Perpustakaan Digital

Oleh Sinta Ridwan |

Ini adalah tugas kuliah apa ya, aku lupa, tetapi di file judulnya Tugas Perpustakaan, sepertinya mata kuliah Manuscript Preservation. Dan sepertinya tulisan ini kolabs dengan Pak Agus, kakak tingkat aku di filologi, dia kerja di BPNB Bandung. Aku mau rilis tulisan ini tujuannya buat sama-sama belajar saja.

Konsep Perpustakaan Digital

Latar Belakang

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini antara lain ditandai perubahan perilaku dalam pencarian informasi (information seeking) yang berdampak bagi lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang jasa informasi. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertugas menyimpan, mengolah dan mendistribusikan informasi dituntut agar mampu memberdayakan pengetahuan dengan menggali potensi yang dimiliki perpustakaan.

Sumber belajar pada dasarnya sangat banyak dan beragam. Keberagaman tersebut akan memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak positif misalnya proses pembelajaran akan berlangsung lebih baik, menyenangkan dan sesuai kebutuhan. Dampak negatif misalnya guru memiliki tugas yang tidak mudah dalam menentukan sumber belajar maupun media belajar yang sesuai dengan pembelajaran yang akan diberikan. Terlebih jika ada kendala misalnya guru tidak tahu tentang peta sumber belajar yang dapat dioptimalkan.

Kemajuan teknologi informasi menjanjikan kemudahan dalam manajemen pengetahuan (knowledge management) terutama bagi lembaga dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronis termasuk perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi penggunanya. Bila dahulu fungsi perpustakaan lebih berkonsentrasi pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik seperti dokumen tercetak dengan dilengkapi sistem katalog kartu, maka kini dengan berkembangnya teknologi informasi perpustakaan dituntut menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk data elektronik.

Tujuan

Teknologi internet yang merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari membuat pada perilaku masyarakat pencari informasi mengalami banyak perubahan. Sumber daya elektronik yang tersedia melalui internet menjadi sasaran pertama bagi para pencari informasi. Perpustakaan tradisional merupakan penyedia utama sumber daya informasi dihadapkan pada tantangan baru untuk menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu serta berasal dari banyak sumber.

Tujuan pengembangan manajemen informasi digital:

  1. Meningkatkan akses ke sumber daya informasi tersedia dan layanan perpustakaan yang diselenggarakan oleh seluruh perpustakaan yang tergabung dalam jaringan (resource sharing).
  2. Mempromosikan pemahaman dan kesadaran antarbudaya dalam lingkup nasional, menyediakan sumber belajar, mendorong ketersediaan bahan pustaka dan informasi yang mengandung nilai budaya setempat (local content).
  3. Melestarikan sumber informasi tentang budaya Indonesia.
  4. Mendukung penelitian ilmiah melalui internet.

Permasalahan

Kehadiran perpustakaan sebagai tempat untuk mencari ilmu dan menggali informasi tentang pelbagai hal nampaknya memang tidak bisa disingkirkan dalam peradaban kehidupan manusia yang semakin pesat berkembang. Namun perpustakaan yang selama ini hadir ternyata hanya dipandang sebelah mata oleh masyarakat kita. Tidak menjadi barang sekunder apalagi primer. Pada akhirnya media informasi yang tersedia menjadi barang lapuk dan rapuh, sendiri, sepi, dan tidak banyak yang menggauli.

Pertanyaan kemudian hadir, ada apa dengan masyarakat kita? Pertanyaan yang lebih ekstrim bergulir, ada apa dengan konsep perpustakaan kita? Dua pertanyaan di atas agaknya penting untuk kita kaji, sebagai bahan untuk melejitkan pemahaman kita tentang masyarakat sebagai subjek yang seharusnya menggauli perpustakaan sebagai objek yang tidak hanya menyediakan buku.

Penting untuk mengingatkan kembali bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bertitik tolak pada wacana-wacana lisan atau yang kita kenal dengan konsep aliterat, mereka bisa membaca tetapi tidak dijadikan kebiasaan dalam kehidupan keseharian.Menjadikan informasi hanya sebatas hiburan dan saran rekreasi. Pentingnya membaca tidak berkorelasi dengan pentingnya mencari uang misalnya, yang pada akhirnya membaca hanyalah menjadi penting bagi orang-orang yang ingin membunuh waktu.

