Kopi Arabika Ciputri

Oleh Sinta Ridwan

Dari pesisir Cirebon menuju Gunung Indraprahasta, eh, kaki Gunung Ceremai maksudnya, saya dibonceng naik motor pada sebuah sore yang hujannya malu-malu tapi mau. Perjalanan lewat Kecamatan Pancalang dari arah Cirebon Girang, lalu menuju Kuningan kota ke arah Gua Maria. Naik ke atas lagi ada Palutungan, namun motor berhenti sekitar 500 meter sebelum Curug Ciputri. Sepanjang perjalanan saya melihat beberapa bis wisata yang parkir di beberapa titik.

Ciputri, nama sebuah dusun yang masuk Kecamatan Cigugur. Mungkin pada zaman dulu kala, curug atau air terjun Ciputri ini khusus tempat pemandiannya putri-putri atau perempuan saja. Tapi saya tidak akan membahas sejarah Curug Ciputri di sini. Saya ingin menemui seorang petani muda bernama Tirta.

Saya bertemu Tirta di acara Simponi Kopi yang diselenggarakan penggiat kopi Wilayah III Cimayungan di Paseban Cigugur. Bertepatan dengan acara Seren Taun pada September dua tahun lalu, 2016. Di Simponi Kopi berkumpul beberapa petani, penyeduh, pemilik kedai kopi dan lainnya. Selama tiga hari mengadakan semacam pertemuan, berbagi pengalaman termasuk mendatangkan petani kopi terkenal dari Temanggung, Pak Mukidi.

Salah satu acara penting yaitu cupping kopi dari Kaki Ceremai, di sanalah kopi hasil kebun Tirta yang dinamai Ciputri paling banyak disukai karena memiliki rasa yang unik dan berbeda. Satu hal yang paling saya suka adalah, Tirta ini masih muda. Kita semua dibikin terkejut ketika ia ada di tengah-tengah petani yang hampir seluruhnya seumuran kakek kita. Sayang, saat acara Simponi Kopi itu saya tidak ada kesempatan mengobrol banyak dengannya. Kali ini saya sengaja mendatanginya untuk sekadar mengobrol soal kopi hasil garapannya dan melihat langsung kebun kopinya.

Beruntungnya saya, kebun kopi milik Tirta sedang persiapan untuk petik merah. Meski belum semua biji kopi sudah memerah, namun kegiatan panen yang ia bikin sendiri tiga tahapan petiknya, akan dimulai esok hari. Tiga tahapan itu disebutnya sebagai pre-harvest, harvest, dan pasca-harverst. Awalnya Tirta kagok menjawab pertanyaan-pertanyaan detail saya. Namun lama kelamaan ia bisa santai menjawab sambil sesekali tersenyum manis menceritakan kebun kopi miliknya.

Ini adalah panen kopi kedua kalinya. Tahun 2015 lalu panen jatuh di Mei dan April. Tiga tahapan yang dimaksud Tirta sebagai pra panen, panen raya, dan paska panen adalah melihat kuantitas red cherry. Saat melakukan pra panen, hanya sedikit ia memetik merah dan masih banyak biji hijaunya yang ia biarkan, sehingga ia bisa memetik satu per satu biji yang sudah berwarna merah lalu dikumpulkan dan diproses lebih dulu. Pada saat panen raya, sudah banyak red cherry meski masih ada biji hijau yang akan memerah saat paska panen. Tirta pun melakukan tiga tahapan itu pada panen tahun lalu.

Dengan perasaan bangga, ia bercerita kalau esok hari (mulai 11 Februari) akan melakukan pre-harvest. Untuk berapa lamanya waktu panen, kata Tirta tergantung bagaimana beresnya. Setiap hari, biasanya ia memetik red cherry minimal satu jam atau dua jam. Lokasi kebun kopinya berada di tiga titik. Ia berniat hanya akan memetik red cherry demi kualitas kopi garapannya.

