Meneguk Secangkir Bintang

Oleh Pungkit Wijaya

Ketika saya membaca kumpulan puisi Sinta Ridwan berjudul “Secangkir Bintang”, saya ingin meneguknya saja. Tanpa harus lama untuk menunggu asap dari gelas lamat-lamat terbang ke udara. Sinta, seperti juga penyeduh kopi tubruk—seduhan khas asli orang Indonesia—memilih menyodorkan “Secangkir Bintang” tanpa gula. Saya pikir itu memungkinkan lidah saya ini untuk mencecap bagaimana body (teksture), keasaman (pengalaman), karakter sampai aroma bercampur dalam satu gelas.

Kaitan pencecapan lidah saya erat dengan kopi jenis arabica—yang mengandung daya keasaman lebih intens ketimbang robusta. Tak hanya itu, saya ingin menyandingkan puisi Sinta ini dengan kopi dengan cara seduh tubruk. Dengan kata lain, cara merasakan aroma, body, keasaman kopi (cupping coffee) paling efektif dengan cara metode penyeduhan tubruk atau manual brewing.

Meneguk puisi seperti juga menyeruput secangkir kopi. Dalam satu gelas itu, saya pikir ada perjalanan panjang dari “hulu sampai hilir”. Saya pun pernah mendengar bahwa dalam secangkir kopi tersimpan sejumlah kisah (pengalaman) dari mulai keringat petani sampai teknik penyeduhan. Dalam pandangan saya, kalau puisi dari mula si penulis belajar menulis kalimat kemudian menyuling pengalaman sekaligus memilih (sortir diksi) sampai menghidangkannya ke pembaca.

Pungkit Wijaya

Begitu juga dengan secangkir kopi, seorang petani akan menanam benih, panen—petik merah—proses semiwash (dicuci) sampai ke green bean—melalui sortir dengan penuh kesabaran kemudian me-roasting (sangrai) hingga diseduh dengan paling sederhana: tubruk atau manual brewing—dengan memakai kertas tisu V60. Bedanya, jika puisi seluruh cerita (pengalaman) teralami sendiri sedangkan kopi rangkaian proses panjang itu dengan orang yang berbeda. Misalnya, petani kopi berbeda dengan barista tukang seduh kopi.

Tak beda dengan seduhan manual—tubruk dan kertas tisu V60—Sinta adalah penyeduh “Secangkir Bintang” dengan alat manual. Dalam sehimpun puisi, saya merasakan body puisi mengikuti “pakem” terutama ia masih mempertahankan rima a-i sehingga karakter kopi Sinta terasa masih “alami”. Soal aroma, saya mengendus Sinta masih terpengaruh beberapa penyair sebelumnya—yang ia baca dari sebuah antologi.

Boleh dikatakan, dalam kumpulan puisi ini Sinta memilih daya ucap yang “halus”. Ia pelan-pelan menulis kalimat dengan rapih tanpa tergesa memaknai himpunan pengalaman. Untuk itu, mari kita membaca puisi berjudul “Pembenci Benci”:

Aku ingin bilang/ aku menyangkal pengakuan pembuat Apollo/ juga pada sang maestro di Planet Pluto// “Semakin membenci sesuatu/ yang dimulai dengan babak kelam/ ujungnya mencintai juga”// Aku sangat benci/ bila harus membenci// Apollo minta dibenci/ dan ikut menyebar benci// Meski aku terlanjur benci// Dipati Ukur 40, 2 Juni 2008

Puisi di atas memperlihatkan bagaimana Sinta masih memperhitungkan rima dari sebuah sajak. Ia tak banyak menggunakan idiom atawa metafora yang fantastis. Perbedaan ini terlihat dari rentan waktu antara pengumpulan puisi ini antara 2008, ia lebih menghayati pengalaman tanpa hendak mengganti ungkapan, seperti halnya: “aku sangat benci, bila harus membenci”.

Sinta hendak memberitahukan kepada saya bahwa sejarah adalah artefak imajinasi. Perempuan kelahiran Cirebon ini suka mengeja puisi masa lalu. Terlebih ia, harus “memelajari prasasti yang berdiam dalam diri”. Dengan kata lain, sebagai sebuah “artefak”, puisi dapat ditelusuri walaupun harus memunguti sobekan sejarah nagari. Seperti halnya dalam puisi berjudul “Artefak Imajinasi”:

Mencintai puisi-puisi masa lalu// Memuja masa rajya-rajya sendu// Mengimajinasi patuhnya rakyat// Memunguti sobekan sejarah nagari// Memelajari prasasti yang berdiam diri// Menatapi kitab dunia hasil reinkarnasi// Mengubur halusinasi jalur trah yang abrasi//

Ketika membaca puisi di atas, saya pikir bahwa puisi adalah sebuah artefak imajinasi sekaligus resapan pengalaman. Apakah puisi itu berkelindan dengan pekerjaan Sinta sebagai peneliti aksara kuno Nusantara? Ya, mungkin saja.

Namun, peralihan tahun itu terasa dalam puisi Sinta (2008-2009). Dalam tanda waktu setahun kemudian Sinta memerlihatkan bagaimana ia menulis dengan memakai horizon dari pengalaman pikiran. Dalam puisi berjudul “Hidupi Nyai”, misalnya, dapat kita membaca:

Aku tantang matahari// Aku serap amarahnya/ yang membara// Menggila// Berharap matahari/ jadi bulan// Bulan/ jadi bintang// Kulit pun aman/ karenanya// Saat siang menerikkan tenaga// Kalau/ waktuku/ sampai di sini// Dan matahari masih bersinar// Aku harap gelombang berdebur/ seluas samudera/ yang menghempas jantungku/ ke tajam batu karang// Hingga habis terkikis/ dilumat arus laut// Hidupi Nyai dengan ragaku// Menyapu rindu// Batu Karas, 17 Agustus 2008

Sinta agak intens menggunakan metafora matahari, bulan, ombak dan laut. Dalam penanda waktu itu, saya membaca puisi Sinta intens juga menafsirkan kisah sejarah, mitologi yang dikaitkan dengan pengalaman dirinya sendiri.

Begitulah saya membaca “Secangkir Bintang” Sinta Ridwan. Sebagai seorang penyair, ia piawai meracik takaran diksi namun lidah saya merasakan belum berimbang antara rasa, keasaman dan karakternya. Bisa jadi, sebagai seorang “barista” Sinta baru belajar menyeduhkan kopi dengan aroma dan rasa yang pas.

Bandung, 15 September 2016

*Tulisan ini merupakan Kata Pengantar dalam buku Dokumentasi Puisi 2006-2009 karya Sinta Ridwan yang berjudul Secangkir Bintang V1.7. Foto Pungkit miliknya pribadi, dan foto saya diambil ketika dus-dus berisi Secangkir Bintang baru datang dikirim dari Penerbit Gambang Yogyakarta pada 11 Agustus 2017. Stok buku masih ada, bagi yang penasaran ingin membaca bisa kontak IG @godongsemanggen atau @sintaridwan langsung.

Kategori: Buku dan Secangkir Bintang V1.7.