Manusia Alam Hyang

Oleh Sinta Ridwan
Mahasiswa Filologi Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran

Kegiatan: Seminar Internasional Reformulasi dan Transformasi Kebudayaan Sunda
Tempat: Jatinangor, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran
Waktu: 9 – 10 Februari 2011
Judul: Keselarasan Manusia, Alam, dan Hyang Kuasa: Kajian Naskah Budug Basu
Peran: Pembicara Pendamping

Abstrak

Mitos tentang Budug Basu atau raja ikan yang terdapat di Cirebon memang tidak sepopuler mitos Nyai Roro Kidul di pesisir selatan pulau Jawa atau mitos Dewi Sri di daerah pertanian. Namun, keberadaan mitos tentang Budug Basu yang dipercaya sebagai asal mula keberadaan ikan ternyata masih hidup dan mendapat tempat khusus di kalangan masyarakat Cirebon terutama untuk masyarakat di daerah pesisir. Dalam masyarakat tradisional di Indonesia, mitos memainkan peran sebagai pedoman tingkah laku masyarakat yang berjalan baik karena diyakini mendapat campur tangan leluhur (Daeng, 2000: 103). Hal tersebut terbukti dengan masih dipakainya lakon Budug Basu dalam pementasan wayang yang diadakan pada saat upacara Nadran (pesta laut) secara serentak hingga tujuh panggung di lokasi yang berdekatan dalam satu desa. Lakon Budug Basu tidak muncul begitu saja dalam dunia pewayangan. Terdapat naskah yang dijadikan sumber referensi lakon tersebut.

Di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa, masyarakatnya memiliki kepercayaan terhadap Nyai Roro Kidul yang dianggap sebagai penjaga laut selatan. Selain itu, cerita Nyai Roro Kidul juga merupakan mitos yang sangat populer di Indonesia karena kisahnya pernah dijadikan film dan diputar di stasiun televisi nasional. Meski menjadi populer, tetap saja kisah itu identik dengan wilayah selatan Pulau Jawa karena memang dari wilayah itu kisahnya berasal. Wilayah lain mungkin memiliki tokoh mitologis serupa, terlepas kisahnya populer atau tidak. Salah satunya berada di wilayah utara Pulau Jawa. Lain halnya dengan pesisir selatan Pulau Jawa, masyarakat di sekitar pesisir laut utara Pulau Jawa, khususnya di daerah Cirebon, memiliki kepercayaan pada tokoh yang dianggap sebagai rajanya para ikan yang bernama Budug Basu.

Kisah Budug Basu merupakan mitos karena bercerita tentang asal-usul tanaman pokok dan aneka hewan yang menjadi makanan pokok manusia. Keberadaan ceritanya masih bertahan hingga saat ini dan dipercayai oleh masyarakat pesisir Cirebon. Sesuai dengan beberapa kriteria yang disebutkan oleh Pradotokusumo (1986: 11-13) mengenai mitos, di antaranya adalah mitos yang merupakan suatu cerita dalam mitologi (di luar dari benar atau tidaknya cerita), namun cerita tersebut secara turun temurun diakui kebenarannya oleh suatu kelompok kebudayaan tertentu, dan tokoh-tokoh dalam mitos merupakan dewa atau keturunan dewa. Begitu pula dengan cerita Budug Basu yang terdapat dalam naskah Serat Satriya Boedhoeg Basoeh (S.B.2.8 Roll 145 No.4). Diceritakan bahwa Budug Basu adalah seorang dewa bernama Ling Ling Sukma adik dari Hyang Nata atau dalam versi dalang disebut Dewa Antasari adik dari Dewa Antasara/Antaboga (serupa dengan versi naskah Lampahan Ringgit Budug Basu, KKSC 06.25).

Kisah ini masih terdapat di masyarakat pesisir Cirebon dan kemunculannya bisa diketahui dalam satu momen yang penting bagi masyarakat tersebut. Satu kali setiap tahun di desa-desa sepanjang pesisir Cirebon seperti Desa Mertasinga, Desa Astana, dan Desa Mundu, diadakan sebuah upacara yang terkenal dengan nama pesta laut. Pesta laut atau sering dikenal dengan istilah nadranan diselenggarakan oleh masyarakat pesisir Cirebon untuk mengungkapkan rasa syukur dan rasa terima kasih dari para nelayan atas berkah yang telah diberikan kepada mereka, berupa hasil laut seperti ikan yang melimpah. Dalam pesta laut ini terdapat beragam kegiatan, berbeda-beda pula mengenai waktu pelaksanaan dan durasi kegiatannya di masing-masing desa. Salah satu contoh, di Desa Astana pesta laut yang diselenggarakan bersamaan dengan upacara Sedekah Bumi dilakukan selama tiga hari berturut-turut, sedangkan di Desa Mertasinga pesta laut dilakukan dalam satu hari penuh, siang dan malam.

