Analisis Tarawangsa

Oleh Sinta Ridwan |

Ini adalah salah satu bagian dari semacam tugas mata kuliah folklor saat semester 3 waktu kuliah S2 Filologi. Waktu penelitiannya sendiri dilakukan pada 22 dan 23 November 2009, di Desa Rancakalong, Kabupaten Sumedang. Ada panjang banget isi makalahnya sampai 41 halaman, jadi sama aku dipotong-potong, tidak apa-apa ya.

Analisis Tarawangsa Jentreng

Sesuai dengan tujuan penelitian, instrumen pengumpulan data terkait dengan informan dan lingkungan kehidupan tempat seni jentreng atau tarawangsa berada. Sebagaimana metode yang diperkenalkan oleh Rusyana, peneliti mendapatkan data-data yang sudah tersusun dan terencana ini dengan terorganisir, adapun hasilnya sebagai berikut:

LEMBAR PENCATATAN
Kode Kaset: 001
Kode Salinan: A

I. Keterangan tentang Sastra Lisan

1. Judul sastra lisan: Tarawangsa, Seni Masyarakat Pertanian Sunda
2. Genre: Performing Folk Arts (unsur-unsur kesenian folk)
3. Daerah asal: Rancakalong, Sumedang
4. Suku pemilik: Sunda

II. Keterangan tentang Penutur

1. Nama: Kang Pupung
2. Tempat lahir: Rancakalong, Sumedang. Tahun lahir: 1975
3. Pria/Wanita: Pria
4. Jenis penutur: Juru Cerita (profesional)/pendukung aktif
5. Pekerjaan: Petani
6. Keahlian: Pemain Tarawangsa dan Terbang
7. Suku Bangsa: Sunda
8. Bahasa yang Dikuasai: Sunda
9. Tempat Perekaman: Di dalam rumah Kang Pupung
10. Tanggal Perekaman: 23 November 2009

III. Keterangan tentang Lingkungan Penuturan

1. Dari siapakah penutur menerima tradisi lisan tersebut? Kapan? Apakah dengan jalan berguru?
— Penutur mendapatkan sumber data tersebut lewat berguru (sebagai pelaku seni) dan juga membaca naskah kuno milik sesepuh di Rancakalong (sebagai penerus) sekitar 3 tahun lalu.

2. Di mana dan dalam kesempatan apa tradisi lisan itu biasa dituturkan? Apakah sekarang masih biasa dituturkan?
— Ketika masyarakat petani Rancakalong melaksanakan upacara syukuran setiap tahun sehabis panen raya sastra lisan tersebut atau permainan tarawangsa dilakukan saat menjelang tengah malam hingga waktu subuh. Dan masih dilakukan hingga saat ini.

3. Untuk maksud apa tradisi lisan itu dituturkan?
— Selain dimaksudkan untuk upacara rutin, sastra lisan ini dituturkan kepada para peneliti atau mahasiswa yang sedang penelitian memfokuskan dan mengkaji sastra lisan ini.

4. Oleh siapakah biasanya tradisi lisan itu dituturkan? Masih berlakukah hal itu sampai sekarang?
— Oleh sesepuh di Rancakalong, mereka masih menuturkan sastra lisan tersebut hingga saat ini, bahkan mengajarkan kepada calon penerusnya.

5. Kepada siapakah sastra lisan itu dituturkan?
— Selain kepada penerusnya, juga dituturkan kepada para peneliti atau penikmat seni.

6. Adakah syarat yang harus dipenuhi sebelum atau selama penuturan?
— Apabila penutur adalah para sesepuh maka ada semacam ritual tertentu, seperti meminta ijin kepada karuhun setempat, tetapi apabila penuturnya adalah salah satu penerusnya, demi membagikan informasi, mereka tidak mengadakan ritual tertentu.

7. Bagaimana suasana penuturan itu?
— Suasananya tidak terlalu tegang, di antara penutur dan pengumpul seolah tidak ada jarak, berbaur dan nyaman, juga informatif sekali penuturnya.

