Tabloid Nyata 2012

Kliping Tabloid Nyata No.46/III April 2012

SINTA RIDWAN, Odapus yang Mengagumkan

LUPUS BISA DILUMPUHKAN DENGAN SEMANGAT & BAHAGIA

Di tengah keterbatasan fisiknya yang digerogoti penyakit langka, Sinta Ridwan berusaha bermanfaat buat orang lain. Seperti apa perjuangannya?

Penampilannya selalu percaya diri dan penuh senyum. Jika pertama kali melihatnya, mungkin tak akan menyangka jika gadis berusia 26 tahun ini adalah penyandang lupus, penyakit yang hingga kini belum ada obatnya.

Penyakit itu membuat Sinta Ridwan sadar, bahwa dewa kematian selalu tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Karena itu pula, Sinta ingin memberi makna hidup ini agar lebih berarti. Mumpung masih hidup, wanita yang menamatkan kuliah S2 jurusan Filologi Fakultas Ilmu Sastra Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung pada tahun 2011 ini berusaha untuk memberikan manfaat bagi orang sekitarnya.

Salah satu upaya Sinta untuk memberikan arti hidupnya bagi orang lain dengan cara mengajarkan naskah kuno sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang filolog. Sinta membuka kelas gratis Aksara Sunda Kuno (Aksakun) di Gedung Indonesia Menggugat, di Jalan Perintis Kemerdekaan Bandung. Kelas Aksakun ini didirikan pada tahun 2009. Hingga kini tercatat ada sekitar lebih 200 orang yang mempelajari Aksakun. Kegiatan belajar mengajarnya seminggu dua kali, dari pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

Mereka yang mengikuti kelas Aksakun terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Sinta mengaku tujuan dibentuknya kelas Aksakun ini untuk menjaga dan melestarikan naskah-naskah kuno yang merupakan warisan masa Ialu.

“Tidak ada masa kini tanpa adanya masa Ialu,” ungkap Sinta saat ditemui Nyata di Gedung Indonesia Menggugat, Jumat (30/3/12) malam.

Sinta membebaskan teman-temannya yang mengikuti pelajaran naskah kuno itu untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat sesuai dengan keinginannya masing-masing.

Banyak dari murid Sinta yang membuat tulisan kuno untuk dijadikan design dalam sebuah kaos, dan poster-poster. Selain itu ada juga murid yang membuat lirik lagu yang mengadaptasi dari naskah-naskah kuno. Menurut Sinta di dalam naskah kuno itu terdapat berbagal macam kandungan di antaranya gaya hidup, kesehatan, tuntutan manusia agar dapat menghargai alam, dan sastra orang-orang masa lalu.

Terwujud

Semangat dan tekad Sinta menjadi seseorang yang berguna bagi masyarakat sudah terwujud dan mengalahkan rasa sakit akibat lupus. “Lupus memang belum ditemukan obatnya, tapi dengan semangat dan bahagia lupus bisa dilumpuhkan,” kata Sinta yang belum lama ini mendapat anugerah Kick Andy Heroes Award. Sebelumnya, dia juga mendapat penghargaan Netty Award (Istri Gubernur Jawa Barat) sebagai wanita inspiratif 2012.

Kini Sinta dibantu teman-temannya dari kelompok Aksakun sedang menyusun buku cerita rakyat dengan tiga bahasa: Indonesia, Inggris dan Aksara Suda Kuno.

Meski punya seabreg kegiatan, Sinta merasa sehat. “Semangat adalah obat yang paling mujarab, aku sudah meninggalkan obat-obatan dari dokter,” ucap Sinta sambil mengepalkan jemari tangannya.

Wanita kelahiran Cirebon, 11 Januari 1985 ini mengaku sejak kecil memang sering sakit-sakitan. “Namun sakitnya tak terlalu serius,” aku Sinta.

Lulus SMA 7 Cirebon pada tahun 2003, Sinta meneruskan pendidikannya di Bandung. Sinta memilih sekolah ilmu Sastra Inggris di STBA Yapari-ABA sesuai keinginan ibunya, Deny Hermayanti (49).

“Alasannya dengan menguasai Bahasa Inggris akan mudah mencari pekerjaan,” aku Sinta yang sebenarnya tertarik dengan Bahasa Jepang.

Setahun mengenyam bangku kuliah, Sinta mendapat cobaan cukup berat. Ibunya bercerai dengan sang ayah, Djadja Ridwan (alm). Di waktu yang bersamaan, toko kelontong ibunya itu gulung tikar. Sinta mulai berpikir untuk di tidak membebani bunya. la mencari pekerjaan di luar jam kuliah. Sinta bekerja sebagai SPG (sales promotion girl) produk permen, mengajar private Bahasa Inggris untuk anak SD dan menjadi pelayan di sebuah kafe. Pagi sampai siang, ia kuliah. Setelah itu ngajar private hingga sore. Jam 16.00 hingga 02.00 dini hari dia menjadi waitress di kafe.

Suatu hari, dua tahun setelah menjadi mahasiswi, Sinta ikut donor darah di kampusnya di acara bertajuk hari kasih sayang, 14 Februari 2005. Itu adalah kali pertama dia donor darah.

