Liga Seduh Kopi

Oleh Sinta Ridwan

Manual Brew League Session I

Hampir tiga mingguan ini perasaan saya sedikit kosong dan hampa. Agak berlebihan sih, tapi itu yang saya rasakan. Ada sebuah rasa kehilangan. Kenapa? Karena biasanya, sejak November tahun lalu, hampir tiga bulan setiap malam Minggu saya menonton langsung Manual Brew League. Iya, itu, liganya para penyeduh kopi yang bertanding satu lawan satu secara bergilir tiap akhir pekan. Pesertanya mewakili beberapa kota, yaitu Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Brebes.

Awalnya, saya mengikuti liga ini karena ingin tahu dan mengenal para penggiat kopi di Wilayah III Cimayungan, untuk bahan riset saya. Tapi lama-kelamaan, saya semakin asyik mengikutinya. Dari duabelas pertandingan, saya hanya bolos dua kali. Hampir seluruh pertandingan, waktu mulai tandingnya setelah para kedai kopi semuanya tutup. Artinya, pertandingan dimulai setelah jam duabelas malam, kadang lebih dari jam satu malam dan berakhir kala adzan Subuh terdengar. Jadi selama tiga bulan itu, kita selalu bergadang bersama.

Pertandingan paling akhir dilaksanakan tiga minggu yang lalu. Di Kuningan, 29 Januari 2017. Tempat pelaksaannya pun berpindah-pindah dari kedai satu ke kedai lainnya, ditujukan agar tidak bosan dan saling mengenal. Di final, selain para peserta yang bertanding sekian bulan pun ikut meramaikan, berkumpul, menyaksikan, tertawa bersama, dan diakhiri karaoke. Sampai-sampai, di acara special last match yang diadakan di Otaku Coffee itu mengundang pemandu acara khusus yaitu Yudha Khan dari Comic #4.

Di kegiatan Manual Brew League ini, setiap pertandingan atau mereka menyebutnya “match” menggunakan kopi-kopi dari berbagai daerah dari seluruh Nusantara. Kalau dihitung pertandingan ada duabelas match, itu artinya ada 12 jenis kopi yang berbeda saat digunakan untuk diseduh. Di antaranya, kopi dari Ciwidey, Temanggung, Kerinci, Manggarai, Toraja, Malabar, Dolok Sanggul, Sumedang, dan lainnya.

Hal paling menarik bagi saya, liga yang dirancang oleh tiga dedengkot pada Oktober 2016, adalah selama liga mereka udunan atau urunan, modal liga pakai uang sendiri yang dikumpulkan di akhir pertandingan. Uang yang telah terkumpul digunakan untuk menyiapkan hadiah dan pembelian kopi untuk dilomba-seduhkan. Terkadang, kopi yang dilombakan berasal dari pemberian pendukung liga dari luar peserta, bahkan luar kota dan pulau.

Edisi perdana webzine ini memang mengkhususkan diri untuk membahas Manual Brew League Session 1. Karena sangking intensnya para penggiat kopi ini bertemu tiap Minggu, mereka juga berhasil membuat sebuah aliansi semacam paguyuban yang dinamakan Payung Seduh. Untuk keterangan lebih lanjut soal definisi paguyuban tersebut, nanti akan dibahas di edisi yang berbeda. Sebelumnya, di wilayah Cirebon dan sekitarnya, sering mengadakan lomba seduh atau festival kopi. Tapi kegiatan-kegiatan sebelum Payung Seduh ada, didasari oleh inisiatif sendiri. Dan Manual Brew League (selanjutnya akan disebut MBL) posisinya akan diadakan setiap tahun dan berada di bawah naungan Payung Seduh sebagai salah satu program kegiatan kopi. Dan webzine ini pun tercetus saat saya intens mengikuti MBL. Jadi begitulah kira-kira alasan kenapa edisi perdana webzine ini membahas MBL.

