Reportase Kelas Aksakun

Oleh Pikiran Rakyat |

Tulisan ini dibuat Kang Ahda Imran, waktu itu beliau wartawan cum penyair. Salah satu guru saya dalam proses menulis puisi. Tulisan ini tentang Kelas Aksakun 11 Februari 2011. Foto diambil sama Onye beberapa bulan setelahnya, pada 21 April 2011 di GIM.

Membaca dan Menulis Aksara Kuna

Mereka duduk berderet di kursi memenuhi sisi sebuah ruangan yang tidak begitu besar. Masing-masing asyik dan sibuk dengan kertas soal. Malam itu, Jumat (11/2/2011) mereka sedang ujian kenaikan kelas. Kertas soal berupa teks Latin yang harus diubah menjadi aksara kuna, dari mulai Sunda (baku) sampai aksara Cacarakan (Hanacaraka) menurut kelasnya. Untuk kelas satu mereka harus mengalihkan teks itu aksara Sunda Kuna, dan kelas dua mengalihkannya ke aksara Cacarakan.

Mereka tampak sesekali berkerut, mengamati daftar dan bentuk aksara-aksara kuna yang meringkel-meringkel, mencoba mengalihkan dan menyatukannya menjadi kalimat-kalimat yang seusai dengan soal. Sesekali ada yang bertanya pada teman di sebelahnya.

Di depan sebuah papan tulis. Sinta Ridwan, yang dipanggil “Ibu Guru”, sesekali juga berkeliling ke setiap kursi. “Bagaimana, ada yang susah?” Tanyanya. Ia memberi petunjuk atau menerangkan ini dan itu tentang cara menulis dan membaca pada mereka yang kelihatan selalu kerung menghadapi soal. Dengan senang hati ia pun akan menghampiri jika ada yang bertanya, “Bu Guru kalau ini bagaimana?”

Dengan sabar Sinta akan menerangkannya, meski kadang sudah berapa kali ia menerangkannya dan peserta itu belum mengerti juga. “Lho, minggu lalu kan ini sudah diterangkan?”

“Apanan dua minggu saya tidak masuk, Bu,” kata pemuda itu sambil nyengir.

Suasana ujian itu tidak tegang. Santai. Tapi setiap orang serius dan asyik mengerjakan soalnya. Membaca soal dan memindahkannya menjadi aksara kuna. Bagi yang sudah selesai, oleh Ibu Guru Sinta Ridwan akan disuruh maju ke depan. Diberi soal dan diminta menuliskannya di papan tulis dalam bentuk aksara kuna. Tampak Sinta pun mendampinginya, memperhatikan muridnya menjawab soal di papan tulis. Sesekali ia membetulkan jika ada kesalahan seraya memberi tahu kesalahannya, dan memintanya mengulang menuliskannya lagi. Adegan di depan papan tulis itu persis pemandangan di kelas satu Sekolah Dasar (SD).

Tapi semua kelihatan santai dan menyenangkan. Bagi mereka yang sudah selesai, untuk mereka kelas dua, Sinta membagikan foto copy-an sebuah halaman dari Naskah Wangsakerta untuk dipindahkan ke huruf latin. Bukan sebagai soal ujian, tapi untuk latihan saja. Beberapa orang berdiskusi dengan teman sebelahnya, mengejakannya berdua. Sedang tak jauh dari situ, seorang peserta lain dengan santai meniup suling.

Begitulah suasana kelas Aksara Sunda Kuna (Aksakun) yang berlangsung saban Jumat malam di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung. Suasana yang jauh dari formal dan menegangkan sebagai sebuah sekolah. Demikian pula bila memerhatikan para peserta yang umumnya anak-anak muda. Dengan suasana semacam itu, aksara kuna terkesan tidak lagi menjadi sesuatu yang garing, sebagaimana kesan selama ini. Para peserta datang dari bermacam-macam kalangan. Mahasiswa, wiraswasta, pelajar, orang tua. Mereka tak hanya datang dari Bandung, tapi juga dari Subang, Majalaya, Jakarta, bahkan ada seorang peserta dari Meksiko.

*

Aksakun merupakan bagian dari program Balai Belajar Bersama komunitas GIM. Di GIM Aksakun telah dimulai sejak Oktoner 2010. Meski ada yang namanya Ibu Guru (Sinta Ridwan), Kepala Sekolah (Mukti-mukti), dan Ketua Yayasan (Hanif), tapi penamaan itu tidaklah seserius atau seformal yang dibayangkan orang. “Ini sekolah terbuka. Tak ada iuran atau keanggotaan resmi. Ini sekolah suka-suka. Cara belajarnya dalam suasana yang santai tapi tetap serius,” kata Hanif.

