Tentang Seni Tarawangsa

Oleh Sinta Ridwan

Sebuah catatan selama perjalanan dalam penelitian tradisi lisan ini mengisi kotak data-data untuk dianalisis dan dikaji kandungan terhadap fokus penelitian, yaitu alat musik Tarawangsa dan latar belakang sejarah juga fungsi sosialnya di masyarakat Sunda dari masa lalu hingga saat ini.

Pada hari minggu pagi pukul 07.55 sampailah di rumah Kang Pupung, sebagai tuan rumah yang dengan sengaja menyajikan sebuah tradisi yang masih tradisional khas wilayahnya, yaitu terbangan dan tarawangsa, dikarenakan penelitian kali ini terfokuskan pada alat musik dan sejarah dari tarawangsa, maka yang mendapat perhatian lebih adalah segala bentuk dimulai dari proses, persiapan, dan acara utamanya. Sebenarnya upacara tarawangsa sendiri dipakai saat pesta panen raya, akan tetapi karena alasan tertentu, yaitu atas nama penelitian, maka tarawangsa dapat dimainkan di saat ada tujuan yang lain.

Pertama kali memasuki ruangan yang akan dijadikan tempat acara berlangsung, harum menyan menyerbak kalbu. Setumpuk sesajen yang ditempatkan di tengah pendukung acara memberikan daya tarik tersendiri. Posisi sesajen diistilahkan berada di bumi dan menghadap lagi, perlakuan tersebut berkaitan dengan kosmologi Sunda yang menjunjung tinggi dunia di atas, tempat para Sang Hyang.

Adapun isi sesajen tersebut di antaranya adalah tumpeng atau bungkus nasi pakai daun pisang ditancapkan ikan mujaer, ada telor/perdagingan. Lalu kelapa muda, singkong muda dipotong-potong sepiring, kendi tanah, air putih, tembaga belikar. Kemudian buah-buahan di antaranya yaitu; mangga, labu, cabai, pisang, singkong, kerupuk, surabi, gorengan, wajid, bonteng, apel, tomat, jeruk, pear, hingga pepaya, dan beberapa bunga; kembang kertas, sepatu, mawar putih lokal, mawar merah, sirih. Isi lainnya adalah, sambel, minyak wangi, uang di dalam amplop, beras, telor kampung, koin, bunga-bungaan, kain-kain, keris, tumpeng (paling atas adalah ayam). Lalu sepasang patung, diibaratkan sebagai Dewi Sri, dengan memakai selendang merah (yaitu kain bendera), kebaya dan kerudung, lalu sosok lelaki yang menggantungkan selendang putih, memaki kopeah, dan sarung.

Terlihat simbol dari beberapa ibu yang memegang kain selendang, seolah sedang menimang-nimang bayi, ungkapan tersebut berupa penghargaan, dengan menimang-nimang baju yang dipakai Dewi Sri, seorang dewi yang sangat dipuja dan dihormati keberadaannya oleh masyarakat Sunda khususnya para petani yang masih menyunda.

DSCF8565

Terdapat dekorasi yang indah di atas sesajen tepatnya, semacam gantungan yang menggantung 14 kebaya berwarna-warni khas Sunda yang bagus dan bersih, 16 kain samping yang batiknya berasal dari daerah Sunda, dan yang paling atas sususannya adalah sebuah selendang. Hal tersebut menyiratkan bahwa apabila tuan rumah didatangi oleh tamu dari luar, maka sebagai penghargaan dan penghormatan dari tuan rumah untuk menyambut tamu dengan menampilkan aura yang bersih, indah, dan menghargai dengan tidak memakai pakaian yang tidak layak dilihat oleh tamu sebagai salah satu contohnya.

Di Rancakalong ini adalah wilayah yang paling lama dan sudah 7 generasi yang bertahan dan tetap melestarikan tradisi lisan tarawangsa ini, salah satu grup yang ada di Rancakalong adalah Pusaka Wangi, grup ini diketuai oleh Kang Pupung dan sesepuh yang paling dihormati adalah Kang Dia, masih berlaku akan pemain yang memainkan tarawangsa yang diutamakan adalah orang yang memiliki trah (garus keturunan).

Kesenian tarawangsa selalu dimainkan pada malam hari menjelang pagi hari, dimulai pukul 21.00 hingga 04.00 shubuh. Kesenian ini diawali oleh jentrengan dan gesekan tarawangsa itu sendiri, kemudian ada satu orang lelaki yang sedang bersiap-siap dengan mengenakan kain dan keris di belakang pinggangnya. Pakaian yang dipakai mirip dengan pakaian abdi dalem yang dipergunakan di Mataram. Apabila melihat senjata yang dipakai yaitu keris, maka tentu dapat dinilai bahwa pengaruh Mataram masih melekat dalam masyarakat Rancakalong secara khusus, dan masyarakat Sunda pada umumnya.