Peran Budug Basu dianggap penting dalam upacara tersebut karena selain disimbolkan sebagai raja ikan (asal-mula ikan), juga berperan dalam beberapa ritual penting dalam pesta laut tersebut. Pada nadranan (seperti di Desa Mertasinga dan Desa Astana) tokoh Budug Basu disimbolkan dalam bentuk wayang siluet, menggunakan wayang tokoh Arjuna yang berselimutkan (atau ditutupi) kain kafan putih dan dipakai dalam ritual larung di tengah laut. Ritual yang berlangsung pada pagi hari ini merupakan bagian pokok dari keseluruhan upacara. Istilah larung sendiri arti harfiahnya adalah hanyut; melarung berarti menghanyutkan. Dalam ritual ini, beberapa tokoh desa dan perwakilan dari keraton Cirebon hadir diiringi para warga desa yang umumnya nelayan lengkap dengan masing-masing perahu yang dihias sajen juga hasil bumi dan hasil laut. Mereka beriringan menuju laut lepas untuk melarungkan sajen utama, yaitu kepala kerbau yang menyimbolkan “kesusahan” dan “kebodohan”. Sebelum perahu berangkat ke laut lepas, air kembang untuk sajen ditancapkan terlebih dahulu oleh wayang Budug Basu yang dibawa oleh kokolot atau juru kunci lengkap dengan lantunan mantra/doa. Wayang Budug Basu juga dibawa hingga ke tengah laut untuk menemani prosesi melarung.

Setelah melarungkan kepala kerbau ke tengah laut, para nelayan yang mengikuti prosesi itu membasuh muka dengan air laut sekitar tempat sajen utama dibuang, bahkan ada beberapa nelayan muda yang terjun ke laut dan berenang untuk mengambil sajen-sajen lain yang sudah dilarung bersamaan dengan kepala kerbau. Para nelayan menganggap bahwa dengan menyucikan diri (membasuh muka) dan mengambil sajen dapat memperoleh berkah dari Hyang Maha Kuasa.

Begitu perahu-perahu mendarat seusai melarung, di beberapa tempat, contohnya di setiap rukun warga atau kelompok nelayan di Desa Mertasinga terdapat panggung-panggung yang mulai melakonkan wayang purwa sekitar pukul 10.00 hingga pukul 15.00 secara serempak. Lakon yang dimainkan sama, yaitu kisah Budug Basu dan kekasihnya, Dewi Sri.

Dalam versi dalang Sudarsono (seperti yang diamati pada hari Minggu, 1 Januari 2011) di Desa Astana lakon Budug Basu dimulai dengan keadaan alam yang buruk di Suralaya. Terjadi beberapa bencana yang diakibatkan oleh Dewa Anta yang sedang sakit. Kemudian Batara Guru mengutus Dewa Narada untuk membantu Dewa Anta. Singkat cerita, sakit yang diderita oleh Dewa Anta berhasil keluar dari tubuhnya dan berbentuk dua buah telur. Satu telur menjadi Dewi Sri dan lainnya menjadi Jaka Sedana. Kemudian, Dewi Sri dan Jaka Sedana diasuh di wilayah Batara Guru. Waktu berlalu dan Dewi Sri tumbuh menjadi perempuan yang sangat ayu dan dikagumi para dewa. Lama kelamaan para dewa malah bersaing satu sama lain untuk memperebutkan Dewi Sri yang akan mereka jadikan istri. Dewi Sri tidak suka dengan situasi itu, kemudian dia meminta Batara Guru untuk dicarikan jodoh. Oleh Batara Guru diperintahkan Dewi Sri untuk pergi menuju sebuah hutan bernama hutan Jumali untuk menemui jodohnya, yaitu Budug Basu.

Keadaan Budug Basu yang sedang sakit akibat dihukum Hyang Agung sehingga ia menjadi raja penyakit dan diasingkan ke dalam sebuah hutan. Begitu juga dengan kakaknya, Dewa Anta, yang diberi penyakit oleh Hyang Agung. Keduanya telah melakukan kesalahan sehingga diberi penyakit.

Kisah ini dilanjutkan pada pertemuan Budug Basu dan Dewi Sri di hutan Jumali. Pada pandangan pertama Dewi Sri sudah jatuh cinta pada Budug Basu, begitu pula sebaliknya. Namun, ketika tahu Budug Basu adalah raja penyakit dan seluruh tubuhnya mambu bacin: banyak ulat, busuk, panu, kudis, kurap, dan budugan; Dewi Sri pergi meninggalkan Budug Basu dan kembali ke Batara Guru sembari menangis menolak jodohnya itu. Karena menolak takdir, Dewi Sri sengaja menghunuskan dirinya kepada cis (tombak) yang dipegang oleh Batara Guru dan ia meninggal. Kemudian datang pula Budug Basu yang mengejar Dewi Sri ke Batara Guru. Ketika tahu Dewi Sri telah meninggal, ia pun dengan sengaja menghunuskan tubuhnya kepada cis milik Batara Guru hingga akhirnya meninggal. Mereka kemudian dimakamkan di tempat yang berbeda, lalu keajaiban terjadi; dari jasad Dewi Sri tumbuh beragam tumbuhan seperti padi, kelapa, aren dan lainnya, sedangkan dari jasad Budug Basu bermunculan ragam hewan seperti ikan, babi hutan, banteng, dan lainnya.