Sedangkan Mukti-mukti menyebutkan ide Aksakun datang dari Sinta Ridwan. Ia hanya ikut mendukung ide tersebut. Selanjutnya bagaimana teknis dari ide tersebut diserahkan langsung pada para peserta. Misalnya, ada ide untuk juga bikin program Markinyul (Mari Kita Nyuling) di sela-sela belajar aksara kuna. Itu ide dari peserta sendiri, dan dilaksanakan.

“Saya hanya mengawal ide-ide mereka. Termasuk juga kami ke Cirebon untuk bertemu dengan komunitas aksara Cirebon di sana,” ujar Mukti-mukti yang juga dikenal sebagai musisi balada ini.

Mengamati para peserta Aksakun, seperti malam itu, Jumat (11/2/2011), umumnya mereka adalah anak-anak muda dengan dandanan yang santai khas anak muda. Adalah menarik mencari tahu motivasi mereka belajar menulis dan membaca aksara kuna. Untuk apa mereka merasa harus ikut belajar dan bergabung dalam kelas ini, toh, aksara itu tidak mereka gunakan dalam kesehari-harian?

Tenny Indah Susanti, salah seorang peserta mengatakan ketertarikannya belajar Aksakun karena memang minatnya pada hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan. Terutama kebudayaan yang hidup di lingkungannya. Sama halnya dengan Udo, seorang wiraswsta yang termotivasi untuk belajar Aksakun karena keinginan untuk lebih mengenali budaya leluhur (Sunda).

“Tapi saya tertarik belajar aksara Sunda kuna gara-gara merasa penasaran melihat aksara Sunda di plang-plang jalan. Lagi pula suasana belajarnya tidak membosankan, ” ujar Mardiansyah mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah UPI yang sudah dua bulan bergabung dengan Aksakun.

Seperti Mardiansyah, mereka umumnya menyebutkan ketertarikan mereka belajar Aksakun di GIM juga karena suasana belajar yang santai dan akrab. Tidak formal dan membosankan, apalagi yang mereka pelajari adalah aksara kuna. Dengan suasana yang hangat dan akrab semacam itulah kesulitan mereka belajar menulis dan membaca aksara kuna jadi tidak begitu terasa. Kesulitan yang paling sering ditemukan hanyalah menghapal bentuk-bentuk aksaranya, yang kadang mirip satu sama lain. “Kalau aksara Sunda baku tidak susah. Tapi yang sulit itu Cacarakan. Hurufnya banyak yang sama,” kata Mardiansyah.

Antusiasme anak-anak muda belajar aksara kuna ini tampak dari selalu munculnya peserta baru hampir dalam setiap pertemuan. Dan ia langsung diberi pelajaran dasar, yaitu, Aksara Sunda. Ini merupakan pelajaran dasar, latihan sampai lima kali pertemuan. “Pertama saya memberi conton bagaimana menulisnya, lalu menyalin, lalu mereka menghafal, dan dites perlima huruf,”kata Sinta Ridwan, seraya menyebutkan umumnya kesulitan yang ditemui adalah menghafal bentuk huruf.

Menurut Sinta, dalam amatannya ada tiga hal yang membuat anak-anak muda belajar Aksakun. Dari yang lebih karena ingin tahu dan penasaran seperti apa sebenarnya aksara Sunda kuna itu, mereka yang memang diam-diam berminat pada filologi, hingga yang belajar aksara Sunda kuna karena tertarik pada bentuk-bentuk visualnya. Kelas Aksakun ini terbagi ke dalam kelas satu,dua, tiga. Tapi sejak Oktober 2010, kelas yang ada baru sampai kelas dua.

“Konsep mengajar yang saya pakai adalah kami belajar bareng. Saya foto-copy sendiri bahan-bahannya. Bahan-bahan apa yang akan diajarkan saya ambil dari buku-buku yang ada,” ujar gadis yang baru saja menyelesaikan pascasarjananya di Jurusan Filologi Unpad ini.

