Nona Laut

Oleh Sinta Ridwan

Birunya langit mengalahkan warna laut yang sedang kasmaran. Terlihat dari gayanya yang malu-malu kucing, laut yang kulewati menampakkan wajah yang—bisa kutebak—ia sedang jatuh cinta! Ha-hay, lucu sekali melihat laut jatuh pada cinta. Aku penasaran ingin tahu laut sedang jatuh cinta pada siapa? Kemudian aku berbisik,

“Hei, Nona Laut. Kamu sedang jatuh cinta pada siapa?”

Dengan malu-malu Nona Laut menjawab, “Dengan seorang nelayan.”

Aku berusaha tidak kaget, malah angguk-anggukkan kepala, senyum-senyum, dan ikut merasakan kebahagiaan Nona Laut.

“Ah, Nona”, lalu aku kembali membisikinya,

“Hati-hati kau, jangan sampai sakit cinta,” kataku sambil ikut melambaikan tangan saat Nona Laut pamit dan kebetulan sekali perahu yang kutumpangi juga sudah sampai di tepi pantai.

Sebelum kuturuni perahu dan pamit pada Pak Demara yang sudah menahkodai perahu kecilnya, yang juga mengajarkanku bagaimana cara menginang hingga mulutku berwarna merah dan sedikit mabuk. Aku melepas sepatu, kemudian mengikatnya pada ujung tas punggung yang kugendong. Dengan sangat perlahan kubenamkan telapak kaki pada pasir-pasir yang tergenang air laut. Aduhai, seperti menginjak surga. Rasanya tidak sabar untuk segera berlari-larian mengelilingi kampung ini.

Akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang sampai juga di kampung ini. Kampung yang sudah lama sekali ingin kukunjungi. Yanbekwan, ya kampung yang ada di salah satu ribuan pulau di Raja Ampat. Raja Ampat sendiri adalah sebuah kabupaten di Papua Barat. Aku bisa ada di surga ini berkat temanku, Kak Dea, dia sedang bertugas di Raja Ampat dan mengajakku untuk mendatangi surganya bawah laut. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendatangi kampung ini, walau sekadar menghirup udara dan menuliskan apa yang kurasa. Termasuk berbagi ceria bersama anak-anak yang ada di sini.

Ah, pasirnya. Astaga! Seperti berlian, berkilauan. Kulepas tas di punggung lalu mengambil posisi tengkurap untuk menciumi pasir-pasir putih di tepi pantai. Kuresapi aura napasnya agar menyatu di saluran pernapasanku. Segar sekali. Tubuh ringkih ini aku balikkan hingga menghadap langit biru, dan kubentangkan tangan kecil di atas ratusan butir pasir yang empuknya mirip kasur spring bed. Adakah yang lebih indah daripada kampung yang asri dan belum terjamah oleh industri? Tanyaku pada awan-awan yang sedang bermain kejar-kejaran. Walau tak dapat jawaban dari awan-awan itu, hanya sekadar tawa cekikikan. Lalu aku mendapatkan sesosok wajah yang keheranan melihatku guling-guling di atas pasir putih.

Sesosok wajah polos. Seorang gadis ingusan.

Aku memposisikan diri duduk. Sambil senyum kepada gadis yang sedang memperhatikanku. Aku memanggilnya untuk mendekati. Dengan ragu-ragu ia menghampiri, setelah mengusap ingusnya pakai baju, ia menyodorkan tangan ketika kuajak berkenalan dan menyebutkan namanya. Mona.

Mona. Kulafalkan lagi nama itu. Aku ajak dia duduk di sampingku dan kami mengobrol panjang lebar hingga kulupa menyetor muka ke kepala kampung untuk meminta ijin tinggal beberapa hari di salah satu rumah warganya.

Mona. Dia tinggal bersama ayahnya. Seorang nelayan. Ibunya meninggal saat Mona berusia lima tahun akibat sakit yang aneh, kata Mona. Sekarang Mona berusia 12 tahun, kalau di Bandung dengan usia 12 tahun berarti sudah duduk di kelas 6 SD. Sayang, itu tidak berlaku bagi Mona. Aku kaget ketika Mona bilang ia baru duduk di kelas 2 SD. Saat kutanya kenapa dia baru kelas 2 SD, dengan mimik muka yang bingung berusaha menjawab kenapa ia baru bisa sekolah diumur 12 tahun, tapi jawaban tak dia temukan di sel otaknya.

“Ya sudah,” kataku.

“Tak usah dipaksa, toh Mona suka kan sekolah?” Mona pun mengangguk.

Mona hanya ingin belajar seperti teman-temannya. Ia sering tidak berangkat sekolah karena ayahnya tidak punya bensin. Sekolah di sini tidak seperti di Bandung yang bisa pakai angkutan kota. Tapi pakai perahu, karena sekolahnya berada di Pulau Besar. Beberapa anak kesulitan untuk sekolah karena biaya perjalanan yang tidak murah. Pantas saja Mona baru kelas 2 SD, batinku berbisik.

Tak terasa Dewi Senja datang dan membawa kado. Ribuan bintang. Aku meminta Mona untuk mengantarku ke rumah kepala kampung yang bernama Pak Mayor. Sesampainya di rumah Pak Mayor, Mona pamit padaku untuk kembali ke rumah, sambil tangan kecilnya menunjuk rumah bambu dan berkata,

“Kakak, kalau mau tidur di rumahku saja, Bapak akan melaut malam ini. Jadi Mona tidur sendiri.” Aku tersenyum mendengarnya dan mengusap-usap rambutnya yang lengket dan berpasir sambil mengangguk. Mona berlari riang di tengahnya gelap.

