Kikisan Sungai Leiden

Oleh Sinta Ridwan

Jejak-jejakku telah melewati gerbang Leiden Centraal dan menapak di malam yang diembus dingin musim gugur. Ia berpapasan dengan wajah-wajah beku yang hilir-mudik menyeret koper. Aku memilih meringkuk di pojok halte demi menunggu kedatangan bus 182 yang akan membawaku ke sebuah pondok di pinggir kota. Tanganku sibuk mengusap tubuh menghangatkan diri dari dingin yang menancap dan menusuk. Ternyata, dinginnya Leiden melebihi Paris, kota yang baru kutinggalkan tujuh jam lalu menaiki bus dan dilanjutkan setengah jam dengan kereta dari Amsterdam.

Ah, itu dia busnya datang. Meskipun jarak halte dengan pintu bus terlihat dekat, di tengah dingin yang berkawan dengan angin kencang ini, aku harus cepat berjalan dan masuk bus. Wajah bus seolah berkata, “Hei, kalau kamu tidak cepat masuk, akan kutinggalkan bersama mereka yang sudah membeku dibekap malam itu.” Dan aku beruntung, di menit terakhir aku sudah berhadapan dengan sopir bus, “Satu tiket, please.” Sang sopir memberi tiket elektronik yang langsung kumasukkan ke kotak tiket untuk divalidasi.

Hangat langsung menyelimuti begitu aku duduk di tempat yang kupilih, kursi kosong di deretan jok belakang pinggir jendela. Aku bisa leluasa menikmati pemandangan Leiden di malam hari.

“Tak kusangka, aku bisa juga sampai kota ini,” bisikku dalam hati. Suara bisikanku harusnya tidak mengangguku dengan mempertanyakan aku bisa juga sampai di salah satu kota impian seumur hidupku ini. Pikiranku memutari waktu yang telah berlalu, kedua mataku tak hentinya melihat sepeda ontel yang lalu-lalang. Ujung pendengaranku bersentuhan dengan daun-daun maple yang menyentuh tanah setelah bermain dengan angin di musim gugur.

“Leiden,” desahku berembus. Kota ini memiliki dua perpustakaan, milik kampus dan milik KITLV, sebuah lembaga yang melakukan penelitian mengenai negara-negara yang pernah dikuasai Belanda. Aku berniat memotret naskah-naskah kuna di kedua tempat tersebut. Namun, aku hanya memiliki waktu beberapa hari saja di sini. Bagaimana bisa aku memotret sebanyak-banyaknya naskah-naskah kuna yang tersimpan dan yang jumlahnya pasti lebih dari ratusan bahkan ribuan itu?

Saat ini aku sedang menuntut ilmu di salah satu kampus di Prancis dan Belanda pernah dikuasai Prancis. Aku percaya kampus Leiden yang sudah berdiri sejak abad keenam belas ini memiliki banyak koleksi tentang ilmu yang sedang kupelajari. Sudah sejak lama, lulusan kampus Leiden merupakan peneliti yang diutus untuk meneliti sejarah, budaya, masyarakat, bahasa, sosial, hingga ekonomi politik Indonesia. Tak sedikit juga artefak dan peninggalan masa lalu dibawanya ke kota ini.

Aku berjanji pada diri sendiri, aku tidak boleh kalap setibanya di perpustakaan nanti, aku harus punya strategi untuk bisa membawa buah tangan yang bermanfaat selain untuk diriku sendiri dan sekolahku.

Setibanya di pondok milik Pak Mien, aku bertemu beberapa mahasiswa asal Indonesia yang juga tinggal di sana. Setelah menceritakan perjalanan dan tujuan datang di kota ini, mereka memberi semangat dengan mengucap, “Kau akan bertemu keseruan yang berlipat setelah melihat bank data-data arsip negerimu.”

Mendengar itu, aku tak sabar ingin segera mengunjungi kedua perpustakaan itu. Aku menimbang-nimbang hendak mengunjungi yang mana dulu, keduanya sangat penting. Namun sebelum memutuskan tujuan pertama, lebih penting sekarang yang harus kulakukan adalah menghabiskan malam pertama dengan istirahat setelah melalui perjalanan panjang dan merasakan angin di Leiden yang menggigil. Aku pun meringkuk di dalam balutan selimut tebal.

