Mitos Padi Pesisir Cirebon

Oleh Sinta Ridwan
Kandidat Doktor Filologi Universitas Padjadjaran
Email: sintaridwan@yahoo.co.id
Kegiatan: Seminar Nasional Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional
Waktu: 18 – 19 September 2013 & Pukul 09.00 – 16.30 WIB
Tema: Pangan dan Naskah Kuna Nusantara
Subtema: Mitologi Pangan dalam Naskah Kuna
Judul: Mitos Padi di Pesisir Cirebon dalam Naskah Serat Satriya Budug Basu

Abstrak

Wacana mengenai krisis pangan dan penanggulangannya sedang marak akhir-akhir ini. Bahkan, di pulau Papua yang semula tidak mengenal budidaya padi, saat ini sedang dipersiapkan lahan untuk dibangun industri pangan tanaman padi. Di Nusantara sendiri, saat ini mayoritas penduduk mengkonsumsi nasi namun kebutuhan konsumsi tersebut tidak sepadan dengan produksi beras dalam negeri sehingga pemerintah mesti mengimpor beras dari negara-negara tetangga, seperti Vietnam, Thailand, dan China. Di sisi lain, masih ada petani-petani yang mempraktikan pengetahuan lokal dan masih menjunjung tinggi mitos padi serta membuat pagelaran syukuran setiap tahunnya, salah satunya di pesisir Cirebon. Masyarakat pesisir Cirebon mengenal mitos padi yang ditulis pada naskah kuna, berjudul Serat Satria Budug Basuh. Naskah itu berisi kisah tentang asal-usul tanaman, termasuk padi, dan asal-usul hewan yang dianggap menjadi pasangan nasi, yaitu lauk-pauk. Dalam naskah ini disebutkan bahwa Dewi Sri tidak hanya menjelma sebagai tanaman padi, tapi juga tanaman lain yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan pokok.

Kata kunci: Cirebon, mitos, naskah, Budug Basu, Dewi Sri, padi

Pendahuluan

Ketika membicarakan masalah pangan, entah kenapa yang muncul di benak ini selalu ada kata “beras” dan hasil pengolahannya, yaitu nasi. Nasi menjadi sumber karbohidrat bagi tubuh. Ketergantungan masyarakat Nusantara saat ini terhadap beras, walaupun tidak seratus persen wilayah Nusantara mengkonsumsi beras, terbilang cukup besar, bahkan ada istilah, “belum makan, bila belum makan nasi”. Artinya, nasi adalah makanan pokok; baik pagi, siang, dan malam hari.

Padahal, karbohidrat tidak hanya terdapat dalam tanaman padi. Banyak tanaman lain yang mengandung karbohidrat, seperti kentang, umbi-umbian, singkong, dan sebagainya. Artinya, pemanfaatan terhadap tanaman selain padi sebagai sumber berkabohidrat belum maksimal dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan pokok masyarakat Nusantara yang kini sudah bergantung pada tanaman padi. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, pemerintah harus menambah pasokan beras dari luar negeri seperti impor beras dari Thailand, China, dan Vietnam. Apakah solusi impor tersebut tidak dapat disebut sebagai upaya mempermalukan negeri sendiri yang notabene adalah negara agraris?

Dalam mitos padi, meskipun padi adalah tanaman utama yang menjelma dari pengorbanan seorang dewi, terdapat tetumbuhan lain yang sebetulnya bisa dimanfaatkan manusia sebagai sumber pangan karbohidrat sehari-hari. Pertanyaannya, mengapa tanaman pangan selain padi itu menempati kedudukan yang tidak setara dengan padi sehingga hanya padi yang dianggap utama dan sang dewi tersebut, Dewi Sri atau Dewi Puhaci, kemudian menjadi simbol dari tanaman padi?

Di masyarakat nelayan Cirebon yang hidup di pesisir utara pulau Jawa terdapat mitos padi yang masih dipercaya hingga sekarang. Hal itu dibuktikan dengan masih berlangsungnya ritual pemujaan untuk menghormati dan mensyukuri nikmat kehidupan yang telah diberikan Alam lewat upacara pesta laut yang sering disebut nadran. Mitos biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (cosmology); terjadinya susunan dewa; dunia dewata (pantheon); terjadinya manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan (culturehero); dan terjadinya makanan pokok, seperti beras dan sebagainya, untuk pertama kali (Danandjaja, 2007: 52).