Kopi yang tumbuh di kebunnya semuanya Arabika. Varietasnya, menurut Tirta adalah Lini S dan Sigarar Utang. Untuk bisa menentukan varietas, bisa melihat dari perbedaan bentuk dan warna peralihan daun dari daun muda ke daun tua. Salah satu perbedaan warna daun, ada daun yang berawal dari warna kuning lalu hijau, ada pula warna ungu lalu hijau, dan warna merah lalu menjadi hijau.

Pemberian nama kopi Ciputri awalnya atas masukan dari Zeze, pemilik kedai kopi Otaku Coffee di Kuningan. Dengan alasan berada di daerah Ciputri dan akan lebih mudah orang mengingatnya karena orang-orang akan langsung membayangkan Curug Ciputri yang sudah terkenal sebagai salah satu daerah kunjungan wisata di Kuningan.

Ayah Tirta menanam kopi di kebun warisannya tiga tahun yang lalu. Sebelum ditanam kopi, tanaman yang dibudidaya adalah pepaya dan lainnya. Tirta bercerita sebelum memiliki kebun kopi, karena berhubung seluruh keluarganya adalah tukang ngopi semua, ayah-ibunya membeli green beans di pasar. Membeli kopi asli yang tumbuh di tanah Kuningan dan disangrai sendiri untuk dikonsumsi sekeluarga.

Ketika saya menanyakan asal-muasal keberadaan green beans di pasar, Tirta tidak mengetahui secara detail. Ia tidak tahu secara pasti kopi itu berasal dari mana, namun kemungkinan besar berasal dari Kuningan Wetan, yaitu wilayah Ciniruan. Turun-temurun keluarganya membeli kopi di pasar tersebut. Sudah langganan, meski kualitasnya tidak terlalu bagus, namun sebelum disangrai dilakukan sortir terlebih dahulu. Dipilihnya hanya green bean untuk disangrai dan dibuangnya biji yang berwarna hitam atau yang rusak.

Kakek Tirta yang sudah almarhum juga punya kebun kopi, jenisnya Robusta di daerah Pasir sebelum Cisantana. Buyut Tirta pun sama, memiliki kebun kopi Robusta. Menurut Tirta, kopi Robusta kakeknya berbentuk kecil-kecil dan sejak dulu di Kuningan sudah terkenal kopi Robusta yang tumbuh di beberapa daerah. Di pasar, terkenalnya dengan sebutan kopi Pasir, kopi Cigugur, dan lain-lain. Sesuai dengan nama daerah kebun berada. Tirta menambahkan, ia tidak tahu apa klon-nya kopi Robusta yang sudah lama beredar di Kuningan.

Saya terkagum-kagum mendengar cerita Tirta yang mengisahkan sejak zaman buyutnya mungkin bisa lebih, adalah peminum kopi sekaligus pemilik kebun kopi. Karena kakeknya sudah tidak ada, neneknya lah yang sekarang mengurus kebun kopi Robustanya. Selain untuk dikonsumsi sendiri oleh sang nenek, terkadang nenek juga menjualnya ke keluarga Tirta saat panen tiba. Di kebun nenek hanya ada beberapa pohon kopi Robusta yang dimiliki. Jadi Tirta sudah terbiasa minum kopi asli yang tumbuh di sekitarnya sejak kecil. Ah, beruntungnya.

Kembali ke kebun kopi milik Tirta, penanaman kopi di kebun oleh ayahnya sekitar tiga-empat tahun lalu itu, saat Tirta sedang bekerja di Bandung. Jadi pada saat penanaman awal Tirta tidak turut andil besar. Ayahnya membeli bibit kopi dari pedagang bibit tanaman keliling. Di wilayahnya, ada tiga pedagang bibit tanaman yang suka berkeliling. Biasanya mereka menjual bibit cengkeh, bibit nangka, bibit duren dan lainnya menggunakan mobil kol bak.

