Penginjilan Nusantara

Oleh Sinta Ridwan |

 Ini adalah catatan review dari sumber buku pegangan Sejarah Perkembangan Filologi oleh Prof. Syarief Hidayat pada 2008, lalu buku Pengantar Teori Filologi oleh Siti Baroroh Baried, dkk pada 1994, kemudian Pengantar Filologi oleh Anhari Basuki, dkk, untuk memahami mata kuliah Sejarah Filologi Nusantara yang diampu Prof. Syarief Hidayat. Merilis tulisan ini tujuannya untuk sama-sama belajar “sejarah”.

Sejarah Penginjilan Nusantara

Perhatian Penginjil Terhadap Manuskrip Nusantara

Versi Prof. Syarief Hidayat

Perhatian dan permintaan untuk mengkaji manuskrip Nusantara dimulai sejak bangsa Barat tiba di kawasan Nusantara abad ke-16. Kedatangan bangsa Barat di kawasan Nusantara tidak hanya tertarik oleh kekayaan bumi Nusantara yang subur dengan hasil bumi yang sangat mereka butuhkan. Tetapi keberadaan manuskrip Nusantara menjadi bagian perhatian sejumlah bangsa pendatang itu.

Manuskrip menjadi perhatian mereka karena empat hal:

  1. Bagi para penguasa untuk kepentingan politik dan ekonomi. Mereka memerlukan pengenalan mendalam dan lebih jauh mengenai perikehidupan bangsa-bangsa di kawasan Nusantara untuk bisa menguasai kawasan Nusantara.
  2. Bagi kaum missionaris untuk memudahkan penyebaran agama Kristen.
  3. Bagi kaum orientalis untuk kepentingan ilmu pengetahuan mengenai ketimuran.
  4. Bagi para pedagang sebagai barang dagangan yang menjanjikan keuntungan besar.

Manuskrip juga sebagai komoditi yang sangat berharga. Keberadaan manuskrip Nusantara pertama-tama diketahui oleh masyarakat Barat adalah kelompok pedagang. Mereka memandang (bukan hanya di Eropa dan sekitar Laut Tengah) manuskrip sebagai barang dagangan yang menguntungkan.

Mereka menguntungkan manuskrip-manuskrip Nusantara dari perseorangan dan pesantren-pesantren atau kolektor lokal, dan membawanya ke Eropa untuk dijual kepada perseorangan atau lembaga-lembaga terkait.

Di antara pedagang itu, Peter Floris van Elbinck yang pernah tinggal di Aceh pada 1604. Kumpulan manuskrip Elbinck antara lain dijual kepada Thomas Erpenius Leiden, Thomas adalah seorang orientalis ahli kebudayaan Timur Tengah. Selanjutnya manuskrip-manuskrip Nusantara itu menjadi milik Perpustakaan Universitas Oxford.

Manuskrip Nusantara melalui pedagang sebagian jatuh ke tangan Edward Picock antara lain manuskrip Sri Rama Tertua dan William Laud Uskup Besar Canterbury.

Penguasaan Eropa khususnya Belanda atas kepulauan Nusantara tidak terbatas pada usaha penguasaan wilayah politik, ekonomi, dan kekayaan Nusantara. Tetapi juga mencakup upaya penguasaan seluruh aspek kehidupan bangsa di kawasan ini. Kaum kolonial berusaha menundukkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat Nusantara untuk patuh dan mengikuti keyakinan dan kepercayaan mereka.

Untuk hal itu mereka berupaya memahami bahasa-bahasa dan budaya masyarakat Nusantara antara lain dengan mempelajari manuskrip-manuskrip Nusantara. Telaah manuskrip Nusantara dilakukan oleh penginjil. Dengan penguasaan bahasa-bahasa Nusantara, selanjutnya mereka melakukan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa tersebut.

Penerjemahan Alkitab juga dilakukan oleh para penginjil. Pada 1600, seorang pedagang juga penginjil dari Belanda bernama Ruyl datang bersama Yacob van Neck.

Pada 1629, 30 tahun setelah kedatangan Belanda di Nusantara, terbitlah terjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu, sebuah terjemahan karya Albert Cornelisz dan Ruyl.

Penginjil lain yang berminat pada bahasa Melayu adalah Dr. Melchior Leijdecker pada 1645 hingga 1701. Untuk meningkatkan kemampuannya dalam bahasa ini, ia banyak membaca manuskrip-manuskrip Melayu dan menulis beberapa karangannya dalam bahasa ini.