Sinta ingin sekali memberikan setetes darahnya untuk orang-orang yang membutuhkan. Namun kejadian yang tak dimengerti Sinta terjadi saat itu. Contoh darah Sinta tak bisa terdeteksi mesin pengukur kadar hemoglobin. Dicoba berulangkah, hasilnya tetap sama. “Terdengar suara tiiiiiiiiiit, bunyinya nyaring sekali,” ujar Sinta.

Dokter PMI yang ada di acara tersebut memeriksa Sinta. “Aku ditanya apa sering pingsan, muntah dan lain-lain. Aku semakin tak mengerti apalagi wajah dokter itu semakin serius saat memeriksaku,” tambahnya. Dokter yang bernama Tresna itu menyarankan Sinta tes darah di laboratorium. Karena kesibukan di kampus dan pekerjaannya, Sinta mengabaikan anjuran dari dr. Tresna. Sebulan kemudian, Sinta merasakan tubuhnya lemas dan bila terkena sinar matahari kepalanya pusing.”Setelah itu aku teringat anjuran dokter Tresna,” ucap Sinta.

Tanpa menunggu waktu Iebih lama, Sinta mendatangi laboratorium di daerah Jalan Wastukencana, Bandung. Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya hasil tes darah Sinta keluar. Hemoglobin Sinta dibawah rata-rata. Wanita dewasa normal 12-16, Sinta berjumlah 6,6. Dia lantas mengirim hasil laboratorium ke dr. Tresna lewat SMS. Jawabannya, Sinta diminta untuk menemui ahli darah bernama Prof. Iman.

Ketika dianjurkan untuk konsul ke Prof. Iman, Sinta bingung biayanya. Dia pun mencoba mengecek saldo di ATM. Berharap ibunya mengirimkan sejumlah uang. “Ternyata ada uang di saldoku. Lumayan untuk berobat,” aku Sinta lagi.

Setelah menemui Prof. Iman Sinta tidak mendapat jawaban apa-apa. Sinta diminta untuk melakukan 3 rangkaian pemeriksaan, hematologi, imunologician kimia (Fe) dan vitros.

Usai menjalani 3 rangkaian pemeriksaan itu, Prof. Iman memberikan dua macam obat berupa, folic acid (asam folat, zat yang diperlukan dalam pembentukan sel darah merah) dan methyl prednisolon (obat penekan sistem imun).

“Aku diberi dua obat itu tanpa mengetahui apa penyakit yang aku derita. Aku semakin bingung saja,” ungkapnya. Namun kondisi keuangannya tak memungkinkan dia berobat ke Prof. Iman. Sesuai arahan dr. Tresna, Sinta berobat ke dr. Amay yang praktik di RS Hasan Sadikin. Disinilah Sinta baru tahu kalau mengidap Systemic Lupus Erythematosus.

“Aku terkejut ketika dokter mengatakan aku kena lupus. Aku berteriak dan berlari meninggalkan rumah sakit,” akunya.

Setelah itu dia menjadi pribadi yang tertutup, pendiam dan sensitif. Akibatnya, penyakitnya bertambah parah. Sinta yang tinggal seorang diri di rumah sewaan semakin merindukan belaian kasih sayang orangtua. Namun Sinta tetap tak ingin membebani orangtuanya dengan penyakitnya itu. Tapi akhirnya, dia sadar. Dia tak boleh meratapi nasibnya. Dia harus bangkit dan berjuang melawan penyakitnya. (Uwie)

Bebas dari Obat-obatan

SINTA sadar hidupnya tak akan lepas dari obat-obatan. Tapi dia berusaha melawannya. Dia ingin sembuh tanpa harus tergantung dengan obat-obatan. Sinta pun mengolah gaya hidupnya dan teratur berolahraga.

“Sebelumnya pola hidup aku tak teratur. Dari sebelum sakit sampai divonis dokter menderita lupus. Sebelum sakit karena sibuk kerja dan kuliah, setelah sakit karena stres,” terang Sinta.

Lambat laun, Sinta mulai mengurangi kadar obat yang diberikan dokter. Itupun atas sepengetahuan dr. Amay. “Selama dua tahun berjuang akhirnya aku bisa terbebas dari obat-obatan,” terangnya.

Untuk menghilangkan stres karena memikirkan penyakitnya, Sinta mencoba menulis kehidupannya di buku diary. Kumpulan diary inilah yang menjadi ihwal terbitnya buku Sinta yang berjudul Berteman dengan Kematian (BdK).

Sinta akhirnya membuktikan bila dengan penyakitnya itu, ia mampu menyelesaikan program sarjananya dan melanjutkan ke jenjang S2. Jurusan Filologi membuka matanya untuk berkarya dan melupakan semua rasa sakit yang diderita. Sampai lulus dari program master ilmu Sastra Unpad tahun 2011, Sinta membuka kelas Bahasa Sunda Kuno. (Uwie)

SOSOK WANITA PERKASA

Selain berbagi ilmu aksara Sunda kuno kepada teman-temannya di kelas Aksakun, Sinta punya kesibukan lain. Sinta mengelola toko buku IM Books bersama dua temannya, Bebe dan Mardi lantai 2 Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

Sebelum jam Aksakun, Sinta dan Bebe menjaga toko terlebih dahulu. Saat Nyata mengunjungi toko itu, mereka sedang berdiskusi membahas proyek garapan cerita rakyat.

