Surat Cinta

Oleh Sinta Ridwan |

Ceritanya ini adalah surat untuk seseorang yang aku suka waktu itu, hehehe.

Semacam Surat Cinta

Aku hembuskan kepedihan hati ini secara perlahan,
kusimpan harapan hati kepada senyum manismu,
meski tanpa kau sadari, kau telah menjadi fajarku,
yang membangunkan aku dari sungai kegelapan.

Selamat pagi, dunia!

Semoga hari ini aku bahagia dan kamu juga, seseorang dengan senyum termanis yang pernah kulihat. Kamu tahu, awalnya seperti biasa, aku mengeluhkan mimpiku. Mimpi bersamamu, kenapa kita harus selalu bersama dalam mimpi. Kamu pasti terbangun karena tulisan singkatku yang memberitakan dirimu ada dalam mimpiku. Berita yang mungkin kau anggap tidak penting.

Sebelum semangat itu muncul, tadi tubuh ini aku tarik dengan paksa. Kamu tahu, naskah-naskah itu kuletakkan semalam secara acak dan sangat berantakan. Mereka pun marah aku perlakukan seperti itu. Mereka memintaku dengan segera membereskannya. Lalu dengan langkah gontai aku duduk dan langsung menulis, mengedit, menulis ulang kembali, dan seterusnya. Sepi. Sunyi sekali. Tidak ada bintang.

Hanya ada seonggok roti keju dua hari lalu, sisa brownis lima hari yang lalu, dan segelas teh hijau yang belum sempat aku sentuh semalam. Sebelum aku memulai untuk menyalakan rokok, aku paksakan mengisi jiwa ini dengan sisa-sisa itu. Masih nikmat, senikmat sisa fajar yang sudah aku lewati begitu saja, tanpa ada ikatan apa pun. Tanpa ada kenangan yang membekas dalam naluri ini. Begitu saja ia lewat.

Kamu tahu Bill, aku punya tape kaset yang baru aku miliki. Senang sekali rasanya, akhirnya aku bisa menyetel kaset-kaset koleksiku yang aku kumpulkan semenjak menginjak kota ini, Bandung. Dulu sebelum ada tape aku selalu meminta televisi untuk menemaniku tidur, sekarang sudah tergantikan posisi itu dengan menyetel tape atau radio secara perlahan, menyenangkan sekali. Nanti kita bisa mendengarkan tape jadul itu bersama ya. Sebenarnya tidak terlalu kuno juga, hanya buatan tahun 90-an saja.

Setengah jam lalu, aku menemukan kaset Glen Fredly yang bertajuk “Selamat pagi, dunia!” Lalu aku putar lagu-lagunya. Ah, sial! Lagu galau semua, hahaha. Jadi saja aku kembali mengosongkan diri, tapi untung ada namamu, Bill. Aku kembali tersenyum ketika mengingat senyummu itu. Aku kembali melupakan sakit hatiku ini, Bill, dan kembali ingin menantang angin.

Kamu tahu, aku kembali ingat kata-kata Kiara ketika ia menyemangatiku lewat tulisan singkat saat aku terjatuh kemarin. Aku rindu Kiara, sudah lama sekali aku tidak melihat tatapan matanya. Dia yang memberiku pelajaran bagaimana caranya menghadapi cinta dan dialah satu-satunya yang tahu rencanaku mengajakmu menikah dulu. Tentu saja, dia menyemangatiku. Dia bilang, ajaklah kau nikah, tapi aku harus sungguh-sungguh mencintaimu. Bukan hanya karena aku mengidolakanmu, lalu aku ingin memilikimu. Sebenarnya aku sempat merenungi hal ini, Kiara lebih tahu tentang pernikahan dan dia bertahan berdiri di pojok waktu demi mempertahankan hal yang menyakitinya setiap hari itu. Ia juga yang mengajariku melupakan cinta yang basi ini. Ya, cinta yang tak ada artinya. Aku banyak belajar dari dia. Dan kamu tahu Bill, Kiara itu temanmu loh, apalagi suaminya, teman seperjuanganmu dulu.

Hari ini aku menulis kata elegi sebanyak tiga kali, aku juga menghitung berapa kali aku memimpikanmu, dan menulisi semua arti senyum yang kau titipkan dalam mimpi semalam itu. Ah, Bill. Aku tidak tahu apa arti rasa yang sedang melanda hatiku ini. Entahlah, aku tidak mau menyebutnya dengan kata cinta, karena aku ingin sekali menganggap cinta hanya omong kosong belaka. Aku ingin menyebutnya dengan kasih, ya, kasih. Mungkin cocok juga, dan lebih berarti ketimbang dari kata suka.

Kasih, kasih, kasih.

Tadi aku membaca tulisan Glen Fredly di sampul kasetnya, “Love yourself, and you will learn how to love other and me.” Ah, apakah iya cinta itu bisa menghidupi hidup seseorang, kamu percaya itu, Bill? Aku mungkin percaya, hanya perlu waktu saja, mungkin. Waktu untuk merubahnya. Tapi berkali-kali aku ingin sekali berteriak bahwa cinta itu hanya omong kosong belaka. Lalu kalau memang omong kosong, apa yang sedang kurasakan ini? Apa ini artinya? Aku terbelenggu oleh keadaan, mataku gelap, Bill. Aku butuh cahaya, walau aku kemarin bilang aku butuh kaca pembesar. Sebenarnya, aku ingin membesarkan bentuk rasa ini, agar aku tahu apa arti dari rasa itu.

Mungkin, aku terdengar mengada-ada ya, terkesan berlebihan, sehingga untuk menoleh ke arahku saja kamu tidak mau. Ah, tidak apa. Aku nikmati saja rasa ini, apapun itu namanya. Akan aku nikmati, aku senyumi.

Aku jadi senyum-senyum sendiri mengingat pertama kali aku melihatmu. Di gedung itu, ya, gedung itu. Aku melihatmu bercahaya, seperti fajar. Seperti yang pernah kau bilang, jangan senja! Senja itu suram, fajar saja! Dan dulu aku mentertawakan nama itu, tapi kini aku tahu, Bill. Kamu benar, yang aku butuhkan adalah cahaya fajar, ya, di pagi yang indah. Pagi yang bercahaya, seperti wajahmu yang bercahaya setiap kali aku melihatmu.

Seandainya kamu bangun di pagi ini, dan ketika membaca tulisan singkatku itu kamu tersenyum, entah tersenyum karna apa, atau malah tidak tersenyum sama sekali. Aku tidak mempedulikan itu. Seperti yang pernah kamu bilang bahwa sebaiknya kita berteman saja, tidak boleh ada yang tersakiti. Dan mungkin aku akan mengucapkan, baiklah Bill, akan aku hapuskan rasa ini sedikit demi sedikit. Dan tidak akan aku perbesar seperti pertumbuhan pohon. Namun, aku ingin sekali bilang, kalau aku akan memelukmu sangat erat ketika kau mau memilih rasa ini untuk menemani hari tuamu.

Terima kasih Bill, aku akan sambut pagi ini,
dengan ingatan tentangmu dan sang fajar.

Hill Top View, 2 Februari 2011

Kategori: Catatan dan Tulisan.