Pada 1691, ia mendapat perintah dari Dewan Gereja Belanda untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu, dan dengan kemampuannya ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu tinggi. Tetapi ia tidak sempat menyelesaikannya karena ajalnya, dan dilanjutkan oleh penginjil lain Petrus van den Vorm pada 1664 sampai 1731.

Karyanya ini baru diterbitkan setelah ia meninggal, yaitu pada 1835 untuk jilid pertama. Petrus datang ke Nusantara pada 1636. Ia dikenal sebagai seseorang yang menguasai banyak bahasa Timur Tengah termasuk bahasa Ibrani.

Francois Valentijn pada 1666 hingga 1727 seorang pendeta yang berpendidikan Teologi di Universitas Leiden datang ke Nusantara dan bertugas di Kepulauan Maluku. Dari pengamatannya selama di Nusantara ia berhasil menulis kebudayaan dari berbagai aspeknya. Termasuk di dalamnya penyebutan sejumlah manuskrip Nusantara.

Perhatiannya terhadap bahasa dan sastra Melayu demikian besar, dan dengan penguasaan bahasa Melayu yang baik, Valentijn menyebarkan Beibel dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu serta menyusun kamus bahasa Melayu.

Penginjil lain yang menguasai bahasa Melayu adalah G. H. Werndly. Dalam tulisannya Maleische Boekzaal berupa daftar manuskrip-manuskrip Melayu yang dikenalnya sebanyak 69 manuskrip dengan ringkasan isi dan deskripsi pendek.

Lembaga Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG) dibuat oleh Belanda untuk mengurusi penginjilan di Nusantara. Saat kedudukan VOC melemah dan penyebaran Alkitab dilanjutkan oleh zending dan lembaga yang disebut Bijbelgenooschap. Pada 1814 lembaga ini mengirimkan seorang penginjil Protestan G. Bruchner ke Nusantara dan ditempatkan di Semarang untuk menyebarkan Alkitab di Pulau Jawa. Untuk kelancaran berbahasa dan mampu menerjemahkan Alkitab ia bergaul dengan masyarakat Jawa dan banyak mempelajari manuskrip-manuskrip Jawa.

Alkitab berbahasa Jawa terjemahan Bruchner terbit pada 1831. Buku tata bahasa Jawa karyanya Proeve Eener Javaansche Spraakkunst terbit pada 1830 dan kamusnya Ean Klein Woordenboek Der Hollandsche, Engelsche En Javansche Talen terbit pada 1842.

NBG menetapkan para penginjil dan penyiar Alkitab yang akan dikirim ke Nusantara dengan berpendidikan akademik serta memiliki bekal ilmiah kebahasaan yang memadai.

Akibat bermunculan karangan-karangan ilmiah para penginjil mengenai bahasa, sastra, dan budaya Nusantara. NBG juga menetapkan agar para penginjil membantu para pegawai pemerintahan, yang memerlukan, memberi pelajaran kebahasaan secara ilmiah.

Pengirim yang dikirim NBG adalah A. L. J. V. C Gericke pada 1824 yang ditugaskan dalam bahasa Jawa dan mengajarkan bahasa tersebut kepada para pegawai sipil Belanda. Pada 1832 ia mendirikan lembaga bahasa Jawa yang disebut Javansche Instituut dan gagal serta ditutup 1834.

Penginjil yang dikirim adalah:

  • Harderland untuk suku Dayak
  • Van der Tuuk untuk suku Batak dan Bali
  • F. Matthes untuk suku Bugis dan Makasar
  • J. Grashuis untuk suku Sunda
  • Koorders untuk suku Sunda
  • Coolsma untuk suku Sunda
  • E. Denninger untuk suku Nias

Umumnya mereka tidak melakukan telaah filologi terhadap manuskrip Nusantara. Tetapi kebanyakan mereka menerjemahkan kandungan manuskrip-manuskrip itu ke dalam bahasa Barat khususnya Belanda termasuk sastra lisan pada suku-suku yang tidak memiliki aksara seperti suku Toraja.

Penelitian manuskrip Nusantara untuk penyebaran agama yang dilakukan oleh para penginjil yang diutus oleh NBG bertujuan untuk kepentingan penyebaran agama Kristen dengan penerjemahan Alkitab dan penyebaran Alkitab berbahasa Nusantara yang mudah dipahami oleh masyarakat Nusantara.

Mereka umunya memiliki latar belakang ilmu pengetahuan linguistik sebagai bekal penguasaan manuskrip. Sebagian dari mereka tertarik mengkaji kandungan isi manuskrip dan selanjutnya mereka tertarik untuk menyuntingnya untuk penyebaran kandungannya pada masyarakat yang lebih luas.