Di luar sana, angin kencang membawa dedaunan maple hingga terbang dan menghinggap di sebuah kapal di pelabuhan. Kapal yang pernah mengarungi samudra mengunjungi bumi rempah-rempah sekitar seratus tahun yang lalu.

***

“Hei, jij[2]. ya, jij!”

Aku menghentikan langkah menuju pintu keluar setelah menaruh sebuah piring berisikan makan malam di atas mejanya. Terdengar gumaman lanjutannya menggunakan bahasa kompeni yang tak kumengerti sama sekali. Aku masih tidak mengerti bahasa itu, meski hampir satu bulan aku dibawa paksa untuk membantu pekerjaan bersih-bersih dan memasak di kapal ini. Aku memberanikan diri membalikkan tubuh untuk menghadapnya, tetapi langsung kutundukkan wajah menghadap lantai kayu, tak berani tatap kedua matanya.

“Ya, Meneer memanggil diri ini? Ada yang bisa diri ini bantu lagi? Tapi maaf Meneer, diri ini tak mengerti banyak bahasa Meneer, mohon pakai bahasa yang diri ini mengerti.”

Kulirik kumisnya bergerak, aku masih tak berani melihat wajahnya secara utuh.

“Sini, kamu! Mendekat.”

Perintahnya membuat nampan yang kupegang bergetar. Ada apa? Aku takut sekali mendekatinya, hampir semua perempuan di dapur kapal tidak ada yang mau mengirim makanan ke ruangan ini karena takut kepadanya. Aku disuruh mereka karena mereka tahu aku belum pernah masuk ke ruangan ini sama sekali. Sambil memberi petunjuk bagaimana menyimpan piring di mejanya, mereka memberiku peringatan jangan sampai aku membuat suara sekecil apa pun karena itu bisa membuatnya marah, apalagi jika ia sedang serius membaca atau menulis di mejanya.

“Apakah diri ini telah membuat sebuah kesalahan, Meneer?” Setengah berbisik aku mengucap. Aku meremas-remas jemariku yang kian terkikis air laut yang masuk ke dapur karena ada bagian kapal yang sudah keropos kayunya. Setiap jamnya selain memasak dan bebersih aku juga mendapat tugas mengeluarkan air laut yang masuk itu. Aku yang hidup di pegunungan seumur hidup baru kali ini berinteraksi dengan air laut dan hidup di atas laut.

“Sini, kamu! Mendekat.” Diulangnya lagi kalimat perintah itu.

Dengan langkah gemetar aku mendekati meja yang diterangi lampu cempor minyak gantung itu. Lampu cempor itu tidak sama dengan yang ada di rumah bilikku tentu saja, lampu cempor di atasnya itu berkilauan tubuhnya, badan yang mewadahi minyak kelapa terbuat dari kuningan. Di kampungku, mungkin hanya para bangsawan yang memiliki cempor kuningan seperti itu.

Orang-orang di kapal ini memanggil lelaki berkumis di hadapanku itu dengan Tuan Pleyte. Ia sedang menumpang di kapal ini karena ingin membawa beberapa naskah kuna yang ia kumpulkan di wilayah barat termasuk Sunda Kalapa dan tempatku tinggal, Cheribon. Kulihat di sekeliling meja ada peti-peti yang sebagian terbuka. Peti itu berisi kropak-kropak. Ada berapa banyak naskah kuna yang ada di peti-peti itu? Untuk apakah ia mengambilnya dari rumah pemilik naskah-naskah kuna tersebut?

“Namamu siapa? Ik[3] baru lihat jij antar makanan. Dari mana asal jij?”

“Diri ini bernama Sita, Meneer. Dari wilayah pegunungan Cheribon.”

“Cheribon ya, bagus, kebetulan sekali jij bisa lihat ini?” Ia menunjukkan satu lempir lontar ke arahku.

Jij bisa baca ini tulisan?” Aku tak berani mendekatinya.

“Sini, jij. Mendekatlah.” Kata-katanya tidak sekencang tadi. Lebih pelan hingga membuatku sedikit tenang. Aku melangkahkah kaki sebanyak tiga langkah dan berada di sisinya. Aku bisa melihat dengan jelas apa yang tertera dalam lempir lontar itu.