Definisi Perpustakaan Digital

William Arms mendefinisikan perpustakaan digital sebagai “kumpulan informasi yang disimpan dalam format digital dan dapat diakses lewat jaringan”. Dia menyebutkan beberapa keuntungan berkaitan dengan perpustakaan digital. Pertama, karya-kaya ilmiah dapat ditulis dengan mudah. Kedua, perpustakaan-perpustakaan dapat menjaga dan memelihara koleksi-koleksinya dengan murah dan mudah. Ketiga, dimungkinkan sebagian besar orang berkomunikasi dengan cara yang mudah, murah, dan cepat. Ini dapat terealisir dengan adanya e-mail dan internet. Semua hal tersebut menunjukkan bahwa informasi digital dapat diperoleh dengan mudah kapan saja.

Selanjutnya, Michael Lesk mengajukan definisi perpustakaan digital sebagai kumpulan informasi baik yang dihasilkan lewat digitalisasi maupun pengorganisasian, memberikan kita kemampuan yang belum pernah diberikan perpustakaan tradisional (“a collection of information that is both digitized and organized, gives us powers we never had with traditional libraries”). Dia menyebutkan bahwa membangun perpustakaan digital tidak hanya persoalan menimbun informasi dalam harddisk, namun perpustakaan digital itu melibatkan penciptaan semua penataan mesin dan manusia, mungkin juga budaya, di mana orang-orang dapat menemukan informasi dan menggunakannya. Dengan demikian, dia menegaskan bahwa perpustakaan digital tidak akan ada gunanya jika pengguna tidak menggunakan dan memanfaatkannya.

Gerakan perpustakaan digital merupakan pengembangan yang paling mengejutkan sekaligus menjanjikan untuk perpustakaan semenjak otomasi perpustakaan (library automation) telah dimunculkan hampir tujuh abad yang lalu. Bagaimanapun, kemajuan-kemajuan yang dihasilkan lewat pengembangan perpustakaan digital harus memperhatikan lebih cermat pada proses digitalisasi apakah proses tersebut dikerjakan sendiri atau tidak. Adanya aktivitas lokal dalam produksi sumber-sumber digital akan berpengaruh pada kualitas dan siklus hidup sumber-sumber tersebut.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini antara lain ditandai perubahan perilaku dalam pencarian informasi (information seeking) yang berdampak bagi lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang jasa informasi dan perpustakaan. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertugas menyimpan, mengolah dan mendistribusikan informasi dituntut agar mampu memberdayakan pengetahuan dengan menggali potensi yang dimiliki perpustakaan.

Kemajuan teknologi informasi menjanjikan kemudahan dalam manajemen pengetahuan (knowledge management) terutama bagi lembaga dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronis termasuk perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi penggunanya. Bila dahulu fungsi perpustakaan lebih berkonsentrasi pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik seperti dokumen tercetak dengan dilengkapi sistem katalog kartu, maka kini denganberkembangnya teknologi informasi perpustakaan dituntut menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronik yang syarat dengan pengetahuan tak terstruktur.

Dalam hal ini, satu contoh yang dikemukakan Pace adalah bahwa tuntutan terhadap kandungan informasi digital (digital content) sering lebih diutamakan daripada mementingkan kualitas terbaik untuk proses produksi digitalnya. Ini menunjukkan bahwa keputusan yang dihasilkan oleh banyak perpustakaan saat ini lebih mengutamakan ketersediaan isi kandungan sumber informasi digital daripada kualitas atau ketahanannya untuk akses jangka panjang. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa tujuan utama digitalisasi sumber-sumber informasi adalah untuk meningkatkan akses ke karya-karya ilmiah serta melakukan aspek preservasi dengan baik agar tujuan akses jangka panjang ke sumber-sumber tersebut dapat terealisir.

Berkenaan dengan hal ini, Pace mengingatkan kita bahwa perpustakaan-perpustakaan digital lokal saat ini cenderung meniru-niru tanpa memberikan perhatian yang cukup memadai pada aspek kualitas dan standar penciptan sumber-sumber digital, karena mereka lebih cenderung pada keuntungan ekonomi yang dihasilkannya untuk jangka pendek.

