Menertawakan Diri

Saya sering berpikir bahwa kehidupan medsos sudah mengambil sebagian besar waktu saya, waktu untuk menulis, untuk makan, untuk baca buku, untuk pergi ke pasar, untuk belajar, untuk keluar rumah, untuk bertatapan wajah, untuk mengobrol, untuk nongkrong, untuk jalan ke depan rumah belanja sayur, untuk bermain dengan ponakan, dan sebagainya. Dan ini sudah berlangsung, semenjak ada wajah buku, sepuluh tahun? Bukan waktu yang sedikit itu. Saya menjadi orang yang tidak bisa menahan diri untuk tidak membagikan langsung apa kegiatan yang saya lakukan pada saat ini dan perasaan yang saya rasakan pada saat ini. Saya keluarkan semua itu lewat media sosial hingga “semua orang” menjadi tahu. Bahkan pernah ada, orang yang tidak pernah saya temui, ketika bertemu atau lewat kotak kirim pesan, mereka seolah tahu benar apa yang saya rasakan dan kerjakan. Saya sudah tidak punya lagi wilayah privacy. Bagi saya ini sudah tidak bijak dalam hidup saya sendiri. Saya tidak ingin membicarakan atau mengatur hidup orang lain. Di sini saya ingin mengomentari dan menertawakan diri saya sendiri.

Saya sendiri tidak suka ketika saya sedang berada di dekat orang-orang, bersebelahan secara fisik, mengobrol, bercanda, bermain, atau sekadar duduk minum kopi di kedai, tapi orang-orang di dekat saya lebih sibuk memerhatikan layar, menaik-turunkan jari, demi melihat foto dan video. Saya sering bertanya, apa orang-orang ini membaca keseluruhan isi keterangan? Saya tidak tahu, meski saya sudah ketagihan eksis di medsos, saya berupaya sekali untuk tidak fokus menatap layar ponsel ketika ada orang lain di dekat saya, meski sesekali saya tidak jarang juga melakukan hal itu. Tapi karena saya tidak suka dibegitukan saya menuntut untuk tidak dibegitukan, tidak dianggap keberadaannya ketika nyata, dan sangat dianggap ketika posting. Dan kata menuntut ini bagi saya ini sudah sangat salah. Apa hak saya melakukan itu?

Saya tahu beberapa nama terkenal yang tidak memiliki akun medsos apa pun, sebut saja Seno Gumira Ajidarma dan Komeng uhuy. Saya tahu juga beberapa teman atau kenalan yang saya tahu ia suka menyindir kegiatan eksistensi medsos kurang lebih lima tahun lalu, ternyata pada waktu sekarang mereka sangat aktif menggunakannya. Saya yang sudah gila medsos, semakin ke sini merasa ada yang aneh dengan pengaruh dunia maya di dunia nyata. Misalnya, Ibu saya sendiri yang setahun lalu masih gaptek dengan ponsel pintar, sekarang ia sudah bisa mengoperasikan dan sudah mulai membicarakan hal-hal yang sedang trending di dunia maya, Ibu saya sering mengajak mendiskusikannya atau ada yang lebih positif bahasanya, meminta klarifikasi berita-berita yang baru ia baca itu benar atau bagaimana kepada saya dan meminta tanggapan, meski ujung-ujungnya saya tidak memberikan jawaban apa-apa karena saya bukan mereka yang sedang trending dibicarakan, saya tidak tahu bagaimana cara berpikir Ahok atau Jokowi, misalnya, meski saya banyak baca interpretasi-interpretasi orang lain tentang tindakan dan “pemikiran” mereka. Saya selalu bilang pada Ibu saya, lebih baik membicarakan yang ada di sekitar kita, tidak usah ikut-ikutan berpikir atau resah tentang dunia politik negeri ini atau apa pun yang sedang trending, nanti tidak bisa makan dan tidur dengan enak.