Kuperhatikan satu lempir lontar yang ia pegang bertuliskan kalimat-kalimat yang menggunakan aksara Sunda. Di atas mejanya, aku perhatikan berserakan lempir yang lainnya, di antaranya ada beberapa jenis naskah kuna lagi yang berbahan daluwang, nipah dan bambu. Ada juga buku besar yang kertasnya bergaris bertuliskan tulisan tangannya, sepertinya ia sedang menyalin ulang naskah kuna yang ia baca itu.

“Ya, Meneer. Diri ini diajari Aki membaca dan menulis aksara seperti itu di kampung.” Kulirik bibir yang ada di balik kumis tebalnya itu melengkung. Ah, ia tersenyum.

Di luar kapal sepertinya ombak sedang tenang seperti hatiku yang mulai terbiasa dengan bau tubuhnya yang dekat sekali di hidungku.

“Duduklah, jij, Sita.” Ia membawakan kursi kayu dan menempatkan di sebelahnya. “Sita, nama jij seperti tokoh di kisah Ramayana. Ada beberapa cerita Ramayana dengan versi yang spesial, ya cerita di wilayahmu sungguh menarik. Bagaimana caranya cerita dari India itu bisa sampai ke wilayahmu. Ik sangat penasaran dengan cerita-cerita di wilayah jij yang tertulis di lontar, nipah dan daluwang ini. Sementara tulisan di bambu dan tulang-tulang belum memberi ik banyak informasi karena tulisan yang terbatas.”

Aku hanya mampu mendengarkannya sambil duduk di sampingnya. Aku merasa malu dengan bau tubuhku yang mungkin seperti ikan anyir. Sudah berapa hari aku tidak membersihkan diri dan tidur di pojok dapur bersama yang lainnya.

Ia menuang kopi ke dalam cangkir lalu menyeruputnya. Gerak-gerik dan bau tubuhnya membuatku mematung. Kulirik apa yang tertulis di buku besar yang kertasnya bergaris. Tampaknya, ia menyalin ulang juga dengan aksara yang sama dengan lempir lontar. Aku pernah melihat jenis aksara seperti itu dari koleksi sahabat Aki yang bekerja sebagai juru tulis. Aki dan sahabatnya sering membaca bersama naskah-naskah kuna jika ada acara-acara tertentu, misalnya bersih kampung atau sedekah bumi.

Terdengar ombak mendayu-dayu, ada angin laut datang. Pintu ruangan ini masih terbuka, cahaya dari cempor pun bergoyang-goyang. Kepalaku masih dalam keadaan menunduk, meski begitu kedua mataku mampu memperhatikan apa yang ada di sekitar.

“Sita,” kudengar ia tidak lagi memanggilku ‘jij’. “Sita bisa membaca tulisan seperti ini dengan lancarkah?” Kudengar ujung pertanyaannya dihiasi napas yang sangat dalam. Apa yang sedang ia rasakan saat ini sebenarnya? batinku.

Aku lebih mendekatkan diri pada lontar yang ia maksud, bau lontar itu terhirup, aromanya seperti bau darah bercampur racun ikan. Racun yang dibuat dari akar tanaman tuba, yang biasa digunakan untuk menangkap ikan. Aku merasakan sesak di kerongkongan, pusing datang ketika menghirup bau lontar tua itu, entah lontar itu berasal dari abad keberapa, mungkin ratusan tahun yang lalu ketika digoresnya dengan pisau pangot. Mataku dapat melihat goresan yang memiliki lekukan serat yang khas. Aku merasa heran, kenapa ia tak menutup hidungnya agar tidak teracun lontar ini, untuk menghindari hirupan bau yang keluar dari lontar itu.

“Ya, Meneer. Diri ini bisa membaca aksara itu, meski tidak terlalu lancar. Akan dicoba untuk membacanya, tapi Meneer izinkan saya memakai selendang ini dulu agar tidak terlalu membaui aroma lontar. Diri ini juga memohon pada Meneer untuk memakai sarung tangan agar tidak memegang langsung dan tentunya sapu tangan untuk menutup hidung Meneer.” Aku berusaha menjelaskan kepadanya.

Ia menurut. Namun, ada satu lagi yang mengganjal hatiku, kulirik beberapa kali ke arah pintu keluar. Ada banyak pasang mata yang seakan mengintai, para penghuni kapal ini. Mereka seperti tidak suka dengan keberadaanku di kursi yang sedang kududuki ini. Tak senang melihatku berbincang dekat dengannya. Aku jadi merasa tidak nyaman.

