Dewa Ogyene

Oleh Sinta Ridwan |

Baca ulang cerita pendek ini bikin aku melongo, kok bisa menulis cerita seperti ini. Apalagi di bagian akhir, bagaimana imajinasiku di usia 23 tahun kala itu? Ya ampun, aku menepuk jidat sendiri. Rada geuleuh juga pas membacanya. Tapi ya sudah lah ya, aku dokumentasi saja di sini, buat belajar perkembangan cara bercerita aku, hehehe.

Perburuan Dewa Ogyene

Jelang petang menyeret paksa sang kelam. Serpihan awan mengendap tertahan bergulung kaku. Kabut kusam menyelimuti puncak beku Manglayang. Gerimis rintik kenistaan berlomba berjatuhan. Menusuk bumi, lalu meresap jadi api di dasar kerak neraka. Lamunanku ditemani tumpukan buku yang berantakan, saling menindih. Air teh dingin menambah kebekuan hati jelma titik-titik bunga es di dasar malam. Piala kebanggaan kota udang yang setia bertengger di meja dan laptop abu disaput debu.

Sinar layar laptop berpencaran terangi ruangan yang sengaja dibuat remang. Menghindari serbuan laron-laron malam yang haus berburu hangat cahaya lampu. Mataku membuka satu-persatu isi dokumen tulisan si empunya laptop. Aku pinjam kawanku. Laptopku masih dalam proses penyitaan kantor. Dadaku tiba-tiba tergetar tidak karuan. Rangkaian huruf di layar menyajikan sebuah runutan cerita. Aku baca naskah yang baru kutemukan. Naskah ini menceritakan perjalanan imajinasi seorang Ada yang mengaku tidak mau berbuat dosa karena dorongan pasangannya, Awa.

Tulisan ini cerita pendek berjudul Tiga Berangka Enam. Gigiku mendadak sakit, aku terlalu menggeram keras. Menggertakan gigi begitu kasar. Aku ingat cerita itu pernah tuai sensasi. Bukunya dibakar organisasi massa yang bawa bendera agama. Aku sering dengar cerita itu tapi belum membacanya karena saat aku berniat membeli buku kumpulan cerita itu sudah habis. Entah habis dijual atau habis dibakar massa.

Selama ini, aku heran dengan cerita turunnya manusia pertama ke bumi. Tentang kesalahan Ada karena rayuan Awa. Seolah sosok Awa punya pikiran beracun, begitu butuh celaka, bahkan merindukan dosa. Aku hampir malu menjadi turunan Awa yang terhasut peri hitam turunan iblis sekaligus dewa bernama Ogyene. Tapi rasa malu itu kutelan. Karena aku pernah melakukan hal seperti Awa, seperti Dayang Sumbi yang tergoda melakukan penyodoran buahnya pada Sangkuriang cucu Dewa Ogyene. Juga kisah Dewi Sinta yang tidak setia pada Rama, menurut versi lain.

Masih ingat dengan nyata bayangan kejadian nista yang akhirnya kusesali di sisa umur. Ribuan obsesi terhapus karena kejadian senja yang dilaknat. Ketika desah penuh uap api Dewa Ogyene membakar kalbu, layak ancaman ratusan meteor yang siap menghancur rumahku bila aku tidak segera menghentikan napsu liarku yang tergali tiap hari karena sodoran sejuta anggur kenikmatan milik Dewa Ogyene. Anggur kental manis menetes melunasi dahaga birahiku.

Secepat kilat pelajaran berubah menjadi kenistaan.

*

Kala itu senja meruam kemerah-merahan. Di ruangan yang ramai nada titik hujan. Gelaran kasur merah memanggang hangat kedua tubuh yang saling berayun lembut bagai gerak pucuk pinus disapu angin musim panas. Tersirat ekspresi kepolosan dan keharuan di muka keduanya. Salah satunya seorang laki-laki pemilik badan tegap gempita bak tank tempur lengkap dengan senapan api terkokang. Tugasnya menerjang kelelawar-kelelawar senja yang berniat mencuri malam syahdu mereka.