8. Komentar atau seruan apa yang biasa diberikan oleh pendengar selama penceritaan?
— Pendengar hanya memberi respon yang tidak berlebihan, karena pada prinsipnya pendengar bertugas bertanya, mendengar dan mencatat apa saja yang dikatakan oleh penutur. Hanya respon seperti wow dan pujian.

9. Apakah yang dikemukakan oleh pendengar sebagai kesimpulan, sebagai pujian bagi penutur, sebagai komentar kepada pelaku cerita, dsb?
— Pendengar sangat terbawa emosinya ketika mendengar penuturan dari pelaku cerita sehingga di akhir percakapan, si pendengar memberikan komentar,

“Informasi yang telah diberikan pasti akan berguna bagi saya, terima kasih sekali sudah mau meluangkan waktunya untuk bercerita pada saya, saya sangat setuju sekali dengan kepercayaan yang berlaku di sini, bahwa sebagai manusia haruslah menjaga perilakunya, mengasah kesadaran diri memperlakukan makhluk lain dan alam ini.” Sungguh sangat informatif sekaligus mencerahkan sebagian pola pikir pribadi mengenai tujuan hidup di alam ini, dan kesadaran akan kesombongan sebagai makhluk yang sempurna. Sebagai masyarakat Sunda sudah seharusnya tidak terpengaruh pada pikiran yang dapat merusak kestabilan hubungan antara manusia dan alam.

10. Adakah tempat tertentu atau keluarga tertentu yang dikenal sebagai pusat penuturan? Jika ada, berilah catatan tentang tempat demikian.
— Ada sebuah tempat yang dijadikan sebagai pusat penuturan, sepertinya sudah ditunjuk dan bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk memberikan informasi kepada yang membutuhkan. Di antaranya adalah rumah Kang Pupung, terpilih karena secara turun temurun sudah melestarikan sastra lisan tersebut.

IV. Penilaian terhadap Sastra Lisan

1. Bagaimana pendapat dan penilaian si penutur terhadap tradisi lisan yang dituturkannya itu? Mengapa ia berpendapat demikian?
— Sebuah kepercayaan yang masih orisinil atau dengan kata lain yang lahir dari karuhun harus dilestarikan kebertahanannya, dengan demikian sebagai masyarakat yang tinggal di desa dan mengandalkan alam sebagai partner hidupnya, hidup diberi hidup oleh yang hidup, merupakan landasan akan kelestarian hubungan manusia dan alam, saling memberi.

2. Bagaimana pendapat dan penilaian pengumpul? Mengapa berpendapat demikian?
— Sebagai pengumpul data, merasakan kemudahan yang dikarenakan terbukanya akses untuk mendapatkan data, sebagai penutur, mereka tidak menutupi informasi, sehingga mempermudahkan penelitian ini.

V. Keterangan tentang Pengumpul

1. Nama: Sinta Ridwan

*

Analisis Data

Sebuah catatan selama perjalanan dalam penelitian tradisi lisan ini mengisi kotak data-data untuk dianalisis dan dikaji kandungan terhadap fokus penelitian ini, yaitu alat musik tarawangsa dan latar belakang sejarah juga fungsi sosialnya di masyarakat Sunda dari masa lalu hingga saat ini.

Pada minggu pagi pukul 07.55 sampailah di rumah Kang Pupung, sebagai tuan rumah yang dengan sengaja menyajikan sebuah tradisi yang masih tradisional khas wilayahnya, yaitu terbangan dan tarawangsa, dikarenakan penelitian kali ini terfokuskan pada alat musik dan sejarah dari tarawangsa, maka yang mendapat perhatian lebih adalah segala bentuk dimulai dari proses, persiapan, dan acara utamanya. Sebenarnya upacara tarawangsa sendiri dipakai saat pesta panen raya, akan tetapi karena alasan tertentu, yaitu atas nama penelitian, maka tarawangsa dapat dimainkan di saat ada tujuan yang lain.