“Kami masih mengumpulkan kumpulan cerita dari teman-teman, baru 35 persen pengerjaannya,” ungkap Bebe.

Selama dua tahun mengenal Sinta, Bebe mengaku tak pernah tahu sahabatnya itu menderita lupus.

“Bebe kenal Sinta dua tahun lalu, tapi baru tahu Sinta odapus (orang dengan lupus) belum lama ini,” akunya.

Saat pertama kali berkenalan, Bebe menilai Sinta layaknya wanita yang sehat dan kuat.

“Sinta itu tak seperti orang yang punya riwayat penyakit berat. Dia itu selalu bersemangat dan tak pernah terlihat sakit,” terangnya.

Sebelum bertemu dengan Sinta, Bebe tertarik akan keunikan Aksara Sunda Kuno. “Bebe sama teman-teman membuat kaos yang gambarnya Aksara Sunda Kuno,” terang Bebe.

Namun ketika bertemu Sinta, karya Bebe di kaos ternyata tulisan dan artinya salah.

“Wah ternyata Sinta pintar dan memahami Aksara Sunda Kuno. Malu deh jadinya. Untungnya, belum banyak orang yang paham. Akhirnya Bebe diajak ikut kelas Aksakun,” urainya.

Setelah sekian lama menjadi teman, rekan kerja, dan murid Bebe memahami betul sikap dan sifat Sinta. Bila raut wajah Sinta berubah menjadi muram, Bebe berusaha menghibur.

“Tapi kalau sudah sewot, Bebe nggak berani deketin. Karena takut lebih tersinggung dengan ucapan Bebe,” akunya.

Bebe pun tak pernah mendengar Sinta mengeluhkan sakitnya.

“Sampai detik ini Bebe belum pernah denger Sinta mengeluh sakit. Bebe juga tak pernah melihat Sinta sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. Sinta benar-benar wanita yang hebat. Sosok wanita yang perkasa,” puji Bebe.

Pujian senada pun diucapkan Gita (24), mahasiswi Fikom UNPAD. Gita adalah salah satu siswa di Aksakun.

“Teh Sinta itu wanita yang inspiratif. Saya salut dengan semangatnya untuk melestarikan kebudayaan Sunda terutama aksara kuno,” akunya.

Awalnya Gita tak begitu tertarik dengan ajakan teman-teman-nya mengikuti kelas Aksakun. Namun setelah melihat kelas dan banyaknya peminat yang ikut, Gita penasaran.

“Teh Sinta pernah jadi narasumber di TV lokal Bandung. Saya semakin penasaran saja. Akhirnya, saya ikut kelas Aksakun,” terangnya.

Karena ketertarikannya, Sinta membuat judul skripsi dengan tema Aksara Sunda Kuno. Untuk memenuhi bahan skripsi, Gita tidak sungkan meminta bantuan Sinta. (Uwie)

INGIN MEMBANGUN MUSEUM DIGITAL

SINTA juga bercita-cita ingin membangun sebuah museum digital yang akan diberi nama Ensiklopedia Naskah Kuno Nusantara. Tujuan dari pembuatan museum digital itu untuk memudahkan orang-orang agar dapat mengakses naskah kuno dengan mudah.

Sinta beranggapan selama ini orang-orang jarang mempelajari ataupun membaca naskah-naskah kuno karena sulitnya mengakses catatan-catatan orang-orang dari masa lalu yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Dengan hadirnya museum digital akan memudahkan orang-orang untuk mempelajari sejarahnya langsung dari sumber sejarah tanpa harus bersusah payah pergi ke museum.

Dalam kurun waktu enam bulan, museum ensiklopedia naskah kuno digital akan terealisasi. Museum dalam bentuk situs jaringan ini akan menyediakan data-data awal naskah kuno dari seluruh wilayah nusantara.

“Pengadaan museum digital ini sesuai dengan tujuan saya, mengenalkan naskah kuno kepada orang-orang awam,” ungkap. Sinta.

Museum ini mencakup beberapa konten mengenai filologi dan naskah-naskah kuno di penjuru Nusantara. “Di dalamnya akan ada, peta nusantara, daftar naskah kuno, seluk-beluk dan jenis naskah, dan juga foto-foto naskah kuno tersebut,” jelas Sinta.

Penelitian mengenai naskah-naskah kuno telah dimulai Sinta sejak tahun 2008. Sinta mengungkapkan bahwa museum digital ini akan terus berkembang sejalan dengan penelitian karena akan ada penemuan baru terus menerus.

“Data-data naskah yang baru dibukukan dari zaman awal kemerdekaan hingga kini baru ada sekitar dua puluh katalog. Belum mencakup seluruh wilayah Nusantara,” kata Sinta. (Uwie)

*Diketik ulang oleh Ayu Alfiah Jonas

Kategori: Kliping dan Tulisan.