Pasukan detik laju menit yang tertahan lambat. Aku belajar menikmati kelembutan. Berusaha percaya sepenuh hati prajurit yang siap angkat senjata mati ditembak peluru berbunyi harmonis di jalan pulang setelah perangi makhluk Mars.

Keyakinanku laksana buah anggur yang siap panen. Menunggu matang hingga merekah merahnya. Meneteskan sari manis ketika diperas dijadikan wine. Ragaku hancur berkeping di senja itu. Kebodohanku saat itu menerima senang hati dibalut pelajaran baru. Seperti petani yang dapat hadiah undian kopi berlayar. Kebodohan yang buatku menggeram, menggertakkan gigi begitu keras. Rasa kesal bertambah saat kubaca naskah pemilik buah dada besar untuk seorang lelaki di laptop.

Aku percaya pada lelaki itu. Saat ia mengucapkan kalimat sialan. Sebuah kalimat jawaban setelah kutanyakan hal yang tidak layak kulontarkan, “Pernahkah kau merobek selaput semua mantan-mantanmu?”

Ia menjawab dengan air muka polos. “Belum pernah. Karena ketika aku melakukan hal itu dengan kekasih-kasihku, ia sudah punya pengalaman ke medan tempur sebelumnya.” Dan kupercaya itu kata-kata.

Sudah dua puluh tiga tahun aku pertahankan gerbang hidupku, yang kuyakini akan aku beri pada yang berhak menurut dogma. Tapi saat aku terdesak bisikan Dewa Ogyene yang kala itu mewujud sebagai cupid asmara, begitu kencang di telinga, yang laik menggelitik lidah basah menjilati sulur-sulur daun telingaku. Kupasrah semuanya, kusodor diri sepenuh hati di ujung pedang yang terhunus lancip terasah.

Masih di senja yang meruam, jeritan kesakitanku dibayar dengan rona kenikmatannya. Raut muka penuh hawa menggelora, penuh rasa penasaran untuk mencapai inti nikmat terdalam. Nada dua kelamin yang bercakap rapat saat saling merancap. Aku meringis mengangkang di ujung jurang kesakitan. Aku pacu cepat rasa penasaran pada bisik-bisik rayuan Dewa Ogyene tentang lapisan surga ke tujuh. Aku melambung dan terhuyung. Mungkin saat Awa merayu Ada juga seperti itu. Penuh rasa penasaran akan kenikmatan yang dibisikkan Dewa Ogyene.

Puncaknya terdengar jeritan melengking goyangan kasur merah. Berbarengan rembesnya air hujan basahi sekujur dada. Meledak hangat meresap lalu menetes perlahan. Kakiku lemas setelah lelah menghela titian tangga surga. Tertindih rasa nikmat yang menggelora menjalari seluruh saraf. Berdenyut hebat dan memagut erat. Saat bersamaan hatiku menangis. Lara selangkangan menganga bersimbah darah.

Pasir waktu lewat sudah. Pendarahan kualami tanpa didampingi lelaki itu. Ia langsung pergi setelah selesai menuntaskan pertempurannya yang entah ke berapa. Ia meninggalkanku untuk menikmati perjalanan ke kota gudeg. Demi meneriakkan raung-raung dentuman musik anak setan.

Malam itu hujan masih menemani auraku. Aku alami kesakitan hebat di selangkangan juga seluruh badan. Tapi rasa seolah ditepis olehmu. Aku tidak dipedulikan. Terkalahkan aduanmu yang merasakan sakit juga. Sakitmu membuat seolah mengeluh pada kejadian di senja meruam. Kesakitanku kalah. Aduanku tak dihirau. Seolah para penendang bola mendapatkan piala kemenangan yang digilir.

Kata tegas pernah terlontar dari mulut manis aroma alkohol. Ucapmu tidak akan memperlakukanku seperti perburuan piala yang sudah diincarnya. Tapi lebatnya hutan dan sawah hijau itu kan berbeda. Kali ini perbuatannya lah yang mengatakan ia memang lelaki keturunan Ada. Siap mencuci tangan, basuh falus dan yang disalahkan akibat dari kesakitan mereka; adalah Awa, yang terlena hasutan Dewa Ogyene.

