Pensiun Jadi Pujangga

Oleh Sinta Ridwan

Alkisah, ada sebuah berita yang membuat heboh dunia persastraan. Ada seorang lelaki paruh baya, ia adalah pujangga besar di sebuah kota kecil yang panas yang memutuskan pensiun menjabat sebagai pujangga tertinggi. Baru satu minggu lalu permohonan pensiunnya dikabulkan oleh persatuan pujangga tertinggi dan termasyur seantero negeri. Alasannya pensiun yaitu ia ingin mengalih profesi menjadi seorang penasihat politikus yang ingin maju pilkada sekaligus menjadi juru bicaranya.

Berita tersebut mengejutkan banyak pihak, salah satunya adalah kelompok pemuda-pemudi yang bermimpi menjadi pujangga besar dan menguasai peredaran sastra di kota yang panas. Namun, para anggota ikatan pujangga tertinggi seantero negeri menginginkan posisi yang menjadi kosong itu agar diisi kembali oleh pujangga yang benar-benar memiliki jiwa dan raganya adalah pujangga dan syarat paling utama, sudah bernama besar. Kota yang panas menjadi ketar-ketir, sebab apabila posisi jabatan itu kosong, tidak ada suara yang mewakili kota yang panas itu yang mengaum di forum-forum sekelas nasional. Itu akan membahayakan dunia perpujanggaan di kota yang panas.

Tiba-tiba ada sebuah surat kecil bertengger di depan pintu rumahku, langsung kubaca isinya:

Diharapkan kepada para pemuda dan pemudi yang bermimpi menjadi pujangga besar, siang ini berkumpul di tempat yang dahulu bernama Pasar Gunung Sari, tepatnya di belakang pasar ada warung bakso Mang Ita. Kita akan membahas kegentingan dunia kesusastraan yang akan berakibat fatal jika tidak mendiskusikan secepatnya, dunia kita akan runtuh!

Membaca kalimat-kalimat di surat kecil itu, aku hanya mengerutkan kening, lalu melipat kertasnya kembali. Aku tidak jadi masuk rumah, barang belanjaan yang kubeli di warung seberang kampung kugantung di gagang pintu, berharap Ibu akan menemukannya. Aku tak ada waktu untuk menemui Ibu karena matahari sudah bertengger di atas langit. Aku segera melangkah keluar pagar dan menuju tempat yang dimaksud pengirim surat.

Di hadapanku kini adalah Pasar Gunung Sari. Sekitar dua puluh tahun lalu, pasar ini salah satu pasar tradisional yang hidup di kota panas ini. Namun, kondisinya berubah drastis dengan apa yang kulihat detik ini. Apalagi wajahnya, mirip mal. Apakah semua pasar tradisional akan diubah menjadi mal? Entahlah. Pertanyaan ini seperti berita yang kudapat tentang pujangga yang pensiun itu. Pujangga seperti pasar, yang merakyat dan tradisional. Ketika pasar menjadi mal modern itu seperti pujangga yang melepaskan diri dari pekerjaan utamanya sebagai penulis puisi yang menyuarakan rakyat, puisi dari rakyat untuk rakyat.

Kulangkahkan kaki menuju bagian belakang pasar, menuju warung bakso Mang Ita. Ternyata di sana sudah berkumpul beberapa orang bertujuan sama, menghadiri undangan yang tertulis di surat kecil. “Banyak juga yang meresahkan pujangga yang pensiun itu,” bisikku.

Delapan mangkuk tergeletak tak berdaya setelah dipegang erat lima pemuda-pemudi yang duduk mengelilingi satu meja. Pemuda-pemudi lain pun berlaku sama, mengelilingi meja-meja yang tersedia di warung bakso ini, semuanya membicarakan hal yang sama, pujangga yang pesiun. Asap rokok melayang-layang di atas perbincangan, rokokku masih menyala ujungnya, kuselipkan ke asbak karena aku hendak memesan kudapan selain bakso. Padahal, aku baru melahap mi yamien semangkuk plus kuah bakso terpisah, namun perutku masih lapar. Biasanya, jika sedang berkumpul seperti ini suka muncul sifat rakus. Tetapi kalau aku sedang sendirian, aku bisa tidak makan seharian. Aku punya penyakit tidak nafsu makan jika sendirian. Setelah pesanan kedua datang, langsung kukunyah dengan semangat sambil mendengarkan perbincangan orang-orang di sekelilingku.

