balai pertemuan dan lumbung diletakkan sejajar, menghadap ke arah timur-barat. Di depannya terdapat halaman luas (semacam alun-alun) yang digunakan untuk upacara adat. Di depan masjid ada kentongan besar yang dibunyikan untuk mengumpulkan masyarakat. Fungsinya memberitahukan waktu-waktu penting (waktu subuh, magrib dan isya), serta memberitahu jika ada bahaya.

Bangunan yang lain, yaitu rumah penduduk, mesti menghadap utara-selatan. Karena daerah ini cenderung mempunyai tingkat kelembaban yang tinggi maka menjadi habitat rayap.  Rumah dibuat dengan model panggung, yaitu ditinggikan sekitar 50 cm dari tanah. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu atau bilah-bilah kayu, yang dibiarkan mentah begitu saja, atau dicat dengan menggunakan kapur putih. Selain untuk memberi warna, kapur putih berguna untuk melindungi dinding dari serangan rayap. Untuk atap, mereka membuatnya dari ijuk, alang-alang, atau daun nipah.

Perekonomian Kampung Naga

Masyarakat Kampung Naga pada umumnya berprofesi sebagai petani. Para lelaki memanfaatkan tanah yang subur serta aliran Sungai Ciwulan yang tidak pernah mengalami kekeringan. Mereka menggarap lahan-lahan di sekitar perbukitan hingga mencukupi kebutuhan pangan mereka. Pola bercocok tanam Kampung Naga adalah bertani dengan mengolah lahan menjadi areal persawahan dan ladang. Areal persawahan mereka telah menggunakan sistem irigasi untuk mengatur pendistribusian pengairan. Sementara ladang mereka masih menggunakan sistem ladang tadah hujan.

Tanaman yang ditanam di lahan Kampung Naga didominasi oleh tumbuhan padi. Padi tersebut diolah menjadi beras secara tradisional dengan memerhatikan tata cara leluhur. Beras tersebut rata-rata dipergunakan untuk dikonsumsi sendiri oleh masing-masing keluarga. Walaupun ada beberapa bagian dari hasil panen yang disimpan di leuit (lumbung padi) sebagai cadangan untuk musim paceklik atau dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan upacara adat. Sisanya biasanya dijual ke masyarakat diluar Kampung Naga. Uangnya dipergunakan untuk membayar pajak kepada pemerintah daerah.

Sektor peternakan di Kampung Naga didominasi oleh peternakan kambing dan pembudidayaan ikan air tawar seperti ikan mas, mujair dan lele. Selain untuk dikonsumsi sendiri sektor peternakan juga dijadikan sumber ekonomi masyarakat Kampung Naga.

Para wanita yang tidak ikut suaminya ke sawah, mengisi hari mereka dengan memasak dan mengurus keluarga. Di sela-sela pekerjaan rumah tangga itu, para wanita mengerjakan kerajinan anyaman yang hasilnya dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke sana.Kerajinan yang dibuat rata-rata yang berbahan baku bambu dan kayu. Produk yang dihasilkan adalah angklung, peralatan rumah tangga seperti centong nasi, asbak, tatakan gelas, nampan, keranjang, tas rajut dan berbagai bentuk souvenir lainnya. Mereka menjual produk tersebut melalui kios-kois souvenir yang memang sengaja di bangun oleh warga Kampung Naga.

Kesimpulan

Semenjak dahulu kala nenek moyang kita telah mengenal struktur sosial sebagai bagian dari pola pembangunan menuju masyarakat sejahtera. Kampung Naga adalah satu bukti akan keberadaan sebuah struktur masyarakat yang tersusun berdasarkan fungsi-fungsi sosial. Fungsi sosial diciptakan dengan tujuan mewujudkan masyarakat yang mempunyai etos kemandirian. Salah satu fungsi sosial adalah fungsi ekonomi. Fungsi ekonomi dalam sebuah struktur masyarakat mempunyai peran yang sangat penting karena menyangkut kepada pendistribusian kesejahteraan dan mempertahankan keberlangsungan hidup sebuah masyarakat.

Kampung Naga menerapkan sistem perekonomian berbasiskan kolektifisme. Segala sumber daya ekonomi yang terdapat di wilayah Kampung Naga dikelola secara swadaya melibatkan semua unsur sosial kemasyarakatan. Modal utamanya adalah pola interaksi masyarakat yang dipersatukan oleh persamaan persepsi terhadap sebuah nilai. Nilai-nilai budaya yang diwariskan dari nenek moyang dan dijaga kelestariannya. Hal itulah yang membuat Kampung Naga dapat bertahan dan menjadikan masyarakat adat mereka sebagai masyarakat yang mampu mandiri.

Perekonomian mereka pula berada dalam tingkat sama rata. Tidak begitu mencolok perbedaan penghasilan di anatara mereka. Karena masyarakat sangat berpegang teguh pada sikap saling toleransi. Masyarakat Kampung Naga di setiap panen, penghasilan padi akan selalu mereka pakai untuk dikonsumsi sendiri sekitar 70%, 10% mereka sisakan untuk disimpan dalam lumbung kampung adat, ditujukan apabila musim panceklik mereka dapat berbagi rata dengan warga yang kesusahan. Lalu 20% hingga 40% penghasilan padi mereka jual ke luar kampung. Sesuatu yang sangat terorganisir sekali. Kampung Naga adalah sekelompok masyarakat yang berpegang teguh pada adat. Semoga dapat bertahan ketradisionalan dan keasliannya hingga akhir jaman.

Ujungberung V, 11 Februari 2009

Kategori: Artikel dan Tulisan.