Pengkajian manuskrip juga dilakukan oleh orang-orang Belanda yang bertugas sebagai tenaga pengajar yang memberikan pelajaran bahasa Nusantara kepada calon pegawai sipil yang akan dikirimkan ke kawasan Nusantara dalam memberi bekal pengetahuan mengenai bahasa, geografi, dan ethnologi.

*

Telaah Manuskrip Nusantara oleh Para Penginjil

Versi Siti Baroroh Baried, dkk

Di jaman VOC usaha mempelajari bahasa-bahasa Nusantara hampir terbatas pada bahasa Melayu, karena dengan bahasa Melayu mereka sudah dapat berhubungan dengan bangsa pribumi dan bangsa asing yang mengunjungi kawasan ini, seperti bangsa India, Cina, Arab, dan bangsa Eropa lainnya. Peranan para saudagar atau pedagang sebagai pengamat bahasa, melalui pembacaan manuskrip-manuskrip dilanjutkan oleh para penginjil, yang oleh VOC dikirim ke Nusantara dalam jumlah besar selama dua abad pertama.

Pada 1629, 33 tahun setelah tibanya Belanda pertama di Kepulauan Nusantara terbitlah terjemahan Alkitab yang pertama dalam bahasa Melayu. Nama penerbitnya Jan Jacobsz Palenstein, sedang nama penerjemahnya Albert Cornelisz Ruil (atau Ruyl), dan judulnya Het Nieuwe Testament (…) in Nederduyts ende Malays, na de Griecksher waarheyt overgeset – Jang Testamentum Baru (…) bersalin kepada Bassa Hulanda daan Bassa Malaju, seperti jang Adillan Bassa Gregu. Ruyl ini seorang pedagang yang pada 1600 bersama-sama Jacob van Neck datang di Nusantara dan yang telah diterbitkan sebelum itu Spiegel van de Houtman serta beberapa terjemahan ajaran gerejani.

Seorang penginjil terkenal yang menaruh minat kepada manuskrip-manuskrip Melayu adalah Dr. Melchior Leijdecker (1645-1701). Terjemahan Beibel dari Leijdecker baru terbit setelah dia meninggal, karena diperlukan penyempurnaan dari revisi yang cukup. Akhirnya pada 1835 jilid pertama terjemahan itu terbit.

Pada 1691 atas perintah Dewan Gereja Belanda Leijdecker menyusun terjemahan Beibel dalam bahasa Melayu Tinggi. Untuk memenuhi tugas itu dia harus meningkatkan kemampuannya dalam bahasa Melayu serta menulis karangan-karangan dalam bahasa itu. Akan tetapi hingga sampai ajalnya terjemahan itu belum selesai, maka lalu dilanjutkan oleh seorang penginjil lain bernama Petrus van den Vorm (1664-1731). Petrus datang di Nusantara pada 1688, mula-mula ditugas sebagai pendeta di Kepulauan Maluku, kemudian dipindahkan ke Jakarta dan tinggal di kota itu pada 1698-1731. Dia dikenal sebagai seorang yang menguasai bahasa Ibrani dan bahasa Timur lainnya dengan baik.

Francois Valentijn (1666-1727), seorang pendeta yang datang di Nusantara pada 1685 dan berpendidikan teologi dari Universitas Leiden, ditempatkan di Kepulauan Maluku. Kesempatan tinggal di Nusantara, di berbagai tempat, memungkinkan untuk menulis beberapa aspek kebudayaan Nusantara dalam karangannya yang ensiklopedik berjudul Oud en Nieuw Oost Indien, vervattende een nauwkenige en uitvoerige verhandelinge van Nederlandse mogentheyd in die gewesten (1726).

Di dalam karangan ini tampak pengetahuannya mengenai manuskrip-manuskrip Nusantara, karena disebutkan beberapa judul manuskrip yang diketahuinya pada waktu itu. Kepandaian Valentijn berbahasa Melayu untuk penyebaran Beibel dan penerjemahannya karena dia menguasai bahasa Melayu, meskipun Melayu rendah. Dia banyak menulis kebudayaan Nusantara dan menyusun kamus dan buku tatabahasa Melayu yang baik, serta besar perhatiannya kepada bahasa Melayu dan sastranya.

Penginjil lain yang dikenal akrab dengan bahasa dan kesastraan Melayu adalah G. H. Werndly. Dalam karangannya berjudul Maleische Spraakkunst, terbit pada 1736 dalam lampirannya yang diberi nama Maleische Boekzaal dia menyusun daftar manuskrip-manuskrip Melayu yang dikenalinya sebanyak 69 manuskrip. Bahwa dia mempelajari dan mengerti isi kandungannya karena setiap manuskrip itu diberi ringkasan isinya, meskipun sangat pendek serta diberi deskripsinya.