Kemudian ada seorang ibu yang juga tengah bersiap diri sambil membacakan doa yang dilantunkan, ibu tersebut dikelilingi oleh beberapa perempuan yang membawa seserahan yang berisi kembang, gelang, minyak wangi, kosmetik, obat-obatan, air, perlengkapan mandi, sereh, menyan, kosmetik, sereh, dan daun hanjuang. Ada satu alat yang mereka pakai, yaitu selendang berwarna warni; merah, putih, kuning, hijau (konon katanya untuk penari yang digantikan selendangnya memberikan makna akan kenaikan tingkat sisi spiritualnya). Selendang tersebut memiliki ukuran panjang 2 meter dan lebar 2,5 meter. Kemudian mereka melakukan sebuah ritual dan doa bersama.

Ritual tersebut dilakukan oleh lelaki yang sedang menari atau ngibing mengikuti irama tarawangsa dan jentreng, seolah-olah tarawangsa-lah yang mempunyai andil dalam pengaluran cerita atau urutan adegan per adegan. Dikisahkan lelaki yang sedang menari tersebut dicipratkan air oleh ibu-ibu yang sedang menari sambil berputar-putar mengikuti irama tarawangsa. Beberapa ibu yang membawa seserahan juga menari mengikuti alunan tarawangsa. Seserahan tersebut akan disimpan dan bergabung dengan sesajen lainnya di posisi tengah.

Setelah seserahan disimpan, seorang ibu bernyanyi seolah memberi mantra, jari jemarinya menyentuh daun, tempo irama tarawangsa yang semula bernada lambat berubah ke nada agak cepat. Lelaki itu menari lagi, beserta empat selendang di leher, putih, kuning, merah, hijau, satu keris masih dibelakang, tempo alunan sedang, seolah mengobrol tetapi tidak memakai kata-kata melainkan pakai gesture yang dihadapinnya ngangguk-ngangguk lalu bersalaman dengan salah satu sesepuh kemudian penarinya menangis. Artinya adanya penyesalan telah khilaf, dengan menari di luar kesadaran dapat diartikan juga sebagai permintaan ijin untuk menari di depan para sesepuh, yang notabene-nya adalah tidak pantas melakukan hal tersebut di depan upacara ritual atau para sesepuh yang sedang duduk di bawah sedangkan penari menari berdiri dengan posisi lebih tinggi. Alunan nada tarawangsa pun semakin mengencang. Irama pada kecapi itu disebut catri.

Setelah lelaki itu selesai menari dan alunan tarawangsa yang semakin cepat itu berhenti, pergantian penari pun dilakukan. Dilanjutkan oleh beberapa ibu, salah satu dari ibu-ibu tersebut memakai empat selendang dan perhiasan yang berasal dari sesajen. Dapat disebut sebagai pimpinan, ia lalu bersujud kepada 4 elemen, yaitu bara sebagai api, tembikar sebagai tanah, tumbuhan sebagai kayu, dan air. Sesuai dengan kosmologi Sunda yang mengutamakan elemen-elemen tersebut, bahwa hidup terdiri dari unsur-unsur itu. Kemudian ia meminta ijin sama sesepuh, dan kepada salah satu di antara kami, sebagai bentuk penghormatan.

Nada irama tarawangsa mengalun lagi, ia memegang selendang putih, lalu mengarah ke barat, timur, selatan, dan utara, seolah-olah meminta ijin kepada makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya, sambil menggenggam samping, digantikan selendangnya oleh ibu yang sedari tadi menyanyi, seolah naik tingkat.

Adapun penghitungan waktu dan pergantian waktu sebagai berikut;

21.00 – 22.00   diawali oleh penari lelaki

22.30 – 24.00   penarinya adalah perempuan

00.00                  pergantian pemain Tarawangsa

00.00 – 01.30   penarinya kembali lelaki

01.30 – 03.00   penarinya perempuan kembali

03.00 – 04.20   penutupan oleh pihak perempuan

DSCF8851

Dilanjutkan pada pagi hari yang sangat cerah yang diawali dengan mewawancarai salah satu pelaku seni yang memainkan tarawangsa, yaitu Kang Pupung, 34 tahun. Satu hal paling utama yang harus ditanya adalah dari manakah sumber yang menyebutkan sejarah tarawangsa dan wilayah sini, Kang Pupung menyebutkan satu naskah kuno sebagai rujukan sumber sejarah yaitu Kitab Purwa Daksina, yang menceritakan kehidupan awal manusia hingga akhir jamannya. Kemudian demikianlah sejarah awal mula terciptanya tarawangsa versi Rancakalong.

