Koran Tempo 2011

Kliping Koran Tempo 30 Oktober 2011

SINTA RIDWAN

Ibu Guru Aksara Kuno

Perkenalannya dengan filologi—ilmu tentang naskah kuno—berawal dari kekagumannya terhadap Friedrich Nietzsche, filsuf dan sastrawan Jerman, yang juga filolog. Kata-kata mutiara Nietzsche, “Tuhan telah mati”, semakin memperku-at niat Sinta Ridwan, 26 tahun, terjun ke dunia naskah kuno itu.

“Apalagi setelah saya melihat mata kuliahnya, semakin menarik minat saya,” ujarnya semringah. Maka ia memutuskan untuk meneruskan studi ke program Pascasarjana di bidang filologi Universitas Padjadjaran pada 2008. “Kini filologi sedang krisis. Banyak universitas di dunia menutup jurusan itu karena peminatnya semakin sedikit,” ujar Sinta.

Meski divonis menderita lupus pada 2005, wanita kelahiran Cirebon ini tetap penuh semangat. Toh, penyakit itu tidak menyurutkan tekadnya berbagi ilmu. Sekolah Aksara Kuno (Asakun) yang didirikannya pada 2009 adalah buktinya. Sekolah Asa-kun adalah forum diskusi yang mempelajari aksara yang terdapat di naskah-naskah kuno. “Untuk saat ini, kita masih belajar aksara dulu, nanti akan terus berkembang,” katanya.

Salah satu alasan Sinta membuat sekolah ini adalah agar banyak orang paham dan peduli naskah kuno. “Di Indonesia itu naskah kuno banyak dari selurull Nusantara, tapi yang mengerti sedikit,”dia menjelaskan. Berangkat dari itu, Sinta dan teman-teman giat mengajar di Aksakun di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, setiap Jumat malam. Sekolah cuma-cuma ini sekarang sedang menjadi perhatian besar. Peminat sekolah ini naik pesat, bahkan pemerintah sampai menawarkan bantuan,” ujar Sinta. Dengan biaya dari kocek sendiri, ia bergerilya dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan virus filologi ke generasi muda Kota Bandung.

Lahir dari keluvga yang kurang mempedulikan pendidikan, Sinta berjuang sekuat tenaga mengubah jalan hidupnya.”Ayah saya sopir angkot, ibu saya penjual kopi. Niat saya kuliah untuk mengubah hidup saja,” ujar perempuan berkulit kuning langsat ini tersenyum. Ia memutuskan hijrah ke Bandung dan melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Bahasa Asing Bandung.

Sinta membiayai pendidikannya secara mandiri.”Saya kerja untuk kuliah, begitu juga saat saya ambil S-2 di Unpad,” ucapnya. “Saya kerja mulai di restoran cepat saji hingga restoran Jepang. Pagi saya kuliah dan malam saya bekerja. Saat itu saya mulai kelelahan, dan akhirnya penyakit ini (lupus) datang,” katanya sembari tersenyum.

Penyakit itu ia ketahui ketika mencoba menjadi donor darah. “Darah saya tidak terdeteksi saat dites. Maka dokter menyarankan saya memeriksakan diri ke lab” dia menjelaskan. Setelah “Saya down di tiga tahun pertama.” Sinta merasa tidak cocok dengan obat-obatan.

“Lebih baik melakukan hal-hal yang menyenangkan, karena lupus itu kan pemicunya kelelahan dan terlalu stres. Lagi pula obat lupus itu bagi saya sangat mahal,” ujarnya. “Sekarang saya lebih mengatur jadwal dan aware terhadap diri sendiri saja,” ucapnya sembari tersenyum.

Sinta mengatakan sebagian besar hidupnya berubah setelah ada Sekolah Asakun ini. Banyak pengalaman yang ia dapatkan, dari meneliti naskah-naskah di berbagai penjuru Nusantara mendapat banyak teman. Ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi filologinya ke Belanda.”Insya Allah, tahun depan saya berangkat. Saya mulai membentuk tim untuk meneruskan sekolah ini.”

Sinta juga sedang membuat museum digital yang berisi naskah-naskah kuno dari berbagai pelosok Nusantara. Hasil penelitiannya bersama teman-teman Sekolah Asakun dituangkan dalam situs yang mereka buat. “Kami mendapat bantuan dari banyak pihak. Insya Allah, enam bulan lagi situs itu bisa diakses. Situs ini sebagai ensiklopedia budaya, bentuknya akan atraktif,” ujarnya bersemangat.

Sinta menegaskan akan terus mendedikasikan diri kepada Sekolah Aksakun dan filologi. Impian terbesarnya adalah menjadi doktor filologi termuda di usia 29 tahun. Ia juga akan terus mem-perjuangkan museum yang berisi naskah-naskah kuno Indonesia. “Kita harus punya itu. Mudah-mudahan. semuanya terwujud karena sekarang sudah ada titik terang,” ujar wanita penyuka musik metal itu. (Nanda Sugiono)

*Diketik ulang oleh Ayu Alfiah Jonas

Kategori: Kliping dan Tulisan.