“Di sini tidak seperti Bandung,” ujar Pak Mayor setelah mempersilakan aku duduk terasnya.

“Di sini lampu akan nyala jam 7 malam, sumbernya dari diesel,” lanjutnya. Aku tersenyum mendengarnya. Wah, asyik! Kataku dalam hati, aku sangat suka gelap karena dengan gelap aku dapat melihat bintang-bintang yang terang dan menghitung jumlah jatuhnya bintang. Aku senyum-senyum sendiri dan tidak mendengarkan Pak Mayor bercerita tentang dirinya yang pernah ke Bandung.

Tak lama aku pamit ingin istirahat. Setelah meminta ijin pada Pak Mayor untuk menumpang di kampungnya beberapa hari. Pak Mayor mengusulkan tidur di rumahnya namun aku menolak, karena aku sudah janji ingin menemani Mona.

Aku tidak sempat bertemu ayah Mona. Ketika aku tiba di rumah Mona, ayahnya baru saja pergi melaut mencari ikan. Mona cerita, biasanya ayahnya itu membawa ikan kerapu besar-besar, nanti aku mau dikasih ikan kerapu oleh ayahnya. Ternyata Mona sempat bercerita tentangku yang ingin tidur di rumahnya. Wah, aku tidak dapat membayangkan makan ikan kerapu bakar. Di Bandung ikan kerapu mahal. Malah katanya, di negara Singapura saking sukanya ikan kerapu, mereka mengambil bibit ikan kerapu dari Bali. Aku geleng-geleng kepala saat Mona cerita bisa makan ikan kerapu setiap hari di sini. Tidak sabar juga aku ingin makan ikan kerapu bakar. Soalnya aku belum pernah mencoba.

Setelah makan malam sederhana bersama Mona, Mona pamit tidur terlebih dahulu. Aku tidak bisa tidur. Suara ombak seperti memanggilku. Aku pun berjalan-jalan sendiri di pinggir pantai lalu merebahkan diri di atas pasir putih, seperti yang kulakukan tadi siang. Aku memandangi ribuan bintang sambil mendengar nyanyian ombak. Wah, bahagia sekali seandainya aku setiap hari bisa menikmati suguhan alam seperti ini.

Tiba-tiba aku mendengar tangisan. Ah, itu kan Nona Laut. Kenapa dia menangis? Aku menyapanya,

“Hei, Nona. Kenapa kamu menangis di bawah rembulan itu? Adakah sesuatu yang kau tangisi?” Nona Laut menatapku, dia gemetaran sekali.

“Hei, kenapa Nona Laut?” Nona Laut beranjak pergi, sebelum menghilang ia hanya mengucapkan,

“Hatiku hilang.”

Aku bingung sekali. Apa yang hilang tadi? Hatinya? Apakah ia kehilangan hatinya? Apa dia patah hati? Aduh, aku memperhatikan cahaya Nona Laut yang kian jauh kian menggulung. Sirna. Lalu, aku kembali memandangi bintang-bintang. Puluhan bintang berjatuhan, ternyata tak dapat kuhitung dengan jari. Aku pun dapat mengucapkan banyak harapan. Duh, bintang jatuh. Jatuhlah ke hatiku dan temukan kembali hati Nona Laut. Lalu aku menyanyikan beberapa syair pada Raja Bintang.

“Raja bintang, tahukah kau akan arti cinta? Cinta yang membara dapat membawa kita hangus tak tersisa. Anak-anak bintang yang bernama Kejora, apakah kalian jatuh karena cinta pada bumi? Ah, aku tak paham soal cinta. Namun, adakah yang lebih membahagiakan selain memiliki dan merasakan debar-debar cinta di hati? Mungkin itu yang sedang dirasakan Nona Laut. Oh, Nona Laut. Kuhadiahkan satu buah bintang jatuh untukmu. Untuk menemukan kembali cintamu, nelayanmu. Bawalah serta dia kepada dasar laut, bercintalah dengan segenap jiwa dan rasa. Oh, Nona Laut. Janganlah lagi bersedih. Berbahagialah dengan ribuan cinta di mimpimu.”

Tanpa sadar aku tertidur di bawah ribuan bintang. Dininabobokan nyanyian ombak.
 Aku terbangun karena suara burung kakak tua putih jambul kuning liar di bukit. Ribut sekali, seolah mereka sengaja membangunkanku. Ternyata Ratu Matahari sudah bertengger di atas awan. Aduhai, indah sekali lautan biru itu. Segar anginnya, sesegar buah kelapa. Tiba-tiba, ada kelapa jatuh! Untung saja tidak kena kepalaku. Aku pinjam golok nanti ke Mona, biar bisa minum air kelapa berdua. Kubawa serta kelapa muda itu bersama langkahku menuju rumah Mona.

Dari kejauhan, terlihat ramai rumah Mona ramai. Banyak tetangga yang berdatangan, berkumpul. Aku penasaran. Ada apa di sana?

“Mona…,” panggilku. Aku melihat Mona menangis. Dia berlari ke arahku, sambil menunjuk satu perahu.

“Kakak. Perahu Bapak kembali tapi kosong.”

“Hah? Bapak Mona kemana?”

“Bapak hilang di laut. Dibawa Nona Laut.”

Kaki Manglayang, Ujungberung – Bandung, 2010

*Cerpen ini dimuat di koran Bontang Post – Kalimantan Timur, 8 dan 9 Februari 2011. Foto di Nusa, NTB, 24 Juli 2012. Selengkapnya dan edisi editan ada di buku kumpulan cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, terbitan Ultimus Bandung, Desember 2017.

Kategori: Cerpen dan Tulisan.