Perempuan Berkepang Kenangan

Oleh Sinta Ridwan

Kampung ini bernama Pancalang. Konon, sewaktu Pancalang berada di wilayah kejayaan Kerajaan Galuh, ada lima elang yang menguasai dan menjaga wilayah Pancalang dan kampung-kampung lain di sekitarnya. Ada yang mengartikan lima elang itu adalah lima prajurit kuat yang membantu mengamankan wilayah bagian Galuh.

Pancalang terletak di perbatasan Kuningan dan Cirebon. Mamih, nenekku, tinggal di Pancalang. Rumah yang ditempatinya adalah warisan turun-temurun selama tiga generasi. Ia mendapatkannya dari ayahnya, Abah Suminta, dan Abah mendapatkannya dari ayahnya lagi, Abah Mekkah.

Aku lahir di Cirebon dan sering berlibur di rumah Mamih. Jarak dari Cirebon menuju Pancalang sekitar empat puluh menit, bisa melewati Cirebon Girang atau bisa juga lewat Sumber lalu ke Mandirancan. Kalau dari arah Kuningan harus melewati Lingga Jati, Cibeureum atau Cilimus. Jarak dari pusat kota Kuningan tidak sampai satu jam. Meski lumayan dekat, sejak kecil aku hanya berlibur di Pancalang, paling jauh sampai Bojong, karena ada salah satu Mbah yang tinggal di Bojong, istri dari Abah Bojong.

Aku memanggil nenekku Mamih karena mengikuti kebiasaan Ibu dan saudaranya, sementara sepupuku yang lain banyak yang memanggil nenek itu, Mbah. Jadi panggilan Abah itu untuk kakek dan Mbah untuk nenek. Nah, karena Pancalang ini berada di perbatasan Cirebon dan Kuningan, bahasa sehari-hari yang digunakan bahasa Sunda dan beberapa kata ada yang sudah bercampur dengan bahasa Jawa-Cirebon.

Aku merasa beruntung bisa mengenal kedua bahasa tersebut sedari kecil. Pendengaranku sudah terbiasa mendengarkan kedua bahasa itu. Jika di lingkungan Cirebon dan di sekolah aku terbiasa mendengar sekaligus belajar bahasa Jawa-Cirebon, sementara itu ketika sedang berada di keluarga Ibu dan liburan di rumah Mamih, aku berada di lingkungan yang berbahasa Sunda.

Ada satu hal yang menarik bagiku mengenai bahasa Sunda yang dikenalkan keluarga Ibu. Bahasanya berbeda dengan Sunda Priangan, tetapi hampir sama dengan wilayah Banten, dan sebagian pesisiran. Bagi orang-orang yang berbahasa Sunda Priangan, bahasa ibuku dianggap tidak sopan atau kasar. Di beberapa daerah di Jawa Barat dan Banten di sekolah-sekolah dikenalkan bahasa dengan berbeda tingkatan bahasanya, tetapi ada beberapa daerah lain yang hanya mengenal dan menggunakan satu tingkat saja, bahasa yang memandang semuanya itu sama saja, tidak ada kelas atau tingkatan yang begitu signifikan.

Termasuk logat dan beberapa kosakata juga, bahasa Sunda di wilayah Kuningan dan Cirebon banyak memiliki perbedaan. Ada kata-kata yang spesial dan kemunculannya itu bisa ditelusuri dengan penelitian bahasa tersendiri. Aku tertarik mempelajari persoalan perbedaan bahasa-bahasa ini, tetapi aku tidak ingin membicarakan soal bahasa lebih dalam di sini. Biarkan saja para linguist yang melakukan penelitian dan membicarakannya lebih detail lagi.

Aku ingin berkisah tentang Mamih yang suka mendongeng tentang sejarah keluarganya kepadaku ketika aku sedang menghabiskan liburan sekolahku. Cerita yang menurutku menarik adalah kisah Ibu dan Bapak asuh yang mengasuh Mamih, adik bungsu dari Abah Suminta, yang tinggal di Bojong. Aku pernah beberapa kali bertemu Mbak Bojong sewaktu kecil saat keliling kunjungan Lebaran ke rumah-rumah saudara di sekitar Kuningan.

