Sisa Makanan

Oleh Sinta Ridwan |

Belajar menulis cerita pendek ternyata banyak dilakukan pada 2008. Beberapa cerita dihasilkan, tetapi ceritanya suram semua, ampun. Cerita ini sempat diolah lagi kalimat-kalimatnya pada 2017, tadinya mau dimasukkin ke buku Perempuan Berkepang Kenangan, tetapi tidak lolos kurasi, hehe. Selamat membaca. Lumayan buat belajar bersama.

Genggaman Sisa Makanan

Di tengah bayangan yang meliuk-liuk di kamar gelap, muncul wilayah ujung timur yang gersang, berpadang pasir dan berkumpul tulang belulang ular-ular derik serta hewan lainnya yang mati kehausan. Ada satu pohon lontar pucat yang rambut daunnya rontok tiga helai tiap pergantian malam. Di bawah bayangan pohon ketika mentari sedang kepanasan karena ditinggal lama oleh hujan, kekasihnya, ada dua balita tengah menangis menahan perutnya yang kian membusung.

Letaknya di Pulau Nusa, beberapa ibu yang setengah telanjang sedang merayu balitanya yang menangis untuk sabar menanti gizi-gizi yang akan dibawa ayah-ayah mereka yang sudah tiga malam belum juga kembali pulang ke rumah yang hampir roboh, hanya ditahan kayu yang mengkeriput. Susu basi terpaksa dicekok pada mulut yang turut meneteskan air mata. Sang ibu sendiri sudah kehabisan stok asinya. Ia pun lapar, namun masih bisa ditutupi oleh sinjang yang robek di tiap sudut motifnya. Tidak ingin memperlihatkan pada balitanya.

Ibu terpaksa menyimpan sisa-sisa air susu dalam batok labu kering, sengaja untuk diirit dan persediaan esok hari. Ibu tidak tahu apakah nanti-nanti asinya masih mengucur. Sayangnya, asi jadi basi dan terkontaminasi. Bayi sulit dicekoki meski sudah dipaksa berkali-kali. Tiap tetes yang masuk ke dalam mulut dibuangnya kembali. Ibu menyerah. Merasa sia-sia. Dua balita terus meneriakkan tangis. Ibu sesenggukan menahan air mata dan terus berharap agar asinya bisa terus mengucur. Tidak peduli perutnya yang belum diisi apa pun sejak kemarin sore.

*

Di kamar yang sengaja digelapkan, tampak seorang gadis kurus berwajah bulat yang berlindung di bawah atap rumah kecil dari mentari yang masih saja kepanasan menunggu kekasihnya, hujan. Hembusan angin yang merasuk ke sela rusuk sang gadis masuk lewat celah jendela yang tidak sempat dikunci rapat. Ia sedang meringkuk di atas sofa merah yang berdebu tebal menahan rasa lapar. Setengah tenaga ia berusaha menatih ke arah dapur. Dapur yang dikuasai tikus yang juga tidak kalah lapar karena tidak ada sisa makanan yang dibiarkan di dapur juga beberapa kecoa yang sibuk mengais serbet hitam yang teronggok di atas kompor.

Tangan pucat berusaha membuka pintu kulkas berkaki karat, mengeluarkan uap dingin hingga rusuknya kian menggigil. Kedua matanya melihat deretan sisa-sisa makanan yang bertumpuk di dalamnya. Juga gelap karena lampu kulkas sudah mati berminggu-minggu lamanya. Di ujung dekat pintu masih terbungkus sedikit susu bubuk, sisa makanan dua minggu lalu, wajid Cililin beberapa buah, setengah kotak corn flakes, setengah kotak susu cokelat bubuk dan setengah wadah brem asli Solo.

Tidak ada buah bahkan sayuran. Di atas kulkas ada boks plastik teronggok berisi beras seperempat liter. Sebelah kulkas ada dua galon air masih menyisa di salah satu tubuh bulatnya. Gadis masih dikatakan beruntung memiliki sisa-sisa bahan makanan dibanding balita-balita yang menjerit lapar di timur sana. Namun, gadis tidak pernah bersyukur, tidak memiliki sisa semangat untuk mengumpulkan tenaga berjuang untuk hidupnya sendiri. Kisahnya seperti disia-siakan untuk menghidupi hidup yang diberi.