“Meneer, diri ini ingin kembali ke dapur saja,” pintaku padanya sambil berdiri hendak pamit. Ia seolah paham kondisiku.

“Jangan! Kembali duduk, Sita. Hei, jij, ya kamu penjaga di sana, hei, penjaga! Tutup itu pintu, ik sedang bekerja, jangan ganggu!” teriaknya pada penjaga pintu. Kedua tubuh pintu pun tertutup rapat, angin laut berkurang masuk ke ruangan. Pandangan purnama pun meredup di langit. Rintik hujan mulai membasahi badan kapal.

“Sila baca bagian yang ini sekarang, Sita. Sementara ik akan langsung menulis ulang di buku ini. Tolong suaranya yang kencang, dekatkan pada daun telinga ik. Ik ingin dengar suara yang jelas, agar tak ada salah menuliskannya,” perintahnya cukup jelas. Aku menurut.

“Ieu carita pantun Sunda, nu dianggap layung beureum kahirupan di dunya.[4]

Deru ombak yang mulai terdengar ditambah derap para penjaga pintu di luar ruangan sekaligus kayuhan kayu yang menghantam samudra membuat kapal ini kian menjauh dari tempat kelahiranku. Sepanjang bermandikan malam dan ditemani cahaya cempor kuningan, aku membacakan aksara-aksara kepadanya. Sesekali ia tersenyum dan mengangguk seolah paham dengan bahasa yang kuucapkan sambil menuliskan kembali baris per barisnya.

Bertambah lagi satu purnama di atas samudra.

Sejak malam itu, aku tidak lagi berada di dapur saat malam. Kuhabiskan waktu menemaninya membaca selempir demi selempir lontar dan nipah. Sementara ini, belum kubaca sama sekali naskah kuna yang berbahan daluwang. Ah, Meneer Pleyte, aku tak tahu harus mengucap apa kepadamu, berada di sisimu kala sedang berkonsentrasi menyalin ulang dan mengalihbahasakan cerita-cerita dalam naskah kuna. Sesekali tanpa jeda kelas antara kita berdua, kau bertanya kepadaku apa arti kalimat yang baru kautemukan kali pertama. Aku dengan senang hati menjelaskan dengan pengetahuan yang kumiliki, tanpa kamus, tanpa alat bantu, hanya mengandalkan ingatanku pada apa yang Aki dongengkan selama ini.

Setiap kali kumulai membaca aksara-aksara, aku melakukan permohonan izin dan maaf kepada leluhur yang telah menuliskannya dan menjaganya. Ia selalu memperhatikan caraku memperlakukan naskah-naskah kuna itu. Mulutku komat-kamit sambil mengelus lembut goresan-goresannya dengan sapu tangan yang diberikannya padaku, yang sudah kuoles dengan minyak kemiri sangrai, kusisihkan debu dan racun yang telah menutupi goresan aksara itu selama ratusan tahun.

Dan kau, Meneer, kau pun menjadi kian menghargai benda-benda peninggalan nenek moyangku ini. Kulihat kau seperti sedang memegang seorang perempuan yang tak boleh disakiti ketika menyentuhnya. Berada di sisinya, aku seolah sedang bersama Aki, mempelajari lagi semuanya. Tak kurasakan lagi goncangan laut yang membuat perutku seperti dikocok ombak. Tak kurasakan lagi perihnya tanganku saat menyentuh air laut dari bocornya dak saat kubuang kembali ke laut setiap pagi. Semuanya terhapuskan karena aku merasa senang berada di sisinya, membacakan goresan-goresan ini untuknya sampai-sampai malam habis pun tak terasa. Saat payung bintang tergantikan jubah langit berwarna biru, aku meninggalkannya yang terlelap berpangku di atas meja.

Katanya, sebentar ini kapal ini akan berlabuh di kota kelahiran dan tempatnya bekerja, kota yang asing di telingaku, Leiden.

***

Matahari berselimutkan kabut pagi yang tebal. Minggu ini adalah akhir dari musim gugur yang akan berganti musim dingin, hingga membuatku harus berpakaian ekstratebal untuk menembus suhu yang sudah bertengger di bawah lima belas derajat. Kupinjam sepeda ontel milik empunya pondok, meski angin kencang mendera kukayuh ontel sekuat tenaga agar bisa sampai perpustakaan yang kutuju pertama kali, milik KITLV dulu yang harus kusapa.

