Perkembangan Aksara di Jawa Barat

Jatinangor, 28 Februari 2013

Draft Usulan Penelitian Disertasi

Judul Tentative:

Aksara Sunda dari Masa ke Masa Perkembangan atau Pengembangannya?

(Telaah filologis dan ortografis teks-teks Sunda dari abad ke-15 hingga abad ke-21)

Oleh Sinta Ridwan

Aksara merupakan sistem simbol/tanda visual atau grafis yang tertulis pada media seperti batu, kayu, kain, tulang, kertas, gading, bambu, batu dan lainnya untuk mengungkapkan unsur-unsur yang ekspresif dalam suatu bahasa dan digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran. Sistem tulisan adalah isilah lain dalam menyebut aksara. Aksara berperan sangat penting dalam naskah-naskah, karena aksara adalah wujud tulisan yang merekam dan menyimpan pikiran, gagasan, perasaan, dan keterampilan nenek moyang yang telah melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi, sastra dan seni. Namun selain berisi pengetahun, hal mendasar adalah aksara dipakai sesuai kebutuhan pada masanya, misalnya aksara digunakan dalam urusan catat-mencatat di dunia perdagangan. Konon, kedudukan aksara dipengaruhi oleh penguasa yang berkuasa di segala bidang seperti pemerintahan, politik, ekonomi, dan agama.

Aksara juga merujuk suatu sistem penulisan. Artinya, aksara sebagai bentuk visual dan simbol dari suatu bahasa yang dapat diketahui maknanya dalam sebuah sistem penulisan (bisa dibaca) dengan konteks tertentu. Aksara itu sendiri merupakan media, yang muncul dari kepentingan untuk menyampaikan satu pesan dari satu pihak ke pihak lain. Dan pesan ini, dalam konteks studi ruang dan waktu di masa lampau, berarti aksara memiliki pesan-pesan yang disampaikan. Maksudnya saat membaca pesan-pesan melalui media aksara dapat membaca informasi mengenai hal-hal yang terjadi di masa lalu. Karena aksara dan sistem tulisan merupakan alat dalam suatu bentuk komunikasi untuk menyampaikan pesan dan informasi, maka yang penting diperhatikan adalah isi, tentang persoalan dari apa yang dikomunikasikan tersebut.

Aksara-aksara di Nusantara disebut sebagai silabis sistem tulisan yang menggunakan satu lambang untuk satu suku kata. Casparis (1975) membagi perkembangan aksara yang pernah dipakai di Nusantara ke dalam lima bagian: I. Aksara-aksara di Indonesia sebelum pertengahan abad ke-8: a. Aksara Palawa Awal (Early Pallava script);
b. Aksara Palawa Akhir (Later Pallava script). II. Aksara Kawi Awal (Early Kawi Script), c. 750-925: a. Fase Arkaik (Archaic phase); b. Bentuk Standar Kawi Awal (Standard form of Early Kawi);
c. Perkembangan aksara Nagari Awal (Early Nāgarī ). III. Aksara Kawi Muda/Akhir (Later Kawi script), c. 925-1250. IV. Aksara-aksara Jawa dan daerah pada periode Majapahit (c. 1250-1450). V. Aksara-aksara di Indonesia dari pertengahan abad ke-15 dan tulisan-tulisan asing, salah satu contoh aksara yang eksis pada masa tersebut adalah aksara di daerah Sunda.

Sunda dapat dikatakan sebagai salah satu etnis di Indonesia yang memiliki sejarah panjang mengenai tulisan. Mayoritas masyarakat Sunda tinggal di wilayah Jawa bagian barat yang sekarang menjadi Provinsi Jawa Barat. Terkadang Sunda diidentikkan dengan kebudayaan Kerajaan Sunda yang berdiri setelah Kerajaan Taruma, karna kata “Sunda” tertulis pada prasasti Kebonkopi yang dibuat tahun 932 M atau abad ke-10 yang merupakan masa kejayaan Kerajaan Sunda. Namun Sunda itu sendiri memiliki keragamaan budaya, mulai dari kesenian, nilai kearifan, sejarah, tradisi lisan hingga tradisi menulis.