Namun pikirannya masih bertahan hingga siang ini, meski tubuhnya tidak melangkah namun dalam otaknya ada banyak yang bekerja. Termasuk tadi pagi ia memutuskan untuk tidak berangkat kuliah. Hampir kosong cadangan energi dalam tubuhnya. Dompetnya tak memiliki selembar pun yang terlipat, ia kekurangan materi semenjak keluar dari pekerjaannya dan memilih melanjutkan studi. Tanpa berpikir panjang, hanya menggenggam positif sambil berbisik, “Rejeki ada yang mengatur.”

Demi melanjutkan studinya, ia menggadaikan satu persatu barang berharga miliknya demi kebutuhan studi dan kehidupan sehari-hari. Ia ingin terus menyelesaikan studinya. Namun ia juga memikirkan nasib adiknya yang ikut merantau meninggalkan Ibu di kampung. Bagaimana caranya agar adiknya lebih didahulukan. Setiap rejeki yang didapat, langsung diberikan pada adiknya yang memutuskan tinggal dekat kampusnya, tidak satu atap dengan dirinya.

Dibiarkannya lambung berteriak lapar, asal jangan lambung adiknya. Ia hanya menatap dompetnya yang tipis. Kembali direbahkannya pada sofa merah, sayangnya tidur dan mimpinya sedang tidak didekatnya. Lalu kembali ke dapur, mengisi gelas dari kran galon dan minum sekembung-kembungnya. Kenyang jadinya.

Di dinding gelas berdebu yang diletakkan di antara buku yang berbaris di rak sebelah sofa merah menyisakan jejak jari yang turut kurus, ia melamun beberapa saat. Sampai akhirnya memutuskan mengambil ponsel dan mengetik beberapa kata. Mengirim sebuah pesan untuk kawan SMA-nya, Jo namanya. Baru kali ini ia mengeluh bukan pada dirinya sendiri.

“Jo, lapar. Boleh tidak pinjam uangmu? Perutku kumat sakitnya. Pakai banget.”

“Lupusmu kambuh? Seharian belum makan sama sekali?” Jo membalas.

“Sudah tadi malam. Makan nasi goreng putih polos sisa. Saat kuhangatkan lagi, masih enak. Beras ada, tapi tidak ada kawannya. Ingin ke pasar, dompetku kosong beberapa hari.”

“Ta, aku tidak pegang uang. Aku maunya kamu ke rumahku, minta antar ke siapa gitu. Di sini ada masakan nenek. Kita bisa makan berdua. Ada Mamah juga dari Cirebon. Kamu ke sini ya, makan di sini. Aku hanya bisa kasih solusi begitu.”

“Ya, sudah. Tapi aku tidak bisa ke sana. Tidak ada bensin, tidak ada tenaga juga. Tidak apa-apa. Masih ada beras, kumasak dulu. Masih ada air di galon juga, bisa minum sampai kenyang. Lalu tidur lagi, biar tidak terasa laparnya, hehehe. Hitung-hitung diet juga, sudah maju perutku. Busung kayaknya, hahaha.”

“Sumpah. Aku sedih tahu kondisi kamu begini. Ke rumahku ya, sekarang!”

Enggak usah, Jo. Enggak kuat bawa motornya, turun gunung ke Ujungberung menuju Ciumbuleuit gitu lho. Juara anginnya juga.”

“Ta…,” balas Jo yang terakhir.

“Aku pasti baik-baik saja, Jo. Nuhun.”

Sebuah senyum disimpul sedemikian rupa tersungging di bibir hitam gadis yang biasa dipanggil Ta. Ia tersenyum karena merasa senang, ternyata ada yang mengkhawatirkan keadaannya. Ia tidak mau membebani Ibu di kampung. Kedua matanya melihat laptop yang baru dipinjamnya dari seorang teman untuk membuat surat lamaran. Laptopnya ia gadaikan sebulan lalu, demi menambah uang kontrakan.