Ketika saya bertanya asal-usul bibit kopi tersebut, Tirta hanya mengira-ngira bahwa bibit itu dari daerah yang merupakan penjualan bibit terbanyak di Wilayah III Cimayungan yaitu Rajagaluh di Majalengka. Sepertinya para pedagang keliling itu bukanlah asli dari Kuningan, tetapi dari Majalengka. Dan ketika aku menanyakan kira-kira bibit kopi dari mana. Tirta memperkirakan kopi yang ada di kebunnya adalah kopi dari Sumedang. Karena Sumedang dekat dengan Majalengka dan dirinya pernah baca berita di sebuah media cetak, ada tiga varietas yang konon katanya peninggalan Belanda di daerah Sumedang. Saat Tirta melihat bentuk daun dan kategori lainnya, ia merasa sama seperti tanaman kopi di kebunnya. Sayangnya, ia belum sempat mencari tahu sampai ke Sumedang.

Saya bertanya bagaimana bapak Tirta bisa tahu yang dibeli adalah kopi Arabika. Informasi soal kopi Arabika berasal dari ucapan pedagang bibit keliling yang menjual. Pedagang bibit sering memberi tahu terlebih dahulu mengenai bibit tanaman yang dijualnya, misalnya saat ia menjual bibit tanaman mahoni dan lain-lain, ia memberi tahu kepada para pembelinya. Dan lucunya, orang-orang di wilayah Tirta menyebut Arabika sebagai kopi Torabika.

Tirta sering membetulkan istilah Torabika dengan Arabika kepada orang-orang di sekitarnya, termasuk proses petik merah. Bapaknya membeli sekitar 300 bibit kopi pada waktu itu. Satu bibitnya seharga Rp. 8.000. Bibit yang berhasil tumbuh dan berbuah sekarang sekitar setengahnya. Luas kebun yang dimiliki sekitar 1800 m2. Tanaman kopi di kebun Tirta murni hasil tanam sendiri tiga-empat tahun lalu. Tidak digabung atau disilang dengan kopi Robusta dari kebun neneknya.

Tirta bercerita tentang ayahnya yang suka menjadi trend center petani lain di daerahnya. Ayahnya pernah menanam jamur, jambu biji merah, pepaya, hingga kopi. Terkadang ayahnya sering diledek yang lain karena sering menanam yang tidak biasanya orang-orang tanam. Namun, ketika melihat ayahnya berhasil dan bisa menjual hasil garapannya, orang-orang yang meledeknya jadi ikut menanam tanaman yang sama. Selain itu, ayahnya juga menanam sayuran seperti tomat, timun, dan sekarang sedang menanam kentang.

Saya memastikan lagi kepada Zeze, yang menemani saya mengobrol dengan Tirta, jenis kopi yang dihasilkan Tirta adalah Arabika. Hasil panen tahun lalu, Tirta menjual sekitar 20 kg kepada Zeze. Saya pun bertanya bagaimana awal mula kenal dengan Zeze. Tirta mengisahkan cerita yang menurutnya agak lucu. Saat panen pertama kali ia upload foto gambar biji merah dan memberi caption “hasil jarahan”. Tiba-tiba ada temannya yang kuliah di Universitas Kuningan bertanya itu kopi naon? Tirta jawab itu kopi Arabika. Lalu sang teman menyarankan, “Atuh cing coba tawaran ke sini, ka babaturan na urang” (coba tawari ke sini, ke teman saya). Lalu Tirta mengirim sample satu kilo ke Otaku Coffee. Dan Zeze mengangkat kopi Ciputri di acara Simponi Kopi hingga mendapat pujian terbanyak.

Padahal menurut Tirta yang dibawa pertama kali ke Otaku Coffee masih kualitas jelek, karena yang mengolahnya adalah ibunya. Dan Zeze juga menambahkan, yang dibawa ke Simponi Kopi pun hanya sisa-sisa dari stoknya. Tapi bagi saya yang ikut merasakan cupping rasanya sungguh unik dan berasa jeruk.