Saya pernah tobat medsos berkali-kali dalam sepuluh tahun ini, ciri-ciri paling ketara adalah penghapusan data, meski saya tidak yakin apakah setelah dihapusi itu sudah hilang jejaknya di dunia internet. Apakah status-status atau gambar yang sudah saya publish lalu saya hapus akan hilang begitu saja? Atau malah terekam di media yang lain. Saya pernah, malah sering, berselancar nama saya sendiri di Google, saya menemukan kalimat-kalimat yang saya lontarkan bertahun-tahun lalu, kalimat amarah, kalimat sedih, kalimat senang, kalimat alay, dan lain-lain. Bahkan saya merasa aneh, ketika belum mengetik selesai nama saya di kotak pencarian, muncul beragam kata yang katanya paling sering dicari orang-orang. Ada Sinta Ridwan kawin, cerai, hamil, Kamil, ini itu anu begini begitu, dan sebagainya. Untuk kata yang kedua disebutkan tadi, saya selama dua tahun ini hanya bercerita kepada orang-orang tertentu, tapi kenapa bisa muncul di kotak pencarian itu? Hal semacam ini sudah bisa membuat perasaan tidak enak sekali, itu yang saya rasakan sendiri, sebegitu besarnya kah orang-orang ingin tahu, baca kepo, keadaan orang-orang lainnya yang bahkan tidak ada hubungan sama sekali? Saya sedang ngomong ke diri saya sendiri.

Saya menyebutnya tobat medsos, ketika saya sudah mulai mual, muak, dan bosan dengan segala aktivitas di medsos. Lalu saya berpikir untuk pulang, ya pulang ke rumah blog, tempat di mana bisa menulis sepanjang-panjangnya tanpa dibatasi ruang kata. Jadi, ceritanya dua bulan lalu saya ikut sebuah “proyek” menulis ensiklopedia, selain mencari referensi lewat buku fisik tentu saya juga berseluncur di internet, mencari data. Banyak saya temukan beberapa website berisikan tulisan yang menarik, blog-blog yang masih konsisten menampilkan “tulisan” bukan “tulisan comot” atau “tulisan ala berita setengah matang atau setengah godog aka masak”. Saya salut kepada orang-orang termasuk beberapa kenalan saya yang masih konsisten menjaga kestabilan blognya dari waktu ke waktu, tidak tergoda teralihkan ke medsos yang lebih cepat pergerakannya, meski tak sedikit juga ada yang mengoperasikan beberapa jenis wadah sekaligus dan konsisten. Kalau saya? Ketika sedang asyik di satu tempat, yang lain ditinggalkan dan terabaikan, ibarat rumah yang sudah dibuat sedemikian rupa lalu kosong tak berpenghuni, kemudian ketika saya bosan di rumah yang lain, saya bebersih rumah yang sudah terabaikan itu membawa niat ingin dihuni lagi karena tobat sudah meninggalkan dan asyik dengan yang lain. Selain bebersih perabotan dalam rumah juga tata letaknya, dan ini yang menyusahkan developer website saya, terganggu waktu kerjanya demi menata niti, mengganti warna cat, dan lainnya. Saya melakukan ini berkali-kali dalam sepuluh tahun ini. Dan saya semakin tahu diri, saya bukan orang yang setia, menjaga segala yang sudah saya punya. #uhuks

