Perpustakaan Manuskrip

Oleh Sinta Ridwan |

Saat semester 2 di kuliah filologi waktu itu, ada seminar dari kepala Perpusnas ngomongin soal koleksi manuskripnya. Kita diminta bikin review soal konsep perpustakaan untuk koleksi khusus ini. Jadi beginilah yang aku bikin.

Konsep Perpustakaan Manuskrip

Pengertian Manuskrip

Manuskrip Nusantara adalah hasil karya cipta budaya yang ditulis tangan di atas media daun lontar, daun nipah, papirus, deluang, kain, tanduk, rotan, bambu, kulit kayu, dan kertas eropa. Manuskrip memuat akan sejarah, cerita rakyat, hikayat, seni budaya, keagamaan, pengobatan tradisional, pertanian, hukum, adat istiadat, dll. “Buku tua” yang layak disebut manuskrip umurnya sekurang-kurangnya telah berusia 50 tahun.

Adapun undang-undang yang melindungi manuskrip adalah:

  • UU No. 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Misalnya, membawa manuskrip ke luar wilayah RI tanpa seizin pemerintah merupakan pelanggaran pidana.
  • UU No. 43/2007 tentang Perpustakaan. Meliputi antara lain kewajiban masyarakat menyimpan, merawat dan melestarikan manuskrip yang dimilikinya dan mendaftarkannya ke Perpusnas; Perpusnas bertanggung jawab mengindentifikasi dan mengupayakan pengembalian manuskrip yang berada di luar wilayah RI.

Manuskrip di Perpusnas sendiri misalnya, berasal dari pengalihan Museum Nasional pada 1980. Pada jaman pemerintahan Gus Dur, banyak memperoleh manuskrip-manuskrip dari pesantren. Hasil penelitian di Perpusnas sendiri, antaranya manuskrip Merapi-Merbabu. Dan hasil repatriasi adalah manuskrip Negarakrtagama pada 1974. Juga ada kehiatan hibah dari pembelian sekitar 10.000 judul. Sekitar 6.000 (60%) sudah dalam bentuk mikrofilm.

Manuskrip saat ini bisa dialihmediakan dalam format digital. Dengan alasan manuskrip diselamatkan dari kerusakan yang lebih parah. Apabila manuskrip tidak dapat dibaca, maka perpustakaan punya salinannya. Sehingga para peneliti, yaitu filolog, tidak kehilangan jejak.

Permasalahan yang muncul ketika perpustakaan lebih mengkhususkan diri menyimpan dan mengoleksi manuskrip adalah:

  • Minimnya informasi akan pentingnya manuskrip.
  • Kurang paham akan teknik dan prosedur pelestarian manuskrip.
  • Langkanya spesialis manuskrip.
  • Sense of belonging yang rendah.
  • Masih dibayangi keuntungan sesaat.
  • Terkait mistik dan takhayul.
  • Kurang memadainya tunjangan jabatan konservator.
  • Belum optimalnya kerja sama dengan lembaga terkait.
  • Kendala geografik.

Sehingga manuskrip-manuskrip di Nusantara belum terapresiasikan oleh perpustakaan yang ada.

Langkah-Langkah Penanggulangan

Keberadaan masalah terhadap manuskrip-manuskrip di Nusantara, memberikan pekerjaan rumah bagi sebuah perpustakaan. Adapun langkah-langkah penanggulangan terhadap masalah tersebut adalah:

  • Inventarisasi manuskrip, dengan pendataan yang lengkap maka catatan tentang keberadaan, asal-usul, umur, hingga telaah komplit mengenai manuskrip harus dilakukan agar tidak tercerai-berai.
  • Memberi pengertian kepada pemilik, pihak perpustakaan harus memberi pengertian bahwa manuskrip adalah benda yang sangat berharga sehingga harus diselamatkan dengan cara disimpan di perpustakaan, agar dapat dilestarikan, apabila ada kemungkinan dana pihak perpustakaan dapat membeli manuskrip dari masyarakat tersebut.
  • Kerja sama dengan lembaga terkait dan tokoh masyarakat, sangatlah penting bila dapat bekerja sama dengan lembaga terkait dan tokoh masyarakat karena manuskrip adalah benda yang sangat berharga dan perlu mendapatkan perhatian dari banyak pihak, sehingga dapat lebih mudah dikaji dan ditelaah isinya, sehingga akan semakin lebih berguna untuk masyarakat.
  • Asuransi, keberadaan manuskrip harus dapat penjagaan dan pemeliharaan sehingga membutuhkan pula sebuah asuransi yang menjamin keberadaannya. Manuskrip sangat rawan akan kerusakan dan kehilangan.

Kegiatan yang harus dilakukan untuk menjaga manuskrip adalah sebagai berikut:

  • Pelestarian (preservation), mencakup unsur manajemen, termasuk tata cara penyimpanan dan berbagai peralatannya, SDM, teknik dan metode.
  • Pengawetan (conservation), kegiatan yang meliputi perawatan, pengawetan dan perbaikan bahan pustaka.
  • Perbaikan (restoration), teknik yang digunakan oleh petugas dalam memperbaiki bahan pustaka yang rusak agar kembali mendekati kondisi semula.

Pelestarian manuskrip dilakukan secara khusus, karena manuskrip adalah benda khusus. Perawatannya hampir sama dengan buku lama biasa namun ada beberapa hal yang berbeda, di antaranya adalah:

  • Pelestarian manuskrip;
  • Perawatan (preventif);
  • Ruangan khusus;
  • Fumigasi;
  • Pembersihan;
  • Environmental control;
  • Perbaikan (kuratif);
  • Deasidifikasi;
  • Bleaching;
  • Lining;
  • Laminasi;
  • Enkapsulasi;
  • Penambalan & penyambungan; dan
  • Penjilidan;

Jenis pelestarian dan kaitannya dengan bahan pustaka dapat dirumuskan sebagai berikut:

– Pelestarian fisik:

  • Mikrografi (microfilm/microfis);
  • Digitalisasi; dan
  • Fotografi/reprografi.

– Pelestarian isi:

  • Transliterasi (alih aksara);
  • Terjemahan (alih bahasa);
  • Kajian; dan
  • Tulis ulang.

Ujungberung V, 11 Februari 2009

Kategori: Tulisan dan Ulasan.