Dalam nadran terdapat pementasan wayang kulit purwa dengan lakon cerita tentang Dewi Sri yang dikisahkan sejak dari masa kanak-kanak hingga menjelang dewasa sampai bertemu jodohnya bernama Budug Basu. Lakon yang dikisahkan oleh dalang tersebut tertulis pada naskah-naskah kuna yang ditemukan di beberapa tempat, di antaranya di perpustakaan Keraton Kesepuhan, Perpustakaan Nasional RI, juga masyarakat Cirebon itu sendiri, serta perpustakaan museum Sanabudaya Yogyakarta dengan judul naskah yang selalu menyebut tokoh Budug Basu, bukan Dewi Sri. Padahal dalam ceritanya, tokoh yang sering disebut dan paling lengkap adalah Dewi Sri, lalu mengapa pemberian judul naskah tidak menggunakan tokoh Dewi Sri? Sebuah pertanyaan yang harus ditemukan jawabannya. Hal ini sudah coba diulas dalam penelitian yang dilakukan Fuad Abdulgani (2012) lewat perpektif ilmu antropologi dengan mempertanyakan mengapa mitos padi tersebut muncul di tengah komuniti nelayan.

Naskah-Naskah Mitos Padi di Cirebon: Cerita Budug Basu

Enam naskah ditemukan selama pengumpulan data tesis Sinta Ridwan (2011). Naskah pertama berjudul “Serat Satriya Boedoeg Basoe” nomor naskah S.B. 28 Roll 145 No.4 koleksi Museum Sanabudaya tertulis 1837 tahun Babad atau 1903 M oleh Sujatmaningrat dari Gebang beraksara Carakan berbahasa Cirebon. Naskah kedua berjudul “Lampahan Ringgit Budug Basu” nomor naskah 06.25 koleksi Keraton Kasepuhan disalin pada 1909 beraksara Carakan dan berbahasa Cirebon. Naskah ketiga berjudul “Cerita Budug Basu” tidak terdaftar pada katalog dan merupakan milik pribadi, kemudian naskah keempat berjudul “Carios Kanda Budug Basu” dengan nomor naskah Plt. 52 disalin Pleyte pada 1913 beraksara Latin dan berbahasa Cirebon sedangkan naskah kelima berjudul “Lampahan Budug Basu” berbahasa Cirebon dan beraksara Carakan dan terakhir naskah keenam berjudul “Lalakon Budug Basu” nomor naskah Plt.13 disalin oleh Pleyte pada 1913 berbahasa Sunda dan beraksara Latin. Naskah keempat dan keenam merupakan koleksi Perpustakaan Nasional.

Isi naskah Serat Satriya Budug Basu berbentuk tembang macapat, menceritakan tokoh Budug Basu yang dihukum oleh ayahnya. Budug Basu tinggal di tengah hutan ditemani raksasa sampai suatu ketika bertemu Dewi Sri dan ia jatuh cinta, namun cintanya ditolak Dewi Sri. Dewi Sri meninggal dengan cara bunuh diri depan ayah angkatnya. Jasad Dewi Sri lantas menjelma jadi beragam tumbuhan. Pada saat Budug Basu mengetahui Dewi Sri telah tiada dia pun ikut bunuh diri. Jasad Budug Basu kemudian menjelma hewan dan tumbuhan.

Naskah kedua menceritakan lakon wayang terciptanya tetumbuhan dan hewan serta awal mula kegiatan bercocok tanam dan melaut dengan tokoh utama Dewi Sri dan Budug Basu. Pada halaman akhir terdapat kolofon yang menjelaskan penulis dari Keraton Kesepuhan. Naskah ketiga ditemukan hanya satu lembar. Terdapat ilustrasi yang menggambarkan kuburan seorang perempuan dan laki-laki yang mana dari dalam kuburan tumbuh beragam tumbuhan dan seorang penjaganya membawa alat bajak, sama persis dengan salah satu adegan cerita pada naskah lainnya. Terdapat pula nama Dewi Sri dalam tulisan pada naskah tersebut.

Isi naskah keempat adalah lakon wayang yang menceritakan kelahiran Dewi Sri dan Budug Basu hingga kematiannya. Diceritakan juga peristiwa terciptanya berbagai tetumbuhan dan hewan serta awal mula kegiatan bercocok tanam dan melaut. Isi naskah kelima selain cerita lakon wayang yang menceritakan perjalanan hidup Dewi Sri dan Budug Basu dari kelahiran hingga kematiannya, juga menceritakan perubahan wujud dari kedua jasadnya menjadi tumbuhan dan hewan. Cerita dimulai dengan kegaduhan yang dibuat Dewa Anta dan mendatangkan bencana di Suryalaya. Cerita diakhiri perjuangan Sulanjana untuk menjaga makam kakaknya, Dewi Sri, yang telah menjadi beragam tumbuhan.

