Sekilas Prasasti Huludayeuh

Oleh Sinta Ridwan

Prasasti Huludayeuh salah satu situs sejarah di Kabupaten Cirebon. Secara administratif situs ini berada di wilayah Dusun Huludayeuh, Desa Cikalahang, Bobos, Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayah menjadi Kecamatan Dukupuntang. Situs ini berada di belakang wisata kolam renang Hegar dan tepatnya berada di koordinat 06º47’046” Lintang Selatan dan 108º24’205” Bujur Timur. Situs dengan ketinggian ±73m dari permukaan air laut. Sungai yang mengalir di daerah ini adalah Sungai Cimanggung. Wilayah ini merupakan daerah pegunungan, sedangkan sekitar prasasti prasasti berupa pesawahan rakyat yang subur dan produktif, dengan menggunakan sistem sengked atau bertingkat. Situs ini ±15km sebelah barat daya dari Kota Cirebon atau ±7km sebelah utara dari situs Prasasti Kawali, Kabupaten Ciamis.

Prasasti ini ditemukan di tanah milik Martawi, telah lama diketahui oleh penduduk setempat namun di kalangan para ahli sejarah dan arkeologi baru mengetahui pada September 1991, sudah beberapa kali dilakukan penanganan dalam rangka pelestarian dan penelitian namun sejak ditemukannya batu tulis ini dianggap keramat oleh penduduk setempat, hingga keberadaannya dipertahankan oleh penduduk setempat. Prasasti ini diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada 11 September 1991 dan Harian Kompas pada 12 September 1991.

Prasasti ini sekarang menempati tanah negara seluas 10x10m dengan bangunan cungkup 4x4m. Bangunan cungkup berkonstruksi kayu tetapi dengan tiang pilar cor, atap sirap kayu dan lantainya berupa hamparan batu kali tanpa disemen. Di samping itu sekeliling area diberi pahar kawat berduri setinggi 1,2m. Bangunan cungkup ini cukup untuk melindugi dari gangguan air hujan dan sengatan terik matahari. Objek prasasti berbahan batu andesit, dengan bentuk lempengan batu yang diberdirikan dan menyatu dengan lantai cungkup.

Kondisi prasasti pada sisi kiri dan kanan serta atas terpenggal sehingga aksara yang tergores hilang. Selain itu permukaan batu dan tulisannya usang juga agak aus karena beberapa batunya pecah. Bagian atas prasasti tersebut patah diduga mencantumkan penanggalan, dan aksaranya pun turut hilang serta sebagian lagi ada yang aus, sehingga kronologi prasasti belum dapat diketahui dengan pasti. Keausan aksara pada prasasti tersebut mungkin karena semula letak batu prasastinya terbalik dengan posisi bagian atas tertanam dalam tanah, namun kini batu tersebut dilettakkan sebagaimana mestinya.

Permukaan batu yang berinskripsi tulisan kuno, relatif rata yang kemungkinan mengalami proses perataan dan penghalusan dengan benda keras. Prasasti menghadap ke arah barat daya. Inskripsi tulisan menggunakan huruf Pasca-Pallawa atau Jawa Kuno dan berbahasa Sunda kuno. Prasati masih dapat terbaca inskripsi tulisannya yang berjumlah 11 baris. Karena adanya kerusakan fisik, teks tidak dapat diterjemahkan secara harfiah. Berdasarkan paleografi dapat diduga Prasasti Huludayeuh ini sejaman dengan Kayuwangi-Balitung (Abad 9-10M).

Isi baris pertama … tra … na …, baris kedua … sri mahharaja ra(tu), baris ketiga (ha)ji di pkwan sya sang ratu, baris keempat (de)wata pun/ masa sya …, baris kelima … ngretakeun bumi ngaha …, baris keenam lipukkeun/ bumi ngaha …, baris ketujuh … ngarah sang di susuk/ lampu …, baris kedelapan … i ngareubhkeun/ ikang … ka …, baris kesembilan susi padakah// Ngalasan …, baris kesepuluh na udugbasu// mipata(ka) …, baris kesebelas is/ nikang kala pu(n) …. Adapun fragmen prasasti ini secara garis besar mengemukakan bahwa tulisan mengemukakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata sebagai tanda peringatan atas pekerjaan-pekerjaan dan bertalian dengan usaha-usaha yang telah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat dan kemakmuran negerinya. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Baduga Maharaja (Abad ke-16M) dan masih insitu.

Ukuran prasasti 75x36x20cm dengan ukuran inskripsi baris kesatu 18×3,6cm, baris kedua 23×5,4cm, baris ketiga 28,8x4cm, baris keempat 30,9×3,9cm, baris kelima 30,9×6,5cm, baris keenam 28,4×4,3cm, baris ketujuh 29,8×3,6cm, baris kedelapan 30,9×3,2cm, baris kesembilan 31,7×3,9cm, baris kesepuluh 28,4×3,6cm, baris kesebelas 23,4×3,2cm, dan kedalaman inskripsi sekitar 0,2 sampai 4cm.

 *

Referensi:

Kartakusuma, Richadiana. 1991. Tesis: Anekaragam Bahasa Prasasti di Jawa Barat Pada Abad Ke-5 Masehi sampai Ke-16 Masehi: Suatu Kajian Tentang Munculnya Bahasa Sunda. Depok: Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia

www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=233&lang=id Kabupaten Cirebon, 11 Desember 2012. Tim Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. 2011. Keraton Kasepuhan. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Hasan, Djafar. 1994. Prasasti Huludayeuh, Berkala Arkeologi Th. XIV. Edisi Khusus. Evaluasi Data dan Interpretasi Baru Sejarah Indonesia Kuno. Hlm. 197-202. Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta

*Tulisan ini dirangkai untuk draft Ensiklopedia Jawa Barat. Foto oleh Riza AS.

Kategori: Artikel dan Tulisan.