Tradisi tulisan di wilayah Sunda yang beraneka bentuk aksaranya terjadi salah satunya karna kekuasaan dan penguasanya sering berganti, setiap kebijakan dan peraturan tergantung penguasa dan hal tersebut berpengaruh pada penggunaan bahasa dan aksara di wilayahnya. Aksara Sunda terbagi ke dalam periode, aksara Sunda kuno, aksara yang digunakan pada prasasti masa Kerajaan Sunda, seperti prasasti Kawali di Ciamis yang diperkirakan ditulis pada abad ke-14. Oleh Holle (1882) aksara Sunda dikatakan usianya tidak lebih dari sekitar 1500 tahun. Aksara Sunda yang termasuk kuno masih ditulis pada ke-18, buktinya ada naskah berjudul Waruga Guru ditulis di kertas Eropa (Ekadjati, 1988:11). Dengan kata lain, aksara Sunda yang termasuk kuno atau aksara Sunda kuno digunakan di wilayah Sunda  pada abad ke-14 hingga abad ke-18.

Selain aksara Sunda kuno, ada aksara Palawa yang ditemukan pada prasasti Ciauruteun berbahasa Sansekerta diperkirakan ditulis pada abad ke-5. Aksara pada prasasti tersebut dibuat dengan tujuan bisa dimengerti, dan dipahami pesan yang ingin disampaikan oleh pihak-pihak yang juga mengerti bahasa dan sistem penulisan Palawa. Artinya apabila ada sebuah prasasti berbahasa Sanskerta beraksara Palawa, yang bisa mengerti isi, pesan, atau maknanya, adalah siapa-siapa yang bisa membacanya dan memahami dengan baik karena mengerti bahasa Sanskerta dan aksara Palawa tersebut. Siapa-siapa yang tidak akan bisa mengerti apa maksud dan pesan yang dilihat dari prasasti berbahasa Sanskerta beraksara Palawa yang ada di wialayah Sunda adalah siapa-siapa yang menggunakan bahasa aksara lain, sebut saja orang Sunda.

Dengan demikian, dalam konteks ruang dan waktu di masa lampau, misalnya aksara Palawa digunakan pada masa Kerajaan Taruma abad ke-5, siapa yang dapat memahami dan mengerti pesan dan makna dari prasasti yang dibuat di masa itu tentulah pihak yang juga mengerti bahasa dan sistem tulisan yang digunakan dalam prasasti itu. Bisa jadi prasasti yang dibuat pada sebuah masa, seperti zaman Tarumanegara, itu ditujukan kepada pihak-pihak yang juga mengerti bahasa dan sistem penulisan yang digunakan.

Artinya, ‘produsen’ dari prasasti berbahasa Sanskerta dan beraksara Palawa itu adalah orang yang berbahasa Sanskerta dengan sistem penulisan beraksara Palawa. Siapa mereka? Kemungkinan pertama, mereka tentu saja orang-orang yang berasal dari masyarakat yang berbahasa Sanskerta. Maka pastilah berasal dari daerah dimana masyarakat berbahasa Sanskerta itu ada, yaitu di India. Kemungkinan kedua, mereka bukanlah orang dari masyarakat berbahasa Sanskerta itu sendiri tetapi mereka bisa dan menggunakan bahasa Sanskerta dan artinya mereka pernah berinteraksi intens dengan masyarakat berbahasa Sanskerta. Ini bisa dipertanyakan pada beberapa prasasti di wilayah Sunda yang ditemukan selain menggunakan aksara Palawa, seperti aksara Jawa kuno dan Sunda kuno. Prasasti-prasasti tersebut ditulis pada abad ke-5 hingga ke-14 yang isinya kegiatan-kegiatan kerajaan yang sifatnya administratif pada masa-masa Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh, dan terakhir Kerajaan Pajajaran yang hancur pada saat agama Islam masuk dan orang-orang Kolonial muncul sekitar awal abad ke-16. Setelahnya adalah kemunculan residen-residen di bawah kekuasaan Mataram dan Kolonial, seperti Karesidenan Sumedang Larang dan Kesultanan Cirebon dan Banten.