Cerita Budug Basu dan Dewi Sri seperti di atas dipentaskan oleh dalang di siang hari. Sangat jarang pagelaran wayang kulit dilakukan di siang hari. Namun, di wilayah Cirebon, selain terdapat pagelaran wayang di malam hari, juga terdapat di siang hari. Keunikan lainnya, ketika lakon selesai, di depan panggung wayang terdapat sebuah wadah air besar yang berisi air kembang. Para penonton yang terdiri dari nelayan dan keluarga yang rumahnya berada sekitar panggung membawa wadah air kecil berupa ember atau botol. Mereka menonton wayang sambil menunggu acara ritual selanjutnya setelah wayang dilakonkan. Ritual ini disebut ruwatan. Ketika lakon selesai dimainkan, dalang berdoa dalam bahasa Arab dan bahasa Cirebon. Isi doa terdiri dari meminta keselamatan, berkah, dan ketenangan bagi para nelayan yang mencari nafkah di laut. Doa tersebut diperuntukkan kepada Hyang Maha Agung. Kemudian seusai berdoa, dalang menancapkan wayang Budug Basu (di Desa Mertasinga ditancapkan juga wayang Dewi Sri) ke dalam air kembang. Setelah itu warga yang sedari tadi menunggu, berebutan untuk mencuci muka dan mengambil air kembang untuk dibawa ke perahu dan rumahnya. Warga akan menyiramkan air kembang ruwatan tadi untuk memandikan perahu dan ada juga yang menyiramkan ke depan rumah. Bagi para nelayan, air kembang itu sebagai simbol tolak bala guna untuk menjauhkan dari mara bahaya dan air yang penuh berkah karena sudah didoakan oleh sang dalang dan direstui Hyang Maha Kuasa.

Selain ritual-ritual yang telah disebutkan sebelumnya, pesta laut diisi juga dengan kegiatan permainan rakyat sepeti panjat pinang, kemudian ada pagelaran musik dangdut atau tarling, drama tari, tari topeng, dan sebagainya. Betul-betul sebuah pesta rakyat. Pesta itu diadakan setiap kali panen atau ketika mulai musim hujan. Bagi nelayan, nadranan dilakukan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Hyang Maha Agung yang telah memberi rejeki dan meminta terus diberi rejeki agar mereka selalu diberi keberkahan dalam perjuangannya mencari nafkah di laut.

Rasa syukur tersebut juga diberikan kepada Dewi Sri, dengan diadakannya sedekah bumi, namun doa-doa untuk Dewi Sri dilakukan bukan di tepi laut tapi di darat. Keduanya adalah tokoh yang sangat berperan penting dalam kehidupan masyarakat pesisir.

Cerita Budug Basu tertulis pada naskah-naskah lama. Di antaranya berjudul Serat Satriya Boedoeg Basoeh (1837), Lampahan Ringgit Budug Basu (1909), Carios Kanda Budug Basu (1913), Lampahan Budug Basu (tanpa tahun), dan Lalakon Budug Basu (1919). Kelima naskah tersebut berasal dari Cirebon dengan aksara Cacarakan dan Latin dan berbahasa Cirebon. Cerita Budug Basu dalam naskah lama ini digunakan oleh para dalang, baik membaca langsung naskah atau cerita didapat dari guru dalang dengan mendengarkan secara lisan lalu menghapalkannya. Terkadang dalang pun mengimprovisasi cerita pada saat melakonkannya.

Banyak sekali pesan yang dapat digali dari cerita Budug Basu maupun kegiatan masyarakat yang mempercayai mitos Budug Basu yang tentunya sangat bermanfaat bagi masyarakatnya sendiri untuk masa kini dan masa yang akan datang. Keberadaan mitos tersebut juga secara tidak langsung membuat para nelayan tidak berani merusak laut yang sudah sedemikian rupa menjaganya, memberinya keberkahan, dan keselamatan. Adapun beberapa pesan lainnya adalah, sebagai manusia, kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Hyang Maha Kuasa melalui melimpahnya hasil alam. Kemudian, pesan lainnya adalah manusia harus selalu memelihara dan menjaga keserasian dan kelestarian hubungannya dengan alam, demi keselarasan dalam kehidupannya.

Kategori: Filologi dan Kajian.