Terima Kasih Kick Andy

Oleh Sinta Ridwan

Pada Januari lalu, Mas Bambang, salah satu asisten produser program Kick Andy Hope yang pernah meliput saya pada Oktober tahun lalu tiba-tiba memberi kabar bahwa ia akan memberikan kejutan lagi. Satu minggu kemudian dia memberitahu saya sebuah kabar berita yang membuat saya bengong, yaitu saya masuk nominasi untuk penerima salah satu penghargaan Kick Andy saat ulang tahunnya yang ke-6. Saya hanya bisa menjerit dan bilang “Kagggeeetttt…” tanpa bisa mengutarakan lagi rasa senang dan tidak menyangka pada tulisan untuk membalas berita dari Mas Bambang.

Mas Bambang adalah lulusan sejarah Undip angkatan 2005, seumuran dengan Puad. Mas Bambang ini baik sekali, tapi suka iseng. Isengnya suka ngasih saya kejutan dan bahan becandaan yang membuat saya nyaman dan menyingkirkan pikiran jelek saya pada orang-orang pemburu berita dan bekerja di media massa. Saya langsung senang plus begitu melihat dan mengobrol dengan kru lain Kick Andy. Saya sempat berkomentar sesaat, “Oh, mungkin karena mereka dari program Kick Andy, makanya bersahaja semua orangnya, baik-baik, dan menghargai antar-sesama”.

Beberapa hari kemudian, Mas Bambang memberitahu saya lagi bahwa dia tengah memperjuangkan posisi saya dengan nominasi lain, dan calon-calon nominasi lain dari program Kick Andy selama satu tahun yang sekategori, saya masuk kategori Young Heroes. Tolong dikoreksi barangkali saya salah. Dia bilang bahwa dia mengutarakan depan juri-juri tentang pentingnya belajar aksara kuno dan mempelajari kembali sejarah. Saya terharu mendengarnya.

Kemudian, satu lagi kejutan yang Mas Bambang berikan pada saya. Yaitu, saya diundang ke acara pemberian penghargaan itu di Metro tv dan katanya semua nominasi yang berjumlah belasan itu diundang semuanya. Saya pun nurut. Dan bahkan saya tidak mengharapkan dapat penghargaan itu atau apa, masuk ke dalam nominasi 3 besar saja, kaget dan tidak menyangka. Beruntungnya saya diperhatikan oleh mereka (pikir saya). Lewat fesbuk Mas Bambang menghubungi saya dan mengabari saya berita tentang masuk nominasi. Terakhir, ia memberi link tentang berita itu di website Kick Andy.

Setelah saya melihat isi berita website itu, hal yang paling membuat saya kaget adalah para juri yang notabene adalah idola saya semua. Romo Muji, Imam Prasodjo, dan Komarudin Hidayat. Tangan saya langsung gemetaran ketika membaca nama dan latar belakang mereka. Minder pun muncul tatkala melihat nominator lain yang hebat-hebat. Orang-orang yang keren. Saya pun semakin menjauhkan pikiran saya tentang mendapatkan penghargaan itu. Ah, gak mungkin.

Belasan Februari saya berada di Perpustakaan Nasional selama 4 hari. Saya kabari Mas Bambang dan dia ternyata ingin menghampiri sambil bawa wartawan Kick Andy magazine untuk wawancara. Saya meminta mereka datang saja di hari Rabu, ke Perpusnas, karena saya sedang mendata ulang naskah-naskah kuno koleksi sana.

Mas Bambang pun datang, sambil membawa bencandaannya yang khas, saya heboh di tempat yang seharusnya sepi. Kang Aditia karyawan Perpunas juga ikutan nimbrung dan kami mengobrol banyak halngalor-ngidul setelah wawancara dengan KA magazine yang katanya akan publish Maret ini. Mas Bambang juga menawarkan saya dan kawan-kawan yang menemani ke Perpusnas untuk nonton program KA langsung di studio Metro tv. Wah, saya senang sekali bisa dapat kesempatan itu, apalagi sepulang dari sana saya bawa banyak oleh-oleh. Buku, dan lainnya. Episode yang saya tonton itu tentang film 5 Menara.

