Konser Sigur Rós

Cuman satu band yang pengen banget aku nongtonin mereka, Mar.

Cuman Sigur Rós.

Kalau mereka manggung di Singapura atau Malaysia, aku mau bela-belain nongton mereka, Mar. Cuman mereka, Mar. Gak ada satu band manapun lagi yang akan bela-belain aku tongton.

Kamu tahu, Mar? Aku mau banget nongton Sigur Rós, dengerin lagu-lagu yang mereka bawain sambil dipeluk atau ciuman sama kekasih, Mar. Rasanya bakal romantis banget.

Itu impian aku. Hal yang aku mimpikan, Mar.

*Aku bercerita pada Mar, di toko buku IM Books, sambil beberes buku akhir 2011 yang lalu

.

Itu perkataanku pada seorang teman dua tahun yang lalu. Ya, saya sangat menyukai lagu-lagu Sigur Rós sejak 2008 yang lalu. Satu hal tentang mereka yang saya tahu adalah asal mereka, dari Islandia. Dan satu hal lagi soal lagu-lagu mereka yang bisa bikin seseorang bunuh diri saking terlenanya sama irama musik mereka.

Saya dapat banyak lagu Sigur Rós dari teman dekat saya waktu 2008 yang adalah vokalis band dead metal. Ada sesuatu yang aneh ketika tahu dia suka lagu-lagu Sigur Rós. Satu ketika saya juga mendapatkan video Sigur Rós “Heima” dari teman saya yang bernama Tama.

Dari video dokumenter musik Heima itu saya selalu berkhayal ingin sekali menonton konser mereka. Inginnya sih nonton di Islandia-nya langsung, di hamparan rumput, sebelah bukit, sambil bakal jagung di atas api unggun, bersama anak-anak yang bermain layang-layang, dan di sekitar banyak pasangan yang berpelukan juga berciuman. Indah sekali membayangkannya.

Sekitar 2009 saya pernah punya kekasih yang menganggap Sigur Rós adalah salah satu inspirasinya bermusik. Kami pernah melakukan sebuah kegiatan yang di-backsound-kan beberapa lagunya Sigur Rós. Intim sekali jadinya. Hingga saya melengkapi keingininan saya menonton Sigur Rós bersamanya, dan berada dalam pelukannya selama konser tersebut.

Pada 2012 saya mendengar kabar mereka akan konser di Singapura dan Malaysia. Saya senang sekali. Sampai-sampai saya nekat mau ke sana sendirian, karna kekasih saya pada saat itu sepertinya tidak tertarik untuk menonton. Atau dia memang tidak mau menemani. Pernah suatu kali saya menangis karna tidak bisa menonton mereka. Keuangan saya tidak memungkinkan untuk nonton konser mereka, bertepatan dengan urusan administrasi masuk kuliah lagi di Unpad.

Saya menahan diri untuk tidak kecewa sekali. Saya hanya berdoa suatu hari nanti saya pasti akan melihat mereka konser. Suatu hari itu pasti bahagia sekali bagi saya.

Sejak 2008 itu ketika saya belajar, menulis apapun, terdiam, berkegiatan di rumah bahkan saat bepergian saya mendengarkan beberapa lagu Sigur Rós yang saya sukai, mulai dari Olsen-Olsen, Hoppipolla, Fetival, dan lainnya.

Suatu hari, akhir 2012…

Saya dan teman-teman IM Books sedang beres-beres buku. W, salah satu teman saya memberi sebuah kejutan dengan memperlihatkan sebuah postingan di twitter bahwa Sigur Rós akan main di Jakarta bulan Mei 2013. Saat selesai dibaca, saya dan W menjerit-jerit saking senangnya, kita pun lompat-lompat girang.

Sampai-sampai air mata saya tanpa sadar menetes saking senangnya.

Dan kepastian mereka akan main ditentukan tepat pada saat saya ultah, yaitu 11 Januari. Akan memberitahu kapan jadwal dan tiket mulai dijual. Saya senang sekali. Sampai-sampai impian saya itu kembali muncul. Tidak menyangka, sebuah kejutan di akhir tahun yang membuat saya bersemangat menyambut datangnya bulan demi bulan di tahun 2013.