Tarawangsa, lahir sesudah sejarah ti karugian. Negeri yang mengalami kerugian, dari segi kehidupannya. Tadinya negeri ini sangat subur, namun ketika Ratu Mataram ke II melarang tradisi Sunda dipakai lagi, tradisi karuhun Sunda tidak boleh dilakoni lagi karena akan merusak nilai-nilai dalam agama Islam. Pada jaman Prabu Siliwangi terakhir, Mataram menguasai Kerajaan Pajajaran lalu mereka menyebarkan agama Islam dan tradisi Sunda dilarang.

Setelah dilarang, Pajajaran dan wilayah lain langsung mengalami kerugian di sektor pertanian, termasuk manusia-manusianya, yaitu menjadi kelaparan. Kenapa jadi sengsara? Karena sebenarnya aturan-aturan tradisi memiliki paralelisme sareung agama, nu hirup disambung kanu hirup. Dalam tradisi ada aturan, makhluk nyaring (hewan), makhluk cicing (tumbuhan), makhluk eling (manusia) sebagai umat Gusti.

Setelah mengalami kegagalan, oleh Ratu Mataram hasil-hasil panen 5 ton dikumpulkan dan hanya menjadi 2 kg, Ratu Mataram mengumpulkan padi-padi tersebut lalu dibubur dan diberikan kepada rakyatnya, yang disebut bubur suro (tempat di Bogor) karena makan bubur melulu masyarakat lalu merasa bosan, kemudian Ratu Mataram ke II mendatangi sesepuh di Rancakalong, bertemu dengan sesepuh Eyang Prabu Panarosan. Ratu Mataram bertanya bagaimana mengatasi kelaparan ini, lalu diberi hanjeuli (sebesar gulungan tasbih) sebagai pengganti padi. Di Rancakalong hanya sebagian kecil yang mengalami kesengsaraan sehingga masih memiliki bahan makanan, yaitu hanjeuli. Lalu Ratu Mataram II itu dinasehati oleh Eyang Prabu Panarosan, “Mungkin kanu nyaram tradisi nu dianut Pajajaran anu agem na nyaeta agama boleh dijalankan tradisi juga dijalankan jadi kudu seimbang,” lalu Ratu Mataram menurut.

Ratu Mataram mau menjalankannya lagi, agama dan tradisi tapi bibitnya ia harus mencari dimana, lalu dia disuruh bertapa di Gunung Padang (alam kesucian) kemudian selama bertapa ia mendapat petunjuk dari Gusti akan mendapat bibit tatali paranti/adab-adabnya harus dijalankan lagi.

Kaping 10 hapit, Keraton Mataram ditojo cahaya, ada cahaya masuk ke dalam keraton, langsung menyorot seikat padi, arang, kain putih, dan kekembangan. Lalu Ratu Mataram menemukan padi langsung dipeluk seperti memeluk bayi, dan menari-nari, meluapkan kegembiraan, tiba-tiba ada suara yang bilang, “Wayahna ulah ugal-ugalan, jangan suka dulu, ambil pare, kaya dulu lagi…”. Maksudnya adalah harus memakai ritual terlebih dulu (yang berasal dari Rancakalong), ditanam memakai tatali karuhun, hal inilah konon yang menyebabkan Mataram dan Pajajaran bersatu kembali gara-gara petuah dari Rancakalong.

Setelah tanamannya subur, masyarakat boga pamilik, boga niat, panen pertama, kedua, ketiga, hingga panen keempat, masyarakat berniat untuk melaksanakan nga-Rosulkeun, sujud ka Kawasa dengan alat media berupa seni. Syukurannya mimitina terbangan, sholawatan nabi barjanji untuk pagi harinya, lalu malam harinya tarawangsaan (awal mulanya : sawer gerak dan tari, lalu diiringi oleh karinding dan celempung, kemudian oleh Sunan Kalijaga, sareng sesepuh Rancakalong menciptakan Tarawangsa). Mereka adalah Sunan Kalijaga, Eyang Geleng Pangancingan, Eyang Prang Ageni, Eyang Prabu Panarosan, Embah Estu, Mbah Muhidin, Eyang Rentang Kusuma, Eyang Prabu Ebeul Lisung, Mbah Saleh, panutup, Eyang Nasja Kusuma.

