My First Script

Oleh Sinta Ridwan |

Ceritanya aku bikin naskah buat teater gitu. Tapi sebelumnya, ih malu, hahaha. Pas aku baca lagi jadi malu sendiri nulis seperti ini. Dibikin skrip terus meminta Baitul untuk memainkan, pantesan enggak mau, karena “geuleuh” juga. Pengen bikin romantis tetapi ih, baca saja sendiri ya, hihihi. Maafkan kalau tulisannya begini, bisa juga ini bukanlah bentuk skrip teater, sok tahu saja kayaknya aku, ya, namanya juga masih muda, nulis ini masih 19 tahun, hahaha (pembelaan). Foto di atas diambil oleh Abang-Abang dari UKM Fotografi kampus, sekitar 2004 juga tetapi lupa tanggal dan bulannya, maafkan.

Judul: Kesetiaan Ayah pada Ibundaku
(Dalam rangka menyambut Hari Ibu juga, lho)
Dipersembahkan (niatnya) untuk: Diklatsar Teater Ungu
Tempat: di depan STBA YAPARI-ABA Bandung
Waktu: 22 Desember 2004 – Pukul 12.22 wib

Pemain:
1. Baitul (2001/Inggris)
2. Sinta (2003/Inggris)

SINOPSIS
“Ibu, buku yang telah habis kau baca, kini mulai kubaca. Baru halaman pertama.” Bait puisi karya Rick A. Sakri yang sederhana itu bagi sebagian orang barangkali tidak berarti apa-apa, atau sekadar melukiskan generation gap antara ibu dan anaknya saja. Dimulai dengan kata ibu, kalau ada pertanyaan, siapa orang yang seharusnya paling kita sayang dan hormati? Pasti jawabannya satu: ibu! Dan tak sedikit lagu yang diciptakan tentang ibu, bunda, mama atau apa pun panggilan sayang kita untuk orang yang sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkan kita. Tanpa pernah kita sadari, sesuatu yang menjadi sumber kebahagiaan ibu itu sebenarnya sangat sederhana yaitu kebahagiaan anak-anaknya. Bila anak bahagia, maka ibu pun bahagia. Namun, dalam kesempatan kali ini, aku tidak akan memperjelas hubungan antara ibu dan anak, melainkan ibu dan ayah bagi anak-anaknya alias suaminya. Nama Deita (Sinta) seorang penulis yang terkenal, menikah dengan Kasae (Baitul), seorang wartawan yang sering dilibat-tugaskan dalam konflik-konflik dalam negeri. Mereka mempunyai anak kembar: laki-laki (Bintang) dan perempuan (Bulan), baru berumur 13 tahun. Masalah muncul ketika Deita divonis menderita kanker rahim dan hanya dapat bertahan hidup dalam hitungan hari—kata dokter—namun, jam demi jam, hari demi hari, sampai belasan hari pun berlalu, berbagai usaha suami tercinta dilakukan demi keselamatan ibu bagi anak-anak tersayangnya. Dengan kesetiaan yang sangat luar biasa, ia hanya dapat menemani ibu bagi anak-anaknya itu dengan sabar dan setiap detik yang berlalu, ia berdoa agar dapat terkenang atau melalui semuanya bersama, sampai akhir hayat.

Inti cerita ini adalah makna dari seorang istri dan seorang ibu bagi anak-anaknya, adalah 2 hal yang amat berarti bagi seorang laki-laki. Arti dari istri yang sangat menentukan kehidupan suami di dunia maupun di akhirat, dan sang ibu merupakan sebuah karunia dari Tuhan karena semua tentu sudah tahu bahwa pintu surga berada di bawah telapak kaki ibu. Dalam kesempatan kali ini, aku ingin mempersembahkan kesetiaan seorang suami dalam menjaga miliknya yang sangat berharga, yaitu istri dan juga ibu bagi anak-anaknya, karena ia sadar bahwa Deita tidak akan lama lagi akan meninggalkannya, maka perihal-perihal atau permasalahan yang aku tonjolkan kali ini adalah memberikan Deita, sang istri kebahagiaan dalam detik-detik terakhirnya, dan perlakuan Kasae dalam menjaga, merawat, melindungi, dan setia pada Deita yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi sampai ajal menjemput ibu bagi anak-anak tercintanya.

13th December 2004 – 02.07 WIB
Ntha

|

Kesetiaan Ayah pada Ibundaku
Karya: Sinta Ridwan

SEBUAH LAGU KENANGAN MENGALUN KERAS, MENGIRINGI SEORANG LAKI-LAKI YANG TURUN DARI LANTAI ATAS BERJALAN MENUJU RUANGAN YANG PUTIH, BERSIH, DAN STERIL, DENGAN MENGGENDONG ISTRI TERCINTANYA YANG BERWAJAH PUCAT DAN MEREKA BERDUA MENGENAKAN BAJU YANG STERIL.

KASAE: Ya, sudah sampai sini sayangku, sekarang waktunya untuk menikmati udara pagi menjelang siang.

