Purwwaka Kelas Aksara

Oleh Sinta Ridwan |

Ini adalah iklan woro-woro sewaktu mau bikin kelas belajar menulis dan membaca aksara Sunda di Bandung pertama kali. Foto di atas sewaktu kelas berlangsung untuk minggu ke-sekian di Jalan Kyai Gede Utama, Bandung pada 11 September 2009.

Purwwaka

Ketika perkembangan zaman sudah menuntut sistem yang modern, aksara Latin sungguh mendunia akibat pemahaman demi globalisasi. Tetapi ketika aura post-modern menggema, kita diharapkan kembali pada identitas masing-masing. Keorisinilan traditional kembali mencuat setelah kebosanan akan industri dan konsumsi.

Aksara di Nusantara sangat beragam dan kaya, mulai dari aksara Sunda, Jawa, Lagaligo (Sulawesi), Sasak (Lombok), Bali, Cirebon, Incung (Lampung), dan masih banyak lagi. Hampir semuanya tenggelam oleh “pasar” aksara Latin. Bisa dikatakan ini adalah dampak dari “penjajahan” Belanda hingga 350 tahun, jadi pola pikir dan kebiasaan masyarakat Indonesia terbentuk oleh Belanda secara tidak langsung. Saat inilah waktunya kita mulai memakai jati diri sendiri. Kembali pada ketradisionalan di tengah kemodernan.

Aksara Sunda, menurut Ibu Vivian (seorang peneliti dari Perancis) adalah salah satu aksara tertua di Indonesia. Dibuktikan dengan adanya Prasasti Kebon Kopi I dan II yang diperkirakan berasal dari abad ke-9. Sayangnya prasasti ini tidak terurus sama sekali.

Aksara Sunda di masyarakat Sundanya saat ini sudah bukan prioritas utama dalam hal tulis menulis, bahkan ditinggalkan. Padahal sangat penting untuk kita mempelajari dan bisa membaca menulis aksara Sunda, demi kebertahanan budaya Sundanya sendiri.

Terkait dengan sejarah, apabila kita bisa membaca dan menulis aksara Sunda, selain kita bisa menelusuri peninggalan sejarah nenek moyang Sunda, dengan membaca tulisan mereka dalam naskah-naskah kuna, kita juga bisa mengajari pada anak cucu kita sehingga aksara Sunda secara tidak langsung masih bisa terus bertahan hingga masa yang akan datang, tidak akan punah.

Dengan alasan mempertahankan dan melestarikan aksara Sunda itulah, saya, walau berangkat dari sebuah niat, ingin melakukan sesuatu. Oleh karena itu walau dalam skala kecil-kecilan saya mengajak teman-teman bisa memulai niat itu untuk belajar bersama. Oleh karena itulah Kelas Baca Tulis Aksara Sunda diadakan.

Program: Kelas Baca Tulis Aksara Sunda
Jadwal: Setiap Jumat (sebelum Jumat Keramat)
Pukul: 18.30 sampai 19.30
Start: 7 Agustus 2009
Tempat: Jalan Kyai Gede Utama No. 8 Bandung
Pendaftaran: Hubungi Mba Nunung dan Fauziah

Materi: Tata Tulis Aksara Sunda I

– Pertemuan I
Mengenal 7 aksara swara “vokal”
Mengenal 25 akara ngalagena “konsonan”

– Pertemuan II
Memahami tanda baca aksara Sunda panghulu, pamepet, paneuleung, panglayar, dan panyecek

– Pertemuan III
Pemakaian tanda baca panyuku, panyakra, dan panyiku

– Pertemuan IV
Pemakaian tanda baca paneleng, panolong, pamingkal, pangwisad, dan pamaeh

– Pertemuan V
Pemakaian tanda baca panglayar, panyecek, dan pangwisad

– Pertemuan VI
Pengenalan angka dan fungsi aksara Sunda

– Pertemuan VII
Ujian pemahaman materi

– Pertemuan VIII
Review materi

Notes: Tidak dipungut biaya, tetapi dituntut niat dan hasrat untuk mempelajari budayanya sendiri. Terima kasih.

Salam,
Sinta Ridwan

Ujungberung II, 3 Agustus 2009

Kategori: Catatan dan Tulisan.