Majalah Kartini 2011

Kliping Majalah Kartini No. 2309/17 November 2011

Sinta Ridwan

Membuat Aksara Kuno Menjadi Populer

Saat ini jarang anak muda yang tertarik mendalami sejarah, apalagi sesuatu yang bersifat kuno. Karenanya, menjadi langka sosok seperti Sinta Ridwan, mojang Bandung yang berusia 26 tahun ini. Di tengah ingar bingar modernitas, ia membuka kelas gratis untuk umum, mengajar aksara Sunda Kuno kepada generasi muda. Semangatnya terus membara mengalahkan deraan lupus, penyakit yang belum ada obatnya hingga kini.

Bagi Sinta Ridwan yang akan menjadi kandidat program doktoral filologi di Universitas Padjadjaran, Bandung ini, segala sesuatu terkait sejarah dan sastra sangatlah menarik. Bahkan gadis kelahiran Cirebon, 11 Januari 1985 ini terobsesi untuk membuat museum naskah kuno warisan leluhur se-Nusantara. Namun mengingat membangun perpustakaan secara fisikal membutuhkan dana tidak sedikit, maka ia beralih untuk membuat museum naskah kuno versi digital.

Perlahan tapi pasti, Sinta pun mulai mengumpulkan naskah kuno. Setiap jalan-jalan ke daerah, ia pastikan singgah ke museum setempat. Tujuannya mencari dan mendokumentasikan naskah kuno khas daerah tersebut dalam bentuk foto untuk mengisi museum digitalnya.

Ia juga menjalin relasi erat dengan komunitas-komunitas, peduli terhadap sejarah Nusantara. Salah satunya, Wacana Nusantara, sebuah tim di bawah naungan Yayasan Gapura Wiksa Nusantara, yang mengakrabi sejarah di Indonesia. Aspirasi Sinta kepada aksara kuno menemukan wadahnya.

Di tim ini Sinta menjadi penulis di bagian bahasa dan sastra. Tatkala dilontarkannya impiannya tentang membuat museum aksara kuno, ternyata mereka mendukung luar biasa. Gagasannya membuat museum itu pun menemukan rumusan yang progresif, yakni membuat ensiklopedia dalam bentuk online dan CD interaktif. Yang penting, misi memperkenalkan naskah kuno kepada generasi muda dapat tergenapi. Memang. total biaya yang dikeluarkan untuk membuat ensiklopedia naskah kuno bisa mencapai Rp. 100 juta, namun Sinta tidak cemas soal itu. Banyak pihak tertarik dan bersedia memberikan bantuan dan untuk mewujudkan proyek tersebut.

Sinta yang baru saja meraih gelar master filologi di Universitas Padjadjaran Bandung Agustus lalu itu sangat besar keinginannya menjadi dosen dan peneliti.

SUKA SASTRA & FILSAFAT

Ketertarikan Sinta terhadap naskah kuno bermula dari kesukaannya terhadap sastra dan filsafat. Setelah meraih gelar sarjana bahasa Inggris empat tahun lalu, dia sempat bekerja sebagai staf akademik (yang gedungnya berada) di salah satu universitas negeri di Kota Bandung. Kala itu tugasnya banyak: bertalian dengan kepengurusan mahasiswa. Timbul keinginannya menjadi mahasiswa lagi. “Saya pun mengambil S2. Semula ingin mengambil master di bidang filsafat, tapi tempatnya jauh, di Yogyakarta. Saya cari yang di Bandung saja. Di Universitas Padjadjaran ada Jurusan Sastra, tapi Sastra Kontemporer. Namun tiba-tiba saya ketemu Jurusan Filologi, dan begitu merinci mata kuliahnya, kok pas sekali dengan apa yang saya mau. Ada sastra kuno, bahasa Sanskerta, kajian budaya dan antropologi budaya. Langsung saya mendaftar dan mengumpulkan dana Rp. 10 juta untuk kuliah,” kenangnya.

Pada 2008 Sinta memulai lembaran baru dalam hidupnya sebagai mahasiswa pascasarjana jurusan Filologi. Sepinya peminat di jurusan ini tidak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar. “Zaman saya, satu angkatan hanya empat orang, dan tahun-tahun sebelumnya juga sedikit. Tapi ini tidak memengaruhi saya.”

Awal masuk Sinta sempat blank karena merasa dunia filologi begitu asing baginya. Dosen-dosen menganggapnya tidak mampu di jurusan tersebut, dan pada bulan ketiga perkuliahan, ia menerima surat untuk mengundurkan diri saja. Pasalnya, terlalu sering bolos. Mereka tidak tahu kalau ketidakhadiran Sinta di kampus bukan tanpa sebab. Mereka tidak tahu kalau dia sakit yang membuatnya tak kuat melangkah ke kampus. Akhirnya, untuk meluruskan kesalahpahaman itu Sinta menemui sang dosen.