Sementara itu kedudukan VOC menjadi lemah, dan sebagai akibatnya dorongan untuk mempelajari bahasa dan manuskrip-manuskrip Nusantara pun menjadi berkurang. Usaha pengajaran dan penyebaran Alkitab lalu diteruskan oleh zending dan Bijnelgenootschap. Akan tetapi berhubung dengan berbagai kesulitan, baru pada 1814 lembaga ini dapat mengirim seorang penginjil Protestan bernama G. Bruckner ke Nusantara dan ditempatkan di Semarang. Tugasnya adalah menyebarkan Alkitab kepada masyarakat Jawa, baik untuk berbicara maupun untuk menulis atau menterjemahkan Alkitab. Terjemahan Alkitab Bruckner terbit pada 1831 dalam huruf Jawa. Di samping itu dia menulis buku tatabahasa Jawa berjudul Proeve eener Javaasche Spraakkunst yang dicetak pada 1930; di dalamnya terdapat teks dan terjemahan cerita Jawa dan beberapa surat dalam bahasa Jawa, maksudnya untuk bahan bacaan. Pada 1842 terbitlah kamus Bruckner berjudul Een klein woordenboek der Hollandsche, Engelsche en Javaansche Talen.

Nederlandsche Bijbelgenootschap (seterusnya disingkat NBG) memiliki kegiatan penting dipandang dari sudut ilmu bahasa. Lembaga ini menyanggupkan diri untuk menerbitkan tulisan Bruckner, dan berpendapat bahwa untuk menterjemahkan Alkitab dalam bahasa-bahasa lokal di Nusantara, seseorang harus memiliki pendidikan akademik. Dampak ketetapan ini adalah munculnya karangan-karangan ilmiah dari para penginjil mengenai bahasa, sastra, dan kebudayaan Nusantara pada umunya. Pemerintah jajahan Belanda mendapat dampak positif juga dari ketetapan NBG tersebut di atas, karena para penginjil juga dapat membantu pemerintah memberi pelajaran bahasa secara ilmiah kepada para pegawai sipil Belanda yang memerlukan keahlian itu.

Seseorang yang dikirim NBG dan memenuhi persyaratan tersebut adalah J.V.C. Gericke, yang datang ke Indonesia pada 1824 dan ditugaskan dalam bidang bahasa Jawa. Dia dapat membantu pemerintah mengajarkan bahasa Jawa kepada para pegawai sipil Belanda, bahkan dia yang selalu mendesak kepada pemerintah untuk membuka institut untuk bahasa Jawa. Pada 1832 lembaga itu diadakan dan diberi nama Javaansche Instituut. Akan tetapi rupanya lembaga ini tidak dapat kemajuan, maka pada tahun 1824 lalu ditutup.

Di luar daerah berbahasa Jawa dan Melayu, NBG mendatangkan penginjil untuk ditugaskan ke daerah-daerah Kalimantan berbahasa Dayak, ke Sumatera berbahasa Batak, ke daerah Bugis dan Makasar, ke daerah Sunda, dan ke Kepulauan Nias. Di samping melaksanakan tugas-tugas dari NBG, mereka juga mengadakan penelitian dan kajian ilmiah terhadap dokumen dan manuskrip-manuskrip Nusantara dan menghasilkan karangan ilmiah dalam bidang itu. Mereka dikenal sebagai tenaga yang mempunyai otoritas tentang kebudayaan setempat. Di antara mereka adalah; A. Hardeland (daerah Dayak), H. N. van der Tuuk (Batak dan Bali), B. F. Matthes (Bugis dan Makasar), G. J. Grashuis, D. Koorders, dan S. Coolsma (ketiganya di Sunda), serta L. E. Denninger (di Nias).

Pada umumnya tenaga-tenaga yang dikirim oleh NBG tidak melakukan telaah filologi terhadap manuskrip-manuskrip yang dibaca dan dipelajari bahasanya. Mereka sering juga menerjemahkan manuskrip-manuskrip itu ke dalam bahasa asing, terutama bahasa Belanda. Sesuai dengan teori filologi bahwa sastra lisan termasuk kajian filologi, maka di antara penginjil itu ada yang mengkaji sastra lisan daerah yang didatanginya, karena kelompok etnis daerah itu belum mengenal huruf hingga budayanya masih disimpan dalam sastra lisan, seperti daerah Toraja oleh N. Adriani dan Kruijt.