Aku kecewa pengakuannya yang tidak seimbang dengan prinsip-prinsip yang pernah diobralkan. Bagiku paling mengecewakan ia tidak peduli kesakitanku. Tidak bersujud meminta maaf atas kekhilafan yang terjadi juga kelengahan terkena bujuk rayuan. Ia sama sekali tidak pedulikanku setelah kejadian sarat durja itu. Ia tidak mau membimbingku lagi setelah pelajaran pertamaku.

Tirai daraku robek sudah, menjelma kupu-kupu yang terluka, yang terbang ringan dan hinggap di kelopak berembun. Tapi penyesalanku tak berlarut. Aku melakukannya dalam keadaan sadar. Yang aku butuhkan bukan dapat dikembalikannya lagi bentuk tiraiku itu. Aku butuh perhatian dan ucapan penyesalan darinya walau kalimat yang diucap itu bohong belaka.

Tapi setidaknya aku tidak begitu menyesali telah menyerahkan madu hidupku kepada orang yang benar. Lelaki yang aku cintai. Tapi malam yang aku lewati sendiri itu menyatakan semuanya sudah terlambat. Setidaknya di pihakku. Aku yakin Awa butuh Ada saat bayangannya menyentuh tanah tandus. Saat bulu-bulu sayapnya berguguran menjelma lengan dan jemari tangan. Saat mahkota di kepalanya menjadi helai-helai rambut yang kian mengurai. Awa butuh ditemani Ada, bukan ditinggal dalam kesendirian, menyesali diri.

Hari pun berganti tahun. Aku malah makin menikmati ragaku disakiti turunan Ada agar dapat membayar kekesalanku, penyesalanku. Setidaknya mengobati bara kemarahan. Toh, yang kulakukan tidak akan membuatku kuncup dan putih kembali. Terlanjur memerah teracuni senja yang meruam. Aku menganggap semua keturunan Ada sudah terlatih akan wajib militernya dan turunan Awa selalu mengalami ketertindasan, pengeboman mental juga teror-teror imajinasi bunga di sungai Eden.

Kloning Awa selalu jatuh di lubang sama. Selalu berteman dan mencurahkan isi hatinya pada Dewa Ogyene, yang mengasihinya sebagai kepercayaannya. Dan aku yang dulu sangat menjunjung tinggi prinsip sekarang kalah oleh keadaan, kalah oleh bisikan Dewa Ogyene. Sekarang hanya sampah. Menjadi kuman selamanya. Dan lelaki berdada bak mesin tempur itu boleh terbang bebas, diperbolehkan masih memakai aku atau pergi melangkahi lautan mati berburu tirai dara lagi. Bebas saja.

Senja kali ini malu-malu untuk meruamkan suasananya, entah ia sedang sakit atau apalah yang jelas senja ini penuh dengan bulir-bulir keringat dari dua manusia yang sedang menerbangkan desahan-desahan liarnya. Suara ribut itu berasal dari salah satu kamar hotel berbintang dua di kawasan wisata padat di kota gudeg. Disaksikan oleh ranjang kayu yang kokoh menompang dua keturunan Ada-Awa yang mirip binatang liar. Sampai angin berhenti berhembus saat satu dari kedua makhluk itu terkulai lemas tidak berdaya di pangkalan kasur.

“Huh, baiklah, sudah terpuaskan, Om? Mana bayarannya sekarang?” Kataku sambil mengelap tubuhku dari lendir memakai tissue lalu mengambil pakaian yang terlempar di bawah ranjang. Aku sibuk memakai pakaian dan berdandan di depan cermin retak yang bersembunyi dalam wadah bedak padat. Aku sedang mengisi liburan kuliah di kota ini. Mencari tempat yang tidak ada satu orang mengenalku. Karena menikmati liburan bagiku caranya dengan bekerja sambilan yang bisa menghasilkan uang.