Tanggal 25 Februari saya disuruh datang kembali oleh teman-teman KA, saya mendapat undangan dari mereka. Sayangnya ketika ingin membawa teman-teman kelas Aksakun ke Jakarta, ternyata kuota undangan dibatasi sampai 3 orang. Entah kebetulan atau tidak, saya memang betul-betul tidak punya uang untuk berangkat ke Jakarta sekalipun. Laptop saya digadaikan di Pegadaian resmi untuk uang bulanan saya bulan Februari. Pada saat Sabtu itu tanggal 25 Februari saya bingung, sementara mas Bambang bilang bahwa ongkos akan diganti dari Metro nanti. Akhirnya saya mendapatkan ongkos dari ibunya Puad (karena Puad yang ingin menemani saya), dan dari kawan dekat saya kang Gigi.

Saya pun bisa berangkat ke Jakarta dengan kereta. Kenapa memilih kereta? Karena saya dan Puad ingin menikmati perjalanan romantis. Pemandangan dan suasana naik kereta itu jauh lebih romantis dan menyenangkan daripada lewat tol Cipularang. Sesampainya di Gambir, adik saya pun mengirim saya uang untuk menambah-nambah ongkos pergi. Hehehe, saya betul-betul tidak punya uang saat itu, karena biasanya saya mendapatkan uang bulanan dari Wanus dan Penerbit Ombak, tapi entah kenapa mereka kompak menghentikan itu pada bulan Januari. Sepertinya ada yang salah dengan saya sehingga mereka berhenti memberi saya funding bulanan. Tidak apa, pikir saya. Pelajaran pertama saya tentang pemasukan keuangan bulanan saya. Oneday, saya akan bekerja dan mengabdi pada sebuah pekerjaan yang memang saya akan lakukan dan nyaman buat saya. Kalau ke Penerbit Ombak, saya yang meminta untuk tidak dikirim mulai bulan ini. Saya masih bisa terus melangkah ke depan kok, sambil senyum-senyum sendiri.

Sesampainya di studio Metro tv saya kaget banyak sekali foto-foto yang dipajang di sana. Termasuk wajah saya yang kebetulan sedang memegang laptop. Saya rindu laptop itu, laptop kesayangan saya, teman tidur saya. Saya pun menangis depan bingkai foto yang ada wajah sayanya bukan karna ada foto saya di gedung Metro tv ini tapi karna saya rindu dengan laptop saya. Ia bagaikan sebelah jiwa saya. Ketika dijauhkan seperti ini rasanya seperti kehilangan. Saya juga pernah menggadaikan laptop saya dulu tahun 2009 untuk membayar uang kuliah semesteran di pascasarjana.

Di lobby bawah gedung depan tempat acara KA Awards diadakan, saya berkeliling dan sempat foto-foto dired carpet (atas suruhan mas Bambang, sambil disuruh menunggu). Saya dan Puad senyum-senyum sendiri saat kami foto di depan foto saya yang besar. Saya becanda sama Puad, maaf ya, maklum saya kan dari desa, suka pengen difoto di tempat begini, apalagi depan muka saya sendiri, apalagi beneran ada karpet merahnya juga seperti yang mas Bambang bilang akan disambut dengan red carpet. Dasar ya.

Anehnya, saya melihat ada tempelan double-tip di bawah nama saya, saat saya buka ada tulisan Young Heroes. Jantung saya langsung, deg. Kok ditulis ini? Saya perhatikan foto-foto lain, khususnya 2 nominator yang sekategori dengan saya tidak ada double-tip-nya. Saya punya firasat buruk sama mas Bambang, bahwa dia mau ngasih saya kejutan lagi. Dikasih kejutan kok malah difirasati buruk sih? Soalnya mas Bambang itu pernah buat saya nangis saking kagetnya gara-gara syuting KA Hope. Saya sampai terbata-bata dan tidak bisa ngomong di depan orang banyak, apalagi bang Andy F. Noya sendiri. Itu kan menyebalkan (bukan dalam arti yang sebenarnya), sudah bikin saya kikuk, gemetaran, tak ada persiapan, dan sebagainya. Firasat buruk di sini dalam arti yang konotatif loh ya, bukan suudzon.

Hal yang aneh lagi adalah saya disuruh berdandan, diajak ke ruang tatarias dan saya langsung dikerjakan oleh dua orang yang selalu bertanya, saya ini siapa? Saya jawab, saya tidak tahu siapa saya, dan sebagai apa di sini. Dua perempuan yang menghias saya pun ragu-ragu dan bingung. Hihihihi. Saya senyum-senyum saja plus mewanti-wanti, “Mbak jangan tebal-tebal dong mbak. Please.” Tapi dibalas dengan saya dinasehati kalau sebaiknya diam saja karena kalau di depan layar kaca itu muka berdandan akan terlihat biasa saja. Saya pun ngikut saja. Karena saya dikepung dan tidak bisa kabur dijaga juga sama beberapa karyawan KA. Puad tertawa puas melihat hasil dandanan saya. Saya semakin malu dan canggung berada di depan banyak orang dengan tampilan seperti ini.