Dalam kurun waktu yang panjang, ada banyak aksara yang ditemukan di Tatar Sunda yang sesuai dengan beberapa kriteria sesuai periode menurut Casparis (1975). Aksara yang digunakan di Sunda sangat bergantung pada kondisi dan keadaan tertentu. Oleh karenanya, di Tatar Sunda yang notabenenya memiliki sejarah pergantian kekuasaan yang panjang, sangat berpengaruh pada bentuk aksara. Perkembangan aksara di Tatar Sunda berbeda dari masa ke masanya. Akibat dari penggunaan aksara yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Misalnya kembali pada masa Kerajaan Taruma abad ke-6 yang menggunakan aksara Palawa ditulis karena banyak kamu elit yang berasal dari India. Mengenai kedatangan India ke negeri ini: beberapa daerah di sepanjang jalur ini terlibat dalam kontak budaya melalui akulturasi dengan para perdagang dan pelayar, khususnya dari India. Kontak budaya inilah yang menyebabkan terjadi penyerapan unsur-unsur kebudayaan India dan menerapkannya dalam kehidupan masyarakat setempat. Proses ini pada akhirnya menyebabkan terbentuknya perubahan tatanan kehidupan sosial-budaya yang berlatarkan kebudayaan India, khususnya dalam bentuk institusi kerajaan, seperti Kerajaan Taruma di Jawa bagian barat (Djafar, 2010:28). Lanjutnya, dengan latar budaya seperti itu membuat masyarakat setempat mengalami perkembangan dalam kehidupan sosial-budayanya, seperti berkembangnya sistem religi baru yang bercorak Hindu dan Buddha, dan mulai dikenalnya sistem aksara dan bahasa khususnya aksara Palawa dan bahasa Sanskerta. Dan, kehadiran aksara Palawa yang telah mempengaruhi kehidupan budaya Sunda sejak awal abad ke-5 sering dikatakan sebagai masa pertama kemunculan tradisi keberaksaraan dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Akibat dari dugaan Casparis yang menyebutkan pada awal-awal berdirinya Kerajaan Taruma, masyarakatnya belum memiliki sistem aksara, khususnya aksara silabik. Masyarakat di kerajaan tersebut semula adalah masyarakat prasejarah yang masih belum mengenal tradisi bertulis. Oleh karena itulah maka dua raja pertama yang memerintah Kerajaan Taruma “meminjam” aksara Palawa dan bahasa Sanskerta untuk keperluan penulisan prasasti-prasastinya. Aksara Palawa masa Kerajaan Taruma ini termasuk dalam kelompok aksara Palawa awal (early Pallava script).

Pengaruh aksara dari budaya di Sunda terjadi juga pada masa awal perkembangan Islam. Pusat perdagangan pada masa itu di Tatar Sunda adalah Cirebon yang berdatangan saudagar muslim dari berbagai tempat, sehingga terjadi proses kontak budaya. Selain pedagang ada pun penyiar agama Islam yang ikut, lalu mereka memperkenalkan bahasa dan aksara Arab, sehingga tulisan tersebut digunakan selain untuk mempelajari Islam, juga untuk memenuhi kebutuhan dalam hubungan dengan orang-orang yang beraksara Arab. Perkembangan aksara di wilayah Sunda juga terjadi pada masa Kolonial sehingga masuk aksara Latin, selain Latin pada masa yang hampir bersamaan penggunaan aksara Pegon (Arab) dan Cacarakan (Jawa), karena pada masa itu wilayah Sunda dikuasai Mataram dan Kolonial. Lalu muncul sebuah pertanyaan besar mengenai perkembangan aksara di Sunda, apakah aksara lahir secara alami atau berkembang sesuai siapa yang berkuasa?