Tahun lalu total hasil panen sekitar 30 kg dan Tirta yakin, tahun ini bisa lebih dari 30 kg. Saya pribadi kagum dan senang berhadapan dengan seorang pemuda yang memutuskan menjadi petani. Tirta lahir di Ciputri pada 1990. Berarti tahun ini usianya baru 26 tahun. Ia akan menjadi 27 tahun di akhir tahun. Untuk ukuran usianya di zaman sekarang, sudah sulit menemukan pemuda yang bekerja sebagai petani. Sejak lahir hingga SMA, Tirta hidup di Ciputri. Ia melanjutkan sekolah di D3 Sekolah Tinggi Kesehatan di Bandung dan sempat dua tahun bekerja di Rumah Sakit Borromeus di Bandung juga. Sebelum akhirnya ia memutuskan kembali pulang ke Kuningan.

Kenapa pulang lagi ke Kuningan? Tanya saya. Tirta tertawa, katanya lucu juga ia bisa pulang. Awalnya karena menggantikan adiknya untuk menemani orangtua di Kuningan. Adiknya juga melanjutkan sekolah di Bandung. Padahal selama di Bandung, Tirta terus memantau kebun kopi yang digarap ayahnya. Namun, tidak lama Tirta kembali ke Kuningan, adiknya ternyata tidak betah di Bandung dan kembali ke Kuningan. Jadi saja, Tirta memutuskan fokus mengurus kebun kopinya.

Saya penasaran bertanya ini, bagaimana rasanya minum kopi hasil garapan sendiri? Tirta menjawab, ia tidak bisa berkata-kata. Baginya, hal yang membuat senang ketika hasil garapannya dinikmati orang lain. Waktu pertama kali mencoba hasil panennya, satu keluarga Tirta mencoba menyangrai sendiri lalu meminumnya bersamaan. Bagi mereka tidak ada perbedaan yang jauh, hanya saja kali ini kopinya berasa asam.

Saat saya sedang mengobrol dengan Tirta, ada kawan Tirta bernama Agi. Saya bertanya padanya bagaimana rasa kopi hasil garapan Tirta. Agi menjawab rasanya pertama kali dicoba adalah asam dan kadang pahit tergantung hasil sangrai. Lalu ada rasa buah dan yang pertama kali dirasakan seperti rasa jambu merah.

Saya juga bertanya pada Zeze tentang rasa kopi Ciputri. Zeze menjawab, kopi dari kebun Tirta beraroma floral, kadang lebih ke herbs, malah kadang seperti kubis. Tirta juga menambahkan, rasa yang ia dapatkan lebih kepada herbs tepatnya jahe. Karena tanaman kopi tumbuh di dekat kebun jahe, jadi rasanya mirip jahe namun kehangatan jahenya tidak ada. Dan Tirta lebih suka minum kopi espresso.

Ketinggian kebun kopi Tirta sekitar 873 Mpdl. Selama ini, Tirta memantau dan mengurus kebunnya sendiri. Ia bercerita, kebunnya tidak memakai bahan kimia sama sekali. Meski ada banyak semut hitam yang bersarang di buah kopi, dan memakan red cherry juga kopi di kebunnya terkadang kopong sebelah. Setengah biji habis dimakan serangga. Namun ia biarkan. Hanya pemberian pupuk kandang yang ia lakukan untuk mengurus kebunnya. Ia tidak tahu apa nama serangga yang menyerang biji kopinya hingga kopong sebelah.

Saya bertanya, apakah ada anak dari Kampus Kopi Collective Project yang datang menjenguk kebun dan memeriksanya? Atau berhubungan dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan. Tirta menjawab tidak ada. Hanya sekali anak Kampus Kopi yang main, itu pun karena sedang dalam perjalanan menuju kebun kopi di Palutungan.

Lalu saya menyarankan untuk berhubungan dengan Kampus Kopi karena mereka kuliah di pertanian yang fokus terhadap kopi, siapa tahu bisa saling membantu dan memberi penjelasan mengenai hama serangga yang menyerang kopi di kebun Tirta. Tirta pun melanjutkan kondisi daun-daun di kebunnya aman dan sehat. Ia memberi pupuk kandang sekitar 3 dan 6 bulan sekali dan tidak memakai pestisida sama sekali. Selama perawatan kebun, Tirta menghabiskan sekitar Rp. 200.000 untuk pembelian pupuk kandang.