Malam itu, setelah menyelesaikan soal ujian mereka dengan senang hati maju ke depan untuk dites oleh Sinta Ridwan di papan tulis. “Ayo, siapa lagi yang belum maju ke depan?” (Ahda Imran) ***

Keren dan Gaul

Segala sesuatu yang berbau kuna hampir selalu tak pernah menarik untuk dihampiri, apalagi buat dipelajari. Tak ada yang menarik di dalamnya kecuali masa lalu yang ketinggalan zaman, tua, dan garing. Karena itulah apa pun yang berhubungan dengan masa lalu dan kuna, sampai aksara kuna, selalu terasa menjadi sesuatu yang kering alias garing. Oleh karena itulah, misalnya, filologi adalah ilmu yang tak pernah populer di kalangan anak muda. Lebih lagi di zaman sekarang, rasanya tak ada alasan mengapa orang merasa harus belajar aksara kuna.

Dan kenyataan inilah yang ingin digubah oleh kelas Aksakun di Gedung Indonesia Mengugat (GIM) Bandung, saban Jumat malam. Tampaknya keinginan itu tidaklah berlebihan, mengingat antusiasme anak-anak muda mengikutinya. Minat dan antusiasme ini bisa dianggap sebagai bagian dari minat anak-anak terhadap segala sesuatu yang berbau lokal (Sunda), yang kini mudah dilihat di Bandung. Memang, mungkin menjadi mengherankan. Mereka hidup dalam budaya urban, tetapi tiba-tiba juga menaruh perhatian dan minat pada budaya Sunda dan segala sesuatu yang berbau masa lalu, termasuk aksara Sunda Kuna.

“Tapi apapun alasan mereka, saya senang sekali melihat anak-anak muda itu mau belajar aksara Sunda Kuna. Bagi saya, di zaman sekarang itu adalah sesuatu yang luar biasa,” kata Mukti-mukti.

Kelas Aksakun di GIM, memang tidak akan terwujud seperti sekarang tanpa sosok Sinta Ridwan yang dengan keras kepala ingin memperkenalkan dan memopulerkan aksara Sunda kuna di kalangan anak-anak muda. Apalagi ia melihat ada kecenderungan di kalangan anak muda di Bandung mulai memiliki minat pada segala sesuatu yang berbau kesundaan, termasuk aksara Sunda. Paling tidak, mulai muncul rasa kepenasaran mereka, apa dan bagaimana aksara Sunda kuna itu.

Kelas Aksakun di GIM ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dirintis oleh Sinta Ridwan di Common Room dan Tobucil pada Oktober 2009. Ketika itu, kata Sinta, ide awalnya muncul sewaktu ia mempresentasikan naskah kuna dan filologi di Common Room.

“Waktu itu banyak anak muda yang berminat ingin bisa membaca naskah kuna. Angkatan pertama di Common Room ada tiga puluh orang, termasuk anak-anak band metal dari Ujungberung. Dua bulan mereka sudah bisa baca tulis aksara Sunda kuna” tutur gadis yang juga dikenal sebagai penulis buku Berteman dengan Kematian ini.

Dua bulan di Common Room, Sinta memindahkan kelas Aksakun ke Tobucil sema dua minggu, sampai kemudian menemukan tempat di GIM sejak Oktober 2010. Tentang materi yang diajarkan, menurut Sinta, terbagi ke dalam beberapa tahap, mengikuti perkembangan aksara Sunda dalam beberapa era.

Tahap pertama sebagai tahap dasar adalah belajar aksara Sunda (baku), atau dikenalnya era modern karena aksara ini berkembang sejak abad ke-19 sampai abad ke-21. “Lalu mundur ke belakang, ke abad XVI-XVIII, yaitu aksara Sunda di zaman kekuasaan Mataram, yang kita kenal dengan Cacarakan. Lalu mundur lagi ke belakang ke era aksara Sunda Kuna abad XI-XV, dan nanti terus mundur ke belakang ke aksara di zaman Dewanagari, yaitu peralihan dari huruf Pallawa di VI-X,” tuturnya.

“Lewat naskah kuna mereka bisa langsung membaca dan menambah wawasan pengetahuannya. Lewat Aksakun, saya ingin filologi jadi lebih populer. Saya berharap dengan Aksakun orang bisa membaca naskah kuna itu merasa keren dan gaul. Apalagi sekarang di Bandung kesundaan jadi tren, dan saya berharap ini juga diiringi dengan pengetahuan mereka pada naskah kuna. Bukan melulu sekedar tren ikut-ikutan,” kata Sinta. (Ahda Imram) ***

Sumber: Koran Harian Pikiran Rakyat, 13 Maret 2011

Kategori: Kliping dan Tulisan.