 ***

Di Sunda sistem penulisan Cacarakan digunakan selama beberapa abad, mulai abad ke-17 hingga ke-20. Aksara Cacarakan ini sangat dipengaruhi oleh sistem penulisan Palawa. Palawa adalah sebuah sistem penulisan yang digunakan oleh Dravida yang hidup di India Selatan dan Sri Lanka. Palawa juga digunakan dalam sistem penulisan Brahmana. Palawa dianggap oleh Casparis membangun sistem dasar penulisan di banyak negara di Asia Tenggara, seperti Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Filipina dan Indonesia. Aksara Palawa yang ditemukan di Tatar Sunda tertulis pada prasasti-prasasti di beberapa daerah. Selain prasasti yang telah disebutkan sebelumnya banyak peninggalan tertulis di wilayah Sunda berupa catatan panjang yang disebut naskah. Naskah-naskah di Sunda juga memiliki keragaman bahasa dan aksara sesuai periode penulisannya seperti naskah Sunda kuno ditulis sebelum Islam menyebar di wilayah Sunda dan naskah yang beraksara Cacarakan diduga ditulis setelah Mataram menguasai beberapa daerah di Tatar Sunda.

Naskah merupakan salah satu peninggalan sejarah berupa tulisan tangan (handschrift) leluhur yang panjang dan lengkap, karenanya naskah Sunda dianggap sebagai dokumen budaya Sunda. Dalam naskah-naskah Sunda tergambar jelas mengenai alam pikiran, adat-istiadat, kepercayaan, dan sistem nilai manusia Sunda pada masa lampau. Selain mengandung nilai kemanusiaan yang merupakan hasil karya, karsa, dan cipta para nenek moyang Sunda juga dianggap sebagai salah satu sumber yang memiliki otoritas dalam memberikan berbagai informasi mengenai masa lampau yang terjadi di wilayah Sunda.

Di Nusantara jumlah naskah sangat melimpah, untuk naskah Sunda sudah terkumpul di berbagai perpustakaan di dunia mencapai 1.500 buah naskah (Henri Chambert Loir dan Oman Faturahman, 1999: 181). Jumlah tersebut akan terus bertambah apabila mengumpulkan naskah-naskah koleksi perseorangan (Ekadjati, 1988). Namun di balik itu, naskah akan hilang dan berkurang karena materi naskah bukan terdiri dari bahan yang tahan lama, diperparah dengan kondisi iklim tropis Indonesia yang dapat mempercepat proses pelapukan bahan alami naskah.

Teks-teks pada naskah Sunda adalah teks yang ditulis di wilayah Sunda dan berisi cerita atau uraian yang berhubungan dengan wilayah dan orang Sunda sebagai inti dan pokok naskah (Ekadjati, 1988). Isi naskah-naskah Sunda seperti ajaran agama, sastra dan bahasa, hukum/aturan, mitologi, pendidikan, ilmu pengetahuan, primbon atau ramalan, sejarah, dan seni. Bahan naskah Sunda terdiri dari lontar, nipah, enau, kelapa, bambu, daluang dan kertas. Selanjutnya bila dilihat dari aksaranya, naskah Sunda yang berasal dari sebelum abad ke-18 menggunakan aksara Sunda kuno; aksara Arab Pegon untuk naskah-naskah sekitar abad ke-18; aksara Cacarakan bagi naskah-naskah yang ditulis abad ke-17, serta Latin bagi naskah-naskah yang ditulis pada abad ke-17.

Pengembangan aksara di Sunda terlihat sejak 16 abad yang lalu dimana aksara di Sunda dikuasai oleh aksara yang berasal dari wilayah Jawa bagian tengah (Cacarakan) karena pengaruh dari kekuatan Mataram, penggunaan aksara tersebut bahkan sampai akhir abad ke-20. Namun, ada beberapa ahli aksara dan naskah melakukan kegiatan “mengembalikan aksara Sunda yang sebenarnya” yang harus dipelajari di sekolah-sekolah di wilayah Sunda dengan memunculkan kembali aksara Sunda yang terinspirasi dari bentuk aksara Sunda kuno dan didukung oleh peraturan pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat mengenai penggunaan dan pelestariannya.

Pada masa Kolonial, pengembangan aksara Latin di Tatar Sunda juga berlaku. Aksara Latin dikembangkan dengan diperkenalkan kepada masyarakat atau elit Sunda oleh pendatang dari luar demi kepentingan tertentu, misalnya kerjasama di bidang ekonomi. Contohnya untuk kebutuhan menghitung komoditas maka aksara digunakan agar mencatat kegiatan yang dilakukan. Pihak Kolonial yang menggunakan aksara Latin dalam segala hal termasuk surat menyurat, pencatatan pajak hingga perjanjian pembagian kerja atau wilayah itu memperkenalkan juga kepada pribumi.