Pada Januari 2013, saya mempunyai teman dekat yang hampir menjadi suami saya. Pada suatu hari saya pernah mencoba mendengarkan dia lagu-lagu Sigur Rós. Tapi ternyata tidak masuk pada rasa suka. Saya dapat membacanya saat dia mengomentari lagu-lagu mereka, saya merasa sedih, karna sepertinya bukan dia yang akan datang berdua bersama saya di konser nanti, karna yang saya inginkan adalah menikmati lagu-lagu Sigur Rós bersama, berdua, dalam pelukan.

Kebayang kan, yang satu maniak banget, sementara yang satu biasa aja, bahkan menganggap lagu-lagu Sigur Rós seperti lagu-lagu sebelum adanya Renaissance, saya lupa istilah zaman sebelum Renaissance.

Tapi pada awal Februari dia memberi saya tiket Sigur Rós dua buah, dengan sisipan sebuah surat di balik tiketnya.

Ini bukan paksaan atau mahar. Tapi bunga mawar untuk Sinta Ridwan, cahaya rembulan yang menambah pesona kenikmatan di kesunyian malam ini.

Terbebas dari nasib kau dan aku. Menarilah musik ini dengan siapa saja atau sendiri. Tapi menarilah. Karena musik ini adalah hidup. Mahakarya Sang Pencipta alam semesta.

Saya senang, tapi merasa sedih menerima tiket itu, entah kenapa. Yang jelas bukan karna saya tidak jadi menikah dengan si pemberi tiket. Tapi mungkin karna yang membelikan tiket itu bukan seseorang yang selalu ada di hati saya. Seseorang yang selalu saya impikan untuk menemani saya melihat konser itu.

Bulan Mei pun datang, hati saya sedang tidak karuan rasanya. Perasaan saya hampa, sampai-sampai saya sempat memutuskan tidak jadi melihat konser Sigur Rós dan berniat memberikan dua tiket itu pada teman-teman saya.

Karena saya tidak punya kekasih lagi saat ini, saya merasa tidak terlalu bergairah menonton Sigur Rós, karna merasa impian saya tidak lengkap kalau tidak pergi bersama seorang yang saya cintai.

Dua tiket itu bahkan hampir saya berikan pada 2 teman saya. Tapi tiba-tiba pikiran saya berubah, saat saya sedang mendengarkan lagu-lagu Sigur Rós kembali. Saya suka musik ini bukan karna alasan apapun. Saya ingin mendengar mereka live langsung karna saya punya ikatan dengan beberapa lagu dari mereka, bukan karna apapun dan siapapun. Walaupun di dalamnya begitu banyak kenangan bersama orang-orang terdekat saya.

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi menonton konser 2 hari sebelum konser tiba. Satu tiket untuk saya, dan satu lagi saya berikan pada W. Karna saya tahu sekali dia sangat suka Sigur Rós. Bahkan saya pernah diberi oleh W kaos Sigur Rós album baru, Valtari. Saya tidak ada maksud memilih-milih orang yang akan menemani saya. Awalnya saya ingin mengajak 2 teman dan satu tiket lagi beli khusus untuk diri saya.

Tapi karena awal bulan Mei saya sudah menghabiskan uang untuk membeli dua buah topeng Klana, bayar ujian internasional bahasa Perancis, memesan buku Komunitas Bambu, dan persiapan untuk membayar les level selanjutnya. Maka saya urung membeli tiket kembali. Bahkan saya berniat suatu saat saya akan kembalikan dua tiket yang dibelikan oleh seseorang yang dulu dekat dengan saya itu dengan uang 1,700,000. Karna satu tiket festival seharga 850,000. Suatu saat nanti jika saya memang punya uang, saya akan kembalikan. Agar saya merasa tidak menggunakan uang dia, walaupun tiket itu merupakan hadiah. Tetap saja saya merasa tidak enak hati.

Sehari sebelum konser saya bertemu W, dan memutuskan untuk mengajaknya. Saya dan dia berencana akan pergi ke Jakarta ikut rombongan yang mereka namai Post Rock. Saya merasa tidak nyaman pergi bersama orang-orang yang tidak saya kenal, tapi mau bagaimana lagi, pulang dari Jakarta menuju Bandung jam 12 malam akan membuat pusing kepala.