Selanjutnya, saya sudah mengumpulkan beberapa jawaban “wawancara” dari para peserta yang seharusnya ada duabelas orang, namun di tengah jalan ada satu peserta yang berhenti tidak melanjutkan lagi. Hampir semua peserta (mereka menyebutnya para coboy) berasal dari kedai kopi. Berikut list nama panggilan peserta, nama kedai kopi, dan asal kotanya:

Gito dari Juragan Coffee (Cirebon), Sam awalnya dari Terajeh Coffee (Cirebon), Uceng dari Blind Bottle (Cirebon), Zeze dari Otaku Coffee (Kuningan), Sidik dari Coffee Lieur (Cirebon), Deni dari Jungle Preanger Coffee (Cirebon), Yuga dari Ninyuh Kopi (Jatiwangi), Cecep dari Kelirumologi Kopi (Brebes), Rizal dari Noralona Coffee (Cirebon), Semok dari Kampus Kopi CP (Cirebon), dan Abah dari Blind Bottle (Cirebon).

MBL Session 2 kemungkinan besar (saya dapat bocoran) akan dilaksanakan menjelang akhir tahun atau setelah pertengahan tahun. Dikarenakan peserta terbatas dan terpilih, saya rasa Session 2 akan lebih ramai dan banyak yang menyalonkan diri sebagai peserta. Bahkan Yudha Khan juga ingin ikutan. Sepertinya, agar lebih selektif, akan diadakan seleksi khusus tiap-tiap kota. Seperti yang sudah dilakukan daerah Kuningan, sekelompok pecinta dan penggiat kopi di sana melakukan MBL Region Kuningan, dan yang mendapatkan juara, bisa langsung ikut MBL Session 2 menggantikan peserta MBL yang degradasi.

IMG_7992

Nah, selanjutnya edisi ini akan menyajikan ungkapan, cerita, keluh-kesah dan perasaan sebelas coboys tentang MBL Session1. Saya mengirim pertanyaan satu persatu sekitar delapan hingga sepuluh pertanyaan, dan mereka langsung menjawabnya lewat DM Instagram. Sebelumnya, saya bertanya kepada 3 dedengkot pencetus liga ini, adalah Sidik, Uceng, dan Sam.

(NB: Hasil tanya jawab ini saya sedikit poles tulisannya agar nyaman dibaca dan tidak merubah esensinya sama sekali maupun urutan kalimatnya. Juga ada penerjemahan khusus memakai tanda “()” untuk penyebutan dalam bahasa daerah. Ada beberapa pernyataan yang saya beri komentar memakai tanda “#”).

Kenapa bikin MBL?

SIDIK: Saya suka gregetan. Kebanyakan teman-teman, penggiat-penggiat, yang nyari makan dari kopi, yang nyari minum dari kopi, yang nyari kopi dari kopi, tapi selama ini diam-diam saja enggak nyoba buat ngumpulin bareng, main bareng, bikin sesuatu yang sekiranya nu bisa ngariung (yang bisa berkumpul). Bikin tempat yang bermanfaat, untuk semua, untuk mereka, dan untuk kita semua yang tahu tentang kopi. Dan, berawal dari judi, tadinya mau bikin kompetisi kayak arisan biar kontinyu ketemu terus. Karena yang sistem gugur sudah umum, akhirnya muncul kesepakatan dibikin liga dan bersistem poin, jadilah MBL.

UCENG: Karena pengen lebih mengenalkan kopi Nusantara kepada masyarakat Wilayah III Cirebon dan sekitarnya. Intinya ingin menjalin silaturahmi dan saling berbagi ilmu tentang kopi antar para penyeduh yang ikut MBL. Sejarahnya, pada suatu malam, dua minggu sebelum MBL match 1 dimulai. Uceng, Sidik, Sam, Rizal, dan Tri Bewok ngobrol-ngobrol mengenai pergerakan dan pertumbuhan coffee shop Wilayah III Cirebon yang makin berkembang. Kita langsung mikirin gimana caranya mengenalkan kopi Nusantara. Ditambah kita yang tinggal di Wilayah III mempunyai potensi kopi yang enggak kalah bagus. Di mana perkebunan kopi itu terletak di kaki Gunung Ceremai (Kuningan). Menurut kita berempat ini, kenapa kita enggak coba angkat kopi daerah sendiri untuk dikenalkan kepada masyarakat luas. Dan jadilah MBL.