Rumah Mbah Bojong bergaya kolonial. Bangunannya memanjang, bertembok tebal dan tinggi. Kamar mandinya ada dua, posisinya terpisah dari bangunan utama. Halaman depannya luas serta memiliki taman yang terawat. Entah kenapa, ketika aku melihat rumah-rumah tua macam rumah Mbah Bojong atau rumah Mamih, aku merasa penasaran dan ingin mengetahui sejarah penghuninya.

Apakah dulu penghuninya adalah cukong Belanda? Selama ini aku menganggap orang yang bekerja untuk Belanda adalah orang jahat dan mengkhianati bangsanya, tapi menurut cerita Mamih tidak semua pejabat manut betul dengan Belanda, bahkan ketika mereka memiliki kekuasaan dan kepercayaan Belanda, mereka bisa membantu rakyatnya yang kesulitan secara langsung. Contohnya Abah Bojong, ketika Mamih tinggal di rumahnya, ia dianggap anak sendiri. Abah dan Mbah Bojong tidak memiliki anak, jadi Mamih diperlakukan sangat baik, bahkan—menurutku—berlebihan.

Mamih diberi fasilitas layaknya putri bangsawan karena Abah Bojong adalah Bupati Kuningan dua tahun setelah kemerdekaan. Konon, hal itu wajar ketika Mamih diperlalukan bak seorang putri, ia bercerita bangga tiap keluar rumah selalu ditandu dan didampingi dayang pengasuh.

Aku pernah bertemu dengan salah satu pengasuh Mamih yang masih hidup, usianya lebih tua dari Mamih. Kulihat kesetiaannya masih melekat, bahkan beberapa bulan setelah Mamih mangkat, ia pun menyusul Mamih. Sayangnya, Mamih dan pengasuhnya meninggal sebelum aku menekuni ilmu filologi, seandainya sudah, aku pasti menanyakan banyak hal; silsisah dan sejarah keluarga besar tanpa harus menunggu Mamih bercerita di dapur saat aku membantunya memasak. Aku pasti akan banyak tanya jawab dan tak luput percakapan itu dengan alat perekamku.

Sekarang bukan waktunya untuk menyesali kepergian Mamih, Ta, kataku setengah melirih.

Mamih lahir pada 1936 di Pancalang. sewaktu ditandu Mamih sudah remaja. Kalau dihitung berdasarkan waktu peristiwanya dan memperkirakaan usia Mamih sekitar tiga belas tahun berarti kejadiannya sekitar 1949.

Apa iya di tahun segitu masih ada tandu menandu? batinku saat mendengar kisah Mamih. Tapi aku senang diceritakan sejarah keluarga olehnya. Senang sekali. Dan menjadi rindu di saat seperti sekarang, setelah kehilangannya.

***

Pada suatu waktu, di teras rumah kayu di Bojong yang diterangi lampu cempor, tampak seorang gadis berkepang sedang menunduk tersipu malu.

“Cenah rék kawin? Nyanéhna tos siap kitu?”[1]

Sebuah pertanyaan keluar dari mulut seorang ibu tua berambut putih panjang mengunyah seureuh yang ampasnya tersudut di ujung bibirnya yang memerah. Ia menatap anak gadisnya yang berambut panjang, hitam kemilau dan dirawatnya dengan telaten.

“Nya nggeus atuh, engké aing bébéja ka Apa nyanéh.”[2]

Senyum pun tersungging di wajah manis gadis berambut panjang yang dikepang itu.

Nama gadis itu Marni. Ia lahir di tengah keluarga petani di Bojong, salah satu kampung di Distrik Kuningan. Biasanya untuk mendapatkan kesempatan belajar di sekolah rakyat sangat sulit untuk keluarga petani yang sederhana. Namun, Marni bisa belajar di sekolah rakyat berkat hubungan ayah Marni dengan saudara kandungnya yang punya kekuasaan di wilayah Kuningan. Marni satu-satunya perempuan di Bojong yang bisa mengenyam pendidikan. Ayah Marni pun memiliki beberapa hektar sawah dan kebun kopi Robusta. Kopinya sering diambil tengkulak dan disetorkan ke gudang kopi milik Belanda. Hidup Marni lebih beruntung ketimbang perempuan lain di daerahnya yang tak punya kesempatan mengenyam pendidikan setara dengan lelaki pada awal 1900-an.