Butiran keringat di dahi kuseka dengan ujung kaus yang basah setengahnya. Mulutku sibuk mengunyah kerupuk melarat lengkap dengan kangkung dan bonteng rebus yang bergumul di atas daun pisang yang dilipat serupa wadah. Ditambah banjuran sambal asam superpedas. Radar kupingku sibuk mendengar frekuensi bising di dalam warung bakso yang ramai membicarakan sosok pujangga besar kota panas ini. Mataku melirik kiri dan kanan sebelum tanganku yang berlepotan sambal asam meraih cangkir gelas berisi patahan es balok dan air teh tawar yang lengkap dengan taburan melati di dalamnya. Aku melihat es teh tawar itu seperti kuburan yang tanahnya baru dikubur kembali, adem dan menyeruak wangi melati.

Tergesa kuseruput sampai ada tetesan air es teh yang menyisa di ujung bibir bercampur keringat yang menderas karena sambal asam. Kota ini sungguh panas, panasnya nyelekit. Aku sering berpikir, kota ini menjadi sangat panas selain ada di pinggir laut juga memiliki sedikit pepohonan. Kenapa orang-orang di sini tidak menanam banyak pohon agar bisa melindungi kota ini dari panasnya yang semakin menjadi ini. Tapi mungkin orang-orang di kota panas ini lebih senang dan nyaman dengan hawa panas seperti ini, atau bisa jadi saking tidak punya waktu untuk menanam satu pohon pun dalam hidupnya.

“Selain tak punya banyak pohon, kota ini kehabisan stok pujangga, ya,” kataku, sambil menaruh gelas di meja yang ikut berkeringat kaki-kakinya. Beberapa pasang mata menatapku tajam.

“Kota ini sebenarnya punya beberapa orang yang berhasrat jadi pujangga besar. Termasuk kita-kita, ya, ‘kan? Kau mau mengakui itu tidak, Ta? Ada rasa bangga ketika puisi-puisi kita juga ada di koran besar.” Kawan bincangku menggeser duduk di hadapan. Dua lainnya serius mendengar, tak ada yang berani menyela pernyataan tadi karena dianggap senior. Kurasa keseniorannya lebih berpatok umur, bukan lamanya berkarya dan berapa banyak ia berpuisi.

“Apa benar ia berhenti menjadi pujangga dan menghabiskan masa tuanya menjadi politikus?” Ada semburan kata yang keluar berbarengan asap rokok yang mengepul tebal. Kawan yang duduk di sudut meja membuat warung bakso semakin berasap dan pengap.

“Kita tak ada hak untuk mengatur hidup seseorang, bukan?” Aku menimpali sambil masih sibuk mengunyah kerupuk melarat, salah satu komposisi dalam kudapan sambal asam. “Kukira, pernah berstatus menjadi pujangga besar dapat menaikkan kredibilitas seseorang di dunia politik. Ingat tidak masa pemilihan wakil rakyat kemarin? Ada yang tiba-tiba mendadak menganggap dirinya pujangga besar. Ia melempar banyak puisi bahkan dipresentasikan di media-media demi kepentingan golongannya. Bahkan membuang begitu saja puisi-puisi itu di tengah hiruk-pikuk politik. Dan apa pendapat para pujangga yang asli? Mereka mencemooh, karena para pujangga asli punya daftar nama-nama pujangga yang benar-benar katanya pujangga. Di saat ada yang mengkultuskan diri sebagai pujangga dan karya yang disebut puisi itu dibaca banyak orang demi politik, mereka yang pujangga asli itu muntah ramai-ramai dan membuang kembali puisi yang sudah dibuang sedari awal. Ingat politikus, eh, pujangga besar itu?” Sambil mengunyah bonteng rebus, aku menatap satu-satu pemilik mata-mata tajam yang satu meja denganku ini.

“Jangan gunjingkan orang itu lah, anggap kemunculannya sebagai lelucon di tengah politik sastra. Sekarang, bagaimana kalau pujangga besar kota ini benar-benar pensiun?” Seseorang yang duduk di sampingku berstatus mahasiswa, sampai usianya menjelang tiga puluh tiga tahun, ia masih mempertahankan keberadaannya di kampus. Sama sepertiku, sampai usia tiga puluh dua tahun pun masih menempel status mahasiswa. Bahkan saat kemarin mencantumkan data di Kantor Urusan Agama juga.