Aku mencoba menikmati kayuhan sekuat tenaga ini, sambil asyik membiarkan kedua mataku memandangi yang berlalu. Ada pepohonan besar yang berbaris rapi sepanjang jalan meski rambutnya hampir botak dan menyisakan dedaunan berwarna cokelat menunggu angin untuk menggugurkannya. Ada sapi berwarna hitam putih yang mirip gambar sapi di kaleng susu yang sering kuminum sewaktu kecil dulu. Mereka asyik merumput di lapangan luas pinggir jalan. Ada banyak juga ontel-ontel yang kujumpai sepanjang perjalanan, dalam hati kuberbisik, “Inilah sebabnya kenapa postur tubuh orang sini lebih besar dan tinggi, setiap harinya mereka melawan cuaca seperti ini dan tetap menaiki sepeda ke mana-mana. Hebat.”

Aku yang bertubuh kecil ini tak jarang terbawa angin kencang yang lewat hingga terjatuh. Paling aman aku bersepeda di jalan yang berada di antara gedung-gedung tinggi, tapi bila kutemukan persimpangan atau jalan yang tak ada pelindungnya, siap-siap aku menahan diri dan sepedaku sendiri agar tidak terbawa angin lagi. Merasakan perjalanan yang tak mudah ini, aku malah banyak tertawa senang dan menikmati semuanya. Bahkan, dingin yang menusuk pun tak kurasa tertutup semangat ingin cepat sampai menyentuh naskah-naskah kuna. Mewujudkan impian selama bertahun-tahun nemplok di kepala, perpustakaan kampus Leiden dan KITLV.

“Ah, baunya. Ini bau sejarah,” bisikku dalam hati setelah menyimpan sepeda di parkiran khusus sepeda dan membuka pintu memasuki perpustakaan KITLV yang ada di lantai bawah.

Namun, tiba-tiba aku diselimuti rasa aneh, aku seperti pernah menginjakkan kaki ini. Tadi di sepanjang perjalanan juga, aku merasakan hal yang sama saat menikmati suasana Leiden. Tak asing. Namun aku kan baru pertama kali datangi kota ini, kutepis keras keanehan yang mengenang masa lalu ini, ada banyak hal penting yang ingin kukerjakan cepat-cepat. Setelah kuhirup dalam-dalam aroma di dalam perpustakaan yang hangat kulangkah kaki menuju meja pustakawan dan langsung mendaftar gratis sebagai anggota.

Pustakawan memberi banyak informasi setelah kartu anggotaku selesai dibuat, mulai dari tata letak buku sampai cara untuk mendapatkan sebuah buku, baik itu buku baru terbitan Indonesia maupun buku tua termasuk naskah-naskah kuna. Untuk mencari naskah-naskah kuna tersebut, aku harus membuka katalog-katalog yang menyimpan informasinya terlebih dahulu. Katalog tersebut dibuat oleh para peneliti naskah kuna yang dulu—seratus tahun lalu—telah mengumpulkan data-datanya.

Beberapa jam lamanya aku berada di depan layar komputer mencari-cari nomor kode naskah-naskah kuna. Aku begitu kalap melihat data-data yang tersimpan, tetapi aku mengingatkan diriku sendiri, “Ayo, Ta, fokus cari data untuk penelitianmu dulu, jangan kalap! Ingat, jangan kalap.”

Satu demi satu kode naskah kuna yang telah kupilih kuberikan kepada pustakawan. Selama mereka mengambil apa yang kupesan, aku dipinta menunggu beberapa menit. Setelah pesanan datang, aku dipanggilnya lagi. Langsung saja kupotret halaman demi halamannya setelah mendapatkan izin. Kupotret tulisan nenek moyangku sendiri, kebanyakan yang kupesan ditulis sekitar abad enam belas sampai sembilan belas. Meski otot lengan nyut-nyutan akibat memegang kamera dengan posisi yang harus benar untuk mendapatkan gambar yang baik dan bisa dibaca, aku merasa senang. Kapan lagi aku bisa memotret banyak naskah kuna seperti ini. Di negeriku sendiri bila mendapatkan kopi naskah kuna tidaklah mudah dan gratis. Apalagi yang masih berada di tanah adat, sungguh sulit bisa menyentuhnya.