Isi naskah terakhir berisi cerita yang dimulai dengan kisah turunnya Dewi Sri dari Kahyangan, kemudian kisah Sapi Gumarang, Dewa Anta, Ratu Pakuwan, Dempu Awang, dan Sang Hyang Sri. Naskah ini memiliki perbedaan dengan naskah-naskah Budug Basu yang lain, selain alur cerita juga bahasa, yaitu bahasa Sunda. Selanjutnya adalah penyajian jenis tanaman pangan yang tertulis pada naskah Serat Satriya Budug Basu. Mengapa hanya dari naskah tersebut yang disajikan? Karena naskah Serat Satriya Budug Basu dianggap paling unggul, lengkap ceritanya, serta rinci penjelasannya dibanding kelima naskah lainnya (Ridwan, 2011).

Jenis Tanaman Pangan dalam Serat Satriya Budug Basu

Penyebutan tumbuh-tumbuhan yang dapat dikategorikan sebagai bahan pangan terdapat dalam naskah Serat Satriya Budug Basu (Ridwan, 2011). Pada saat Dewi Sri bunuh diri, jasadnya dikubur lalu dijaga oleh utusan Prabu Nata:

38/XII/5/329 Ki Bagawan damela luwat mangkin, sampun palastra[h] terap gal sampun prapta, anulya[h] kinubur mangko, sampun malebet wau, sadaya ingkang angiring(i), amantuk Kadéwatan, kantun ingkang atunggu, ingkang kemit samya giliran, (Ka)ki Bagawan iku amuwus aris, “Hé para Déwa[h] jawata.

Terjemahannya:

38/XII/5/329 Ki Bagawan membuat liang lahat, sudah selesai terap gal datang, kemudian dikubur. Tadi sudahlah masuk, semuanya yang mengiringi, balik ke Kadewatan, tinggal yang menunggu, untuk jaga bergiliran. Kakek Bagawan berkata membisiki, “Hai para Dewa Jawata.

38/XII/6/330 Pada(é) kita ganti-gumanti, padha kemit kukus aja tinggal, menyan lan ukup garuhé, mawar di ja pegat iku, oli pitung dina (a)mangkin, ja kongsih suwung ika, pitung dina dalu.” Nulya genti Ki Bagawan[1], ingkang kemit during[2] dalem wengi iki, sareng daluh wonten kang medal.

Terjemahannya:

38/XII/6/330 Kita bersama silih berganti, menjaga asap jangan ditinggal, menyan dan asap garaha, mawar jangan terputus, dapat lah tujuh hari nanti, sampai sepi ya jangan, tujuh hari malam. Lantas ganti Ki Bagawan, yang menjaga sampai tengah malam ini, malam ada yang keluar.

Pada saat Ki Bagawan menunggu makam Dewi Sri terjadi keajaiban. Dari tubuhnya muncul tumbuhan-tumbuhan yang hampir semuanya sampai saat kini dimanfaatkan oleh manusia:

38/XII/7/331 Mancorong amedal abang dadi, pari abang ireng dadya irenga, puti dadi puti mangko, dupi medal sirahipun, (nge)dados arupi kacambil, (kang) jaga arénika, jambé jajanipun, usus dadi lawéh wenang, puser(é) dadi gohowar ingkang nami[h], kupingé godhong kapalan.

Terjemahannya:

38/XII/7/331 Bercahaya keluar merah padi, padi merah hitam jadi hitam, putih jadi putih yakni, dari kepala wujud, bentuk kelapa menjadi, leher itu aren ya, pinang dadanya pun, usus jadi tali benang, pusarnya jadi gohawar dinamai, telinga daun kapalan.

38/XII/8/332 Pipiné dadi godhong buntiris, tingalé dadi godhong kacembang, bathuk dadi sipat mangko, godhong sipat nabi iku, irung(é) dadi tapak nabi, untu dadi gundem ika, ilat dadi jagung, lambé dadi gandum ika, ingkang pundhak dadi warna trigu iki, susuné kang rangdhu ika.

Terjemahannya:

38/XII/8/332 Pipinya jadi daun buntiris, matanya jadi daun kacembang, dahi jadi sipat lalu, daun sipat nabi[3] itu.Hidung jadi tapak nabi, gigi jadi gundem ya, lidah jadi jagung, bibir jadi gandum iya, pundaknya jadi rupa terigu ini, rangdu buah dadanya.

38/XII/9/333 Jarijiné tebu wulung iki, ingkang lengen metu pelem ika, parinandhi sing jijithoké, dhadhané kaluwi iku, metu gedhang (i)ya sing /hal.39/ gigir, pernah[4]lengen metu pelem ika, wuluh balimbing wulu(h), warna-warna kadadiyan, bibit gagah sampun sadayané cumawis, tatanduran warna-warna.