Adapun sebutan dari sarjana asing atau pribumi bahwa aksara Sunda berhubungan dengan keberadaan Hindhu-Buddha yang asalnya dari orang-orang India yang datang dan menetap juga melakukan kegiatan yang memberi inspirasi kepada penduduk setempat sehingga di kemudian hari memunculkan aksara yang sudah diadaptasi, sebut saja penggunaan aksara Palawa di wilayah Sunda. Namun, Damais (l951; 1955) menyatakan bahwa hipotesis para ahli tersebut belum benar-benar menegaskan dari mana dan bagaimana awal kehadiran serta mengalirnya arus kebudayaan India ke Nusantara kecuali diperkirakan tidak hanya berasal dari satu tempat saja, tetapi juga dari berbagai tempat lainnya. Walaupun tidak dipungkiri bahwa aksara-aksara di Nusantara memang menampakkan aliran India Selatan atau aliran India Utara, namun juga cukup rumit dan sulit ditentukan darimana kepastian awalnya sebab meskipun ada pengaruh India, tetapi kebudayaan India tidaklah berperan sepenuhnya terhadap lahirnya aksara di Nusantara khususnya suku bangsa yang menghasilkan sumber tertulis dengan mempergunakan aksara-aksara daerah yang tergolong kuno itu.

Damais menambahkan asumsinya bahwa “kebudayaan India datang ke Nusantara semata karena peran cendekiawan Nusantara sendiri yang telah turut ambil bagian ke kancah pergaulan politik internasional, tetapi tidak berarti bahwa di kala itu bangsa Nusantara belum mengenal aksara sebagai alat melakukan interaksi sosial dengan bangsa-bangsa lain. Wujud ataupun bentuk aksara yang berperan pada periode itu pun sesungguh-sungguhnya merupakan hasil daya cipta cendekiawan lokal yang telah meramu secara selektif unsur-unsur asing dari berbagai aliran yang pada klimaksnya mencapai kesepakatan gaya jenis dan bentuk aksara sesuai kondisi wilayah budaya. Saat berlangsungnya proses inovasi, masyarakat Nusantara telah mencapai kondisi siap mental, karena itu tatkala inovasi asing (luar) tiba, khususnya dari India, masyarakat Nusantara segera dapat mencerna dan menyesuaikan diri tentu dengan melalui pengetahuan dan pengalaman kebudayaan setempat” (Damais 1952; 1955).

Pernyataan Damais dan justifikasi Casparis sebelumnya mengenai kedudukan dan keberadaan aksara Sunda mendorong penelitian ini untuk mengkaji penyebab kemunculan aksara dan peranan aksara pada masanya, sehingga di saat penelitian dan penulisannya muncul masalah-masalah yang perlu dikaji secara mendalam. Apabila dirumuskan masalah tersebut sebagai berikut:

  1. Kapan aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat?
  2. Dimanakah aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat?
  3. Siapakah yang menggunakan/menulis/mencatat (pemakai aktif) aksara di wilayah Sunda pada tiap-tiap masa?
  4. Untuk apa aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat di wilayah Sunda?
  5. Bagaimana aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat di wilayah Sunda?
  6. Kenapa aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat di wilayah Sunda?

Tujuan yang diinginkan pada penelitian ini adalah menjawab masalah-masalah lewat kajian dan proses penelitian yang bertanggungjawab, sehingga penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menentukan periode, masa, waktu serta kapan tepatnya aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat.
  2. Menemukan tempat, wilayah atau posisi dimana aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat?
  3. Mengetahui siapa yang menggunakan/menulis/mencatat (pemakai aktif) aksara di wilayah Sunda di tiap-tiap periode.
  4. Mengetahui apa fungsi aksara Sunda saat digunakan/ditulis/dicatat di wilayah Sunda.
  5. Menjawab bagaimana caranya aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat di wilayah Sunda.
  6. Menjelaskan kenapa aksara-aksara Sunda digunakan/ditulis/dicatat di wilayah Sunda.