Posisi duduk saya pun diatur sedemikian rupa bersama nominator yang lain. Awalnya saya duduk santai saja. Tapi lama-lama kok ada hal aneh lagi. Kalau memang benar kata mas Bambang itu semua nominasi diundang. Saya menghitung orang-orang yang didandani juga. Kok hanya 7 orang ya? Kan harusnya belasan. Mampus aku, masa sih aku harus ke depan panggung. Di depan banyak orang yang saya hapal muka-muka mereka dari layar kaca. Duh, jantung saya makin deg-degan. Saya perhatikan satu persatu penonton yang ada: A. Fuadi, Andrea Hirata, Adnan Buyung Nasution, 3 juri yang saya takuti plus kagumi, Yayang C. Noer, Anies Baswedan, pemilik Mustika Ratu, dan sebagian besar mungkin pengusaha-pengusaha dan undangan khusus acara KA ini. Saya semakin gugup berada di tempat seperti ini. Tidak biasa.

100_1890

Acara pun di mulai, satu persatu orang-orang yang duduk di dekat saya dipanggil satu-satu dan diberi penghargaan. Pertama Chanee dari Perancis, terakhir kang Dadang dari Tasikmalaya, posisi kang Dadang di sebelah Puad. Jantung saya semakin bedegup kencang. Ditambah lagi ada salah satu pengatur acara menghampiri saya dan berbisik, “Nanti jarak mik-nya satu jengkal ya.” Hah, kenapa kasih tahu saya? Memangnya saya bakal maju ke depan. Orang itu dengan muka serius bilang, “Ya, kamu maju ke panggung”. Mampus, mampus, saya memaki dalam hati. Tapi ada kagetnya juga, wah, masa? Aduh, gila. Aduh. Mas Bambang pun sukses membuat saya menjadi seperti ini lagi. Blank untuk yang kedua kalinya.

Anies Baswenda pun tampil di panggung dan mempersilahkan yang hadir melihat video dan menyebut nama saya. Jantung saya seperti berhenti, dan mata saya berkaca-kaca melihat video itu. Perasaan yang sama ketika melihat liputan Oasis dan KA Hope tahun lalu kembali merasuk jiwa saya. Saya tersenyum lebar dan gugup sepanjang perjalanan menuju panggung, ketika pak Anies memanggil nama saya. Seolah-olah ketika saya berjalan, ribuan mata sedang menatap saya, memperhatikan saya. Saya betul-betul mau pingsan. Saya gugup. Gemetar, sakit perut, mules, mata berkunang-kunang. Pokoknya saya mau kabur dan lari ke gunung untuk menyendiri.

Setelah menerima simbol penghargaan dari KA Heroes dengan kategori Young Heroes dari tangan pak Anies langsung menambah saya bingung, kikuk, malu tapi bersyukur dan senang, dan blank. Saya bingung mau ngomong apa. Mas Bambang sukses buat saya begini lagi. No. Saya pun berusaha sekali mengucapkan beberapa kata, yang saya tidak tahu itu nyambung atau tidak. Dan tidak berani menatap mata-mata yang ada di depan saya. Kecuali yang saya bisa saya lakukan adalah pada saat ketemu mata bang Andy, senyum saya lebar sekali, ditambah dengan acungan jempolnya. Saya merasa ada ketenangan di sana, yang diberikan bang Andy. Mata para juri yang terus menatap saya. Betul-betul mirip kondisi ketika ditodong dengan senjata. Tidak bisa bergerak sedikitpun. Kira-kira rasanya seperti itu. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih yang diberikan untuk semuanya, saya tidak sanggup menyebutkan nama satu-per-satu, orang-per-orang, karena saya betul-betul tidak sanggup berbicara banyak. Gagap.

Hal yang paling banyak saya lakukan adalah senyum, banyak senyum, berbicara hanya 3 kalimat, paling banyak mengucapkan terima kasih kepada semuanya. Semua yang telah membantu saya sampai ada di sini. Kepada penyakit saya yang saya anggap musibah lalu saya sadar bahwa itu merupakan anugerah (kalimat ini yang saya sesali kenapa tidak selesai, harusnya merupakan anugerah yang membuat saya sadar bahwa hidup ini bermakna setelah mengingat kematian). Saya seperti orang yang mau pingsan mungkin dilihat oleh banyak orang.