Terjemahannya:

38/XII/9/333 Jarinya jadi tebu wukung ni, lengan tangannya keluar mangga, padi nandi dari tengkuk, dadanya kluwih itu, keluar pisang ya punggung /hal.39/ dari, lengannya keluar mangga. Lalu belimbing wuluh, macam-macam kejadian, bibit ladang semua telah tercukupi, tanaman macam-macam.

Untuk memudahkan, berikut ini adalah rincian jenis tanaman yang merupakan jelmaan dari kuburan atau jasa Dewi Sri berdasarkan naskah Lampahan Budug Basu (LBB) dan Serat Satriya Budug Basu (SSBB):

Versi LBB Versi SSBB
Kelapa
Jagung
Rangdu
Padi
Kawung
Gadung
Kembili
Saweg
Pari abang (padi merah)
Pari longong
 
Padi merah
Padi hitam
Padi putih
Kelapa
Aren
Pinang
Gohawar
Daun kapalan
Daun buntiris
Daun kacembang
Daun sifat nabi
Tapak nabi
Gundem
Jagung
Gandum
Terigu
Rangdu
Tebu wukung
Mangga
Padi nandi
Kluwih
Pohon pisang
Belimbing wuluh
Pari celuruk

Tabel 1. Jenis tumbuhan yang berasal dari Dewi Sri
(Sumber: Abdulgani, 2012: 173)

Dapat diketahui terdapat tanaman selain padi yang berpotensi untuk menjadi sumber karbohidrat seperti jagung, gadung, dan gandum. Salah satu yang kini kurang dikenal adalah gadung. Gadung (Dioscorea hispida Dennst., suku gadung-gadungan atau Dioscoreaceae) termasuk tanaman umbi-umbian. Di Nusantara gadung dikenal dengan beberapa nama daerah seperti gadung, sekapa, bitule, bati, dan kasimun. Gadung berasal dari India bagian Barat kemudian menyebar luas sampai ke Asia Tenggara. Tanaman ini tumbuh pada tanah datar hingga ketinggian 850 mdpl. Namun bisa juga ditemukan pada ketinggian 1200 mdpl. Umbi gadung sangat beracun karena mengandung alkohol dan bisa menimbulkan rasa pusing-pusing dan muntah.

Dengan cara pengolahan khusus gadung dapat dimakan. Produk yang paling dikenal dalam bentuk keripik atau direbus. Di Nusa Tenggara dan Maluku umbinya dimakan sebagai pengganti sagu dan jagung pada masa paceklik, khususnya di daerah-daerah kering. Karena mengandung alkaloid, umbi mentahnya dapat digunakan sebagai bahan untuk racun binatang juga sebagai obat luka di Asia. Umbiya bisa difermentasi menjadi arak, seperti dikenal di Malaysia sebagai ubi arak. Bahan sisa pengolahannya bisa digunakan sebagai insektiksida[5].

Gambar 1. Umbi Gadung
(Sumber: diperta.jabarprov.go.id, diakses 28 Agustus 2013)

umbi-gadung

Dalam naskah ini selain Dewi Sri juga disebutkan tokoh lain yaitu Budug Basu yang menjelma menjadi hewan-hewan yang sebagian besar masih dimanfaatkan oleh manusia. Beberapa diantaranya dianggap hewan “pengganggu” tanaman padi. Ketika mengetahui Dewi Sri meninggal dengan cara bunuh diri, Budug Basu pun turut bunuh diri, dan dari jasadnya berubah menjadi hewan-hewan:

49/XV/15/437 (Ing)kang tebelah énggal sira abengkah, amalesat anang wari, dadi sato[h]wan buwaya, sasigaré- /hal.50/ tiba ing ngalas, dadi kebo lawan sapi, Budhug Basu[h] anggulayang, anggaléntér anéng siti.

Terjemahannya:

49/XV/15/437 Petinya tiba-tiba terbuka, melesat terbang ke air, menjadi satwa buaya, separuhnya /hal.50/ jatuh di hutan, menjadi kerbau dan sapi, Budug Basu melayang, di tanah tergeletak.

51/XV/17/439 Satugelé (daging) tiba[h] ing dharatan, dadi sato alas warni, jriji kiwah dadi kungkang, lan sato lembing arupa[h], matané dadi walang sangit, tiku cungur ama, untu ama yuyu mangkin.

Terjemahannya:

51/XV/17/439 Sepotongnya lagi jatuh di daratan, menjadi satwa hutan, jari kiri jadi bungkang[6], dan hewan lembing[7] bentuknya, mata jadi walang sangit, hidung tikus hama, mata hama yuyu(kepiting) nanti.