Saya berteman dengan siapa saja di media sosial, ada yang berpendidikan, ada yang di dunia pendidikan, ada yang di dunia bisnis, ada yang di dunia kesehatan, perbukuan, perlupusan, perpolitikan, perbahasaan, persastraan, perpariwisataan, dan per- per- lainnya lagi, mau itu di kicau burung biru, wajah buku, bahkan gambar kilat eh petir eh apa ya. Tapi makin ke sini saya semakin tidak nyaman dengan nuansa perselisihan, saling memaki, saling menunjukkan, saling-saling lainnya lagi lewat kalimat terbatas dan gambar-gambar yang tidak jelas. Meski masih banyak juga yang masih menjaga nuansa damai, kreatif, inovasi, dan positif. Tak sedikit juga yang menumpahkan semua perasaan gundah gulana, kesakitan, curhat, berkeluh kesah di medsos dan bukan pada tempat yang sepatutnya, misalnya ketika sedang kumat sakitnya, ia bercerita di medsos, apa yakin “teman-teman” di dunia maya itu akan benar-benar peduli dan memerhatikan? Kenapa tidak bercerita semuanya itu pada orang yang selalu ada di sebelahnya atau di sekitarnya? Ada juga suami yang menceritakan istrinya, istri yang menjelek-jelekkan suaminya, anak-anak yang menceritakan orang tuanya, atau contoh-contoh lainnya. Apa di dalam rumah sudah tidak bisa mengobrol dan berinteraksi? Sampai-sampai orang lain harus tahu. Saya pun mulai mual dengan foto seragam misalnya di sebuah titik spot di satu daerah yang trending, dalam kurun berapa waktu gambar dengan spot itu muncul di mana-mana, meski masih di layar tapi terlihat oleh mata saya, atau gosip-gosip orang-orang terkenal atau bahkan menaikkan yang bukan siapa-siapa dan bukan karena prestasinya tapi soal aibnya dan ah kalau ini dilanjutkan saya bisa panjang lebar menggunakan kata-kata yang tidak seharusnya saya lontarkan eh tuliskan. Sudah, saya cukupkan sampai di sini saja menyalahkan yang lain-lain. Saya harus tahu diri, saya yang salah, saya yang tidak bisa mengontrol diri, mengontrol tangan dan mata, saya yang tidak bisa membagi waktu, saya yang tidak bisa menempatkan diri, ya saya yang keliru selama ini.

Meski demikian, saya tidak akan meninggalkan medsos atau dunia perinternetan sekarang, karena saya harus jujur kepada diri sendiri, kalau saya butuh juga untuk melakukan beberapa hal. Tinggal bagaimana saya bisa mengaturnya. Oleh karenanya saya, saya sudah mengucapkan janji ini beberapa kali, saya ingin pulang ke rumah yang sudah saya bangun tapi terabaikan beberapa waktu ini. Ditambah sebentar lagi akan ada keributan pemilihan daerah dan tahun depan puncaknya yaitu pemilihan presiden, semua orang seakan sibuk dan ribut, saya rasa saya tidak sanggup melihat linimasa yang muncul dengan saling serang dan saling fitnah, padahal kita tahu sudah lama, sejak kecil bahkan, bahwa kebersihan sebagian daripada iman, hubungannya? Bersih itu bukan hanya fisik seperti sampah berserakan, kebersihan itu bisa juga ada di kata-kata, di kalimat, di gambar-gambar, postingan dan repostingan.

Sudah ya, sekian dulu, saya ingin lanjut bebersih rumah ini lagi. Rumah-rumah yang lain biar saja bergerak cepat ke sana ke mari, bahkan suatu hari nanti bisa saja datang kemacetan yang menumpuk kata saling dan saling yang bisa memengaruhi pikiran, bahkan hormon juga kejiwaan. Pergerakan yang cepat bagi saya pribadi tidak harus diimbangi dengan langkah yang cepat juga tanpa membawa bekal dan persiapan apa-apa, meski lambat jangan sampai lupa melangkah sambil membawa karakter diri sendiri, bukan meniru karakter orang lain yang didapatkan dengan cara scrolling timeline dengan kilat tanpa ada resapan. Awas nanti banjir, masih musim hujan.

Cirebon, 7 April 2018

*Tulisan ini dalam rangka memulai kembali. Gambar (koleksi pribadi) di Malang, 6 Februari 2018 tepatnya di Studio Kata Picture.

Kategori: Catatan dan Tulisan.