Pikiran Rakyat 2011

Pikiran Rakyat/Jumat, 4 November 2011

Memboyong yang Kuna kepada yang Muda

SINTA RIDWAN

♦ Lahir: Cirebon, 11 Januari 1985

♦ Pendidikan: S-2 Jurusan Filologi, Universitas Padjadjaran, Bandung

♦ Karya tulis: – Secangkir Bintang (Antologi Puisi, Indie, 2008) – Berteman dengan Kematian (Biografi, Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2010)

PERJUANGAN Sinta Ridwan (26) mengajak anak-anak muda Kota Bandung belajar menulis dan membaca aksara Sunda kuna tidak sia-sia. Sejak Sinta membuka kelas itu pada 2009 lalu, muridnya sudah mencapai lebih dari 300 orang. Muridnya anak SMA, mahasiswa, seniman, dan guru. “Setiap Jumat malam saya mengajar mereka di Gedung Indonesia Menggugat. Kelas yang saya buka ini gratis,” kata Sinta di Kampus Unpad, JIn. Dipati Ukur, Bandung, Rabu (2/11).

Ide membuka kelas aksara Sunda kuna itu terbesit ketika Sinta melihat kenyataan, peminat jurusan Filologi itu sedikit. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Dari tahun ke tahun, peminatnya juga terus berkurang. Ide membuka kelas pun mengkristal. Ide itu semula diunggah di Facebook. Tak disangka-sangka, ide itu bersambut.

Kelas pun dibuka dengan jumlah murid yang terus bertambah. Muridnya kini sudah menguasai tiga jenis aksara Sunda, yakni aksara Sunda baku, Hanacaraka dan aksara Sunda kuna. “Pada 20 November mendatang, saya akan membawa mereka ke Astana Gede, Kawali. Di sana ada beberapa lempengan batu (situs) kuna, yang ada tulisan aksara Sunda kunanya,” kata Sinta yang juga dikenal sebagai penyair. Selepas SMA di Cirebon, Sinta bukan siapa-siapa. Sinta masuk ke Bandung untuk kuliah di jurusan Bahasa Inggris di STBA Yapari-ABA Bandung. Sebelum kuliah, Sinta bekerja serabutan, mulai dari menjadi pelayan toko sampai jadi tukang cuci piring di rumah makan.

Keseharian Sinta tampaknya memang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas. Sebelum melanjutkan kuliah di Unpad, Sinta sempat mengajar. Saat kuliah S2 pun Sinta sibuk menerjemahkan naskah Inggris maupun naskah kuna dan menulis buku. Bukunya, Berteman dengan Kematian, berkisah soal penderitaannya yang hidup dalam genggaman penyakit lupus. Buku itu dicetak ulang untuk kedua kalinya. Saat ini Sinta sedang menyelesaikan novel tentang Wangsakerta.

Tanggal 20 November mendatang, Sinta akan membawa murid-muridnya ke Astana Gede Kawali. Tujuannya adalah untuk mendata seluruh peninggalan budaya yang ada di sana. Kunjungan ke Astana Gede itu merupakan bagian dan program kerja inventarisasi, dokumentasi, dan alih media naskah kuna Nusantara.

“Program yang sedang dikerjakan saat ini adalah membuat situs web, buku dan cakram padat yang isinya berupa katalog tentang data awal jenis-jenis naskah kuna se-Nusantara. Belum menggarap isi naskahnya. Baru pada mencatat jenis-jenis naskah kuna, entah itu berupa prosa, puisi, sejarah dengan media lontar, daluang, dan sebagainya. Selain itu, juga mencatat aksara apa saja yang digunakan nenek moyang kita pada naskah kuna itu dan disimpan di museum mana saja oleh penemunya,” ucap Sinta.

Biaya kegiatan diambil Sinta dari beasiswa yang didapat Sinta dari PT Kalbe Farma, senilai Rp. 50 juta. Beasiswa berikut tiga laptop pemberian Data Script itu diperoleh Sinta setelah kegiatan mengajarnya muncul dalam acara “Kick Andy Hope”.

Pencatatan data awal dimulai dari beberapa katalog yang sudah ada, seperti dari Katalog Naskah Sunda dan Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara yang ditulis dan disusun oleh almarhum Edi S. Ekadjati. Jika dalam katalog itu ada naskah A di Museum C, Sinta dan teman-temannya akan mengecek ke Museum C untuk melihat langsung apakah naskah A itu masih ada atau tidak? Jika tidak ada, hilang ke mana, ada di mana, dan apa penyebabnya sampal bisa hilang atau pindah tempat. Setelah dipastikan, barulah dimasukkan ke dalam bentuk digital.

Kerja yang dilakukan Sinta dan kawan-kawannya ini memang cukup berat. Dibutuhkan dana sekitar Rp. 1 miliar untuk menggarap program itu. “Dana yang Rp 50 juta itu saya gunakan sebagai dana awal. Alhamdulillah, upaya digitalisasi saya dan kawan-kawan itu mendapat dukungan dari teman-teman yang tergabung dalam komunitas Gapura Wiksa Nusantara yang bergerak dalam bidang dunia maya. Mereka yang tergabung dalam komunitas ini sepenuhnya anak-anak muda yang penguasaan teknologi informasinya tidak diragukan lagi,” ujar Sinta.

Atas kerja kerasnya itu, pihak Unpad, sebagaimana dikatakan Rektor Unpad, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akan memberikan bea siswa S-3 kepada Sinta untuk memperdalam ilmunya di Jurusan Filologi Unpad.

“Apa yang dilakukan Sinta patut kita dukung. Apalagi dia telah membangkitkan minat anak-anak cucu untuk mempelajari aksara Sunda kuna. Kalau aksara itu sudah dikuasai, tidak mustahil akan menimbulkan minat yang lebih jauh lagi, yakni mempelajari isi naskahnya,” ujar Ganjar Kurnia.

Menurut penyair Sunda Godi Suwarna, apa yang dilakukan Sinta dengan mengajak anak-anak muda belajar aksara Sunda kuna adalah sebuah gerakan intelektual untuk memperdalam budaya Sunda secara nyata.

“Saya salut karma Sinta melakukan semua itu tanpa bayaran. Apalagi komunitas belajar yang dikembangkannya saat ini bukan banya tertuju pada pelajaran aksara Sunda kuna, melainkan sudah bergerak jauh ke pendataan naskah-naskah Insya Allah saya akan mengantar Sinta ke Astana Gede Kawali,” kata Godi. (Soni Farid Maulana/”PR”)

*Diketik ulang oleh Ayu Alfiah Jonas

Kategori: Kliping dan Tulisan.