51/XV/18/440 Kang kuping dadi iku jamur (pun)ika, gulu jaja kiwah iki, dadi sawarnaning lalab, kacang émés oyong cipir (ka), kalawan paré ya kang puti,

Terjemahannya:

51/XV/18/440   Telinganya menjadi jamur itulah, leher dada kiri ini, jadi berbagai lalapan, kacang emes oyong kecipir, dengan ya pare yang putih.

Berikut ini hewan dan tumbuhan jelmaan Budug Basu berdasarkan naskah Lampahan Budug Basu (LBB) dan Serat Satriya Budug Basu (SSBB):

Versi LBB Versi SSBB
Dari tubuh: Berbagai macam binatang (tidak spesifik).
Dari tabela: Aneka ragam ikan (tidak spesifik).
Ikan sili

Kwangwung putih (kumbang putih—dari kuku jempol kakinya)
 
Dari tubuh Budug Basu:1.   Hewan: Buaya, kerbau, sapi, ikan dan sejenisnya, satwa hutan, bungkang (undur-undur), lembing (hama padi), walang sangit, tikus, yuyu (kepiting), kerud, macan, banteng, kuda, kancil, gajah, badak, kijang, kambing, menjangan, burung (berbagai macam), buaya laut, laba-laba, hama padi, tiram, embet, remis, kijing, kerang, emped, bukur (jenis kerang-kerangan), mutiara.2.   Tumbuhan: jamur, berbagai lalapan, kacang emes, oyong kecipir, pare putih

Tabel 2. Jenis hewan dan tumbuhan yang berasal dari Budug Basu
(Sumber: Abdulgani, 2012: 175)

Pada lanjutan cerita ketika Dewi Sri dan Budug Basu menjelma tumbuhan dan hewan. Terdapat tokoh lain yang juga menjelma tumbuhan yakni Jaka Pangarti:

53/XVI/10/465 Kang rama saweg karuna, kagét suwara[h] nekani, wewelingé ingkang putra[h], kang rama mindel tan angling, nulya ngilari wari, siniramken ing génipun, sampun lami nulya babar, kang endhog cukul metoni, kalaksanipun medal (i)ya siwalan.

Terjemahannya:

53/XVI/10/465 Sang Rama sedang berduka, kaget suara datang, pesan dari putranya. Sang Rama hanya diam. Lantas ya cari air, disiram di terletaknya telur itu, telah lama lalu menetas, telurnya tumbuh keluar, berpuluh ribu keluar ya siwalan.

53/XVI/11/466 Dhahon medal saking jaja[h], kang astané medal mangkin, gadhung kadadosan ira, selék medal sagu warni, sarta dados ganyong kopi, meda(l) saking jaja suku, jaja[h] medal pari ketan, sawarnanya ketan pari, Sang (A)jaka ngadadosan sawarnanya.

Terjemahannya:

53/XVI/11/466 Dahon keluar dari dada, tangannya keluar dari, gadung itu kejadian, keluar sagu terhimpit, dan jadi ganyong kopi, keluar daerah kaki itu, tempat keluar padi ketan, berbagai padi ketan ni. Sang Jaka menjadikan berbagai macam.

53/XVI/12/467 Kécapuh lan boléd manthangnya, ngedados sadayanéki[8], kabéh kang iku dumadya, atinggal nibakaken mangkin, upata suk yén mangkin, ya lamon ing dunya iku, o- /hal.54/ ra suka yén campura, lawan kécapuh gayong mangki(n), gadhu(h) kopi sawarnanya yén campuri ka.

Terjemahannya:

53/XVI/12/467 Singkong dan ubi antara, menjelma semua ini, semua itu jadinya, tinggallah akan menjatuhi, lalu besok kutuki, jika di dunia itu, ti- /hal.54/ dak mau bercampur ya, dengan singkong ganyong nanti, punya kopi semacamnya jika campurkan.

54/XVI/13/468 Wateka kuranga(n) mangan, sandhang lawan tuma sulit, lamon sira seneng nyawah, ora bisa[h] katuruti, nandur Déwi Puwaci[h], sigegen (ing)kang rumuhun, kocapa[h] ingkang winarna, sampu(na)né pejah mangkin, Sang Jaka Budhug Basu[h] ya kang ingucap.

Terjemahannya:

54/XVI/13/468 Dipastikan kurang makan, sandang serta serba sulit, jika kau sayangi nyawa, tidak bisa terpenuhi, tanam Dewi Puwaci.Hentikanlah kisah dulu, tersebutlah yang terkisah, kemudian setelah mati, Sang Jaka Budug Basu yang tersebutkan.

