Taman Purbakala Cipari

Oleh Sinta Ridwan

Taman Purbakala Cipari merupakan situs peninggalan megalitik di Kabupaten Kuningan. Secara administratif situs ini berada di wilayah Kampung Cipari, Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur tepatnya berada di koordinat 06º57’723” Lintang Selatan dan 108º28’156” Bujur Timur. Secara astronomis situs ini terletak di daerah cekungan atau lembah di atas ketinggian 661mpdl, tepat berada di kaki Gunung Ceremai dan berjarak sekitar 4km dari pusat perkotaan di Kuningan dan 35km dari Kota Cirebon dan luasnya 6.364m2.

Situs yang diduga sebagai desa pemukiman purbakala dengan karakteristik peninggalan bangunan megalitik seperti peti kubur batu, menhir serta bebatuan andesit pipih lebar lainnya ini ditemukan pada 1971 oleh seorang pemilik kebun bernama Wijaya. Pada 1972 diadakan penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan artefak dan ditemukan kapak batu, gelang batu, dan gerabah yang merupakan benda-benda bekal kubur. Tiga tahun kemudian diadakan penggalian total, seperti pada 1975 dilakukan penelitian dan eskavasi arkeologi secara sistematis di bawah pimpinan Teguh Asmar hingga menghasilkan temuan-temuan artefak seperti perkakas dapur, gerabah, perunggu hingga bekas-bekas pondasi bangunan. Pada 1976 dibangun Museum Taman Purbakala Cipari selama setahun kemudian pada 23 Februari 1978 museum tersebut diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. DR. Syarif Thayeb.

Berdasarkan hasil analisis secara tipologi dan stratigrafi pada situs ini, diperkirakan pernah mengalami 2 kali masa pemukiman, yaitu masa akhir neolitik dan awal pengenalan bahan perunggu atau masa perundagian yang berkisar pada 1000SM sampai dengan 500SM. Diperkirakan masyarakat pendukung kebudayaan di wilayah situs ini telah mengenal organisasi yang baik beserta kepercayaan yang erat bertalian dengan pemujaan nenek moyang dengan adat mendirikan bangunan dari batu-batuan besar.

Diperkirakan artefak-artefak yang ditemukan tersebut merupakan peninggalan manusia yang hidup dan tinggal di wilayah kaki Gunung Ceremai atau wilayah Cipari pada masa batu besar atau megalitikum yaitu pada masa sekitar 1000 tahun yang lalu. Selain artefak-artefak berupa alat-alat keseharian terdapat pula artefak-artefak berupa monumen dan dijadikan sebagai medium penghormatan bagi alam maupun bagi para leluhur dalam suatu proses ritual kebudayaan.

Tumpukan batu andesit setinggi 2m dengan luas 2.500m2 tersusun rapih memagari Taman Purbakala Cipari, setelah memasuki gerbang akan mendapati menhir, berupa batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan. Dibatasi jalan tapak, tedapat dua tanah lapang berbentuk lingkaran dan lingkaran lonjong berdiameter 6m dengan dibatasi susunan batu sirap, di tengah lingaran terdapat batu. Tempat yang bernama Batu Temu Gelang, sebuah tanah lapang berbentuk lingkaran dikelilingi batu sirap yang menjadi tempat upacara berhubungan dengan arwah nenek moyang dan juga berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di seberang Batu Temu Gelang, terdapat tiga peti kubur batu yang di dalam peti tidak ditemukan kerangka manusia, hanya ada fragmen tembikar (pernik, pedupaan, cawan), kapak batu, kapak perunggu, beliung persegi, gelang batu, dan manik-manik. Struktur peti kubur terdiri dari batu andesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula dan bentuk konstruksi swastika serta memiliki bentuk trapesium. Mengarah ke timur laut barat daya. Peti kubur batu ini keduanya lengkap dengan penutupnya yaitu berukuran 16x56x59cm dan merupakan wadah yang berfungsi untuk mengubur jenazah. Di arah barat kubur batu setelah melalui punden berundak atau Altar Batu yang berfungsi sebagai tempat upacara dalam hubungan dengan pemujaan arwah nenek moyang, terdapat menhir berukuran 2,5×1,25m dan ada pula dolmen yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu lain sehingga berbentuk meja. Di antara batu dolmen, juga batu dakon atau lumping batu yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.

Koleksi temuan untuk kapak batu kalasedon ada 49 dan gelang ada 10, sedangkan dari bahan perunggu kapak ada 9 dan gelang ada 1. Benda-benda tersebut ditemukan oleh warga dan masih sering ditemukan hingga saat ini terutama di Gunung Pucuk anak Gunung Ceremai. Benda-benda hasil penemuan yang berada di dalam museum antara lain kapak batu, gelang batu, kapak perunggu, gelang perunggu, lumping batu, batu obsidian, hematite, batu bahan, bulatan tanah, kendi, pendil, jembaran, kekeb, delepak (lampu), bokor, cangkir, tempat sayur, dan guci. Kapak batu yang ada di museum tampak halus namun ada beberapa bagian lain yang kasar, batuan tersebut terbuat jenis batuan tanah, batu rijang, kwarsa, bahan kalsedeom dan batu padas. Kapak tersebut berfungsi sebagai benda upacara bekal kubur di samping untuk alat mengolah pertanian. Gelang batu dibuat dari batuan kalsedom dan kwarsa dalam teknik pembuatannya sudah halus, gelang batu tersebut ditemukan di dalam peti kubur batu yang difungsikan sebagai benda upacara bekal kubur dan perhiasan. Temuan gerabah di situs ini ada yang berbentuk pragmen dan ada yang masih utuh dengan bermacam-macam bentuk.

*

Referensi:

http://www.pikiran-rakyat.com/wisata/211/05/14/145090/wisata-sejarah-ke-taman-purbakala-cipari-kuningan Kabupaten Kuningan, 14 Mei 2011. Wisata Sejarah ke Taman Purbakala Cipari Kuningan. Bandung: Pikiran Rakyat

www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=44&lang=id Kabupaten Kuningan, 29 Desember 2011. Tim Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. 2011. Keraton Kasepuhan. Bandung: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat

Firmansyah, Arief Muhammad. 2012. Jurnal: Koleksi Museum Purbakala. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Ekadjati, Edi S. 2003 hal. 23 Sejarah Kuningan: Dari Masa Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten. Bandung: Kiblat Buku Utama

*Tulisan ini dirangkai untuk draft salah satu entri Ensiklopedia Jawa Barat. Foto diambil oleh Ence Bagus di gerbang Taman Purbakala Cipari.
Kategori: Artikel dan Tulisan.