Marni satu sekolah rakyat dengan Rivai. Pemuda tampan anak bungsu kepala kampung di Pancalang. Sampai usia remaja ternyata Marni menyimpan perasaan kepada Rivai. Gayung bersambut, Rivai pun selalu memandangi Marni dari kejauhan, tak berani mendekati perempuan berkepang yang manis senyumnya itu. Meski ada banyak anak gadis para pejabat pemerintah kolonial dan pedagang di sekitar Rivai, ia hanya kesengsem kepada Marni yang manis, geraknya gesit pertanda perempuan yang bisa bekerja, bola matanya bulat dan jernih, dan berambut hitam panjang yang indah.

Seusai program sekolah rakyat, Marni dan Rivai dipisahkan jarak. Rivai melanjutkan pendidikan di Batavia. Sebelum pergi, Rivai menemui Marni dan meminta untuk menunggunya. Tepat di perpisahan mereka, Rivai memberikan sebuah buku berukuran besar berwarna cokelat kekuning-kuningan yang berasal dari pabrik kertas Sala. Buku tersebut berisi catatan harian Rivai tentang perasaannya kepada Marni di kala mereka bisa saling memandang selama ini. Buku tersebut dilengkapi puisi-puisi indah hasil koleksi bacaan Rivai, ada pula yang berbahasa Belanda dan ada juga yang beraksara Sunda. Rivai berkata pada Marni, “Neng, seratan ieu ku Akang badé diteraskeun di Batavie engké.”[3]

Marni ditinggal kekasihnya untuk puluhan purnama. Selama menunggu, ia memanfaatkan hasil belajarnya dengan menyebarkan pengetahuannya kepada perempuan lain yang tak sempat mengenyam sekolah. Ia membuat sebuah paguyuban. Di dalamnya ada pergerakan aktivitas belajar dan mengajar baca tulis. Marni juga mengumpulkan tokoh-tokoh yang bisa membagi ilmunya, misalnya ada seorang nenek sepuh yang bekerja membuat atap dari daun gebang dan membuat alas duduk dari daun pandan. Marni memintanya untuk mengajari perempuan-perempuan di wilayahnya agar bisa juga membuat atap dan tikar. Setelahnya, Marni dan paguyubannya menjual hasil karya anggotanya dan mengumpulkan hasilnya untuk dibagikan secara rata. Hampir semua perempuan muda masuk anggota paguyuban yang dibuat Marni, bahkan ada yang datang dari kampung tetangga.

Rambut Marni yang dibiarkan memanjang membuat yang melihatnya bertanya, kenapa tidak dipotong rambut panjangnya yang sudah sepinggul itu, dan Marni menjawabnya singkat, “Ieu buuk nu ngadagoan Kang Rivai uih.”[4]

Sejak tinggal di Batavia, Rivai tidak pernah absen mengabarkan keadaan dan kondisinya kepada Marni lewat surat-surat yang ditulisnya. Rivai bersyukur memiliki tempat untuk mengeluarkan seluruh keluhan dan curahan isi hatinya. Rivai selalu percaya Marni adalah perempuan yang penuh pengertian dan bijaksana dalam menghadapi situasi dan masalah. Rivai beruntung bertemu seorang perempuan yang bisa diajak mengobrol, bisa membaca dan tulis, serta paling utama ialah yang mau setia menunggunya. Rivai sering menulis sebuah janji, akan melamar Marni secepatnya sepulangnya dari Batavia dan menyelesaikan pendidikannya.

Hati Marni berbunga, ia tersenyum sendiri manakala membaca surat-surat bertulisan tangan Rivai, lelaki yang ditunggunya. Sebenarnya ia ingin sekali membalas surat Rivai. Namun, untuk mengantarkan satu surat ke Batavia dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membayar kurir. Ditambah surat balasan dari Marni belum tentu sampai ke tangan Rivai karena surat itu tidak memiliki urusan penting dalam kepemerintahan. Kadar kepentingannya hanya sedikit, pikir Marni suratnya paling hanya sampai kantor pusat kurir yang ada di Karesidenan Cirebon, tak akan pernah sampai ke tangan Rivai di Batavia.

Meskipun Marni tak pernah mengirim surat kepada Rivai, ia tetap membalas surat Rivai satu per satu dan menyimpannya di dalam sebuah kotak kayu berukir motif daun semanggi, yang konon daun itu adalah simbol keberuntungan. Marni akan menyerahkan surat-surat yang selama ini ditulisnya pada saat Rivai sudah datang melamarnya.

Ah, Marni merasa malu sendiri membayangkan Rivai akan datang dan meminangnya.