DENGAN SANGAT HATI-HATI KASAE, LELAKI YANG BERUSIA 39 TAHUN, MASIH TERLIHAT MUDA DAN SEGAR BERAMBUT AGAK PANJANG, MENURUNKAN SEORANG PEREMPUAN BERAMBUT PANJANG YANG SANGAT TIPIS, TERURAI KE BANGKU PANJANG YANG JUGA BERWARNA PUTIH, DAN BERWAJAH PUCAT SAKIT.

ITULAH DEITA BERUSIA 37 TAHUN, PENDERITA KANKER RAHIM YANG DIVONIS DOKTER 3 MINGGU LALU. TERLAMBAT SEMUANYA. SEKARANG HANYA BERHARAP ATAU TANPA HARAPAN UNTUK MENUNGGU HASIL PENEMUAN PARA AHLI KESEHATAN. KEADAANNYA SANGAT MEMPRIHATINKAN, KURUS, PUCAT, DAN SUDAH TIDAK DAPAT BERJALAN SEMINGGU YANG LALU.

SAAT INI HANYA DIDAMPINGI KASAE, SUAMI TERCINTANYA YANG MENIKAHINYA 14 TAHUN YANG LALU, DAN TELAH MEMPUNYAI ANAK KEMBAR, BERUSIA 13 TAHUN, BERSEKOLAH DI SALAH SATU SMP NEGERI DI KOTA KEMBANG, DUDUK DI KELAS 1, ANAK KEMBAR LAKI DAN PEREMPUAN, BINTANG DAN BULAN, 2 ANAK YANG SANGAT MIRIP AYAH IBUNDANYA DAN HANYA DIBEDAKAN JENIS KELAMIN.

SAMBIL MERAPIKAN POSISI ISTRINYA, KASAE YANG SEDANG MENGAMBIL CUTI BEKERJA, HANYA UNTUK MERAWAT DAN MEMPERHATIKAN DEITA DAN ANAK-ANAKNYA, DENGAN PENUH KASIH SAYANG KASAE MERAWAT SATU-SATUNYA ORANG YAN IA CINTAI SAMBIL BERKATA DENGAN SANGAT LEMBUT.

KASAE: Istriku, sabar ya, mungkin dokter-dokter itu menemukan sesuatu untuk menyembuhkan sakitmu, percayalah pada mereka, juga Tuhan dan keajaibannya. Sayang kau berkeringat.

KASAE BERDIRI MENGAMBIL TISSUE DAN KEMBALI LAGI DUDUK MENGHADAP ISTRINYA DAN MELAP WAJAH IBU BAGI ANAK-ANAK TERSAYANGNYA YANG BERKERINGAT KARENA KESAKITAN YANG AMAT. SAMBIL MELAP, IA MENGATAKAN BAHWA ANAK-ANAKNYA TADI PAGI SUDAH BERANGKAT KESEKOLAH.

KASAE: Istriku, Bintang dan Bulan tadi pagi berangkat sekolah, mereka sarapan dulu, dan sebelum berangkat mereka sempat mampir ke kamarmu untuk pamit, tapi kau masih terlelap tidur, mungkin mereka tidak berani membangunkanmu, jadi mereka hanya mencium keningmu dengan sangat hati-hati supaya tidak mengganggu tidurmu.

BERDIRI DAN MELIHAT LANGIT, TANGAN KANANNYA TAMPAK TERLIHAT SEPERTI MENGGAPAI MATAHARI.

DAN DEITA MASIH DALAM POSISI YANG SAMA YAITU, TERDIAM DALAM PANDANGAN YANG HAMPIR KOSONG DAN SESEKALI TERPEJAM DAN TERSENYUM SEDIKIT SEKALI, SEOLAH IA MENGERTI DAN PAHAM APA YANG SUAMINYA KATAKAN, DAN LEWAT SENYUMAN DAN KEDIPAN MATANYA ITU ADALAH CARANYA BERKOMUNIKASI YANG MAMPU IA LAKUKAN SAAT INI.

KASAE: Istriku, aku sangat bahagia, kau telah memberiku anak-anak yang lucu, cantik sepertimu dan ganteng sepertiku, juga baik hati dan penurut. Terima kasih kau telah mendidik dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang luar biasa, dan kau..

SAMBIL BERBALIK DAN MEMEGANG KEDUA TANGAN DEITA, KASAE MELANJUTKAN BICARANYA.

KASAE: Adalah seorang ibu yang luar biasa bagi anak-anakmu, dan istri yang sangat aku cintai.

BERDIRI LAGI LALU MENGAMBIL KOTAK MUSIK DARI RAK DAN DUDUK DI SAMPING DEITA. KASAE MEMBUKA KOTAK ITU DAN MENGELUARKAN KALUNG BERBANDUL LAFADZ ALLAH, DAN MENUNJUKKANNYA PADA DEITA, SAMBIL BERKATA BAHWA :

KASAE: Kau tahu Sayang, tadi sebelum berangkat anak-anakmu menitipkan ini padaku. Lihat sayang, mereka membelikanmu ini, sebuah kalung berbandul lafadz Allah, indah bukan? Kamu senang?