Konsep Knowledge Management dalam Teknologi Informasi

Konsep pemberdayaan pengetahuan (knowledge enabler) pada hakikatnya adalah merupakan praktek pada konsep manajemen pengetahuan (knowledge management). Konsep manajemen pengetahuan berasal dan berkembang di dunia bisnis, diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki pengoperasian perusahaan dalam rangka meraih keuntungan kompetitif dan meningkatkan laba. Manajemen pengetahuan digunakan untuk memperbaiki komunikasi di antara manajemen puncak dan di antara para pekerja untuk memperbaiki proses kerja, menanamkan budaya berbagai pengetahuan, dan untuk mempromosikan dan mengimplementasikan sistem penghargaan berbasis kinerja di dalam berbagai literatur, terutama pada awal berkembangnya pemanfaatan internet pada 1990-an, yang menjadi pendorong utama berkembangnya penerapan manajemen pengetahuan.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, hingga saat ini definisi manajemen pengetahuan masih beragam di antara para penulis. Perbedaan tersebut disebabkan oleh sulitnya untuk membedakan secara tegas antara informasi dan pengetahuan. Pemahaman konsep pengetahuan dan informasi menimbulkan berbagai penafsiran berbeda-beda. Para ahli dibidang informasi menyebutkan bahwa informasi adalahpengetahuan yang disajikan kepada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami; atau data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti. Sedangkan pengetahuan berasal dari informasi yang relevan yang diserap dan dipadukan dalam pikiran seseorang. Sedangkan pengetahuan berkaitan dengan apa yang diketahui dan dipahami oleh seseorang. Informasi cenderung nyata, sedangkan pengetahuan adalah informasi yang diinterpretasikan dan diintegrasikan.

Menurut Koina dalam Siregar (2005) manajemen pengetahuan adalah suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua aset informasi suatu organisasi.

Laudon (2002) manajemen pengetahuan berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut. Teknologi informasi memainkan peranan penting dalam manajemen pengetahuan sebagai pemungkin proses bisnis yang bertujuan yang bertujuan untuk menciptakan, menyimpan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan. Menurut Kim yang dikutip Siregar (2005) bahwa pengetahuan adakalanya dikategorikan sebagai terstruktur, tidak terstruktur, eksplisit atau implisit.

Jika pengetahuan diorganisasikan dan mudah didiseminasikan disebut pengetahuan terstruktur. Pengetahuan yang tidak terstruktur dan dipahami, tetapi tidak dengan jelas dinyatakan adalah pengetahuan implisit. Pengetahuan implisit juga disebut tacit (dipahami tanpa dikatakan), yaitu keahlian dan pengalaman pekerja yang belum didokumentasikan secara formal Untuk mengkonversipengetahuan implisit ke dalam pengetahuan eksplisit, pengetahuan tersebut harus diekstraksi dan diformat.

Penerapan Manajemen Ilmu Pengetahuan Pada Perpustakaan Digital

Pada prinsipnya manfaat dari konsep manajemen pengetahuan adalah untuk meningkatkan kinerja perpustakaan. Manajemen pengetahuan dapat dijadikan sebagai pemicu agar pustakawan lebih inovatif dan kreatif dalam menyiasati cakupan muatan elektronik yang harus dicakup dalam konsep perpustakaan elektronik/digital yang telah dikembangkannya selama ini. Masih banyak muatan pengetahuan eksplisit yang belum tersedia dalam bentuk elektronik yang sesungguhnya dibutuhkan oleh para pengguna perpustakaan. Pustakawan juga harus berupaya mengidentifikasi pengetahuan implisit dan mengembangkan sistem yang diperlukan untuk menanganinya. Walaupun hal yangdisebutkan terakhir bukan pekerjaan yang mudah, tetapi prakarsa ke arah itu harus ditumbuhkan dan sedapat mungkin diimplementasikan.

Seperti telah disebutkan di atas, manajemen pengetahuan di lingkungan perpustakaan dapat dikembangkan dan diimplementasikan sebagai perluasan prakarsa perpustakaan elektronik. Bagi perpustakaan yang telah mengembangkan perpustakaan elektronik selama ini, yang diperlukan adalah mengintegrasikan konsep manajemen pengetahuan dalam hal pemerolehan, pengorganisasian, pemeliharaan.