Dengan membayar 125,000 saya bisa ikut bis itu berangkat dan pulang. Saya merasa sangat exciting namun juga sangat sedih karna tidak pergi bersama seseorang yang ada di hati saya. Tapi sudahlah, toh akan dihibur oleh Sigur Rós, niatku sederhana, saya hanya ingin menikmati lagu-lagunya, menyenandung bersama, dan menangis di sana, menumpahkan rasa sedih, kecewa, kesal, pikiran berat, dan sebagainya.

Saya pengen curhat sama Sigur Rós, lewat air mata.

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dengan W, tidak apa-apa tidak mengajak teman dekat saya, toh dia selama tahu kalau Sigur Rós akan main di Jakarta tidak pernah bertanya sedikit pun tentang “melihat bersama”. Kalau saya ajak, nanti disangka paksaan lagi, padahal dia tidak mau atau tidak tertarik. Tidak apa-apa saya tidak berada dalam pelukan siapapun saat menonton konser itu, karna saya datang untuk menikmati, bukan untuk nostalgia. Saya suka lagu Sigur Rós, maka saya datang. Bukan karna alasan siapapun, diminta, atau karna kenangan masa lalu, bukan. Oleh karena itu saya ajak W, saya tahu betul bagaimana dia menyukai lagu-lagu Sigur Rós.

Dan saya agak senang, beberapa teman lama saya akan menonton konser itu, kakak beradik yang pernah ikutan Aksakun, dan sepasang kekasih yang berjodoh saat mereka ikut Aksakun pula, teh Iyang, Ui, Mar dan Rere. Namun, kami tidak selalu bersama, karna penempatan tiket ada yang di festival dan di tribun. Tribun pun dibagi 5 kawasan.

Akhirnya tiba juga waktunya…

Malam sebelum konser, saya tidak bisa tidur tenang. Entah karna tidak bisa mengajak orang yang ada di hati saya, entah karna sebal karna dia tidak peduli sama sekali akan konser ini, entah karna harus kumpul pagi-pagi. Ya, kita harus berkumpul jam 9.30 pagi di depan kampus ITB, tepatnya di taman Salman. Saya jadi ikut rombongan bis tersebut. Agak kaku juga, karna anak muda dan “gaul” semua yang ikut hehehe.

Kalau jam 9.30 harus di ITB artinya satu jam sebelumnya saya harus pergi dari Jatinangor. Pas hari H saya bangun jam 5 subuh, siap-siap dan sebagainya, bahkan jam 7 sudah siap, saya nonton tv dulu sebentar, sampai jam 7.30. Sempat juga makan bubur dan minum jus alpukat, maka saya pergilah jam 8 pagi. Sampai jam 9 kurang di Balubur, dan bertemu dengan W. Bahkan saya sempat tergoda untuk belanja baju dulu di depan ITB, hehehe.

Menunggu 2 jam akhirnya jam 11 pergi juga satu rombongan bis, sekitar 25 orang, cuman 2 orang yang saya kenal, W dan Ui, dan baru kenalan sama temannya Ui, si Ipan, dan ada satu orang lagi yang lupa-lupa ingat, yang pada akhirnya saya ingat kalau dia Deni dari Sahabat Kota.

Saya manfaatkan waktu perjalanan Bandung-Jakarta dengan tidur. Sesampainya di Senayan jam 3 sore. Lumayan lama juga, dan tegang karna pak supir bis, akhirnya sampai dengan selamat dan semakin gemetar karna sebentar lagi akan nonton konser yang sudah ditunggu-tunggu sejak 2008.

Karna lapar, maka kami makan dulu, dengan berat hati membayar mahal makanan yang tidak habis dan tidak karuan itu. Lalu menukar tiket yang bentuknya biasa banget. Prosesi penukaran tiket yang acak-acakan. Promotornya baru pertama kali sepertinya mengadakan konser besar begini. Mereka menarifkan mahal sekali tiketnya tapi pelayanannya tidak memadai sekali, saya kecewa dengan promotornya.

Kekecewaan saya bertambah lagi dengan ngaretnya jadwal, harusnya open gate jam 5, kita-kita masih membuat antrian ular yang panjang sekali sampai jam 7 malam. Baru dibolehkan masuk jam 7.30 malam. Kita pun disuruh menunggu lagi, Sigur Rós yang ditunggu-tunggu tidak muncul juga. Saya malah sempat berpikiran jelek kalau acara ini dibatalkan, dan saya juga berpikiran jelek sekali kalau-kalau ada bom dipasang di salah satu sudut (karna kemarin-kemarin polisi dan densus 88 heboh baku tembak). Takut dan was-was juga sih.