Saya ingin cepat-cepat turun dan kembali duduk di posisi saya. Sambil membawa semacam “piala” simbol penghargaan yang berat itu, saya berjalan menunduk dan terus tersenyum, seolah tidak ada keberanian untuk menatap balik mata-mata itu. Saat duduk saya menghela napas panjang sekali. Lega. Dan hal yang membuat saya kembali riang dan berwarna lagi ketika disuruh ke depan semua penerima penghargaan disambut jatuhnya bintang warna-warni (kertas-kertas) dan balon. Ya, balon. Saya senang sekali ada balon di sana. Banyak lagi. Rasanya saya adalah makhluk paling ceria dan beruntung di dunia ini. Saya menerima ucapan harapan agar terus bersemangat dengan melakukan apa yang sudah saya lakukan lewat orang-orang yang menyalami saya. Bahkan pak Komarudin memanggil nama saya untuk mengajak salaman saat saya sedang asyik melihat jatuhnya balon-balon itu. Saya canggung plus senyum lebar saat pak Imam meminta foto bareng. Duh, malu.

Setelah acara selesai kami dipertemukan dengan ketiga juri dan bang Andy yang khusus mengucapkan selamat dan mengobrol banyak hal. Bertanya satu persatu-satu dari kami. Saling memfoto dan saya sibuk menenangkan diri saya. Senyum, bengong, kagum pada yang lain apalagi dengan juri-juri. Tidak pernah menyangka sebelumnya saya akan berada di sini saat itu. Saya ingin menarik Puad untuk mengajak bersama-sama bengong dan mengagumi semua orang di sini. Saya canggung sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan pak Imam dan Romo Muji. Duh, malu. Saya kadang suka menyesal setelahnya kenapa sih diam saja, kenapa tidak banyak omong? Tapi saya selalu berusaha memaklumi sikap saya yang kaku dan canggung terhadap orang baru apalagi orang yang saya idolakan. Saya menjaga jarak sekali, entah kenapa. Tapi saya berusaha untuk berusaha rileks dan santai. Juga tidak menjengkelkan. Mudah-mudahan.

Setelah berkumpul di ruangan tersebut, satu persatu kami pamit dan saling bersalaman. Waktunya pulang, tapi saya seperti terus menampar diri kok seperti mimpi, ayo sadar Sinta! This is a real-life. Saya pun akhirnya meninggalkan gedung yang memberi saya kenang-kenangan hidup yang luar biasa besarnya dalam hidup saya. Saya pun ikut numpang kendaraan Ginan ke arah Bandung. Keberuntungan yang lain, bisa pulang langsung ke Bandung (sebelumnya saya dan Puad bingung mau pulang naik apa, karena jadwal kereta sudah tidak mungkin dengan pulang jam 10, plus travel juga belum tentu ada).

Beruntung sekali ketika saya bertanya pada Ginan naik apa, dan dia menjawab bawa kendaraan sendiri. Duh. Saya pun sedikit malu-malu meminta ikut bareng nanti pulangnya.

***

Selama perjalanan Jakarta-Bandung, melewati Cipularang sekitar jam 11 malam. Saya duduk di jok belakang, posisi saya sengaja berada di tengah. Agar bisa berhadapan langsung dengan jalan malam yang diberi cahaya oleh lampu kota dan lampu jalan. Sebuah perjalanan lurus dan panjang yang saya anggap sangat tepat untuk merenung dan bersyukur. Maka saya pun melakukan sebuah ritual. Yaitu merenung pada sebuah perjalanan. Merenungi apa yang telah terjadi selama satu hari ini.