SAM: Bikin MBL itu tadinya cuma biar ada kegiatan saja di tiap minggunya. Awalnya sih cuma obrolan biasa antara saya, Uceng, dan Sidik. Tadinya mau dibikin sistem knock off, tapi kalau dibikin sistem KO kita cuma ketemu sekali dan Minggu berikutnya enggak bakal ada kegiatan lagi. Jadi, sekalian dibikin liga saja biar bisa ketemu tiap Minggu.

Menurutmu MBL itu apa?

ABAH: MBL itu adalah Manusia Brewing di Labirin, karena berputar-putar dan menuju ke satu jalan keluar alias tujuan. Kenapa begitu? Karena selama proses berjalannya liga banyak sekali memutar otak, memutar badan, memutar fakta, dan juga memutar yang sudah diputar. Intinya MBL menjadikan satu titik noda untuk polosnya warna putih dunia kopi di Wilayah III plus Brebes.

YUGA: Kompetisi dibalut kekeluargaan. Kompetisi ajang untuk belajar. Kompetisi yang koboy banget, seduh tanpa kalibrasi. Kompetisi yang melahirkan alat seduh terbuat dari sesuatu yang berasal dari kearifan lokal dan di kemudian hari mudah-mudahan akan dikomersilkan dan dilestarikan. Cikal bakal kompetisi yang bergengsi dunia, lahir di Wilayah III Cirebon plus Brebes. Iya, iya, iya.

SIDIK: MBL, hahahaha. MBL itu kalau menurut Sidik, ajang yang kadang-kadang ada, kadang-kadang enggak, karena seminggu sekali. Ajang iseng, niat ngumpulin orang, silaturahmi, share, ngedeketin teman-teman se-profesi, se-passion, se-kesibukan, se-kesmrawutan, dan se, se, se, se yang lain, karena di Cirebon sepi-sepi saja.

DENI: MBL itu seperi rumah ke dua.

RIZAL: MBL tuh kayak terminal ilmu tahu enggak. Jadi banyak banget ilmu yang stay, datang lagi dan lagi, di samping memang mempererat tali silaturahmi.

UCENG: MBL itu adalah pertandingan seduh kopi dengan teknik manual, di mana sistem pertandingannya itu liga, dan sistemnya poin. Di mana yang menang dapat poin 3, seri 1, dan kalah 0. Jadi kita ketemu semua, antara peserta MBL. Dengan sistem penjuriannya dinilai oleh pesertanya itu sendiri.

CECEP: MBL menurut saya adalah suatu wadah bagi siapa saja (bukan cuma penyeduh) untuk saling berbagi ilmu tentang tetek-bengek di dunia perkopian dalam bentuk permainan yang mengasyikan.

SEMOK: MBL bukan sekadar ajang kompetisi seduh kopi, silaturahmi dan kekeluargaan lebih penting.

GITO: MBL itu acara yang mengajarkan kita lomba kopi tapi bukan cuma lomba kopi, tetapi inti sari kopi itu sendiri.

SAM: MBL itu perkumpulan tukang seduh manual yang berkedok kompetisi.

ZEZE: Liga manual brew ajang untuk sharing mengenai seduh-perseduhan.

Bagaimana rasanya ikut MBL itu?

ABAH: Rasanya ikut liga? Begadang, tunduh (ngantuk), enggak bisa malam mingguan, tapi sesuatu banget pokoknya, huahahahaha.

YUGA: Jos guandossss seger geerrrrrr…..

SIDIK: Rasanya, kayak yang lega, plong, ketemu sama teman banyak, teman-teman main bareng, nyatu, yang awalnya blok-blokan, eng-engan (musuhan), walaupun kayae (sepertinya) masih sih sampai sekarang, tapi di MBL ketawa ya ketawa bareng, ngobrol ya ngobrol, sampai yang dari luar (Cirebon) juga banyak yang tahu, support, ikut andil, partisipasi, doain, dan yang pasti, sudah banyak yang nungguin, hahahahaha.

DENI: Rasanya ikut MBL, menyenangkan, happy, jadi sarana hiburan juga, apalagi lihat kelakuan kawan-kawan yang gokil, seperti Bang Jalil, Sidik, Sam :’) :’) :’)

RIZAL: Rasanya senang jadi bagian pergerakan positif ini.

