Tentang Tarawangsa Jentreng

Oleh Sinta Ridwan

Rusyana menyebutkan bahwa tradisi lisan merupakan bagian dari kebudayaan, oleh karena itu, tradisi lisan tentulah mempunyai hubungan dengan kebudayaan dan mencerminkan pula keadaan kebudayaan. Hidupnya tradisi lisan dalam masyarakat mencerminkan hidupnya kebudayaan. (Rusyana, 2006: 1)

Tradisi lisan yang lebih populer disebut folklore ini memiliki keragaman jenisnya, seperti halnya disebutkan oleh Koentjaraningrat (1982) bahwa salah satu cakupan tradisi lisan adalah unsur-unsur kesenian folk termasuk instrumen keseniannya. Begitu pula Dorson (1972: 2-5) menyebutkan salah satu ruang lingkup di bagian keempat adalah performing folk arts (pertunjukan kesenian) seperti musik tradisional yang hingga kini masih memiliki daya tarik tersendiri untuk penelitian lebih lanjut. Kesenian folk masih dipergunakan oleh sebagian masyarakat di salah satu desa di Jawa Barat yang bernama Rancakalong hingga sekarang. Desa yang berada di wilayah Kabupaten Sumedang ini memiliki jumlah penduduk 4012 orang.

Sebagai masyarakat Sunda yang sangat perhatian dalam pemeliharaan alam dan sekitarnya, masyarakat di Rancakalong juga masih aktif melakukan hubungan secara spiritual terhadap penjaga-penjaga alam yang bersifat ghaib. Oleh karena itu, kesenian di Rancakalong pun tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi kebudayaan yang hidup dalam masyarakat penyangganya. Salah satu kesenian khas Rancakalong adalah kesenian jentreng atau tarawangsa.

Seni tarawangsa adalah kesenian yang tumbuh dari pola kehidupan bertani masyarakat Rancakalong. Seni tarawangsa adalah upacara ritual yang berhubungan dengan magis religius untuk menghormati Dewi Kesuburan, yaitu Dewi Sri. Walaupun keberadaannya sebagai salah satu tokoh dalam mitologi, masyarakat Rancakalong yang menyebutnya dengan nama Kersa Nyai masih melakukan penghormatan tersebut hingga saat ini dengan tujuan supaya Kersa Nyai tetap tinggal dan betah di Rancakalong. Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang menempatkan seni tarawangsa sebagai media pokok dalam penyelenggaraan upacara panen padi atau biasa disebut juga seureun taun.

Tarawangsa merupakan instrumen musik gesek yang bentuknya mirip dengan alat musik rebab. Resinatornya terbuat dari kayu berleher panjang dan bersenar 2 utas. Sedangkan jentreng adalah instrumen musik petik yang bentuknya mirip dengan alat musik kecapi bersenar 7 utas. Kegiatan acara tersebut selain diisi dengan doa juga dengan tari-tarian yang dilakukan para penari yang diiringi dengan petikan alat musik tarawangsa dan jentreng ini, tarian yang gerakan-gerakannya diibaratkan sebagai media penghubung dunia ghaib dan batin si penari yang disebut kaserepan. Seni tarawangsa pun dipakai untuk memperingati hari-hari besar Islam. Sampai sekarang kesenian tarawangsa dan jentreng masih tetap hidup, meskipun tidak berkembang luas seperti tari pergaulan lainnya. Masih terpeliharanya kesenian ini, karena diwariskan secara turun temurun oleh pemimpin kelompok kepada keturunannya. Adapun ketidak-berkembangnya, karena kesenian ini tidak dapat dipelajari seperti jaipongan atau tari pergaulan lainnya karena masih kuat unsur religius di dalamnya.

Tarawangsa merupakan salah satu jenis kesenian rakyat yang ada di Jawa Barat. Istilah tarawangsa sendiri memiliki dua pengertian: (1) alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi dan (2) nama dari salah satu jenis musik tradisional Sunda.

Di dalam sejarah, tarawangsa lebih tua keberadaannya daripada rebab, alat gesek yang lain. Naskah kuna Sewaka Darma dari awal abad ke-18 telah menyebut nama tarawangsa sebagai nama alat musik. Rebab muncul di Tanah Jawa setelah jaman Islam sekitar abad ke 15-16, merupakan adaptasi dari alat gesek bangsa Arab yang dibawa oleh para penyebar Islam dari tanah Arab dan India. Setelah kemunculan rebab, tarawangsa biasa pula disebut dengan nama rebab jangkung (rebab tinggi), karena ukuran tarawangsa umumnya lebih tinggi daripada rebab.

Di dalam sebuah pertunjukan, karena sebagai alat musik gesek, tarawangsa tentu saja dimainkan dengan cara digesek. Akan tetapi yang digesek hanya satu dawai, yakni dawai yang paling dekat kepada pemain; sementara dawai yang satunya lagi dimainkan dengan cara dipetik dengan jari telunjuk tangan kiri. Kemudian, sebagai nama salah satu jenis musik, tarawangsa merupakan sebuah ensambel kecil yang terdiri dari sebuah tarawangsa dan sebuah alat petik tujuh dawai yang menyerupai kecapi, yang disebut jentreng.