Di jam istirahat aku mengobrol dengan petugas istirahat, sambil bertanya satu hal yang membuatku penasaran, “Di manakah tempat penyimpanan naskah-naskah yang aku pesan tadi?”

Ia menjawab, “Di bawah tanah.”

Tiba-tiba aku merinding dan melirik luar jendela, “Itu kan sungai! Bagaimana kalau sungai sebelah gedung ini merembes masuk ke dalam tempat penyimpanan naskah-naskah kuna dan buku-buku ini?” Aku menutup wajah, tak mau membayangkan bank data sejarah negeriku ini kebanjiran. Namun, aku menenangkan diri dengan meyakinkan teknologi di sini pasti aman dan kuat untuk menjaganya.

Kupandang luar perpustakaan dari balik jendela yang kacanya bersih. Gerimis membasahi gedung-gedung, pepohonan, jalanan, dan sebuah jembatan yang melintangi sungai. Aku pun lanjut asyik memotret setelah jam istirahat selesai. Sesekali aku diingatkan petugas untuk memelankan suara aktivitas memotretku, klik klik klik. Aku tersenyum puas sambil berbisik berkali-kali, “Di negeriku tak mungkin bisa begini, tak mungkin bisa.” Aku tertawa dalam hati.

Di dalam ruangan perpustakaan, beberapa kali aku bertemu dengan mahasiswa asal negeriku, beruntung aku juga bertemu kenalan di jejaring sosial yang sedang studi di sini, namanya Koen. Ia memberitahuku sebuah berita yang membuatku sangat terkejut. Perpustakaan milik KITLV ini akan ditutup tahun depan. Aku lemas mendengarnya, ternyata kabar ini sudah menyebar beberapa bulan lalu di kalangan mahasiswa yang sering bekerja di ruangan ini. Konon, buku-buku yang terbilang terbitan baru akan dikembalikan ke negeriku sementara naskah-naskah kuna akan disatukan dengan perpustakaan kampus.

Aku meringis, baru juga menikmati naskah-naskah kuna yang dirawat dan dijaga dengan sangat baik di sini, kok sudah akan ditutup saja?

Konon, alasannya tutup adalah karena anggaran dana dari pemerintah digilir kepada museum lain. Aku pun mengawang. Apakah negeriku bisa mengambil dan meminta seluruh data? Butuh biaya tidak sedikit, sudah begitu harus ada ruang-ruang khusus untuk menyimpannya, termasuk perawatan tiap harinya. Aku meragukannya, karena tidak sedikit di negeriku sering terjadi beberapa kali ada buku atau naskah kuna yang dibakar atau dikubur karena ada alasan politis tertentu, aku tidak mau menceritakan soal ini di sini.

Hatiku sungguh gulana mendengar kabar itu, tetapi aku harus sebisa mungkin memanfaatkan kedatanganku ini dengan memotret sebanyak yang kubisa dan kukumpulkan untuk kubawa pulang. Aku pun kembali fokus membaca katalog setelah satu naskah kuna sudah kulahap habis dengan memotretnya dan mengembalikannya ke pustakawan. Katalog yang kupegang ini mengoleksi naskah-naskah kuna yang berasal dari wilayah Jawa Barat dan Banten. Penyusunnya bernama ‘Pleyte’. Ah, Pleyte, nama yang tidak asing di telingaku. Kubuka daftar naskah koleksi Pleyte. Satu per satu aku baca deskripsi naskah-naskah kuna yang Pleyte bawa dari negeriku. Semua koleksi Pleyte disimpan di perpustakaan ini. Di bagian akhir katalog yang masih ditulis tangan ini, ada penjelasan biografi singkat Pleyte.

CM Pleyte (Leiden, 24 Juni 1863 – Batavia, 22 Juli 1917)

Kulihat sebuah foto terlepas dari lembaran katalog. Ah, ini! Ternyata seperti ini rupa wajah Pleyte. Ia dipotret bersama seorang gadis. Gadis berpakaian kemben kain batik. Di bawah foto ada tulisan tangan Pleyte, “Nuhun pisan, Sita.”