Mereka menciptakan Tarawangsa, inspirasi awalnya adalah dua kawat Tarawangsa, dan tujuh kawat untuk kecapi. Dari sinilah awal mula keberadaan Tarawangsa hingga saat ini masih dipergunakan dan difungsikan sebagai media seni dalam upacara penghormatan dan syukuran atas kebaikan Dewi Kesuburan.

Di Rancakalong hanya Kang Pupung yang dapat membuat alat musik tarawangsa. Tri Utami, seorang artis 5 tahun yang lalu memesan padanya dua pasang tarawangsa, entah dipergunakan sebagai apa. Kang Pupung itu berguru pada Bapak Oting (tetangga), Bapak Oting berguru pada Aki Awatma (pamannya).

Tarawangsa, dahulu pada awal mulanya terbuat dari kayu kembang kenanga, alasannya karena hampos (hampa) dan dagingnya yang lunak. Lalu berganti pada kayu suren, kemudian beralih pada kayu pohon Jengkol sejak jaman Eyang Oting hingga saat ini. Proses pembuatannya, untuk kayu ukuran kecapi adalah panjang 1m, lebar 30cm dan tarawangsa panjang 50cm, lebar 20cm. Bentuk kepala naga yang dipakai pada jaman dahulu, lalu Pak Oting menciptakan bentuk wayang, simbol orang. Pada 2002 Kang Pupung menciptakan inovasi baru yaitu bentuk atasnya pada tarawangsa menyerupai kujang (pisau). Arti seni semiokanya adalah Pajajaran (melalui sejarahnya). Arti dari tarawangsa itu sendiri menurut Kang Pupung adalah “ta” tatabeuhan (pukul-pukulan), “ra” rakyat, “wa” wali, “ang” ngalalana (kehidupan), dan “sa” sanga (sembilan). Yang artinya adalah tarian atau seni untuk para Wali Sanga. Adapun 7 lagu pokok atau sakral yang dipakai oleh alat musik tarawangsa dan selalu dimainkan oleh grup milik Kang Pupung baik dalam upacara seren taun atau dalam hiburan yang khusus diadakan, seperti dalam penelitian kali ini, lagu-lagu tersebut sesuai dengan pakem dan selalu diturunkan kepada generasi selanjutnya, di antaranya adalah:

  1. Nangis Pohaci, durasi 5 menit, alunan tarawangsa sangat lambat.
  2. Pangapungan, durasi 5 menit, alunan tarawangsa agak cepat, tarian atau ngibing-nya berbeda.
  3. Pamapag (papag), durasi 5 menit.
  4. Batin, papag kasucian, Mataraman, durasi 5 menit.
  5. Iring-iringan (meluapkan rasa gembira) setelah beras sudah sampai atau tiba.
  6. Jemplang, kartosna ulah jeujeun ulang malang, kalau kerja harus fokus, jangan pamaleusan (malas), durasi 5 menit.
  7. Limbangan, harus seimbang, selaras, lamun hirup teh kudu saimbang, durasi 5 menit.

Nangis Pohaci, dimaksudkan untuk tumbuh-tumbuhan, contohnya ketika kita memakan pisang, dan pisang itu adalah makhluk hidup, lalu kita makan kemudian kita berbuat keburukan, oleh karena itu Pohaci akan menangis melihat kelakuan buruk kita, bagian tubuhnya digunakan untuk sesuatu yang buruk, Pohaci sangat mengharapkan apa yang sudah ia korbankan dipakai oleh manusia dalam berbuat kebaikan. Maksudnya adalah tujuan kita hidup yaitu bukan hanya untuk mencapai kebenaran tetapi juga mendapatkan keiklasan dan keridhaan Gusti, “Mulih ka jati kalih ka asal…uwih. Lahir, bubur lajur”, begitu ucap Kang Pupung.

 *

Referensi:

Danandjaja, James. 2007. Foklor Indonesia – Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti.

Dorson, Richard M. 1972. Foklore and Folklife An Introduction. Chicago: The University of Chicago Press.

Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Filologi Lisan, Telaah Teks Kentrung. Surabaya: CV. Lautan Rezeki.

Rusyana, Yus. 2006. “Peranan Tradisi Lisan dalam Ketahanan Budaya” dalam Festival dan Workshop Tradisi Lisan Nusantara. Jakarta: Direktorat Tradisi, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

*Tulisan ini adalah bagian dari tugas mata kuliah Folklore pada 2009, penelitian lapangan pada 22-23 November 2009.

Kategori: Tulisan dan Ulasan.