Kakang Rivai, hati enéng ini memiliki semangkuk rasa rindu yang menunggu diteguk langsung oleh Kakang, rasa itu juga seperti dedaunan yang selalu menunggu angin untuk membelainya. Gerakan dedaunan mengajak waktu untuk membentuk gradasi warna hijau daun yang kian menua. Enéng pun sama, semakin menua, Kang, tetapi kulitku tidak bergradasi hijau melainkan banyak yang tumbuh di bagian tubuh néng, salah satunya rambut enéng semakin meliuk buntutnya. Kakang ingat tidak awal pertama enéng bertemu Kakang? Pasti sudah lupa, sejak itu enéng memanjangkan rambut, tak pernah dipotong sama sekali bahkan sampai enéng menuliskan ini semua. Sudah puluhan purnama Kang Rivai di Batavia, rambut enéng panjangnya sudah sampai lutut. Rambut enéng seperti ikut menunggu kedatangan Kakang. Kenangan-kenangan tentang Kakang enéng tulis di buku yang Kakang beri, balasan surat Kakang enéng kumpulkan jadi satu. Hampura Kang, enéng tak pernah mengirimkan semuanya hingga sampai tangan Kakang yang lembut itu, yang punggungnya pernah enéng kecup sekali-kalinya saat Kakang pamit menuju Batavia, sebelum Kakang menaiki delman yang mengantarkan Kakang ditemani tiga puluh satu matahari dan jutaan bintang kejora untuk bisa sampai di Batavia. Enéng takut Kang, Kakang akan lupakan enéng. Takut Kang, Kakang tidak kembali pulang. Namun begitu, enéng akan selalu menunggu Kakang dengan rambut yang selalu dikepang. Enéng menandakan diri dengan kepangan itu, Kang. Enéng janji tidak akan berkepang lagi setelah menjadi istri Kakang. Kepangan inilah yang menjadi saksi bahwa enéng selalu menunggu dan mengasihi Kakang. Baik-baiklah selalu di sana Kang. Segeralah pulang, enéng menunggumu di ujung cahaya cempor tempat terakhir kita bertemu.

Namun kisah ini baru saja dimulai.

Tiga tahun kemudian, Rivai kembali ke kampung halamannya. Ia membawa bekal pendidikan dan surat penugasan untuk memimpin wilayah, bukan hanya memimpin kampungnya tetapi menjadi seorang bupati. Kedatangannya disambut meriah ditambah pernikahannya dengan Marni, gadis yang telah setia menunggunya. Orangtua Rivai tak pernah merasa keberatan dengan gadis pilihan Rivai, karena mereka masih satu keturunan dan keluarga besar. Mereka merasa salut dengan apa yang dikerjakan Marni setelah lulus dari sekolah rakyat. Ia mendidik banyak perempuan. Dan Marni sungguh cantik saat pernikahan berlangsung meriah.

Rivai menjadi Bupati Kuningan selama dua tahun pada 1947 hingga 1949, sepanjang memimpin ia disegani beberapa pihak, rakyat yang mencintainya banyak dibantu secara langsung dan pemerintah kolonial yang senang dengan laporan perkembangan serta segala urusannya. Rivai banyak dipuji soal pengarsipan dokumentasi dan Soekarno mendengar kisahnya, ia dipindahtugaskan ke Ciamis untuk kembali menjadi seorang bupati.

***

Pada suatu hati, aku sedang menghabiskan sore di rumah Mamih, liburan menyisa dua hari lagi. Kala itu Mamih sedang memasak di dapur belakang yang bersebelahan dengan ruang penyimpanan alat memasak. Aku sering memasuki ruangan itu, ada banyak koleksi Mamih, mulai dari wajan berukuran besar hingga piring-piring bermotif kembang yang indah. Aku senang berada di antara benda-benda yang mungkin sudah diturunkan beberapa generasi. Kulihat ada juga alu dan lesung untuk menumbuk beras dan sekotak kayu di atasnya, penuh debu. Aku penasaran dengan isi kotak tersebut dan membawanya sambil mendekati Mamih di dapur.

“Mih, aku nemu kotak kayu di atas lesung di ruang sebelah,” kataku, sambil asyik mengelap kotak kayu berukiran daun semanggi itu.