Jemarinya mulai mengetik, sekian ratus kata bergulir, lalu diminumnya sisa air putih di gelas berjejak sidik jari di sampingnya. Banyak-banyak minum air putih, agar lancar pencernaannya. Gadis itu bergumam sendiri. Semoga saja lamaran ini akan mendapat sumber pendanaan baru untuk kehidupan sehari-harinya. Selesai mengetik dan mengirimkan surat elektronik ke beberapa tempat yang dirasa bisa menerima tenaga dan pikirannya. Selesai sudah.

Ditutupnya laptop yang juga berdebu itu, tubuhnya kembali dibaringkan di sofa yang kian memerah, menahan hawa panas gadis yang menidurinya. Malam pun sudah dibawa burung hantu. Sebelum menyelimuti tubuhnya yang semakin ringan, tangannya meraih kontak lampu tepat di atas kepalanya. Ia matikan lampu ruang tengah lalu berdoa, agar tidurnya tidak terbangun di tengah malam karena rasa-rasa apapun, termasuk rasa lapar. Karena biasanya kalau ia bangun dalam keadaan kelaparan, lambungnya akan sakit melilit seperti dipeluk ular sepanjang tiga meter.

Gadis itu mencoba menutup mata sambil pikirannya mencoba memasukkan bayangan dirinya ke toko roti legendaris di Jalan Braga dan melihat-lihat roti dan kue-kue kering yang dipajang. Namun terdengar suara tangisan bayi. Ya, bayi di Pulau Nusa. Tangisnya semakin kencang. Si gadis membawa dirinya juga bayangannya mendekati suara tangis itu.

Tampak sebuah rumah kayu berkeriput dan kekeringan, atapnya dari daun lontar yang ditumpuk menyerupai barisan genteng. Pohon lontar yang juga mengering kehausan lalu mati jatuh menumpukkan dedaunnya bertemu saudaranya di atap rumah itu. Dindingnya ada yang berbilik ada yang dibiarkan menganga. Di depannya ada dipan dari rajutan akar yang diduduki satu Ibu dan dua balita yang tak bisa dihentikan tangisannya. Sang gadis pun menyapa si Ibu.

“Si bayi kenapa, Bu?” Tanya gadis sambil melihat-lihat kondisi sekeliling rumah, rasanya kok seperti pernah ke mari. Bisiknya.

“Ini, Nak. Belum mau menyusu dan makan apa pun. Bapaknya belum datang, mungkin terjebak badai. Biasanya dari laut jalan kaki empat jam sampai ke rumah sini bawa sisa ikan yang tidak ikut terjual dan bahan makanan lainnya untuk diolah Ibu.”

“Ibu masih memberi asi tidak? Atau mau dibelikan susu sapi?” Tanya si gadis sambil celingak-celinguk mencari jalan ke mana kalau ingin membelinya. Ia pun merogoh sakunya, lupa, tidak pegang selembaran pun. Ia ikut bingung, berpikir cepat lalu mencoba menawarkan hal lain.

“Bu, maaf, aku tidak membawa apapun, mau diambilkan air putih? Di mana sumurnya? Nanti kubuat teh manis. Ibu punya teh dan gula?” Kepala Ibu bergeleng.

Gadis turun dari dipan. Keluar menuju belakang. Dipikirnya ada sumur atau aliran air. Tampak si gadis menutup mulutnya, ia terhenyak. Ia hanya melihat bukit-bukit pasir tiada bertepi di tengah gelapnya malam. Rumah ini tepat di tengah pada pasir, di bawah langit hitam. Ia kembali ke dipan.