SUNYI. NAMUN IA BERUSAHA MENGGERAKKAN BIBIRNYA MELENGKUNG. DEITA HENDAK MENGATAKAN KEBAHAGIAANNYA, DAN BERTANYA UNTUK APA ANAK-ANAKNYA MEMBERIKAN KALUNG UNTUKNYA, HARI INI KAN BUKAN HARI ULANG TAHUNNYA.

KASAE: Kau pasti bingung, kenapa mereka memberikanmu ini? Tadi pagi mereka pesan padaku dan memberitahu kenapa hari ini mereka ingin sekali memberi ini padamu, kau tahu, hari ini adalah Hari Ibu, mereka bilang, mereka ingin berterima kasih padamu, dan selama ini mereka menabung khusus untuk membelikanmu hadiah, walau masih sangat belia tapi mereka sudah sangat pintar sekali berbalas budi, dan walaupun belum cukup pantas, tapi mereka sudah berpikiran untuk berterima kasih pada apa yang telah kau lakukan untuk mendidik mereka. Sini aku pakaikan.

DENGAN SANGAT HATI-HATI KASAE MEMASANGKAN KALUNG ITU DI LEHER DEITA.

KASAE: Bagaimana kau suka? Pintar sekali yah mereka, aku bangga sekali memiliki anak seperti mereka, o iya Selamat Hari Ibu ya, sayang. Mereka juga menitipkan ucapan selamat untuk ibu yang sangat cantik dan luar biasa ini, terima kasih yah sayang, untuk semua yang kau lakukan untuk kami.

SAMBIL MENGECUP KENING DEITA DENGAN SANGAT HATI-HATI, TERLIHAT WAJAH PUCAT DEITA, ADA KEBAHAGIAAN YANG MENGINTIP DI BALIK MATANYA YANG BERKACA-KACA KARENA TERHARU MENDENGAR UCAPAN SUAMI TECINTANYA YANG SUDAH SANGAT SETIA MERAWATNYA. KASAE LALU BERDIRI MENGAMBIL SEBUAH MANGKUK DAN TISSUE.

KASAE: Sudah waktunya makan, sayang.

DENGAN PENUH PERASAAN, KASAE MENYUAPI DEITA, SATU SUAP, DUA SUAP, MELAP MULUTNYA SESEKALI, DAN MASIH DIIRINGI LAGU KENANGAN.

KASAE: Sudah waktu duhur, salat dulu yuk, kita berjamaah.

KASAE MENARUH MANGKUK DAN TISSUE, MENGAMBIL SAJADAH DAN
MUKENA UNTUK DEITA, LALU MEMASANGKAN MUKENA ITU, JUGA MASIH
DENGAN SANGAT HATI-HATI, DAN MENYIAPKAN SAJADAH UNTUK
DIRINYA, LALU IA MEMULAI SALAT DENGAN IQOMAH SEBELUMNYA.

SAAT MENGHADAP PENCIPTA, DEITA KEJANG DAN TUHAN
MENGAMBILNYA UNTUK BERSAMA. DENGAN TANDA-TANDA YANG
KASAE TIDAK SADAR. DEITA MENGEMBUSKAN NAPAS TERAKHIR. MATA
DEITA TERPEJAM, MENJADI TIDAK BERGERAK. SETELAH MERAPIKAN
SAJADAH, KASAE MENGAMBIL MANGKUK DAN TISSUE YANG TADI, DAN
BERKATA TANPA MERASAKAN APAPUN.

KASAE: Deita, ayo lanjut makannya dulu! Kok tidak salam, sayang? Ya sudah tidak apa, tapi sayang, jangan tidur dulu dong! Makan terus minum obat baru boleh tidur siang. Sayang bangun, dong!

SAMBIL MEMBUKA MUKENA DENGAN HATI-HATI, IA MENGGOYANG-GOYANGKAN TUBUH DEITA DENGAN SANGAT PELAN. DEITA PUN TAK BERGERAK SAMA SEKALI, DAN.

KASAE: Deita, istriku, sayang. Bangun, sayang, jangan tinggalkan aku, belum waktunya kau pergi meninggalkanku sendiri, jangan Deita, bangun, Deita, bangun.

DENGAN SANGAT PANIK, KASAE MENGGUNCANG-GUNCANG TUBUH DEITA DENGAN KERAS, DAN AKHIRNYA IA SADAR BAHWA ISTRINYA SUDAH TIADA. LALU IA TERIAK.

KASAE: Tidak Deita, tidak, tida…k.

DAN KASAE PUN MENANGIS DENGAN TIDAK MENETESKAN AIR MATA.
TERDENGAR LAGU ENDLESS LOVE YANG TAHU BAHWA CINTA MEREKA
TAK AKAN PERNAH BERKHIR WALAU ISTRI DAN IBU BAGI ANAK-
ANAKNYA TELAH MENINGGALKAN MEREKA.

LAMPU FADE OUT DAN SELESAI.

Ntha
17th Desember 2004 – 10.24 WIB
(Lagu: Manusia Bodoh, Ada Band)

Kategori: Cerpen dan Tulisan.