Adapun maksud (output) setelah mendapatkan, menemukan dan menyusun cerita perjalanan aksara dari masa ke masa maka diharapkan pengungkapan hasilnya memberi kontribusi pada cerita atau penyampaian sejarah perihal aksara-aksara di wilayah Sunda berupa jalan cerita yang lengkap, tidak kosong dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Setelah kemunculan cerita aksara ini memberikan manfaat bagi data sejarah, termasuk filologi dan paleografi mengenai aksara yang disebut aksara Sunda tersebut dengan cara memberi data-data lengkap, kategorisasi, periode, waktu dan latar belakang di balik aksara-aksara tersebut. Manfaatnya dapat memberikan kontribusi dan rekomendasi bentuk aksara yang melengkapi keberadaan aksara pada masa lalu, untuk masa kini, dan dipersembahkan kepada masa depan melalui bentuk yang telah diformulasi sedemikan rupa sebagai produk dari penelitian ini, kemungkinan besar berwujud digital sebagai rekomendasi aksara hasil dari penelitian ini lewat IT. Dan maksud dari penelitian ini adalah membuat rekonstruksi bagaimana kedudukan dan peranan aksara Sunda pada zaman kuno hingga modern di sekitaran wilayah Jawa Barat. Selain itu juga akan bermanfaat secara teoretis dan pragmatis.

Sumber data yang digunakan ini akibat dari masa yang dipilih adalah periode kuno hingga modern, maka perlu meluangkan satu bagian khusus untuk menganalisis sumber yang diinginkan. Adapun sumber-sumber data yang menjadi objek penelitian ini adalah artefak masa Kerajaan Taruma sekitar abad ke-5 hingga abad ke-7, artefak masa Kerajaan Sunda sekitar abad ke-8 hingga ke-10, kemudian artefak dan naskah-naskah tertulis pada Kerajaan Galuh juga Pajajaran yang ditemukan dan yang telah diteliti. Lalu naskah-naskah yang tertulis, catatan pedagang, arsip-arsip Kolonial, bahan ajaran agama, hingga bahan materi modern dari abad ke-11 hingga abad ke-21.

Objek penelitian yang dijadikan sebagai sumber data merupakan teks-teks yang terdapat pada catatan awal sejarah menulis di wilayah Sunda sampai masa digital semacam produk budaya modern yang mengandung aksara-aksara di dalamnya. Terlepas fokus pada aksara juga pada teks-teks pilihan sesuai dengan kebutuhan penelitian dari beberapa artefak yang dipilih. Adapun teks-teks yang dipilih sesuai dengan pegangan teori dan metode yang digunakan dalam membedah permasalahan, misalnya teks yang mengungkapkan kegiatan ekonomi dan politik pada masanya, sehingga dapat memberikan sedikit informasi atau banyak guna menambah data yang dipersiapkan sebagai bahan analisis.

Beberapa prasasti yang ditemukan pada abad ke-5 hingga abad ke-15 memberi kontribusi pada sumber data dalam penelitian ini, namun, ada sebuah kefokusan tersendiri pada artefak yang satu ini, yaitu naskah kuno. Beberapa naskah kuno, naskah klasik, naskah lama, dan naskah tua yang akan digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan periodenya masing-masing adalah sebagai berikut yang telah ditemukan dan telah dilakukan penelitian di antaranya oleh Holle, Pleyte, Poerbatjaraka, Noorduyn, Atja, Ayatrohaedi, Danasasmita, Pradotokusumo, Darsa, Kalsum, Wartini, Gunawan dan Ruhimat adalah Kabuyutan Galunggung, Carita Ratu Pakuan, Fragmen Carita Parahyangan, Carita Parahyangan, Séwaka Darma, Kawih Paningkes, Jati Niskala, Darmajati, Bujangga Manik, Kisah Sri Ajnyana, kemudian naskah-naskah yang ditulis pada masa pesantren, kolonial, residen, kemerdekaan, masa sekarang (modern), dan sekolah-sekolah yang mengajarkan aksara.