Selama perjalanan panjang dan gelap itu, ditemani rintik-rintik hujan, Ginan yang tidur di jok depan, saudaranya Ginan yang serius dan fokus menyetir, dan Puad yang senyum-senyum sambil merem-merem ayam. Saya ditemani mereka semua, langit, hujan, lampu, cahaya. Seolah-olah perjalanan saya ini menuju ke sebuah titik cahaya. Semacam flash-back, mengingat apa yang sudah saya lakukan apa sudah betul? Apa saya masih kurang memperhatikan hidup saya? Apa saya ini itu dan sebagainya. Satu sisi saya menyesal tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada siapapun. Bukan, bukan tidak sempat. Tapi saking gugup dan jantung saya berdegup kencang sekali seolah terdengar oleh mikrofon dan memberitahu bunyi jantung saya kepada yang hadir kala itu. Rasanya seperti itu. Saya memang tidak cocok jadi vokalis band ^^

Mungkin di sinilah tempatnya, di kertas ini, saya harus menulis semua yang ingin katakan pada saat di atas panggung itu namun tidak sampai saya ucapkan. Saya hanya bisa mengetikkan perasaan saya, saya tidak sanggup berkata banyak, mohon maklum. Saya sangat bersyukur diberi sebuah penghargaan kategori Young Hero, padahal saya sudah tidak muda lagi. Tapi saya berharap pemuda dan pemudi Nusantara di sini dapat menerima bahwa yang diberikan pada saya sebuah “penghargaan ini” merupakan penghargaan untuk kalian semua wahai penerus bangsa yang memiliki semangat dan rasa kasih sayang antar makhluk hidup. Saya juga tidak lupa berterima pada Penguasa Alam Semesta, Bapak di langit, dan Ibu di bumi. Tanpa kalian saya tidak mungkin ada.

Sama seperti Ginan, saya mengucapkan terima kasih untuk diri sendiri yang sudah mau melawan rasa sakit dan kata-kata menyerah. Tidak lupa kepada kelas Aksara Kuno, teman-teman yang mau datang dan belajar bersama, teman-teman yang tulus datang dan tersenyum demi Aksakun ini sejak 2009 hingga sekarang. Tanpa kalian saya juga tidak akan ada, untuk semua yang sudah membantu keberlangsungan kelas ini, pak yayasan dan GIM (tempat belajar), kepala sekolah, teman-teman. Untuk Puad yang selalu menemani saya, berdiskusi hal apapun, yang suka menyoraki saya dengan perlengkapan pom-pom boys dan kata-kata yang menyemangati hidup saya dan kembali menjadi diri yang tidak ringkih. Terima kasih atas cinta yang tulus.

Kemudian bu Titin dosen filologi Unpad dan kawan-kawan yang sudah bersusah payah membantu saya agar bisa lulus (tidak dikeluarkan) dari program pascasarjana ini, Bilven, Ilham Aidit, Andi Daging, Gigi dan kang Zimbot, pak Dekan, pak Ganjar Kurnia, bu Elli, kang Godi Suwarna, Ahda Imran, dan lainnya yang berjuang untuk tetap mempertahankan cita-cita saya menjadi seorang filologi yang sebenarnya. Saya sangat berhutang sekali pada kalian semua. Juga kepada om Heru yang sayang sekali kita belum sempat saling mengenal satu sama lain, dan memahami satu sama lain. Terima kasih atas bantuannya selama ini. Juga teman-teman di komunitas Ujungberung Rebel yang beberapa orang selalu berada di samping saya saat saya berkreasi dan menjalani kelas Aksakun: kang Wisnu, Kimung, Man Jasad, dan lainnya. Terima kasih. Juga kepada Penerbit Ombak dan bang Nursam yang sudah mau mencetak buku Berteman Dengan Kematian pada 2010 dan hingga tahun ini sudah masuk cetakan ketiga, semoga bisa cetak sampai puluhan kali, biar saya bisa beli sawah dan kebun. Tidak lupa juga kepada yang sudah sudi membeli buku BDK, terima kasih sudah mau membacanya, meluangkan waktu dan uang untuk buku BDK ini, terima kasih sudah membuatnya menjadi buku best seller.

100_1887

Young Hero adalah penghargaan untuk kategori pemula, untuk yang muda. Muda, budak anom. Anak kecil yang tidak mengetahui apa-apa. Harus banyak belajar, dan terus belajar. Saya mendapatkan ini bukan berarti perjalanan saya sudah selesai, tapi baru mulai. Ya, saya baru memulai perjalanan, masih banyak hal yang masih saya cita-citakan, masih berwujud dalam mimpi. Misalnya seperti pendataan naskah dan aksara kuno se-Nusantara. Jalan saya masih panjang, doakan ya kawan-kawan, agar saya selalu sehat dan semangat. Terima kasih, penghargaan ini untuk kalian semua. Kepada Kick Andy, bang Andy F. Noya, para sponsor, mas Bambang dkk, Metro tv, mbak Rere dan Oasisnya dulu, dan masih banyak lagi, terima kasih banyak. Terima kasih. Terus menjadi semangat bagi hidup saya.