Kesenian tarawangsa hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu di Jawa Barat, yaitu di daerah Rancakalong (Sumedang), Cibalong, Cipatujah (Tasikmalaya Selatan), Banjaran (Bandung), dan Kanekes (Banten Selatan). Dalam kesenian tarawangsa di daerah Cibalong dan Cipatujah, selain digunakan dua jenis alat tersebut di atas, juga dilengkapi dengan dua perangkat calung rantay, suling, juga nyanyian.

DSCF8917

Alat musik tarawangsa dimainkan dalam laras pelog, sesuai dengan jentrengnya yang distem ke dalam laras pelog. Demikian pula repertoar-nya, misalnya tarawangsa di Rancakalong terdiri dari dua kelompok lagu, yakni lagu-lagu pokok dan lagu-lagu pilihan atau lagu-lagu tambahan, yang semua berlaraskan pelog. Lagu pokok terdiri dari lagu Pangemat/Pangambat, Pangapungan, Pamapag, Panganginan, Panimang, Lalayaan dan Bangbalikan. Ketujuh lagu tersebut dianggap sebagai lagu pokok, karena merupakan kelompok lagu yang mula-mula diciptakan dan biasa digunakan secara sakral untuk mengundang Dewi Sri. Sedangkan lagu-lagu pilihan atau lagu-lagu yang tidak termasuk ke dalam lagu pokok terdiri dari Saur, Mataraman, Iring-iringan (Tongeret), Jemplang, Limbangan, Bangun, Lalayaan, Karatonan, Degung, Sirnagalih, Buncis, Pangairan, Dengdo, Angin-angin, Reundeu, Pagelaran, Ayun Ambing, Reundeuh Reundang, Kembang Gadung, Onde, Legon (Koromongan), dan Panglima.

Lagu-lagu tarawangsa di Rancakalong jauh lebih banyak jumlahnya daripada lagu-lagu tarawangsa di Banjaran dan Cibalong. Lagu-lagu tarawangsa di Banjaran di antaranya terdiri dari Pangrajah, Panimang, Bajing Luncat, Pangapungan, Bojong Kaso, dan Cukleuk. Sementara lagu-lagu Tarawangsa di Cibalong di antaranya terdiri dari Salancar, Ayun, Cipinangan, Mulang, Manuk Hejo, Kang Kiai, Aleuy, dan Pangungsi.

Sebagaimana telah disinggung di atas, alat musik pokok kesenian tarawangsa terdiri dari tarawangsa dan jentreng. Menurut sistem klasifikasi Curt Sachs dan Hornbostel, tarawangsa diklasifikasikan sebagai Chordophone, sub klasifikasi neck-lute, dan jentreng diklasifikasikan juga sebagai Chordophone, sub klasifikasi zither. Sedangkan menurut cara memainkannya, tarawangsa diklasifikasikan sebagai alat gesek dan jentreng diklasifikasi sebagai alat petik. Alat musik Tarawangsa terbuat dari kayu kenanga, jengkol, dadap, dan kemiri. Dalam ensambel, tarawangsa berfungsi sebagai pembawa melodi (memainkan lagu), sedangkan jentreng berfungsi sebagai pengiring (mengiringi lagu).

Pemain tarawangsa hanya terdiri dari dua orang, yaitu satu orang pemain tarawangsa dan satu orang pemain jentreng. Semua pemain tarawangsa terdiri dari laki-laki, dengan usia rata-rata 35-60 tahunan. Mereka semuanya adalah petani, dan biasanya disajikan berkaitan dengan upacara padi, misalnya dalam ngalaksa, yang berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah. Dalam pertunjukannya ini biasanya melibatkan para penari yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka menari secara teratur. Mula-mula Saehu/Saman (laki-laki), disusul para penari perempuan. Mereka bertugas ngalungsurkeun (menurunkan) Dewi Sri dan para leluhur. Kemudian hadirin yang ada di sekitar tempat pertunjukan juga ikut menari.

Tarian tarawangsa tidak terikat oleh aturan-aturan pokok, kecuali gerakan-gerakan khusus yang dilakukan Saehu dan penari perempuan yang merupakan simbol penghormatan bagi dewi padi. Menari dalam kesenian tarawangsa bukan hanya merupakan gerak fisik semata-mata, melainkan sangat berkaitan dengan hal-hal metafisik sesuai dengan kepercayaan si penari. Oleh karena itu tidak heran apabila para penari sering mengalami trance (tidak sadarkan diri).

Untitled

Keterangan tentang lingkungan penuturan:

  1. Dari siapakah penutur menerima tradisi lisan tersebut? Kapan? Apakah dengan jalan berguru?

— Penutur mendapatkan sumber data tersebut lewat berguru (sebagai pelaku seni) dan juga membaca naskah kuno milik sesepuh di Rancakalong (sebagai penerus) sekitar 3 tahun lalu.

