Malang

Oleh Sinta Ridwan

Tepatnya 17 Juli 2012, di Museum Mpu Purwa, Malang. Saya diantar sepasang suami-istri asal Malang sini mengunjungi museum ini. Bentuknya seperti rumah lama, beberapa naskah kuna tidak dipajang. Saya meminta ijin untuk memotret naskah yang diduga isinya pengobatan. Dengan karakter tulisan pesisiran. Seperti inilah gaya saya kalau memotret naskah kuna. Meski sudah diberi tripot lumayan bagus tapi berat oleh Ketua Manassa dahulu, saya suka tak sadar memotret dengan tangan, ratusan halaman dipotret sampai tengkuk dan tangan pegal. Sehabis memotret saya selalu berpikir pada diri sendiri, saya ini filolog, meski masih amatiran, tapi tugas saya membaca naskah kuna, bukan memotret naskah kuna. Sinta. Sinta. Waktu itu Malang jadi kota ketiga yang dikunjungi setelah Mojokerto dan Pasuruan.

  • alicia yurista

    Sinta apa kabar? Saya si pembaca buku mu. Saya sudah kenal dengan bukumu 7tahun lalu saat usia saya 10 tahun. Saya penasaran dengan isi buku yang dibeli oleh kakak saya ini. Saya iseng membacanya lalu suasana hati saya mengikuti tiap alur bagian cerita. Sekarang saya 17 tahun, dan saya membaca buku mu lagi. Untuk kedua kalinya hati saya mengikuti tiap alur isi cerita. Seolah saya adalah orang terdekatmu yg berada disampingmu. Sehat selalu sinta!

  • alicia yurista

    Buku berjudul “Berteman dengan kematian”