Sita? Membaca nama gadis yang tertulis itu tanganku bergetar. Di leher Sita tampak sebuah kalung berbandul rubi merah. Ini yang membuatku kaget bukan kepalang, selain namanya. Bandul itu, bandul itu! Kukeluarkan kalung yang melingkari leherku sudah tiga tahun ini, ada bandul yang menggantung, dan sama seperti yang dipakai Sita. Bandul ini aku temukan di pasar loak di kampungku. Aku heran sekali, kenapa bisa ada bandul yang bentuknya sama persis seperti ini. Gadis di foto itu posisinya duduk di sebelah Pleyte yang berdiri sambil memegang kropak lontar. Sepertinya jenis kropak itu pernah kulihat di salah satu pameran naskah kuna.

Aku kembali membuka-buka lembaran katalog yang ditulis Pleyte, ada satu gambar dan informasi yang menyertainya, ditambah sebuah keterangan, “Naskah ini dibantu Sita dalam pengalihaksaraan dan alihbahasanya. Naskah ini berjudul Goenoeng Soenda jeung Jalma Manoek.” Aku pun mencatat kode lontar tersebut dan menyerahkannya kepada petugas perpustakaan. Aku ingin memotret lengkap naskah tersebut.

Waktu seakan tak ada habisnya andai perpustakaan ini tidak memiliki jam tutup beraktivitas. Aku pun mengakhiri sesi pemotretan dan bersiap-siap untuk kembali ke pondok.

Senja di luar perpustakaan KITLV memerah mengibas-ngibaskan kenangan. Aku pun keluar dari parkiran sambil menuntun ontel ke barat, arah pulangku. Sebelum kunaiki sepeda, kulirik jembatan di atas sungai seberang gedung, tampak dua sosok yang berdiri di atas jembatan. Mereka seperti sedang beradu kasih di bawah cahaya senja, seakan menjalani sebuah ritual penghormatan kepada kemunculan Dewi Senja.

Aku tak ingin mengganggu kekhusyukan mereka sebenarnya, tetapi aku harus menyeberang jembatan itu juga. Pelan-pelan kulangkahkan kaki, tak jadi duduk di pedal sepeda. Kulewati mereka perlahan, ujung mataku melihat mereka tengah memperhatikan keberadaanku.

“Sita,” aku menoleh pada suara seorang perempuan yang ada di dekatku, perempuan di atas jembatan. Aku merasa terpanggil, karena Sita adalah namaku. Kutatap kedua orang itu, dengan jarak yang sudah sangat dekat.

“Sita,” sekali lagi ia memanggilku. “Boleh kupinta bandul kalung di lehermu itu?”

Tubuhku seketika itu kaku, di depanku ada dua wajah yang baru saja kulihat fotonya di ruang perpustakaan. Mereka berdua tersenyum kepadaku, “Kami sudah lama menunggu kedatanganmu, Sita,” ujar lelaki yang melingkarkan tangan kirinya ke pinggang perempuan di sebelahnya.

Angin kencang tiba-tiba datang dari sebelah kananku, dari arah sungai. Tubuh kecilku ini tak sanggup menahannya, tubuh kakuku goyah hingga pada suatu kekuatan angin yang datang, ia membuatku dan sepeda yang kugenggam erat melayang melewati pembatas jembatan.

“Awas, Sita! Awas jatuh ke sungai!” Terdengar suara Koen dari seberang sungai. Sebelum aku tenggelam, terlihat lagi dua wajah yang masih tersenyum kepadaku di atas jembatan, “Itu kan, itu kan, wajah itu kan, wajah Pleyte dan Sita yang ada di foto tadi!” Aku tak sempat teriak.

Byur.

La Rochelle – Les Minimes, 22 November 2013

[1] Kropak, kotak kayu tempat penyimpanan naskah kuna yang berbahan daun lontar.

[2] Jij, kamu dalam bahasa Belanda.

[3] Ik, saya dalam bahasa Belanda.

[4] Ini cerita pantun Sunda, yang dianggap lembayung merah kehidupan di dunia.

*Cerpen pernah diterjemahkan dan dimuat di majalah Cupumanik 112, Desember 2015. Foto di Bumbu Desa, Cirebon, 2 April 2016 oleh Pujiyana. Selengkapnya dan edisi editan ada di buku kumpulan cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, terbitan Ultimus Bandung, Desember 2017.

Kategori: Cerpen dan Tulisan.