“Tidak khawatir. Nanti kita sayembarakan siapa yang mau menjadi pujangga besar. Seperti guru besar di universitas. Kita seleksi sepak terjangnya dalam dunia perpuisian. Setuju, Ta?” timpal lelaki yang duduk di seberangku, sambil sibuk mengepulkan asap ke atas meja. Seolah sangat paham dunia puisi, hafal di luar kepala semua teori pembuatan puisi yang baik dan benar. Gaya bicaranya seperti sudah menghasilkan ratusan puisi yang berkualitas dan aduhai.

“Ah, tapi yang jadi masalah, kandidat-kandidat yang mencalonkan jadi pujangga besar itu, sebagian besar kemungkinan bukan putra daerah. Bukan orang sini. Kan tadi kubilang, apa kota ini masih punya stok pujangga.” Aku berbicara sekaligus mengunyah kangkung berlumur sambal asam, hingga asamnya menetes-tetes. Langsung kuseka dengan ujung kaus di bahu kanan.

Tiba-tiba kata menghening.

Meski pasar tak bisa diam, apalagi saat orang-orang mengibas tangannya untuk dapatkan udara saat kepanasan pun terdengar geraknya. Kawan yang duduk di sebelah terus menggoyangkan kaki, pertanda sedang memikirkan hal serius. Dua lainnya di seberang meja masih mengepul asap rokok sembari meratap harapan di langit yang seharusnya biru tetapi abu, tertutup polusi. Sementara, kunyahan kerupuk melarat kupelankan, tidak terburu lagi.

Kucoba memecahkan keheningan dengan mengingatkan tugas seorang pujangga. Siapa tahu nanti muncul nama yang cocok menggantikan pujangga yang pensiun itu.

“Begini, pujangga tak seharusnya bangun tidur di kamar politik. Ia tak boleh di sana. Meski ia harus tahu seluk-beluk perpolitikan kekinian. Jangan lupa, pujangga sejak zaman kerajaan posisinya di dewan kehormatan. Orang terhormat yang selalu memberi nasihat baik untuk kebijakan raja dengan melaporkan kondisi rakyatnya dan memberi jalan yang terbaik untuk mereka.”

Seluruh isi mangkuk daun sudah habis kukunyah. Kulipat-lipat dan kubuang di tempat sampah di belakangku. Aku melanjutkan, “Sudah jelas, posisi pujangga sekarang bisa jadi penasihat sekaligus politisi. Tentu saja harus memihak rakyat selalu. Pujangga bisa berkontribusi mencerahkan negarawan yang mengurus dan membangun kota ini, contohnya saja renovasi pasar ini. Renovasinya tidak puitis. Tidak romantis karena menghilangkan banyak kenangan. Pujangga bisa mengadang penghancuran itu.”

Aku terdiam dua detik, sebelum lanjut berkata sambil mengambil rokok yang mati di selipan asbak dan meminta api pada ujung rokok kawan sebelah.

“Tapi pujangga tak selayaknya ikut politik apalagi jadi tim sukses. Pujangga bertugas menyeimbangkan kehidupan, terdiri atas kebaikan dan kejahatan.” Kalimatku mengawang demi dapat pencerahan. Demi solusi? Entah.

“Ya, posisi pujangga harus di tengah, tersenyum melihat kedamaian, menangis dan sakit melihat penderitaan. Ekspresi wajah pujangga sebaiknya tidak ditunjukkan kepada siapa pun. Tak ada yang tahu keberadaannya. Kecuali dalam keadaan terdesak.”

Ia misteri.

Ia penyeimbang.

Ia yang disegani.

Ia yang termetaforakan.

“Seharusnya tak ada makian kotor keluar dari mulutnya saat melihat jalanan penuh kotoran. Pujangga berhati halus meski dadanya bergejolak hebat merasakan kota yang sedang kalut. Kota ini memang akan kehilangan pujangga besar. Satu-satunya pujangga milik kota ini akan hilang. Karena lebih memilih karier di bidang lain, bidang yang menjanjikan masa tua. Namun, sekarang siapa yang mau jadi pujangga di kota panas begini? Kota yang setiap detiknya membakar kata dengan sekali tiupan Dewa Angin dari utaranya Laut Jawa. Kota ini butuh pujangga yang pandai melukis keindahan di kerumitan tata kota yang berantakan. Kota ini butuh pujangga yang membela dengan jiwa raga bak pendekar ketika kota dilanda pembunuhan hak asasi. Tentu saja, lewat puisinya, lewat olahan kata-katanya. Lewat rangkaian kalimatnya hingga membuat damai yang membacanya. Termasuk pasar ini. Pasar ini butuh pujangga juga.”