Pendistribusian pengetahuan termasuk pengetahuan informal, tidak terstruktur, dan eksternal yang menyangkut lembaga induknya. Perpustakaan yang belum memiliki perpustakaan elektronik harus mulai mengembangkannya kalau masih tetap ingin dipandang sebagai penyedia informasi dan pengetahuan yang utama. Untuk itu, berbagai perangkat pendukung yang diperlukan harus dipersiapkan termasuk organisasi dan kebijakan yang harus ditetapkan pada tingkat institusi indukperpustakaan. Di dalam organisasi perpustakaan harus terdapat satu bagian atau satu tim yang menangani pengorganisasian dan penyediaan pelayanan manajemen pengetahuan.

Bagian atau tim ini sebaiknya diintegrasikan dengan pelayanan perpustakaan elektronik dengan cakupan muatan yang lebih luas tidak hanya terbatas pada proses pendigitalisasian dokumen cetak yang diterima oleh perpustakaan. Dengan suatu kebijakan organisasi induk, sejumlah naskah elektronik dari berbagai jenis dokumen, yang selama ini tergolong kelabu, dapat mengalir ke perpustakaan dan dapat segera dimuat pada situs web seperti yang telah dilakukan oleh sejumlah perpustakaan selama ini. Sebagai cara untuk meningkatkan kualitas perpustakaan, maka pustakawan sudah selayaknya menguasai pengetahuan sistematis (eksplisit) maupun pengetahuan yang tidakterstruktur (tacit).

Selain itu, perpustakaan harus aktif mengidentifikasi berbagai pengetahuan yang diciptakan di lingkungannya baik yang merupakan karya perorangan/kelompok maupun karya institusional. Dilingkungan organisasi perpustakaan karya perorangan/kelompok termasuk antara lain: disertasi dan tesis, makalah, baik yang dipresentasikan dalam suatu pertemuan ilmiah maupun yang ditulis untuk didokumentasikan di perpustakaan; handout; artikel jurnal yang diterbitkan di perpustakaan sendiri; laporan penelitian; laporan pengabdian kepada masyarakat; artikel surat kabar, bulletin dan laporan berkala internal; monograf dan proposal penelitian.

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah bahwa perpustakaan-perpustakaan digital merupakan lingkungan informasi yang terus-menerus mengalami perubahan dalam cara-cara yang signifikan. Beberapa perpustakaan digital mementingkan penyediaan akses jarak jauh untuk institusi-institusi informasi seperti perpustakaan-perpustakaan umum dan perguruan tinggi. Sementara itu, usaha-usaha yang sungguh-sungguh sedang dikembangkan untuk koleksi digital yang lebih khas seperti yang dilakukan oleh perpustakaan khusus. Berkaitan dengan pengembangan perpustakaan-perpustakaan digital, mereka akan tergantung pada pengertian yang lebih baik bagaimana mengkomunikasikan perpustakaan digital dengan para penggunanya.

Dengan makin berkembangnya teknologi & jaringan informasi global diharapkan:

  • Perpustakaan harus memperluas layanannya dalam menyediakan informasi.
  • Tidak lagi terbatas pada aktifitas lokal.
  • Terbuka untuk nasional, regional & internasional.

Berbeda dengan gagasan sebelumnya, Fecko memandang bahwa perpustakaan digital menawarkan keuntungan-keuntungan yang cukup besar dan pemanfaatannya dipandang sebagai wilayah uji coba yang menantang dan sangat berguna. Beberapa keuntungan yang disebutkan itu memberikan wawasan baru dalam pengembangan perpustakaan.

  • Perpustakaan digital menciptakan dimensi baru dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan karena pengguna melakukan penelusuran sejumlah besar informasi dengan cepat.
  • Dari sisi koleksi, perpustakaan digital dapat menolong memperkecil batasan-batasan antara informasi “kaya” dan “miskin” lewat pemberian akses universal terhadap informasi.
  • Koleksi digital mendorong pengguna untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran karena mereka dapat mencari langsung informasi yang diperlukan daripada harus mengakses sejumlah besar informasi pemanfaatannya masih merupakan kemungkinan. Dengan demikian, hak-hak peminjaman dan lokasi fisik tidak lagi dipandang sebagai persoalan.
  • Perpustakaan digital menyediakan fungsi utama karena melayani sumber-sumber informasi dalam format dokumen dan multimedia. Dokumen-dokumen tersebut dapat ditambahkan dan ditemukan-kembali dari perpustakaan.

Ujungberung V, 11 Februari 2009

Kategori: Artikel dan Tulisan.