Akhirnya jam 9 malam mereka mulai konser, aku dan W jerit-jerit senang sekali awalnya. Satu lagu pun selesai dan saya kaget sekali ketika Jonsí (vokalisnya) bilang “hatur nuhun”. Saya dan W bengong, tapi tidak lama bengong, bahkan kita menjerit dan membalas sapaan Jonsí dengan “sami-samiiiii).

Saya berkali-kali bengong saking takjubnya dengan visual dan lighting mereka, terlepas dari sound dan suara vokalnya Jonsí yang sangat keren sekali pisan uwow tiada duanya. Saya seperti terhipnotis bergerak kanan kiri depan belakang, nunduk, nangis, menjerit, duh kalau tidak gelap, saya sudah seperti orang tidak normal saja lah. Kayak orang gila.

Lagu-lagu yang saya hapal dan mengenang di hati saya beberapa dibawakan, hanya satu lagu yang tidak dibawakan, sebenarnya beruntung juga tidak dibawakan karna ada satu perempuan yang suka sekali pada lagu itu. Dan dia adalah masa lalu orang yang pernah ada di hati saya.

Saya senang sekali datang ke konser itu, bahkan saya menganggap ini adalah perayaan 10 Mei paling keren dalam hidup saya, walaupun saya merayakannya sendiri. Pernah juga 9 Mei saya merayakan dengan launching buku Berteman dengan Kematian plus acara musik yang keren-keren bahkan Cherry Bombshell, Tiga Pagi, dan Elemental Gaze pun main juga. Tapi tahun ini paling kena sekali, mungkin karna sendirian ya, yang mengingat itu.

Beberapa kali air mata saya jatuh, entah karna performance mereka, suasana hati dan pikiran saya yang sedang tidak bagus, atau karna apa, saya campur aduk rasanya, yang pasti rasa sedih saya begitu besar. Tapi terima kasih Sigur Rós, saya betul-betul suka lagu-lagu kalian. Saya suka karya kalian. Kalian sangat keren. Rasa sedih saya semakin membulat dan membuncah seiring dengan nada-nada tinggi, dan lengkingan kamu, Jonsí.

Pulang dari Senayan jam 12, sampai Bandung jam 4 subuh. Saya dan W turun di Kosambi, lanjut naik angkot Cicaheum-Cileunyi, W turun di Ujungberung. Saya akan turun di Cileunyi, tapi saat melihat sayuran segar di Pasar Ujungberung, saya pun tergoda untuk belanja, maka belanjalah saya, mungkin lebih dari 1 tahun saya tidak belanja sayuran di sana. Setelah ya ngekost di Jatinangor. Saya belanja banyak sekali mulai dari genjer, kangkung, tempe, cabe domba, dan banyak lagi. Saya berharap Elsi mau masak untuk saya, hehehe (Elsi adalah teman satu kostan di Jatinangor yang pintar memasaknya).

Dari Ujungberung saya naik lagi angkot menuju Cileunyi, tapi saya (begonya) malah turun di Cibiru menunggu angkot Majalaya yang lumayan lama nongolnya, mungkin setengah jam saya menunggu sampai akhirnya muncul juga angkot itu.

Saya pun sampai kostan jam 5 subuh. Bersih-bersih dan memasak dengan Elsi, jam 6 pagi dan sarapan pagi-pagi sekali. Kami berdua punya acara masing-masing, Elsi akan tanding futsal melawan Perancis, saya berencana datang ke acara Never Give Up! Di kampus Unpad, jam 6.30 pagi. Tapi karna badan saya sudah lemas tidak karuan saking ingin tidurnya. Saya pun memutuskan untuk tidur panjang hari ini. Dan berharap saya mimpi nonton konser Sigur Rós lagi dan berada dalam pelukan orang yang saya cintai.

Jatinangor, 12 Mei 2013

*Barusan saya lihat jadwal tour Sigur Rós akhir tahun ini. Dan saya menjerit-jerit karna mereka main di daerah Eropa, semoga saya ada kesempatan menonton lagi, dan benar-benar berada dalam pelukan orang yang saya kasihi saat itu.

Kategori: Tulisan dan Ulasan.