UCENG: Rasanya ikutan MBL? Senenglah. Banyak ilmu yang didapat, senang ican, wkwk.

CECEP: Rasanya lumayan menantang karena jarak dari rumah saya (Brebes) ke Cirebon lumayan jauh, apalagi kalau ke Kuningan, untungnya kemarin enggak jadi ke Majalengka, hehe. Tapi jarak kayaknya enggak jadi hambatan untuk bertemu dengan sahabat-sahabat untuk bermain dan belajar seduh-menyeduh.

SEMOK: Rasanya ikut MBL, ya selain bisa sharing tentang kopi, seduh-menyeduh, juga lebih mengeratkan penyeduh kopi. Kebersamaan intinya, hihi.

GITO: Yang pasti senang, Teh J

SAM: Sudah pasti senenglah Teh ikutan MBL.

ZEZE: Rasanya seru, jadi lebih peka untuk ngecap rasa.

Alasan ikut MBL apa?

ABAH: Alasan ikut MBL? Enggak tahu, tahu-tahu ada namanya.

YUGA: Iseng saja, terjerumus untuk kesekian kalinya di dunia percikopingopian. Tapi enak.

SIDIK: Alasannya biar kenalan sama yang lain, dan karena kita yang bikin jadi meluan (saya yang buat jadi ikutan), hahahahaha.

DENI: Alasan ikut MBL, sebagai anak rantau yang bukan asli Cirebon, pengen nambah banyak kawan, apalagi sama tukang seduh.

RIZAL: Alasannya karena ingin memperbanyak knowledge about coffee, dan ngerasain habit kompetisinya sih.

UCENG: Alasan ikut MBL? Ya mau saja. Kan jadi kenal dan akrab sama penyeduh kopi lainnya. Sekalian mau uji konsistensi seduhan sendiri, wkwk.

CECEP: Alasan utamanya sih pengen tahu sejauh mana kemampuan saya dalam seduh manual, tapi setelah terus mengikuti pertandingan demi pertandingan banyak ilmu yang diserap dari teman-teman peserta maupun bukan peserta.

SEMOK: Alasannya, ingin lebih intim dengan kopi dan tukang seduh kopi, hihi.

GITO: Mengupas lebih dalam tentang perkopian.

SAM: Alasan ikutan cuma buat manasin doang, hahaha.

ZEZE: Alasannya, agar dapat ilmu lebih banyak, saudara, dan silaturahim.

(Pertanyaan ini khusus untuk yang menjuarai MBL Session 1) Bagaimana rasanya jadi juara?

ABAH: Rasanya jadi juara? Rasanya kayak Nano-Nano, ada senang, sedih, kesal, semuanya ada.

Bagaimana rasanya ada di posisi ke sekian dan enggak jadi juara?

YUGA: Saya tuh posisi ke berapa ya? 7 atau 8 gitu. Hhmmm, gapapa posisi segitu juga, lagi belajar. Ngenal dunia kopi juga baru 2016 kemarin. Kwkwkwk.

SIDIK: Rasanya enggak jadi juara? Hahahahaha, malah ngarepinnya degradasi, biar cuma fokus ngurusin, enggak ikutan match-nya lagi, tapi ya senang sih masih bertahan, jadi enggak malu-maluin pisan, masa yang bikin malah ke-degradasi, hahaha. Bli kaya Paketu (tidak seperti Pak Ketua).

DENI: Rasanya jadi juara 2 cukup bangga, pada diri sendiri. Sebelum MBL aku belum mengenal begitu pentingnya metode seduhan manual brewing, setelah ikut MBL aku banyak belajar metode manual brewing dari kawan-kawan. Enggak jadi juara rasanya sedih, marah, semua rasa itu sempat terlintas sih, tapi aku mulai belajar ikhlas dari sana.

RIZAL: Rasanya biasa saja sih enggak terlalu kecewa, walaupun enggak memungkiri kompetitifnya MBL tuh bikin greget kalau poin hilang begitu saja.