  1. Di mana dan dalam kesempatan apa tradisi lisan itu biasa dituturkan? Apakah sekarang masih biasa dituturkan?

— Ketika masyarakat petani Rancakalong melaksanakan upacara syukuran setiap tahun sehabis panen raya sastra lisan tersebut atau permainan Tarawangsa dilakukan saat menjelang tengah malam hingga waktu shubuh. Dan masih dilakukan hingga saat ini.

  1. Untuk maksud apa tradisi lisan itu dituturkan?

— Selain dimaksudkan untuk upacara rutin, sastra lisan ini dituturkan kepada para peneliti atau mahasiswa yang sedang penelitian memfokuskan dan mengkaji sastra lisan ini.

  1. Oleh siapakah biasanya tradisi lisan itu dituturkan? Masih berlakukah hal itu sampai sekarang?

— Oleh sesepuh di Rancakalong, mereka masih menuturkan sastra lisan tersebut hingga saat ini, bahkan mengajarkan kepada calon penerusnya.

  1. Kepada siapakah sastra lisan itu dituturkan?

— Selain kepada penerusnya, juga dituturkan kepada para peneliti atau penikmat seni.

  1. Adakah syarat yang harus dipenuhi sebelum atau selama penuturan?

— Apabila penutur adalah para sesepuh maka ada semacam ritual tertentu, seperti meminta ijin kepada karuhun setempat, tetapi apabila penuturnya adalah salah satu penerusnya, demi membagikan informasi, mereka tidak mengadakan ritual tertentu.

  1. Bagaimana suasana penuturan itu?

— Suasananya tidak terlalu tegang, di antara penutur dan pengumpul seolah tidak ada jarak, berbaur dan nyaman, juga informatif sekali penuturnya.

  1. Komentar atau seruan apa yang biasa diberikan oleh pendengar selama penceritaan?

— Pendengar hanya memberi respon yang tidak berlebihan, karena pada prinsipnya pendengar bertugas bertanya, mendengar dan mencatat apa saja yang dikatakan oleh penutur. Hanya respon seperti; wow dan pujian.

  1. Apakah yang dikemukakan oleh pendengar sebagai kesimpulan, sebagai pujian bagi penutur, sebagai komentar kepada pelaku cerita, dsb?

— Pendengar sangat terbawa emosinya ketika mendengar penuturan dari pelaku cerita sehingga di akhir percakapan, si pendengar memberikan komentar, “Informasi yang telah diberikan pasti akan berguna bagi saya, terima kasih sekali sudah mau meluangkan waktunya untuk bercerita pada saya, saya sangat setuju sekali dengan kepercayaan yang berlaku di sini, bahwa sebagai manusia haruslah menjaga perilakunya, mengasah kesadaran diri memperlakukan makhluk lain dan alam ini”. Sungguh sangat informatif sekaligus mencerahkan sebagian pola pikir saya mengenai tujuan hidup di alam ini, dan kesadaran akan kesombongan sebagai makhluk yang sempurna. Sebagai masyarakat Sunda sudah seharusnya tidak terpengaruh pada pikiran yang dapat merusak kestabilan hubungan antara manusia dan alam.

  1. Adakah tempat tertentu atau keluarga tertentu yang dikenal sebagai pusat penuturan? Jika ada, berilah catatan tentang tempat demikian.

— Ada sebuah tempat yang dijadikan sebagai pusat penuturan, sepertinya sudah ditunjuk dan bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk memberikan informasi kepada yang membutuhkan. Di antaranya adalah rumah Kang Pupung, terpilih karena secara turun temurun sudah melestarikan sastra lisan tersebut.

Adapun penilaian terhadap sastra lisan sebagai berikut:

  1. Bagaimana pendapat dan penilaian si penutur terhadap tradisi lisan yang dituturkannya itu? Mengapa ia berpendapat demikian?

— Sebuah kepercayaan yang masih orisinil atau dengan kata lain yang lahir dari karuhun harus dilestarikan kebertahanannya, dengan demikian sebagai masyarakat yang tinggal di desa dan mengandalkan alam sebagai partner hidupnya, hidup diberi hidup oleh yang hidup, merupakan landasan akan kelestarian hubungan manusia dan alam, saling memberi.

  1. Bagaimana pendapat dan penilaian pengumpul? Mengapa berpendapat demikian?

— Sebagai pengumpul data, merasakan kemudahan yang dikarenakan terbukanya akses untuk mendapatkan data, sebagai penutur, mereka tidak menutupi informasi, sehingga mempermudahkan penelitian ini.

 *

Referensi:

Danandjaja, James. 2007. Foklor Indonesia – Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafiti.

Dorson, Richard M. 1972. Foklore and Folklife An Introduction. Chicago: The University of Chicago Press.

Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Filologi Lisan, Telaah Teks Kentrung. Surabaya: CV. Lautan Rezeki.

Rusyana, Yus. 2006. “Peranan Tradisi Lisan dalam Ketahanan Budaya” dalam Festival dan Workshop Tradisi Lisan Nusantara. Jakarta: Direktorat Tradisi, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.

*Tulisan ini adalah bagian dari tugas mata kuliah Folklore pada 2009, penelitian lapangan pada 22-23 November 2009.

 

 

Kategori: Tulisan dan Ulasan.