Berikut adalah tanaman jelmaan Jaka Pangarti dalam Serat Satriya Budug Basu.

Versi SSBB
Dahon
Gadung
Sagu
Ganyong kopi
Padi ketan
Singkong
Ubi

Salah satu tanaman yang kini kurang dikenal adalah ganyong. Tanaman ganyong (Canna edulis KERR) adalah tanaman ubi-ubian yang  dapat dimakan dan kebanyakan digunakan sebagai makanan cadangan. Nama lainnya adalah ganyong (Jawa, Sunda), buah tasbeh (Jawa), ubi pikul (Sumatera), daun tasbeh, ganyong, dan pisang sebiak (Malaysia). Meski belum dimanfaatkan secara serius dan intensif, ganyong berpotensi dalam upaya diversifikasi pangan.

Tanaman ini menghasilkan ubi yang dapat dimakan baik mentah maupun masak (direbus atau diolah jadi panganan). Ganyong juga dapat dibuat menjadi tepung dengan mengambil pati yang berasal dari umbinya. Caranya dengan mengupas kulit ganyong lalu membersihkannya dengan air. Kemudian diparut dan airnya diperas menggunakan saringan. Air saringan diendapkan sampai endapan dan airnya terpisah. Endapan kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Bisa juga kemudian digiling. Ganyong siap digunakan sebagai bahan makanan[9].

umbi-ganyong

Gambar 2. Umbi Ganyong
(Sumber: http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/502-tanaman-ganyong, diakses 28 Agustus 2013)

Pada kisah selanjutnya ada tokoh yang melihat jelmaan-jelmaan Budug Basu:

54/XVI/14/469 Wonten kang déwa[h] sanunggal, Bathara Karsa[h] anekani, gupuh ningali samudra[h], aké(h) warna ingkang isi, miwah ingkang rupa iki, kebek sajagat akumpul, padha kempel kabéh kéwan, nulya[h] Déwa[h] ngandika aris, “Iki sun nembéh weru satowan (a)warna.”

Terjemahannya:

54/XVI/14/469 Adanya seorang dewa, Batara Karsa datang, terburu lihat samudra, banyak macamnya isi, dan jenis rupa ini, penuh sejagat berkumpul, semua hewan kumpul. Lantas dewa kata lirih, “Ini aku baru tahu satwa macam-macam.”

54/XVI/15/470 Deleng sajroné samudra[h], miwah ingkang alas iki, ing sato kéwan sedaya, kerut macan kebo sapi, banthéng lan jaran kancil, gajah warak kidang wedhus, kalawan sato manjangan, sadayané ing warnaning, lan punika sawarnaning kang paksi[h] punika.

Terjemahannya:

54/XVI/15/470 Lihat ke dalam samudra, dan di hutan melihat, pada semua satwa hewan, kerud macan kerbau sapi, banteng dan kuda kancil, gajah badak kijang kambing itu, dan dengan satwa menjangan, semuanya rupa-rupa, dan demikian segala macam burung.

54/XVI/16/471 Bauné Sang Budhug Jaka, bau kiwa dados paksi, isa kathahéng kang paksiwa[10], bau tengen ika mangkin, banthéng lan gajah kancil,macan kebo sapi wedhus, sangking ingkang (a)tubela(h), kang sigra[h] mancelat mangkin, wonte(n) dados buwaya[h] ing(kang) samudra[h].

Terjemahannya:

54/XVI/16/471 Bahunya Sang Budug Jaka, jadi burung bahu kiri, seluruh burung jenisnya, bahu kanan itu jadi, banteng dan gajah kancil, macan sapi kambing kerbau, dan dari tabelahnya, tiba-tiba melesat, ada yang menjadi buaya laut,

54/XVI/17/472 Ing rupiné ngadadosan, dados kacang kang jariji, sawarnaning lalab-lalaban, sadaya suku kang dadi, dadya kungkang lawan lembing, Sang Apaksi[h] nembah matur, wau dhumateng kang déwa[h], matur sadayaning paksi, Sang Budhug Basu[h] punika ingkang samya.

Terjemahannya:

54/XVI/17/472 yang rupanya menjelmakan, jadi kacang dari jari, bagai macam laba-laba, semua kaki menjadi, jadi bungkang dan lembing[11]. Sang Burung sembah menghatur, tadi kepada Sang Dewa, bilang, “Seluruh burung ini, Sang Budug Basuh itu kesemuanya.

54/XVI/18/473 Ing kadadosa(n) Sang Jaka, sampun kasebut (sa)nunggil, anang ngendi kang ku endhas, matur énggal kang apaksi, tirem écol embet remis, kijing kerang émpéd bukur, punika kang wajah ika, ngadadosan salawerni, ingkang mambet amis kulit ira ika.