“Tenang, dong, minta sekali lagi boleh kan?” Goda pria paruh baya rupa raksasa yang tengah tergeletak kelelahan di tengah kasur. Sambil menggesek-gesekan kakinya ke selangkanganku. Mengelus-eluskan jemari keriputnya ke wajahku. Berengsek, ia merusak garis bedakku. Ia sudah tiga kali enam puluh menit menindihku tanpa henti dan baru puas setelah mencoba lima variasi gaya. Perjanjian awal hanya satu jam dan sekarang malah minta nambah lagi. Meminta diadukan lagi dengan keringat dan air liur yang menambahi lubrikasi alami. Aku tiada sudi.

Langsung kukeluarkan pisau lipat dari dompet merah yang diselip pada celana dalam bersih dan kosmetik. Pisau aku tempel pada leher raksasa paruh baya yang anunya bau itu, yang minta servis tambahan. Pria paruh baya yang mengesek-gesek kasar bagian atas pahaku. Tua bangka tidak tahu malu. Aku dapat pria ini dari Mami.

Mami bilang raksasa ini pengusaha, pelanggan asuhannya. Tidak sembarang orang bakal dibayar mahal. Ia tertarik melihat fotoku yang disodor Mami. Sebelumnya ia bosan dan menanyakan barang baru. Setelah melihat fotoku, raksasa peyot langsung setuju dan akan membayar mahal kalau aku bisa melambungkan hasratnya ke langit terjauh tanpa jeda waktu karena kehabisan keringat dan air mani.

Aku kenal Mami dari teman kuliahku di kota kembang, temanku sering kerja sama Mami. Ia memperkenalkanku pada Mami ketika aku berkata akan liburan di kota gudeg. Siang itu sebelum bertemu raksasa ini. Mami meneleponku menanyakan aku di mana dan ditunggu di hotel dekat jalan pariwisata. Kebetulan aku sedang minum kopi arang samping tugu. Segera kuiya tawarannya dan berakhir di hotel ini.

“Minta tambah lagi? No way. Sekarang juga saya minta uang. Detik ini juga!” Sambil pisau lipat aku tekan ke kulit leher hingga tergores menetes darah hitam dosa-dosanya. Badannya gemetaran berkeringat dingin. Matanya melotot, kedua tangannya mengangkat. Lututnya lemas terkulai mirip tawanan perang saat di giring ke lapangan eksekusi. Ia mengeluarkan dompetnya mengambil beberapa pecahan seratus ribu.

“Ini kurang!” Bentakku setelah menghitung lembar-lembar ratusan ribu. Kuambil dompetnya, menguras paksa semua uang di dompetnya. Kulempar dompet kemukanya. Masih mengarahkan pisau lipat aku berpakaian. Setelah semuanya terpakai juga menggenggam dompet di sela ketiak, aku sambar pakaian pria tua itu dan membuangnya lewat jendela samping kanan kamar hotel. Kamar ini ada di lantai tiga dan jendelanya menghadap jalan pariwisata. Aku lari keluar kamar menuju lift yang tepat berdiri di depan pintu.

“Dasar gongli!” Aum raksasa itu. Aku melihatnya sebagai perwujudan raga Dewa Ogyene yang kalah. Jeritnya semakin melengking tidak kendali saat melihat baju-bajunya aku hamburkan ke jalan raya. Aku tersenyum melihatnya sembari mengacungkan jari tengah saat raksasa berparuh baya mencopotkan kedua matanya ke arahku. Tanduk kemarahannya membesar membuat kepala botaknya semakin sempit. Pintu lift tertutup, tidak sempat disentuh pria telanjang yang tergesa mengejarku. Lift membawaku ke ground floor. Aku merasa puas hari ini. Hanya melayani satu binatang bernafsu, aku dapat uang banyak. Besok pagi aku bisa pulang ke Bandung dan membayar biaya kuliah. Lupa pamit pada Mami.

Ujungberung V, 14 November 2008

Kategori: Cerpen dan Tulisan.