Wisata Sepuluh Cerita

Oleh Berto Tukan

Terus terang, saya kesulitan membuat kata pengantar sebuah kumpulan cerpen. Membayangkan tulisan saya mengantar pembaca untuk memasuki isi cerpen-cerpen secara keseluruhan rupanya punya beban tersendiri. Di satu sisi ada ketakutan terlalu memberi bocoran pada pembaca, di sisi lain ada ketakutan bertendensi mematok rambu-rambu tertentu untuk pembaca. Lebih leluasa rasanya jika menulis sekadar resensi atau kritik terhadap kumpulan cerpen tersebut. Oleh karena itu, jika sekadar pengantar ini memasuki pula ciri-ciri resensi atau pun kritik atawa terlalu memberi bocoran dan juga menancapkan rambu-rambu tertentu, maafkan saya. Sejujurnya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin menghindari hal-hal tersebut.

Saya pertama kali membaca cerpen Sinta Ridwan secara intensif, kalau tak salah, sekitar akhir 2015 lalu. Ketika itu, Lembar Kebudayaan IndoProgress (LKIP)—saya termasuk salah satu editornya—lagi rajin-rajinnya mencari bahan. Ketika menemukan kembali “Nada Gitar Suling”—judul cerpen tersebut—di dalam kumpulan ini, seketika memori saya kembali mengenang masa-masa ketika LKIP tengah rajin-rajinnya itu. Dengan demikian, sudah pasti, sekarang sedang malas-malasnya. Tentu saja memori saya berlompatan dari satu image ke image yang lain dan tak presisi pada moment membaca dan memutuskan mempublikasikan “Nada Gitar Suling”. Kala itu, Sinta juga sempat mengirim file audio tarling tradisional yang dimaksudnya di dalam cerpen tersebut.

***

Berto Tukan

Barangkali, begitulah memang ketika sebuah kumpulan cerpen disiapkan untuk terbit atau diterbitkan. Setiap cerpen yang ada di dalamnya membangkitkan kembali kenangan-kenangan di dalam diri kita, ketika pertama kali bertemu cerpen-cerpen tersebut. Pada kasus pengarang mapan dan terkenal, memori pada pembaca setianya. Pada penulis—meminjam katagori Kusala Sastra Khatulistiwa—karya perdana dan kedua, barangkali sekadar pada kawan-kawan dekat si penulis itu saja. Yang paling minimal, kenangan pada si penulisnya; entah ketika cerpen tersebut sedang dikerjakannya bertahun-tahun yang lalu itu—Perempuan Berkepang Kenangan ini adalah kumpulan cerpen Sinta Ridwan medio 2011-2015—atau barangkali ‘masalah’ yang memicu kemunculan cerpen tersebut.

Pada titik itu, bagi saya secara pribadi, cerpen—sebagaimana karya-karya seni lainnya—terlepas dari kualitasnya, sudah menjalankan fungsinya sebagai pembeku waktu dan segala yang ada di dalamnya. Setelah berhasil membekukan waktu, cerpen-cerpen tersebut bisa menjadi referensi masa kini untuk mendekati waktu-waktu dan segala yang ada di dalamya yang ada di dalam cerpen tersebut. Secara minimal, setiap cerita fiksi punya fungsi ini.

***

Tentu saja, sepuluh cerpen Sinta di dalam Perempuan Berkepang Kenangan ini melampaui fungsi minimal tersebut. Sebagian besar cerpen-cerpen di dalam kumpulan ini berniat menggali lebih jauh masa lalu. Itu sebabnya, saya kira, Sinta beberapa kali menggunakan teknik cerita berbingkai (pada cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, Kikisan Sungai Leiden, dan Nada Gitar Suling). Tiga cerpen ini mengisahkan sejarah; entah tokoh aku mengisahkan ulang kisah dari orang lain (pada Perempuan Berkepang Kenangan kisah dari tokoh Mamih dan tokoh Dewi pada Nada Gitar Suling) atau tokoh aku mengalami semacam mimpi (pada cerpen Kikisan Sungai Leiden). Hanya satu cerpen dengan niatan menggali masa lalu yang tidak menggunakan teknik itu; Konser Kematian Katakomba.

Pada cerpen-cerpen dengan niatan menggali masa lalu (atau lebih tepatnya mengisahkan ulang masa lalu), kita perlu bertanya; apa efeknya bila masa lalu tersebut diutarakan melalui cerita fiksi? Bukankah, ia bisa melalui buku sejarah saja? Apalagi, jika kita membaca buku-buku sejarah yang baik, kemampuan narasinya tidak kalah dari cerita-cerita fiksi; memukau dan tidak membosankan. Seminimalnya, jawaban untuk pertanyaan itu adalah, dengan cerita fiksi kemungkinan pembaca yang dijangkau oleh kisah-kisah sejarah itu lebih luas; tidak sekadar pada para pecinta sejarah saja. Namun demikian, saya kira, kita perlu mencari fungsi-fungsi lain dari sekadar penyebaran kisah sejarah yang lebih masif tersebut.