UCENG: Rasanya ada di posisi 3 dan enggak juara? Not bad-lah untuk MBL sesi 1 ini. Enggak jadi juara enggak masalah, yang penting kumpul dan berbagi ilmu. Tujuan awalnya kan untuk silahturahmi dan berbagi ilmu. Walaupun greget enggak jadi juara, wkwk.

CECEP: Saya finish di posisi 7, artinya saya berada di papan tengah, di bawah Yuga dan di atas Sidik kalau enggak salah. Cukup memuaskan bagi saya walau jauh dari kata juara, karena dari awal bukan itu tujuan saya, melainkan pengen tambah ilmu tentang seduh-menyeduh.

SEMOK: Ada di posisi buncit, sampai degradasi ya gapapa, kompetisi pasti ada yang menang dan kalah. MBL menurut saya bukan tentang menang dan kalah, seperti yang di awal saya sebutin, yang terpenting kekeluargaannya, hihi.

GITO: Menurut saya, saya bangga juga ada di posisi ke sekian, juara apa enggaknya yang penting saya mendapat pengalaman lebih.

SAM: Alhamdulillah, biasa saja, karena yang penting mah kumpul, kalau urusan juara, itu bonus.

ZEZE: Jadi juara itu hebat, meskipun dapat posisi 4, sudah jadi kebanggan untuk diri sendiri.

Apa pesannya buat yang mau ikutan di MBL next session?

ABAH: Buat yang mau ikut MBL berikutnya, tolong siapkan batin, karena perlu kesabaran, siapkan strategi, siapkan logika, siapkan mental, karena MBL bukan sekadar siapa yang enak menyeduh, tetapi buktikan “untuk apa anda ikut MBL!”.

YUGA: Jalanin saja. Nanti juga sampai dan nanti juga ketemu iramanya. Irama deg-deg-an.

SIDIK: Pesan untuk yang mau ikut MBL next session, apalagi buat yang baru masuk, siap-siapin mental saja, biar enggak ikut gila, hahahaha.

DENI: Pesan buat next season (#session), ya MBL harus ada lagi di next season, bisa jadi ajang silaturahmi, nambah wawasan, nambah kawan, jadi tahu banyak daerah Cirebon, jadi piknik juga ke Kuningan, hehe! Dedengkot Payung Seduh harus tetap semangat, tetap optimis dengan MBL, rangkul semua.

RIZAL: Pesan buat panitia, harus lebih kaku dalam peraturan walaupun ini fun. Dan pesan buat competitor, hati-hati musim depan, wkwk.

UCENG: Pesan buat yang mau ikutan MBL next session? Semangatin saja kali ya, kuota tipis. Jadi sering-sering ngulik saja sama alat seduh favorit kalian. Semoga yang mau ikutan, mendapatkan slot yg disediakan. Jangan lupa berdoa, wkwk.

CECEP: Pesan dari saya untuk MBL musim depan, mungkin bisa ditambahkan cupping kopi yang mau dipakai di pertandingan, sebelum pertandingan dimulai, agar ada keadilan bagi yang main di match pertama.

SEMOK: Buat yang mau ikutan, jangan terlalu serius di MBL, menang dan juara itu bonusnya, hihi.

GITO: Jangan pernah berhenti pas di tengah jalannya MBL ketika kamu mendapatkan angka kecil, yakinlah kamu bisa.

SAM: Buat yang mau ikutan harus siap dengan waktunya, sedikit uangnya, dan siap-siap buat mentalnya.

Zeze : Carilah pengalaman dan ilmu sebanyak-banyaknya, Yang. (#eh)

Masukan buat kekurangannya apa?

ABAH: Masukannya pada admin tolong update, jangan disenggol dulu baru di-update, karena balik lagi, ada peserta yang jauh jadi harus mendapatkan update waktu dan tempat.

YUGA: Maaf nih. Follow up kurang rajin. Gebrakan di medianya dicetarkan lagi.

SIDIK: Masukannya sih lebih bertanggung-jawab saja buat saya sendiri selaku pengurus juga teman-teman yang lain, tetap semangat untuk semuanya biar tetap berjalan, yang penting ngumpulin silaturahmi untuk semua.