Metode dan teknik penelitian diawali dengan langkah-langkah mengumpulkan semua data mengenai aksara yang pernah ditulis di Tatar Sunda, mulai dari sumber primer dan sekunder, namun yang paling diutamakan adalah pada naskah-naskah yang lahir di wilayah Sunda. Setelah dikumpulkan semua bentuk dan wujud aksara, kemudian dikategorikan sesuai periodenya, mulai dari periode penulisan hingga susunan abjadnya. Langkah selanjutnya adalah menganalisis masing-masing periode, diawali fokus pada inspirasi bentuk hingga mengungkapkan latar belakang aksara pada periode tersebut lewat teori-teori yang dianggap bisa menemukan jawaban. Dan terakhir adalah menghubungkan benang-benang merah antar periode dan menemukan kekosongan pada ruang-ruang gelap di setiap masa hingga mencapai sebuah cerita perjalanan panjang mengenai kelahiran hingga kematian kelompok aksara di wilayah Sunda. Adapun beberapa teori yang dianggap dapat mengupas permasalahan pada penelitian ini adalah:

  1. Dikarenakan penelitian ini menggunakan objek yang terdiri dari artefak dan naskah kuno yang lahir pada sebuah periode tertentu maka harus ada suatu prosedur atau proses untuk mendapatkan objek-objek tersebut. Pendekatan historiografi dapat digunakan pada awal pendataan objek penelitian, yaitu tahapan heuristik yang merupakan proses awal untuk mencari dan menemukan sumber, yang artinya sebuah kegiatan untuk menghimpun jejak-jejak masa lampau yang mengandung tulisan atau aksara. Pendekatan historiografi diharapkan dapat menyajikan jalan cerita perjalanan sejarah aksara di wilayah Sunda.
  2. Setelah mengumpulkan semua data aksara pada naskah-naskah dan artefak lainnya, langkah selanjutnya adalah periodisasi. Menempatkan aksara-aksara sesuai dengan waktu dan bentuknya. Adapun kritik untuk menyelidiki dan menilai secara kritis terhadap data-data yang telah dikumpulkan pun berlaku dalam hal pengkategorian aksara-aksara tersebut. Karena rentang waktunya yang panjang, yaitu abad ke-5 sampai ke-21 maka harus ada klarifikasi soal metode yang dipakai dalam menggambarkan periode bentuk/wujud aksara di setiap masa kemunculannya. Juga perlunya klarifikasi tentang kriteria yang jelas dan yang akan digunakan dalam pemilahan atau pengkategorian aksara menurut catatan sejarahnya selama 16 abad tersebut.
  3. Masing-masing aksara sesuai periodenya dianalisis menggunakan teori-teori yang dianggap dapat membantu mengungkapkan keberadaan aksara dan segala aspeknya.
  4. Menggunakan kacamata filologis dalam memandang aksara-aksara yang tersusun ke dalam kalimat membuat kajian ini paling utama dalam penelitian ini. Walaupun tidak melewati tugas seorang filolog yang paling utama yaitu mengedisi teks secara utuh dalam satu naskah, tetapi penelitian ini mengupas kalimat-kalimat yang terdiri dari aksara-aksara yang digunakan, serta melakukan edisi kecil-kecilan terhadap teks yang dianggap mewakili persoalan dan diharapkan dengan menggunakan langkah-langkah filologis dapat menentukan dengan tepat keberadaan aksara pada masanya dilihat dari teks yang dialihaksarakan dan dialihbahasakan, plus kegiatan ini mengecek penelitian sebelumnya, secara tidak langsung dalam tahap ini melakukan edisi teks dan kritik teks, yang merupakan tugas utama dalam kajian filologis untuk dapat menghasilkan bahan yang bertanggung jawab untuk diinterpretasikan setelahnya.
  5. Dengan melihat bentuk aksara-aksara tiap periode atau masanya, maka pendekatan yang dapat dipakai untuk membedah makna dan fungsi aksara lebih mendalam sebagai proses analisis pertama adalah melakukan telaah secara ortografi yang melihat bentuk sebagai penyampai pesan, maksud dan tujuan. Ortografi dapat menggambarkan bunyi bahasa yang diwujudkan oleh tulisan lewat aksara, termasuk sistem ejaannya.
  6. Adapun anggapan bahwa aksara termasuk ke dalam simbol maka telaah yang tepat adalah menggunakan semiotika sebagai alat untuk mengungkapkan simbol dan tanda-tanda visual yang mengandung hal-hal verbal yang menyampaikan sebuah informasi.
  7. Tahapan selanjutnya adalah pengungkapan makna di balik simbol yang didapat dari wujud aksara atau bentuk aksaranya itu sendiri berdasarkan teks-teks yang mewakili keberadaan posisi aksara tersebut dengan menggunakan kajian hermeneutik. Pada dasarnya hermeneutik adalah kajian penafsiran terhadap teks yang mengandung nilai-nilai pemikiran pengarang, juga sebagai ilmu pemahaman yang merupakan tahap awal dalam pendekatan pengkajian sebuah teks. Pemahan yang menjadi penghubung antara pembaca dengan pengarang dan menghasilkan pemahaman yang bersifat bahasa dan psikologis.
  8. Adapun pembedahan secara teks, aksara, dan konteks, akan memunculkan latar belakang yang membuat aksara-aksara tersebut lahir dan mati. Salah satu alat pembedahnya untuk mengetahui kelahiran dan kematian aksara dengan menggunakan teori hegemoni yang dicetuskan oleh Gramsci. Hegemoni adalah istilah sebuah proses kekuatan pada kekuasaan. Dalam hal ini kemunculan dan penghilangan aksara dipengaruhi oleh sebuah kekuasaan yang menghegemoni (menguasai) sebuah keadaan sosial.
  9. Untuk memperkuat argumen mengenai hegemoni, penelitian kali ini akan menginterpretasikan perihal kondisi aksara yang berhubungan dengan keadaan sosial, ekonomi, maupun politik pada sekelompok masyarakat. Yaitu kajian materialisme-historis yang diharapkan dapat mencari penyebab dan alasan bagaimana aksara dapat dibentuk, apakah dipengaruhi oleh hegemoni politik, kegiatan sosial, kesadaran beragama atau situasi politik yang terjadi pada masa itu.
  10. Dan terakhir adalah penggunaan metode sistem informatika lewat teknologinya untuk membuat bentuk digital aksara pada awal pendataan hingga perumusan aksara yang akan direkomendasikan sebagai hasil penelitian ini.