Kali pertama memasuki ruangan yang akan dijadikan tempat acara berlangsung, harum menyan menyerbak kalbu. Setumpuk sesajen yang ditempatkan di tengah pendukung acara memberikan daya tarik tersendiri. Posisi sesajen diistilahkan berada di bumi dan menghadap lagi, perlakuan tersebut berkaitan dengan kosmologi Sunda yang menjunjung tinggi dunia di atas, tempat para Sang Hyang.

Adapun isi sesajen tersebut di antaranya adalah tumpeng atau bungkus nasi pakai daun pisang ditancapkan ikan mujaer, ada telor/perdagingan. Lalu kelapa muda, singkong muda dipotong-potong sepiring, kendi tanah, air putih, tembaga belikar. Kemudian buah-buahan di antaranya yaitu; mangga, labu, cabai, pisang, singkong, kerupuk, surabi, gorengan, wajid, bonteng, apel, tomat, jeruk, pear, hingga pepaya, dan beberapa bunga; kembang kertas, sepatu, mawar putih lokal, mawar merah, sirih. Isi lainnya adalah, sambel, minyak wangi, uang di dalam amplop, beras, telor kampung, koin, bunga-bungaan, kain-kain, keris, tumpeng (paling atas adalah ayam). Lalu sepasang patung, diibaratkan sebagai Dewi Sri, dengan memakai selendang merah (yaitu kain bendera), kebaya dan kerudung, lalu sosok lelaki yang menggantungkan selendang putih, memaki kopeah, dan sarung.

Terlihat simbol dari beberapa ibu yang memegang kain selendang, seolah sedang menimang-nimang bayi, ungkapan tersebut berupa penghargaan, dengan menimang-nimang baju yang dipakai Dewi Sri, seorang dewi yang sangat dipuja dan dihormati keberadaannya oleh masyarakat Sunda khususnya para petani yang masih menyunda.

Terdapat dekorasi yang indah di atas sesajen tepatnya, semacam gantungan yang menggantung 14 kebaya berwarna-warni khas Sunda yang bagus dan bersih, 16 kain samping yang batiknya berasal dari daerah Sunda, dan yang paling atas sususannya adalah sebuah selendang. Hal tersebut menyiratkan bahwa apabila tuan rumah didatangi oleh tamu dari luar, maka sebagai penghargaan dan penghormatan dari tuan rumah untuk menyambut tamu dengan menampilkan aura yang bersih, indah, dan menghargai dengan tidak memakai pakaian yang tidak layak dilihat oleh tamu sebagai salah satu contohnya.

Di Rancakalong ini adalah wilayah yang paling lama dan sudah 7 generasi yang bertahan dan tetap melestarikan tradisi lisan tarawangsa ini, salah satu grup yang ada di Rancakalong adalah Pusaka Wangi, grup ini diketuai oleh Kang Pupung dan sesepuh yang paling dihormati adalah Kang Dia, masih berlaku akan pemain yang memainkan Tarawangsa yang diutamakan adalah orang yang memiliki trah (garus keturunan).

Kesenian tarawangsa selalu dimainkan pada malam hari menjelang pagi hari, dimulai pukul 21.00 hingga 04.00 subuh. Kesenian ini diawali oleh jentrengan dan gesekan tarawangsa itu sendiri, kemudian ada satu orang lelaki yang sedang bersiap-siap dengan mengenakan kain dan keris di belakang pinggangnya. Pakaian yang dipakai mirip dengan pakaian abdi dalem yang dipergunakan di Kerajaan Mataram. Apabila melihat senjata yang dipakai yaitu keris, maka tentu dapat dinilai bahwa pengaruh Mataram masih melekat dalam masyarakat Rancakalong secara khusus, dan masyarakat Sunda pada umumnya.