Saya pun beralih pada Zeze, menanyakan metode penyeduhan yang pas untuk kopi Ciputri ini. Tahun lalu, dari 20 kg yang disangrai, sekitar 50% diseduh V60 dibuat single origin dan espresso. Zeze menambahkan lebih enak pakai filter dan ala seduhannya sekitar 1:10 lebih cocok dan Otaku Coffee membeli green beans Ciputri pada Tirta sekitar Rp. 60.000/kilogram. Hasil panen tahun ini pun Tirta percayakan sepenuhnya kepada Otaku Coffee sebagai partner penjualan hasil kebunnya.

Proses yang dilakukan Tirta setelah dipetik merah kadang semi atau full wash dibanding natural process. Namun setelah panen kali ini, ia akan membuat beberapa contoh dari proses paska panen yang berbeda-beda untuk bisa dinilai bersama Zeze, lebih cocok dan enak yang mana. Zeze menambahkan karakter kopi Ciputri itu memiliki body kuat, acid medium, dan untuk sweet naik turun. Pernah suatu kali terasa manis sekali. Saya juga bertanya pada Zeze, bagaimana apresiasi pada kopi Ciputri saat Otaku Coffee menjualnya. Ia menjawab, bagus, bahkan pernah ada pemesan dari Bandung juga.

Saya pun lanjut bertanya pada Tirta, persiapannya apa untuk menghadapi panen esok. Sambil bercanda Tirta menjawab, ia mempersiapkan diri dengan push up, sit up, dan make up. Karena panen ini ia lakukan seorang diri. Aku tanya lagi, kenapa tidak ada pemetik tambahan dari orang lain. Ia tidak terlalu percaya, karena masih banyak yang nakal tidak hanya petik merah. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak ikut membantu.

Saya bertanya soal harga penjualan kopi pada Tirta. Apakah sudah puas seharga itu? Ia menjawab, yang namanya penjual, ya enak tidak enak. Namun harga 1 kg dengan Rp. 60.000 adalah harga yang sudah naik dari tawaran pertama sekitar Rp. 40.000.

Tirta memiliki cita-cita untuk memperluas kebun kopinya. Dan mengajak lebih intens petani lain untuk ikut menanam kopi. Sayangnya, saat ini responnya masih kurang bagus. Dan ia ingin di daerahnya ada banyak kebun yang menanam kopi. Target dan harapannya pada kopi yang serius digarapnya bisa diikutsertakan di Festival Kopi terbesar di Amerika. Ia juga merencakan ingin membuat produk dan kemasan sendiri, namun saat ini sedang mengumpulkan perlengkapannya.

Ia ingin tetap menjadi petani kopi. Namun, pada saat saya bertanya, senang tidak disebut seorang petani. Ia menjawab, senang tidak senang sebenarnya mah. Ketika senangnya ada, ia senang, ketika tidak menyenangkan juga ada. Sebenarnya, menurut dia ada plus dan minus-nya. Namun yang lebih penting hidup harus balance.

Saya merasa salut pada Tirta. Petani kopi yang masih muda ini, punya keinginan dan harapan besar pada kopi hasil garapannya. Saya tidak sabar menunggu hasil panennya kali ini dan menyuruputnya hangat-hangat. Setelah pertanyaan habis, saya diajak Tirta untuk mengunjungi kebunnya. Tidak sampai lima menit menggunakan motor sudah sampai di kebun kopi garapan Tirta. Gerimis hujan yang jatuh di daun-daun kopi dan red cherry membuat saya tersenyum-senyum melihatnya. Saya pun mengambil beberapa gambar pohon kopi dan tentunya senyum petani kopi muda kita, Tirta. Teruslah tersenyum dan sejahtera.

Tirtayasa, 10 & 18 Februari 2017

*Tulisan ini pernah diposting di web perkopingopianceremai.com namun web tersebut sudah saya hapus, saya ulang di sini sekadar dokumentasi. Gambar (koleksi pribadi) di Ciputri, 10 Februari 2017 difoto Zeze.

Kategori: Tulisan dan Wawancara.