*

Masuknya Penginjil Di Nusantara

Versi Anhari Basuki, dkk

Kegiatan filologi di Nusantara diawali dengan kedatangan para musafir dan para pedagang yang datang ke Nusantara pada awal abad ke-15 dan ke-16. Di antara para musafir itu adalah Tome Pires dan Antonio Lombardo Pigafetta. Tome Pires adalah seorang pegawai kantor perdagangan Portugis yang pada 1512 ikut kepala dagang ke Cina. Dalam perjalanannya itu ia singgah di Malaka, Sumatera, Maluku dan Nusa Tenggara yang kisahnya ditulis dalam Summa Oriental. Sementara Piafetta yang ikut kapal Megelhaes berkeliling dunia, singgah di Nusantara dengan mencatat suku-suku bangsa Maluku dan Timor. Ia sempat menyusun daftar kata-kata Melayu yang terdiri dari 426 kata yang diberi judul Vocabuli de Questi Populi Mori.

Kemudian disusul kelompok para pendeta Nasrani yang dikirim ke Nusantara untuk menyebarkan agama Nasrani. Akan tetapi disamping sebagai penyiar agama mereka juga meneliti adat istiadat setempat. Mereka antara lain Francouis Valentijn, M. Teffer, C. Poensen, N. Graafland dan Wiken.

Kelompok berikutnya adalah para sarjana bahasa yang dikirim oleh misi dan zending yang bertugas mempelajari bahasa daerah setempat dan menterjemahkan kitab Bijbel ke dalam bahasa daerah tersebut. Para sarjana bahasa ini dilengkapi pengetahuan bahasa Arab, Ibrani, Persia, dan Turki. Di antara sarjana bahasa terdapat A. C. Ruyl, M. Leydekker, G. H. Werendly, J. H. C. Kern, W. Von Humboldt, Cohen Stuart, dan Van deer  Tuuk. Di antara sarjana yang disebut terakhir kemudian dikenal sebagai ahli-ahli filologi dan linguistik Nusantara.

Kemudian kelompok berikutnya adalah Nederlandsch Bijbel Genootschap (NBG) ialah masyarakat Bijbel di negeri Belanda yang kemudian ditugaskan di berbagai daerah di Nusantara, antara lain H. C. Klinkert di Riau, Hardeland di Kalimantan, dan Adriani di Sulawesi Tengah.

Kelompok berikutnya adalah kelompok pegawai pemerintah jajahan yang terdiri dari pemerintah jajahan Belanda dan Inggris. Kelompok dari pegawai pemerintah jajahan Belanda antara lain J. F. Winter, C. F. Winter, Cornets de Groot, Taco Roorda, Pijnapel, Wilkens, Branders, Snouck Hurgronje, T. H. Pigeaeud, Vreede dan lain sebagainya. Kelompok pegawai pemerintah jajahan Inggris antara lain T. S. Raffles, W. Marsden, Jhon Crawfurd, J. R. Logan, Wilkinson dan R. O. Winstedt.

Hasil karya dan penelitian para ahli barat tersebut ada yang berupa karya kebahasaan, kamus, rekaman budaya, adat istiadat, sejarah, edisi naskah, dan disertasi. Karya-karya tersebut dapat dibaca pada Indonesische Handscriftea  (1950) yang mencatat karya-karya sejak 1885 sampai dengan 1946. Filolog pertama dari Indonesia adalah Hoesin Djajadiningrat yang menulis Critische Beshouwing van de Sajarah Banten (1913), kemudian disusul Poerbatjaraka dengan Agstya in de Archipe (1926), Nawaruci (Prijohutomo, 1934), Sri Tanjung oleh Prijono (1938) dan sebagainya.

Yang digolongkan karya-karya terakhir dari peneliti Indonesia mulai 1960 antara lain Asrar Al Insan fi Ma’rifati al Ruh wa Rahman (Tujimah, 1960), Inanasiddhanta (Haryati Soebadio, 1971), Arjunawijaya  (Soepomo,1977), Hikayat Sri Rama (A. Ikram, 1978), Hikayat Hang Tuah (Sulastin Sutrisno, 1979), Hikayat Indraputra (Rudjiati Muljadi, 1980), Hikayat Perang Sabil (Ibrahim Alifian, 1982), Babad Blambangan (Darususuprapta, 1984), Hikayat Malem Dagang (Imran, T.A., 1988), Hikayat Iskandar Dzulkarnain (Siti Chamamah Suratno, 1988), dan sebagainya.

Ujungberung V, 10 Februari 2009

Kategori: Artikel dan Tulisan.