Kalian semua, teman-teman di Nusantara, adalah inspirasi saya. Saya bersungguh-sungguh mengucapkan terima kasih atas kesempatannya, anugerah, dan kepercayaannya. Hal-hal ini akan terus menjaga semangat saya dan mendukung saya untuk terus dan tetap berkarya. Karya yang keluar dari hati dan diperuntukkan pada kalian semua, alam semesta, dan negeri ini.

***

Apabila teman-teman ada yang melihat tayangan KA Heroes 2012 tadi, sambil memperhatikan baju yang saya pakai. Ya, yang berwarna pink berenda itu. Pakaian atas yang saya pakai adalah baju ibu saya. Baju pertama yang diberikan ayah saya ketika mereka berpacaran sekitar tahun 1983. Baju itu selalu saya pakai pada beberapa momen yang saya anggap memerlukan kehadiran ibu saya. Tanpa saya sadari baju ini yang lagi-lagi saya pilih untuk saya pakai pada acara tadi malam. Awalnya saya sudah menyediakan baju batik yang cantik, tapi saya tanggalkan, dan memilih baju klasik ini. Ibu saya sempat sms dan bilang, “Baju yang dipakai itu baju mamah yang dikasih papah dulu ya?”

Baju itu saya ambil di almari ibu, ketika menemukannya sepasang dengan rok kotak-kotak merah saya langsung ambil, saya tidak tahu sejarahnya baju itu. Saya ambil karna saya suka bentuknya. Beberapa kali saya pakai saat bekerja di lembaga pendidikan tahun 2008. Kemudian untuk yang kesekian kali secara berturut-turut baju itu saya pakai saat mendaftar ulang kuliah S2 di Unpad sambil foto kartu tanda mahasiswa. Kemudian saya pakai baju itu saat saya sidang ujian proposal tesis. Saat saya sedang mempersembahkan usulan penelitian untuk kajian filologi saya. Kemudian baju ini juga saya pakai saat ujian/sidang akhir Agustus 2011. Dan kalian tahu? Baju ini juga saya pakai saat difoto untuk foto yang ditempel pada ijasah S2. Lalu, saya pun kembali pakai baju pink ini tadi malam. Ya, saat menerima penghargaan tadi. Kenapa? Apa saya tidak punya baju lagi? Tidak-tidak, bukan itu alasan saya kenapa selalu memakai baju ibu saya itu, yang kebetulan ngepas di badan saya.

Sama seperti ketika menyentuh naskah-naskah kuno. Saya, hidup di masa sekarang kenapa harus baca-baca lagi catatan yang sudah lampau, ratusan tahun lalu. Saya, yang hidup di masa kini yang menghadapi permasalahan yang sudah pasti ada akarnya/ada titik start-nya. Kenapa saya ingin memegang-megang naskah? Bukan hitungan akuntasi dan manajemen, peralatan teknologi yang maju, dan berjalan-jalan di mall? Atau menjadi pegawai bank? Alasan saya mungkin, saya ingin belajar banyak dari masa lalu itu. Bukan berarti selalu mengandalkan ilmu masa lalu adalah sesuatu yang pasti benar. Bukan.

Melainkan, saya ingin merasakan sesuatu yang kala itu terjadi lewat naskah kuno. Sama seperti yang saya lakukan ketika memakai baju ibu saya pada momen tertentu. Yaitu ingin merasakan perasaan ibu dan ayah saya pada waktu itu, tahun 1983, waktu sebelum saya ada itu bagaimana. Pasti ada yang saya pelajari dari baju ini, bukan sekedar bentuk bajunya yang kembali nge-trend masa kini, vintage. Tapi saya ingin merasakan ada kejadian/momen apa yang terjadi ketika baju ini ada di tangan ayah dan ibu saya. Apa yang terjadi pada waktu itu? Apa yang dilihat oleh baju itu? Dia adalah saksi mata dari bersatunya ayah dan ibu saya. Ada satu alasan lagi, saya ingin menghadirkan keduanya, berada di samping saya, di masa-masa tertentu itu. Serasa dipeluk oleh keduanya saat saya memakai baju itu.

Saya merasakan hal yang sama ketika sedang menatap naskah-naskah kuno tersebut.

Ujungberung, 11 Maret 2012

Kategori: Catatan dan Tulisan.