Kemudian ada seorang ibu yang juga tengah bersiap diri sambil membacakan doa yang dilantunkan, ibu tersebut dikelilingi oleh beberapa perempuan yang membawa seserahan yang berisi kembang, gelang, minyak wangi, kosmetik, obat-obatan, air, perlengkapan mandi, sereh, menyan, kosmetik, sereh, dan daun hanjuang. Ada satu alat yang mereka pakai, yaitu selendang berwarna warni; merah, putih, kuning, hijau (konon katanya untuk penari yang digantikan selendangnya memberikan makna akan kenaikan tingkat sisi spiritualnya). Selendang tersebut memiliki ukuran panjang 2 meter dan lebar 2,5 meter. Kemudian mereka melakukan sebuah ritual dan doa bersama.

Ritual tersebut dilakukan oleh lelaki yang sedang menari atau ngibing mengikuti irama tarawangsa dan jentreng, seolah-olah tarawangsa-lah yang mempunyai andil dalam pengaluran cerita atau urutan adegan per adegan. Dikisahkan lelaki yang sedang menari tersebut dicipratkan air oleh ibu-ibu yang sedang menari sambil berputar-putar mengikuti irama tarawangsa. Beberapa ibu yang membawa seserahan juga menari mengikuti alunan tarawangsa. Seserahan tersebut akan disimpan dan bergabung dengan sesajen lainnya di posisi tengah.

Setelah seserahan disimpan, seorang ibu bernyanyi seolah memberi mantra, jari jemarinya menyentuh daun, tempo irama tarawangsa yang semula bernada lambat berubah ke nada agak cepat. Lelaki itu menari lagi, beserta empat selendang di leher, putih, kuning, merah, hijau, satu keris masih dibelakang, tempo alunan sedang, seolah mengobrol tetapi tidak memakai kata-kata melainkan pakai gesture yang dihadapinnya ngangguk-ngangguk lalu bersalaman dengan salah satu sesepuh kemudian penarinya menangis. Artinya adanya penyesalan telah khilaf, dengan menari di luar kesadaran dapat diartikan juga sebagai permintaan ijin untuk menari di depan para sesepuh, yang notabene-nya adalah tidak pantas melakukan hal tersebut di depan upacara ritual atau para sesepuh yang sedang duduk di bawah sedangkan penari menari berdiri dengan posisi lebih tinggi. Alunan nada Tarawangsa pun semakin mengencang. Irama pada kecapi itu disebut catri.

Setelah lelaki itu selesai menari dan alunan tarawangsa yang semakin cepat itu berhenti, pergantian penari pun dilakukan. Dilanjutkan oleh beberapa ibu, salah satu dari ibu-ibu tersebut memakai empat selendang dan perhiasan yang berasal dari sesajen. Dapat disebut sebagai pimpinan, ia lalu bersujud kepada 4 elemen, yaitu bara sebagai api, tembikar sebagai tanah, tumbuhan sebagai kayu, dan air. Sesuai dengan kosmologi Sunda yang mengutamakan elemen-elemen tersebut, bahwa hidup terdiri dari unsur-unsur itu. Kemudian ia meminta ijin sama sesepuh, dan kepada salah satu di antara kami, sebagai bentuk penghormatan.

Nada irama tarawangsa mengalun lagi, ia memegang selendang putih, lalu mengarah ke barat, timur, selatan, dan utara, seolah-olah meminta ijin kepada makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya, sambil menggenggam samping, digantikan selendangnya oleh ibu yang sedari tadi menyanyi, seolah naik tingkat.

Adapun penghitungan waktu dan pergantian waktu sebagai berikut;

21.00 – 22.00          diawali oleh penari lelaki
22.30 – 24.00          penarinya adalah perempuan
00.00                         pergantian pemain Tarawangsa
00.00 – 01.30          penarinya kembali lelaki
01.30 – 03.00          penarinya perempuan kembali
03.00 – 04.20          penutupan oleh pihak perempuan

Ujungberung II, 21 Desember 2009

Kategori: Artikel dan Tulisan.