Referensi:

  • Chambert-Loir, Henri dan Oman Faturahman. 1999. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-naskah Indonesia Sedunia. Jakarta: EFEO dan YOI.
  • de Casparis, J.G. 1975. Indonesian Palaeography (A History of Writing in Indonesia from the Beginning to C.A.D. 1500). Handbuch der Orientalistik. Leiden/Koln
  • Damais, L-Ch. 1952. Etudes d’Epigraphie Indonesienne: III. Liste des Principales Inscription atees de l’Indonesie (edisi ke-BEFEO XLVI)
  • —————-. 1955. Epigrafi dan Sejarah Nusantara (Pilihan Karangan). Seri Terjemahan Arkeologi No.3. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan EFEO
  • Ekadjati, Edi. S. 1988. Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Unpad kerjasama dengan The Toyota Foundation.
  • Djafar, Hasan. 2010. Kompleks Percandian Batujaya: Rekonstruksi Sejarah Kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Bara Bandung: Kiblat Buku Utama/EFEO/Puslitbang Arkenas/KITL
  • ——————. 2010. “Prasasti-prasasti Buddhis dari Kompleks Percandian Batujaya (Catatan Pendahuluan)”, Jurnal Sosio e-Kons, II93), hal. 70-83.
  • Sedyawati, Edi. 1978. Tarumanagara Penafsiran Budaya: Diskusi Panel Menggali Kembali Sejarah Tarumanagara. Jakarta: Universitas Tarumanagara
  • Suryajaya, Martin. 2012. Materialisme Dialektis: Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer, Yogyakarta: Resist Book

*Foto di Museum Sanabudaya, Yogyakarta, 2009.

Kategori: Tulisan dan Ulasan.