“Ya, aku setuju. Tak perlu kita diingatkan itu terus, Yita!”

Mata kawanku yang di seberang memerah. Menyala. Ia mengentak seperti pujangga di atas panggung lengkap gaya teatrikalnya.

“Harusnya ia jangan pensiun, si pujangga besar itu. Meski lelah dengan yang didapat sebagai pujangga bukanlah kekayaan harta melainkan kekayaan batin, namanya akan tetap membesar di kota ini bahkan di kota lain. Seharusnya ketika berada di posisi paling besar seperti sekarang, sangat tepat bila dimanfaatkannya untuk menciptakan pujangga-pujangga kecil yang kelak akan menjadi besar sepertinya. Lahir dari kota panas, yang tidak akan pernah memutuskan pensiun menjadi pujangga seumur hidupnya baik dalam keadaan suka maupun duka.”

“Memangnya kalian mau menjadi pujangga besar?” tanyaku, masih tetap memperhatikan mata-mata mereka. Ada yang berwarna merah, ungu, bahkan berwarna hitam seperti kayu yang hangus menjadi arang. Kutunggu lima detik, tak ada sahutan.

“Begitu pun aku. Aku tak mau menjadi pujangga besar. Menjadi pujangga kecil saja aku tak mampu, apalagi pujangga besar. Terlalu berat beban yang dipikul. Salah sedikit pasti dipergunjingkan seperti kita menggunjingkannya sekarang,” kataku sambil bangkit dari kursi kayu yang panjangnya sekitar dua meter. Aku berjalan mendekati Bibi penjual sambal asam, memesan kudapan yang sama, kerupuk melarat lengkap dengan kangkung dan bonteng rebus yang dibanjur sambal asam.

“Bi, sambalnya yang pedas, ya. Biar keluar semua cairan kotor yang ada di tubuh puisi ini,” kataku sambil memutuskan meninggalkan forum yang membicarakan pujangga yang pensiun itu dan asyik mengobrol dengan bibi penjual sambal asam sambil duduk di dekat baskom berisi sayur-mayur yang direbusnya. Ada kangkung, genjer, timun, mi kuning, tauge, dan beberapa macam sayur lagi. Ditambah dua macam sambal, ada sambal asam dan sambal kacang. Kerupuk pun ada macam-macamnya, ada kerupuk melarat, kerupuk mi kuning dan gapit.

Ternyata di dalam warung bakso masih saja riuh membicarakan pujangga yang pensiun itu, bahkan cenderung berdebat kusir, tiada habisnya. Tiba-tiba ada yang meninggikan suaranya bertanya kepadaku.

“Jadi bagaimana, Yita, apa yang hendak kau lakukan sekarang? Ingin terus menjadi pujangga dan menjadi besar, atau menjadi tidak peduli pada kegentingan ini?”

“Ah, aku?” Aku menunjuk diriku sendiri, setelah itu aku menunjuk wadah sambal asam yang kupegang.

“Aku ingin membuat dan menjual sambal asam saja seperti Bibi ini. Ia bisa membuatku mengeluarkan pikiran-pikiran negatif dan berlebihan, ambisi dan obsesi yang menakutkan, menjadi keringat-keringat yang mengucur dengan deras.”

Mata-mata itu masih saja menatap tajam padaku, bahkan lebih tajam dibandingkan sebelumnya, seakan ingin menyembelih tubuhku. “Iya, Nok. Mending kayak bibi saja, hidup cukup tapi damai di hati dan tenang di pikiran. Bisa menambah semangat juga lewat kudapan yang bibi jual ini apalagi kalau sudah level pedas sekali sambalnya. Hidup akan semakin jos!”

Aku memandang wajah Bibi dengan bibir melengkung.

Cirebon Selatan – Tirtayasa, 31 Oktober 2014

*Cerpen ini belum pernah dimuat. Foto di Rumah Tirtayasa, Cirebon, 23 Agustus 2018. Selengkapnya dan edisi editan ada di buku kumpulan cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, terbitan Ultimus Bandung, Desember 2017.

Kategori: Cerpen dan Tulisan.