“Bu, …,” gadis menghentikan ucapannya. Ia melirik dua bayi yang masih menangis kencang, sesekali meminum air matanya sendiri yang berasa asin pasti. Dilirik perut bayi yang buncit, seperti dirinya. Tapi lebih besar. Ia pun merasa lemas, teringat sisa makanan dalam kulkasnya, ada susu bubuk dan sereal, kenapa tidak dibawanya. Ada beras juga meski hanya seperempat liter, ia bisa ngeliwet bersama Ibu. Sisa-sisa makanan itu ia sia-siakan saja. Sisa makanan yang sebenarnya masih bisa ia konsumsi tanpa mengharap bantuan dana dari sahabatnya, Jo.

Mata gadis itu terbelalak. Keringat dingin membanjiri tubuhnya dan sofa merah. Ia kembali ke ruang tengah dalam rumahnya sendiri. Setelah menenangkan napas yang tersengal, ia membangunkan tubuhnya, terduduk dan menyadarkan diri, ternyata ia bermimpi. Ia merasa bingung, kenapa bermimpi yang berlokasi sama, dua balita dan seorang Ibu yang kehabisan stok asi. Disekanya keringat dingin di dahi, diminumnya air putih dari gelas yang bersidik jari. Kembali menarik napas panjang. Ah, perutnya merasakan lilitan ular. Kali ini sungguh tiada tertahankan rasanya, seperti ada dua ular yang melilitnya.

Matanya dipaksa untuk terpejam setelah meringkukkan diri dalam dekapan angin tengah malam. Ia membayangkan makanan yang enak-enak menurut versinya. Mulai dari empal gentong, nasi jamblang, strawberry cheese cake, jus jambu merah, docang, jahe merah, makanan-makanan khas Cirebon lainnya. Akan tambah nikmat makan seafood di pinggir laut sambil menikmati udara pinggir laut dan memandang hamparan birunya laut tanpa batas. Ia nyaris melupakan mimpinya tentang balita buncit dan busung. Ia larut dalam hanyutan dirinya sendiri, dengan laparnya sendiri.

Kali ini bayangan kakinya melangkah ke sebuah taman yang hijau bagai permadani. Ada beberapa meja tertata rapih, di atasnya tersaji banyak sekali makanan sampai penuh tak berujung. Ia dekati meja penuh makanan, langsung didatangi perempuan cantik bak bidadari. Dilihatnya orang-orang yang juga mendekati, ada banyak yang ia tahu itu rupa milik siapa. Ada sosok pangeran berkalung sorban seperti gambar yang memasang wajah para wali, ada ah itu kan Lady Diana, bahkan ada juga Benyamin Sueb. Tanpa ia sadari, di sebelahnya berdiri kakek buyutnya. Mendekati juga sahabatnya yang telah tiada beberapa tahun lalu, Siti Moe. Semuanya melempar senyuman, melihat dirinya serentak, mempersilahkan menyantap makanan.

Pertama-tama, ia memakan anggur yang ada di atas meja. Merasa cukup, lanjut ayam bakar dan lalabnya lengkap dengan sambal terasi. Lalu membawa sepotong strawberry cheese cake untuk dimakan di sebelah kursi rotan goyang dipinggir sungai sebagai penutup sambil menikmati sekitarnya. Indah.

“Enak sekali tempat ini,” ujarnya. Banyak makanan. Udara segar. Lalu ia didekati beberapa balita. Ia merasa pernah bertemu salah satunya. Bayi-bayi melontarkan senyum-senyum polos lalu duduk di sampingnya. Bersama-sama melihat aliran sungai bening dan ikan-ikan yang berloncatan. Senangnya punya teman kecil baru yang perutnya tidak buncit di swargaloka ini. Senangnya bersama tanpa merasa kelaparan. Senyum gadis pun tersungging lebar di tengah bayangan meringkuknya tubuh kurus yang mengering di tengah terpaan angin dingin di bawah temaramnya ruang tengah. Tidak sanggup lagi serat-serat dalam lambungnya untuk bekerja. Tidak ada lagi yang bisa diolahnya. Lambungnya telah menganggur karena menunggu terlalu lama sari makanan yang masuk ke dalam tubuh gadis yang tengah tersenyum itu.

Ujungberung V, 17 November 2008

Kategori: Cerpen dan Tulisan.