“Kotak naon? Cik, Mamih tingali heula.”[5]

Mamih meletakan pisau di atas talenan. Kusodorkan kotak yang kutemukan itu pada tangan Mamih yang keriput terlipat waktu. Mamih tersenyum melihat isi kotak yang ia buka, tapi lama-lama sorot matanya menggenang kesedihan. Ia memperlihatkan isi kotak itu sambil berkata kepadaku, pelan sekali suaranya.

“Éta surat-suratna Mbah Bojong, Nok. Waktu Mamih di rumah Bojong sana, Mamih nu ngampihan surat-surat yang berserakan di kamar Mbah Bojong.”[6]

Aku melihat isi kotak dan terkejut melihat satu kepangan rambut yang panjang sekali, posisinya melingkar seperti ular.

“Mih, ini rambut kepang siapa?”

“Itu rambutna Mbah Bojong, Nok Cita.” Aku senang mendengar Mamih menyebut namaku ditambah kata ‘nok’ di depannya, panggilan seperti ‘néng’ dalam bahasa Sunda.

“Kenapa dipotong, Mih? Panjang pisan, nya?” tanyaku, sambil mengeluarkan rambut kepang itu, tetap hitam berkilau dan tidak rapuh termakan zaman. Harum kemiri sangrainya pun masih tercium.

“Waktu Abah Rivai, Abah Bojong téa, diangkat jadi Bupati Ciamis, ada segerombolan orang yang tidak suka abah. Mereka tahu kalau Abah Rivai dulunya belajar di sekolah Walanda, padahal diangkat Soekarno waktu jadi Bupati Kuningan. Mereka membunuh Abah Rivai saat sedang jalan pulang ke rumahnya nu di Bojong téa dari arah Ciamis.”

“Segerombolan? Siapa, Mih?”

“Mamih suka takut kalau ngomongin mereka téh. Suka trauma. Rumah ini pernah juga digerebek, diporakporandakan seisinya. Takut, ah, Mamih mah.”

Aku sangat penasaran, siapa gerombolan yang berani membunuh bupati yang baik seperti Abah Rivai, buyutku itu?

“Dulu, zaman Soekarno ada gerombolan yang kepingin bikin Negara Islam.”

“Oh, DI/TII maksudnya, Mih?”

Enya éta. Abah Rivai dibunuh mereka. Jasadnya dibuang di kebon pisang jauh sampai ke pelosok kampung di Cilimus. Kata orang yang menemukan kuburan Abah, katanya kuburan Abah téh bercahaya lalu digali oleh penduduk, saat dilihat mukanya, eh geningan bupati. Mereka membawa jasad Abah ke Pancalang untuk dikubur di makam keluarga di Karedok téa. Waktu itu seluruh bupati datang ke Karedok. Bahkan Bupati Bandung juga datang, Nok Ta.”

“Iya, Mih. Cita tahu kuburan Abah Rivai. Kalau Mbah Bojongnya bagaimana, Mih?”

Aku lanjut bertanya kepada Mamih sambil memandang kepang yang panjang. Kepang yang saling bertumpuk dengan surat-surat berwarna cokelat kusam dan sebuah buku besar, sekaligus mendengarkan kisah Mbah Bojong selanjutnya setelah Abah dibunuh. Aku membayangkan bagaimana perasaan Mbah Bojong kala melihat jenazah suami tercintanya, lelaki yang ditunggunya dengan setia. Ia hidup sendiri memeluk cinta yang besar setelahnya.

Andai rambut kepang ini bisa berkata, ia pasti melengkapi cerita-cerita Mamih yang dikisahkan kepadaku sebelum kepergian selamanya itu.

Ciseke Kecil, Jatinangor, 17 Agustus 2013

[1] Katanya mau nikah? Memangnya kamu sudah siap?

[2] Ya sudah, nanti saya bilang ke bapakmu.

[3] Dik, tulisan ini sama Kakak akan dilanjutkan di Batavia nanti.

[4] Ini rambut yang menunggu Kang Rivai pulang.

[5] Kotak apa? Sini, Mamih lihat dulu.

[6] Itu surat-surat Mbah Bojong, Nak. Waktu Mamih masih tinggal di rumah Bojong, Mamih yang mengumpulkan surat-surat di kamar Mbah Bojong.

*Cerpen ini dimuat di koran Pikiran Rakyat, 25 Agustus 2013. Foto di Radio DB, Cirebon, 25 Agustus 2016. Selengkapnya dan edisi editan ada di buku kumpulan cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, terbitan Ultimus Bandung, Desember 2017.

Kategori: Cerpen dan Tulisan.