Terjemahannya:

54/XVI/18/473 Terjelma dari Sang Jaka, telah disebut satu ini, dimana itu kepala.” Hatur cepat si burung ini, “(Jadi) tiram ecol embet remis, kijing kerang emped bukur, yaitu wajahnya telah, jelma batu pertama ni, yang bau amis itu dari kulitnya.

54/XVI/19/474 Ingkang daging wau punika, dados ulam sadayaning, Bathara Karsa[h] angandika, kon sarta (kang) arum manis, “Sato sagara lan kalih, iku genahé mukim (ku), kalawan apa iya ka[12]?” Sang Paksi umatur énggal, “Gih punapa karsa[h] mangkin, sadaya-daya[h] andhérék ingkang karsa.”

Terjemahannya:

54/XVI/19/474 Dagingnya tadi yang telah, menjelmakan ikan kini.” Batara Karsa berkata, pelan serta lemah lirih, “Satwa laut dan sungai, itu tempatnya mukim itu, dengan apanya itu?” Sang Burung cepat berkata, “Bagaimana kehendak nanti, segalanya mengikuti kehendaknya.

Pada kisah selanjutnya terfokus pada tanaman padi, dan di sinilah tanaman padi dianggap sebagai tanaman penting untuk kehidupan manusia, oleh karenanya harus dijaga dan dipelihara dengan cara seksama:

55/XVII/5/480 Ing Nagara[h] Selabanji, tatapakan tatanduran, pari tiningalan katon, bagus-bagus warna-warna, seneng tingal waspada[h], ingkang pari[h] sampun mregu, godhongé tunggak Ki Nata.

Terjemahannya:

55/XVII/5/480 Di Negara Selabanji, ya jejak-jejak tanaman, padi terlihat jelas, bagus-bagus macam-macam, senang melihat awas, padinya telah lebat rimbun, daunnya batang tertata.

55/XVII/6/481 Énggal Sang Déwi Puwaci, umatur sarya anembah, “Inggi(h) sad kaula wayahé, Sang Raja[h] Prabu Sri Nata, ingkang wau kalampah, kula cukul tunggakipun.” Matur dhateng Déwa[h] Karsa[h].

Terjemahannya:

55/XVII/6/481 Lekas Sang Dewi Puwaci, menghatur seraya sembah, “Ya karena hamba cucu, Sang Raja Prabu Sri Nata, yang telah terjadi, hamba tumbuh tunggak itu.” ucap pada Dewa Karsa.

55/XVII/7/482 “Tuwan kula kados pundi, ing damelipun punapa?” Déwa[h] Karsa[h] ngandika alon, “Hé Sang Puwaci[h] Pari Sri[13], takon ing gawé nira, bésuk ya ing dunya iku, kanggo papagoning uma.

Terjemahannya:

55/XVII/7/482 “Tuan, hamba apa kini, gunanya untuk apakah?” Dewa Karsa ujar pelan, “Hai Sang Puwaci padinya, tanya perbuatannya, besok di dunia itu, ya untuk makanan orang.

55/XVII/8/483 Oyodé kanggo jajamu mangkin, ing wong kang lara[h] makadan, gelis waras ing awaké, wateking oyodé ika, godhongé kanggo jaran, Sang Tunggak (u)matur nuhun, kanggéya papayoning griya.

Terjemahannya:

55/XVII/8/483 Akar untuk jamu nanti, bagi orang sedang sakit, cepat sembuh lah badannya.Sifatnya akar itu, daunnya untuk tapel. Sang tonggak terima nuhun, berguna untuk atap rumah.

55/XVII/9/484 Nanging bénjang dunya[h] mangkin, yén ka obong boten suka.” Déwa Karsa[h] ngandika alon, “Isun uga ora suka, sapa-sapa kang ambakar, tunggaké ing pari iku, dadi buncret lamon iku nyawa.

Terjemahannya:

55/XVII/9/484 Namun kelak di jagat ini, jika dibakar tak suka.” Dewa Karsa ucap pelan, “Aku juga tak suka, siapa saja yang bakar, tunggak dari padi itu, jadi kerdil jika nyawah.

55/XVII/10/485 Lawan kedhik ingkang oli, (ba)bawané kurang mangan, lan bésuk iku wadhahé, pari ditutuh ing dunya, dén bucang kulit kang wadhag, dhedhek ingkang araniku, go baleman nuju sasalad.

Terjemahannya:

55/XVII/10/485 Dan sedikit yang dapat, takdirnya akan kurang makan. Dan besok itu wadahnya, padi ditumbuk di dunia, jika sisa kulit kasar, dedek namanya yaitu, tuk sekam guna membakar.