“Jika kamu mau melanjutkan studimu, kamu harus lebih keras belajar daripada yang lain, ngebut. Kamu harus kuasai minimal tiga aksara,” kata sang dosen. Mendengar peringatan itu. Sinta langsung kerja keras dan lebih serius menekuni Aksara Sunda, Jawa dan Cirebon. “Sebulan penuh saya mendalami ketiga aksara tersebut,” tambahnya.

Pendalaman Sinta tersebut membuat komunitas literer di Bandung mengundangnya untuk mengajarkan cara membaca naskah kuno. Pada akhir 2009, Sinta mulai membuka kelas Aksara Sunda yang populer dengan singkatan Aksakun. Aksara ini dipilih karena kebetulan ia berdomisili di Bandung dan anggota komunitas di kelasnya tertarik pada aksara Sunda.

Kelas pertama diikuti oleh 35 orang dari berbagai kalangan. Setelah sebulan berlalu, animo muridnya ternyata beralih dari membaca naskah ke penggunaan aksara Sunda kuno sebagai tulisan di kaos dan spanduk, misalnya untuk menggelar konser. “Saya pikir bagus juga kalau aksara kuno bisa dikomersialkan, sekaligus dimasyarakatkan di kalangan anak muda,” tambahnya.

Jadilah, kelas Aksakun Sinta makin hidup dan banyak yang berminat. Sistem pengajaran dibuat santai, tidak membosankan. Materi dibagi ke beberapa tahap sesuai perkembangan aksara Sunda dalam beberapa era. Hingga saat ini tercatat lebih dari 250 orang pernah mengikuti kelas Aksakun, dari pelajar siswa SMP, SMA, mahasiswa berbagal macam jurusan, pegawai hotel, seniman, sampai bapak-hapak berusia 75 tahun. Dalam tiga jam mereka berbagi ilmu tentang sejarah Sunda dan aksaranya. Meski digelar setiap Jumat malam, tidak semuanya bisa rutin hadir. Pernah juga karena kesulitan mendapatkan tempat dan kesibukan kuliah, maka kelas Aksakun diberhentikan selama beberapa bulan.

Untuk pejuangan Sinta meraih gelar master filologi juga tidak mudah. Setelah tiga tahun kuliah dan menyusun tesis, dia hampir tidak bisa mengikuti sidang akhir lantaran lupa membayar uang kuliah selama tiga semester. Namun, dengan bantuan berbagai pihak akhirnya Sinta bisa maju sidang dan dinyatakan lulus. Dalam tesisnya setebal I.600 halaman itu, ia meneliti tentang Serat Satriya Budug Basu. sebuah mitos masyarakat pesisir Cirebon. Dalam delapan belas bulan tesis itu dihabiskannya.

TERDETEKSI KARENA DONOR DARAH

Sulung dari dua bersaudara ini dibesarkan dalam keluarga sederhana di Kota Udang Cirebon, Jawa Barat. Sinta kecil lebih sering diasuh neneknya karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Ayahnya, almarhum Djaja Ridwan adalah seorang sopir angkutan umum. Ibunya, Deny Hermayanti, wanita berotak bisnis yang super kreatif dan ada saja usaha yang lakukanyna untuk menunjang kebutuhan keluarga.

Tumbuh besar dalam lingkungan seperti itu, Sinta tertular sifat aktif sang ibu, lalu terjun di berbagai macam organisasi, dari kegiatan pramuka, pasukan pengibar bendera, grup band hingga olahraga softball. “Saya memang tidak bisa diam. Saking banyaknya aktivitas, mungkin kelelahan, saya jadi sering sakit. Yang saya rasakan, ada penyakit maag, demam tinggi hingga menggigil, pusing, dan tubuh lemas,” katanya.

Selepas tamat SMA, Sinta diterima sebagai mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di STBA Yapari-ABA Bandung. Dia pun kos, lalu menyambi bekerja sembari kuliah supaya punya uang saku dan bayar uang kuliah. Ya, sejak tinggal di Bandung, dia memutuskan untuk mandiri, tidak tergantung penuh secara finansial kepada orang tuanya. Ia pun bekerja serabutan, hingga sempat jadi pelayan kafe, sales promotion girl (SPG) dan mengajar bahasa Inggris untuk kelas anak-anak.

TES DARAH MENYIBAK TABIR LUPUSKU

Sayangnya, Sinta sempat terjebak gaya hidup tidak sehat. Sering begadang, minum bergelas-gelas kopi pahit tanpa gula dan menghisap rokok belasan batang sehari. Waktu untuk beraktivitas dan tidur tidak teratur. Bahkan ketika keuangannya menipis, dia bisa berberhari-hari hanya melahap mie instan. “Hampir setiap malam bergadang, mengerjakan tugas kuliah, menulis, mengalih-aksarakan naskah kuno,” tuturnya.