DENI: Masukannya, aku sih maunya selain nyeduh, alumni MBL atau anak Payung Seduh bisa main putsal bareng-bareng, olahraga begitu biar sehat, kalau bisa diwajibkan seminggu sekali atau dua-minggu sekali. Kekurangannya aku rasa enggak ada, mungkin kawan yang lain bisa tahu apa kekurangannya.

RIZAL: Masukannya kita punya rules yang sudah dibuat di awal musim dan disepakati bersama, jadi dalam perjalanan MBL satu musim jangan sampai dilanggar rules tersebut, apalagi sampai ada yang kecewa karena rules dilanggar salah satu pihak.

UCENG: Masukannya? Mungkin lebih ke perubahan jam seduh dan kepanitiaan kudu lebih ketat :)

CECEP: Masukan buat kekurangannya paling update klasemen yang kadang kurang update, piss.

SEMOK: Masukannya, lebih ke memperbaiki manajemen, seperti jadwal dan lainnya.

GITO: Perbanyaklah jenis kopi.

SAM: Pesannya supaya lebih seru lagi, lebih semangat lagi. Admin MBL harus lebih rajin lagi biar eksis, hahaha.

ZEZE: Masukan untuk waktu pelaksanaan di-reschedule kalau bisa enggak terlalu pagi, perhitungkan jarak peserta dari luar kota, dibuat semakin menarik dari tiap pekan, biar enggak bosan.

Paling suka match lawan siapa?

ABAH: Semua match suka, karena tiap lawan punya karakter masing-masing dan yang pasti lawan adalah kawan, dan kawan bukanlah lawan. Kesuksesan bukan berbicara dari apa yang kita dapat, tetapi kesuksesan berbicara dari apa yang kita lihat. Sampai bertemu di Channel Motivasianjing Abah selanjutnya, buenos aires, Citylink, Garuda, never ending, Adelaide sky if tommorrow never comes, smeels like teen spirit, don’t cry, don’t be shy, kamu cantik, cantik dari hatimu. You’re beautifull beautifull, beautifull (#makasih). Pokoknya perjalanan hidup tidak semulus paha Cherrybelle kawan.

YUGA: Match 1 dan terakhir. Karena menang tak diduga, wkwkkwk. Match sama Samsudin juga deng, ketua gesrek.

SIDIK: Paling suka match lawaaaaannn, *mikiiiiir…, lawan Sam, waktu itu lucu, kan tantangannya kopi digilingin lawan, Sam sama aku sama-sama pakai gilingan bedak, halus banget dan itu pertama kali alat konut drip aku perkenalkan kepada kawan-kawan dan aku menaaaaaang, hahahahahahahahahahahahahahahahaha.

DENI: Gito, waktu fun battle! Aku tahu Gito selalu pakai V.60 jadi aku kerjain dia dengan gilingan halus! Tapi kalau Gito pintar, dia bisa saja pakai aeropress. Waktu itu aku juga bawa V.60 sama aeropress buat jaga-jaga dan menyesuaikan kehalusan kopi. Prediksi aku tepat, Gito pakai V.60, aku juga dapat gilingan kopi yang halus jadi aku pakai aeropress. Dan hasilnya aku menang telak 10-0, wkwkwk.

RIZAL: Paling suka match lawan, Yuga.

UCENG: Paling suka match lawan siapa? Semuanya suka, tapi lebih greget kalau sama Zeze, syalalala.

CECEP: Paling suka match pas ngelawan Abah, pas itu pakai alat kreasi sendiri-sendiri, walau saya kalah tapi saya dapat hadiah kopi dari Kang Tito sebagai alat terfavorit.

SEMOK: Paling suka match lawan semuanya.

GITO: Lawan semuanya yang pasti karena baru ikutan, hehe.

SAM: Yang paling suka pas match terakhir lawan Abah, karena semuanya ada di tangan saya, hahahaha.

Zeze: Paling suka lawan Uceng, battle aeropress, karena Uceng bisa dianggap sebagai Dewa Aero, hehe.

Berat enggak udunan tiap minggu?

ABAH: Udunan tiap Minggu bagi saya mah enggak berat, yang berat itu tetap beban hidup.