55/XVII/11/486 Anonggoni ing babayi, atawa wong kang lagi rara, padha wedi syétan kabé(h), sa- /hal.56/ wusé dén buwang ika, kang alus ku dén pisah, arané ya dhedhek lembut, (kang) kanggo makani ayam.

Terjemahannya:

55/XVII/11/486 Menunggui bayi lahir, atau orang lagi sakit, semua setan takut. Se- /hal.56/ mua setannya takut, yang halus dipisahkan, yang namanya dedek lembut, gunanya untuk pakan ayam.

56/XVII/12/487 Sri[h] kang lembut dén arani, iku Sang Menir namanya, nuli dén tapéni mangko, misah arané ka mendhang, kanggo wong kang ning dunya, m(a)ring wong kang lagi nyambut, sawakul bakatul ika.

Terjemahannya:

56/XVII/12/487 Sri yang lembut dinamai, itu Sang Menir namanya, lantas ditampilah ini. Dipisah namanya mendang, untuk orang di dunia, pada orang pinjam itu, sebakul bekatul semua.

56/XVII/13/488 Kanggo ing panggung tanén[14] ki, lamon arep dherep ika, menté kalawan matengé, bakatul namané ika, ora kena[h] dén méhnya[15], krana[h] kringeté Sang Budhug Basu, ora kena cinampuran.”

Terjemahannya:

56/XVII/13/488 Untuk di panggungan ini, jika ingin panen iya, mentah dan matangnya itu, bekatul dinamainya.Tak boleh dikasih garam, karna (dari) keringat Sang Budug, tidak boleh dicampurkan.

Dari kalimat terakhir terdapat larangan jelmaan Dewi Sri tidak boleh dicampur dengan jelmaan Budug Basu. Oleh Abdulgani (2012) disinyalir bahwa hubungan tokoh Dewi Sri dan Budug Basu di dalam mitos terkait dengan kedudukan komuniti petani dan nelayan dalam masyarakat Cirebon. Komuniti nelayan menempati kedudukan “pinggiran” (peripheral) dalam masyarakat negara yang dibangun dari pertanian dimana usaha pertanian padi merupakan fondasi dari negara dan menjadi yang utama.

Kesimpulan

Mitos padi pada masyarakat pesisir Cirebon yang tertulis pada naskah-naskah awal abad ke-20 dan isi naskahnya masih menjadi lakon wayang purwa hingga saat ini dalam pesta nadran. Disebutkan jenis tanaman pangan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia selain padi. Oleh karena itu pemerintah dapat melihat sebuah alternatif dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Nusantara berdasarkan cerita yang tertulis dan dipercaya oleh masyarakat masa lalu dan masa kini, yakni masyarakat pesisir Cirebon.

Daftar Pustaka

Abdulgani, Fuad. 2012. Cerita Budug Basu: Mitos di Komuniti Nelayan Cirebon. Jatinangor: Jurusan Antropologi FISIP Unpad (tidak diterbitkan).

Daeng, Hans J. 2000. Manusia, Kebudayaan, dan Lingkungan: Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dahuri, Rokhmin, dkk. 2004. Budaya Bahari Sebuah Apresiasi Di Cirebon. Jakarta: PNRI.

Danandjaja, James. 2007. Folklor Indonesia – Ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.

Ridwan, Sinta. 2011. Serat Satriya Budug Basu Mitos Masyarakat Pesisir Cirebon: Sebuah Kajian Filologis. Jatinangor: Jurusan Filologi FIB Unpad (tidak diterbitkan).

Lampiran

Naskah Serat Satriya Budug Basu koleksi Museum Sanabudaya,
terdapat ilustrasi Budug Basu bertemu Dewi Sri.

BB DS

Catatan Kaki

[1] bagawah
[2] dukahing
[3] celak mata
[4] parnah
[5] Dikompilasi dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gadung & http://tanamanpangan.deptan.go.id/doc_upload/Budidaya%20Gadung.pdf (diakses, 28 Agustus 2013).
[6] undur-undur
[7] hama padi
[8] sasadyanéki
[9] Ditulis oleh E. Sukarsa, Ir, MP dalam http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/502-tanaman-ganyong (diakses, 28 Agustus 2013).
[10] paksuwa
[11] hama padi
[12] iku
[13] sra
[14] nané
[15] méhihuya

Catatan: Silahkan unduh file pdf tulisan ini Makalah Mitos Padi di Pesisir Cirebon dalam Naskah Serat Satriya Budug Basu Sinta Ridwan

Kategori: Artikel dan Tulisan.