Empat belas Februari 2005 merupakan tanggal di mana Sinta pertama tahu ada yang tidak beres pada tubuhnya. Saat itu dia mengikuti kegiatan donor darah di kampus. Namun saat darahnya dicek ternyata dari mesin itu keluar bunyi padahal mesin itu untuk memeriksa kadar hemoglobin (HB) dalam darah dan darah di tubuh Sinta tidak bisa terdeteksi.

Tidak lama berselang dokter yang bertugas waktu itu mendatangi Sinta. la melakukan pemeriksaan mata dengan menarik keluar kelopak mata Sinta bagian bawah. “Menurutnya, ada keanehan. Kelopak mata saya pucat seperti tidak dialiri darah. Dia kemudian meminta saya segera memeriksakan darah ke laboratorium. Saat itu saya bingung dan penasaran, ada apa sebenarnya dengan tubuh saya?” lanjut Sinta.

Selama tiga bulan sejak itu Sinta akrab dengan laboratoriurn, sehingga pernah kas bon, meminjam uang kepada teman, untuk membayar tes-tes darah yang mahal itu. Setelah melakukan serangkaian tes, mulai sekarang dari hematologi, imunologi, kimia klinik, ANA, hingga anti ds DNA, hasil tes didapat. Dokter menyatakan kalau Sinta mengidap penyakit anemia hemolitik autoimun. Artinya, produksi darah dalam tubuh Sinta cepat mengalami kematian karena ada imun yang menyerang darah. Terjawab, mengapa nilai hemoglobin di tubuhnya di bawah batas normal. Belakangan baru Sinta tahu nama penyakit di tubuhnya, yakni Syslemic Lupus Erilemalosus atau lupus yang menyerang darah. Belum ditemukan obatnya, dan yang sebisanya dapat dilakukan adalah mencegah gejala tidak kambuh.

“Untuk itu saya rutin minum obat penambah energi. Sayangnya, ada efek sampingnya. Pipi bengkak, kulit lengan bersisik, rambut rontok, cepat lelah, dan sulit tidur. Teman-teman yang tak tahu mengira saya hamil karena pipi saya bertambah gemuk”. ungkap Sinta yang pada 2007 memutuskan minum obat, lalu berhenti menggantinya dengan gaya hidup sehat.

Sampai kini Sinta rutin kontrol ke dokter dua bulan sekali. Obat diminumnya bila kondisinya sudah drop. Untuk menghindari kekambuhan, ia menjaga untuk tidak terkena sinar matahari dan cahaya berlebihan. Karenanya ia keluar rumah sebelum matahari terbit menjelang matahari terbenam. Sinta juga makan teratur, menghindari stres dan mengukur diri dalam beraktivitas. Kecapekan, dia berusaha menahan diri untuk di rumah selama berhari-hari.

BERTEMAN DENGAN KEMATIAN

Yang unik dari Sinta, ia menghadapi penyakitnya sendirian. “Keluarga hanya tahu kalau saya sering sakit, dan itu penyakit biasa, tidak berbahaya,” ujarnya. Mungkin hanya kekasih dan teman-teman dekat yang tahu saya mengidap lupus. Beruntung kekasih saya seseorang yang luar biasa. Ia tidak peduli dengan penyakit mematikan yang saya derita. Bahkan ia mendukung saya penuh untuk meraih cita-cita.”

Kini Sinta semakin rajin mencari referensi tentang penyakitnya di berbagai buku, internet, maupun konsultasi ke dokter, lalu menuangkan kisahnya sebagai odapus (orang dengan lupus–Red) di blog miliknya. Otobiogratinya berjudul Berteman dengan Kematian setebal 363 halaman itu diluncurkan pada Hari Lupus Sedunia yang jatuh pada 9 Mei 2010, dan telah dicetak ulang. Sebagai odapus, Sinta mengaku harus siap menghadapi risiko kematian yang besar. “Dulu mungkin saya masih takut, sekarang saya menganggap kematian itu sebagai teman. Tinggal bagaimana memaknai hidup dengan semangat dan fokus meraih cita-cita. Saya berjuang mewujudkan mimpi-mimpi saya yang banyak itu: jadi dosen, peneliti, membuat museum naskah kuno, membuka sekolah gratis dan perpustakaan umum. Melihat daftar saya yang banyak itu, biasanya saya suka lupa rasa sakit penyakit ini.” (SR)

*Diketik ulang oleh Ayu Alfiah Jonas

Kategori: Kliping dan Tulisan.