YUGA: Enggak berat banget. Ibaratnya nyicil kan enggak kerasa.

SIDIK: Enggak sih kalau untuk urunan enggak keberatan, karena kan itu buat kita semua. Enggak tahu kalau yang lain, hahahaha.

DENI: Kalau masalah udunan buat aku pribadi, enggak keberatan sama sekali.

RIZAL: Berat jelas, kalau bisa gandeng sponsorship.

UCENG: Berat enggak udunan tiap Minggu? Menurut Uceng mah enggak berat. Bukan udunannya, kumpul-kumpulnya yang penting.

CECEP: Kalo udunan tiap Minggu enggak keberatan sih Teh, walau sering nunggak, hehe. Tapi Rp. 22.000/match enggak terlalu memberatkan.

SEMOK: Kadang berat kadang enggak, maklum kantong mahasiswa, hihi.

GITO: Enggak kalau menurut saya sih, Teh.

SAM: Enggak sama sekali.

ZEZE: Aku pribadi enggak. Cuma suka hoream (malas) kalau mau berangkat, sebelum ketemu kamu. (#ayayay)

Enaknya yang juara dapat hadiah apa?

ABAH: Piala bergilir, Nyai. Dapat duit juga, hahahaah.

YUGA: Piala yang sekarang sudah oke menurut saya mah.

SIDIK: Piala sih, kemarin sudah kan, piala bergilir dari Pak Tedi. Yang pasti semoga ke depannya lebih baik.

DENI: Piala, yang kemarin sudah cukup. Dan kalau boleh kasih saran sih, di piagamnya ada tulisan juara 1, juara 2, dan juara 3. Hehe.

RIZAL: Enaknya dapet trophy, fresh money too. (Anyway selamat buat Abah sebagai juara MBL sesi pertama).

UCENG: Enaknya piala dapat apa? Dapat alat atau tools yang bisa dipakai di kegiatan seduh-menyeduh per hari dan dapat gelar S.Kom (Sarjana Kopi Manual).

CECEP: Enaknya pialanya dapat tiket buat belajar di CoffeeLab biar dapat sertifikat SCAI.

SEMOK: Piala, ya kayak yang kemarin saja, keren.

GITO: Dapat kedai coffee Teh, hehe.

SAM: Masalah piala mah apa saja yang penting senang.

ZEZE: Untuk piala, aku sudah cukup dapetin kamu. (*ayayay)

Nah, begitulah jawaban sebelas coboys dari pertanyaan-pertanyaan saya. Sudah tidak sabar sebenarnya untuk nonton lagi MBL. Semoga semakin seru dan ramai. Bagi yang ingin menonton dan mengikuti MBL untuk dapat pengetahuan soal kopi, menambah pertemanan, atau mengisi malam Minggu dari pada bengong dan seduh, mending datang nonton lomba seduh. Mereka terbuka dan menerima siapa saja yang datang. Bahkan kadang-kadang kita yang nonton suka dapat icip-icip merasakan seduhan para coboys, dan bisa dapat jodoh juga! Kayak siapa?

Saya pribadi mendukung kegiatan-kegiatan yang tujuan utamanya ingin mengenalkan kopi daerah sendiri, kaki Gunung Ceremai dan sekitarnya. Pergerakan ini murni berdasarkan kecintaan teman-teman penggiat kopi. Bukan hanya bisnis. Tapi dari hati. Salah satu contoh kegiatan para coboys di luar lomba adalah pengumpulan dana untuk korban Aceh waktu Desember, Kopi Ceremai untuk Aceh. Para penyeduh kopi Wilayah III plus peserta MBL turun langsung menyeduh kopi dan dibayar seikhlasnya para pengujung Car Free Day di Jalan Siliwangi, Cirebon.

Akhir kata, semoga edisi ini bermanfaat dan menjadi pengetahuan bagi yang belum mengetahui kegiatan ini serta yang ingin belajar tentang perkopingopian. Berkumpul bukan hanya untuk lomba, tapi untuk saling mengenal dan menjadi keluarga. Jayalah terus kalian dan perkopingopiannya.

Tirtayasa, 16-17 Februari 2017

Kategori: Catatan dan Tulisan.