***

Pada kumpulan cerpen Perempuan Berkepang Kenangan, kita diajak Sinta Ridwan untuk bertamasya ke dua wilayah yakni Jawa Barat terkhusus Cirebon dan sekitarnya serta Paris. Hanya dua cerpen yang tidak mengambil tempat di dua wilayah itu; Raja Ampat, Papua pada cerpen Hati Nona Laut dan Leiden pada Kikisan Sungai Leiden. Cerpen yang terakhir ini pun masih mengidap aroma Paris sedikit. Hal ini kiranya lantaran latar belakang Sinta sendiri yang pernah menetap di Bandung, Paris, dan kini di Cirebon.

Ketika berkisah tentang Paris dan Leiden, pengarang tidak terjebak pada kekaguman yang berlebihan terhadap kota-kota dunia pertama itu. Hal yang kadang kita temui pada para pengarang yang melancong ke luar negeri sana. Perempuan Berkepang Kenangan, meski berkisah tentang kota-kota itu, tetap menjangkarkan dirinya pada Indonesia, wabil khusus Jawa Barat; entah pada sejarah-(kelam)-nya, naskah-naskah tuanya, atau sekadar pada orang Indonesia diasporanya (diaspora zaman Hindia Belanda mau pun diaspora pasca Tragedi 1965). Atau sekadar tak mau terlalu silau tetapi bersikap kritis pada keadaan sosio-kultural kota-kota tersebut; ketidak-amanannya dan turisme berlebihannya.

Kentalnya budaya Sunda secara luas di dalam beberapa cerpen sangat terasa. Banyak informasi dan pengetahuan perihal itu di beberapa cerpen. Pengarang seperti takut pembaca tidak memahami konteks apa yang dibicarakan sehingga merasa perlu membuat penjelasan yang cukup panjang untuk beberapa hal budaya Sunda. Di satu sisi, bagi saya yang memang tidak terlalu memahami perihal itu, pengetahuan-pengetahuan ini cukup menyenangkan. Akan tetapi, barangkali berbeda untuk para pembaca yang sudah mengetahuinya; bagian itu barangkali dilewati. Ciri didaktis ini memang cukup kental mewarnai Perempuan Berkepang Kenangan.

Sastra (baca: seni) di Indonesia dari dulu memang dibebani pula tugas mendidik masyarakat. Di dalam Polemik Kebudayaan setidaknya hal ini muncul. Di situ barangkali posisi fungsi dari sastra. Sebuah karya seni yang baik—berdasarkan estetikanya Yunani Kuno—mesti seimbang antara indah dan gunanya (dulce et utile).

***

Beban mendidik ini lantas membuat seorang sastrawan dianggap perlu menjaga dirinya sebagai panutan masyarakat dan, katakanlah, steril pada politik praktis macam mana pun. Ciri sastrawan yang demikian ini tampak pada tokoh pujangga tertinggi dalam cerpen Pensiun Jadi Pujangga. Dikisahkan, si pujangga paruh baya ini pensiun dari posisi pujangga tertinggi di sebuah kota kecil karena akan menjadi penasihat seorang politikus.

Pada cerpen ini kita bisa mendapatkan sedikit gambaran, secara realis, kehidupan sastra di kota kecil, sebuah tema yang jarang kita jumpai saat ini di dalam karya fiksi. Di dalam ‘cerita lisan’, tentu banyak kita temui. Di dalam konteks kota besar seperti Jakarta pun tema demikian jarang ditemukan. Setelah Keajaiban di Pasar Senen­-nya Misbach Yusa Biran, kita jarang menemukan tema serupa. Sayang, tokoh aku, seorang sastrawan muda penuh idealisme dari kota kecil tersebut, memutuskan untuk tidak terlibat lebih jauh pada perbincangan perihal kemunduran si pujangga paruh baya dari posisi pujangga tertinggi tersebut. Jika ia terus berlibat di dalam diskusi itu, bisa jadi gambaran yang lebih realis perihal geliat sastra di kota itu lebih tergambar pada kita.

***

Yang terakhir, pada dua cerpen pertama di Perempuan Berkepang Kenangan ini, kita akan menemui alam yang indah; sebuah suasana yang menyenangkan untuk duduk mengasoh dan membaca. Pasir pantai pada Hati Nona Laut serta hutan kecil di Jatinangor pada Cerita Tanpa Judul. Oleh karena itu, baiklah sekadar pengantar ini berhenti di sini karena tentunya Anda sudah lebih ingin mulai duduk tenang sambil membakar sebatang rokok ditemani kopi hitam dan menikmati cerpen-cerpen Sinta Ridwan.

Selamat berwisata sejarah, budaya, atau jadi turis di Raja Ampat masa kini hingga Paris pada era Perang Dunia II.

Rawasari, 19-20 Desember 2017

*Tulisan ini merupakan Kata Pengantar dalam buku Kumpulan Cerpen 2011-2015 karya Sinta Ridwan berjudul Perempuan Berkepang Kenangan yang diterbitkan Penerbit Ultimus Bandung. Foto diambil oleh Gevi Noviyanti di dekat JBS Yogyakarta, 29 Desember 2017. Foto Berto Tukan koleksi pribadinya. Buat yang penasaran ingin membaca kesepuluh cerpennya, ayo beli bukunya, bisa di lapak IG @godongsemanggen atau @ultimusbandung.

Kategori: Buku dan Perempuan Berkepang Kenangan.