Ketika Hidup

Oleh Sinta Ridwan |

Aku memanggilnya Geni pada kala itu. Dia adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam proses perkembangan hidup aku. Terima kasih untuk semuanya, by the way.

Ketika Hidup Harus Hidup

(Dying is Leaving Sweet Memory)

Halo matahari, akhirnya datang juga. Aku sudah menunggumu selama dua jam. Sengaja aku memilih tempat di pojok sini, karena di sinilah tempat aku bisa merasakan indahnya hidup yang aku jalani. Menemui sahabatku, langit biru. Dan menanti kekasih-kekasihku. Awan putih.

Waktu ternyata selalu trus berputar. Tidak peduli kita sebagai pelakon siap atau tidak menjalani peran kita di alam ini. Begitu juga dengan aku. Aku hampir tidak merasakan perjalanan waktuku. Sampai-sampai sudah April lagi. Bulan depan sudah mau 10 Mei lagi. Tanggal yang selalu membuatku merinding dan berkeringat dingin bila ingin menghadapinya. Waktu di dunia ini sungguh cepat sekali berlalunya.

Apa sajakah yang sudah aku lakukan? Wah, aku mendadak lupa. Tetapi setidaknya apa yang sudah aku lakukan adalah perbuatan yang benar-benar aku inginkan. Bukan paksaan dan bukan juga karena terpaksa. Seperti istilah mati tidak mau hidup pun enggan. Halah. I am not the person who likes that. Aku sih simple,melakukan apa yang aku suka dan mengerjakan hal yang menyenangkan menurut aku sendiri, meskipun orang lain merasa risih pada apa yang aku lakukan. Aku hanya menginginkan di sisa hidupku, aku berguna bagi isi dunia ini, entah kehidupan di atas langit maupun di bawah langit. Setidaknya mereka akan tersenyum dengan kelakuanku. Setidaknya aku menjadi inspirasi untuk orang-orang yang berada dalam tekanan batin atau lahir. Setidaknya mereka dapat berpikir bahwa mereka adalah orang sehat yang beruntung.

Langkah-langkahku di dunia jumlahnya tinggal sedikit lagi dan waktu sedikit itu harus aku gunakan sebagaimana mungkin.  Aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah ketika aku menghilang di dunia ini. Ada kenangan yang tertinggal. Yeah, the sweet memory. Kenangan manis. Aku tidak mau meninggalkan sisa harum tubuhku yang penuh kesedihan bagi orang-orang yang pernah aku singgahi pelabuhan hatinya itu. Orang-orang yang aku cintai.

“Ta.”

Bisikan penuh kelembutan itu membuyarkan terawanganku. Bisikan seorang lelaki. Ia lalu duduk di sampingku. Sambil tersenyum dan menatapku, ia bertanya,

“Kamu lagi mikirin apa, Ta?”

“Hmm, apa ya. Kamu tahu Ni, kenapa cita-cita aku banyak banget? Hehehe, selain jadi pengajar, punya warung kopi, toko buku, perpustakaan. Aku pengen punya anak lima. Tapi kayanya kalau cita-cita yang satu ini, agak susah. Kata dokter …,”

“Sstt …,” jari telunjuknya menempel pada bibirku.

“Kamu percaya sama dokter atau sama Tuhan? Eh, kayaknya kita enggak usah bahas ini lagi deh, Ta. Kurang tepat. Harusnya kamu mikirin manuskrip yang dijadiin objek di tesis kamu,” ujarnya, sambil tersenyum padaku.

Aku hapal. Tatapannya itu.

Tatapan yang tulus memberiku semangat. Semangat menjalani hidup. Baru kali ini aku memiliki seseorang. Seseorang yang sangat aku cintai dan aku mau berbagi hidupku, ikhlas bersama seseorang itu. Beberapa tahun yang lalu aku sama sekali tidak mau ada orang di sampingku, hanya karena alasan aku tidak mau meninggalkannya secara tiba-tiba. Menghilang ditelan bumi.

Ia tarik pundakku. Menempelkan kedua tangannya di wajahku.

Dan menatap dalam-dalam. Lalu bilang,

“Kamu enggak usah berpikir macam-macam ya. Beberapa menit lagi kamu mau sidang. Aku mau melihatmu bersemangat di depan para penguji yang kata kamu kaku dan kolot itu. Aku mau melihat pembuktianmu, setelah satu setengah tahun ini kamu selalu berada dalam tekanan dosen-dosen besar itu. Ingat rencana kita? Wisuda bareng, kamu jadi master aku jadi sarjana. Hahahaha, nah begitu dong. Senyum kamu tuh manis banget kalau lagi tegang begini. Kamu siap-siap ya. Bentar lagi giliran kamu. Ayo, semangat senja hatiku, embun pagimu berdoa dari sini.”

Hmm, aku mengangguk. Menatapnya sambil tersenyum. Aku angkat tubuhku dari tanah merah yang aku duduki sedari subuh di bawah pohon beringin besar, tepatnya di Fakultas Sastra di Jatinangor. Sebelum melangkah aku kecup dahi lelaki muda itu.

“Terima kasih ya Ni, kamu selalu membuatku damai. Walau usia kamu di bawah aku. Tapi kamu tampak lebih dewasa sudut pandangnya. Aku masuk ruangan sidang dulu ya. Kamu juga, harus belajar. Nanti siang kan giliran kamu yang sidang. Nanti aku bakal menemanimu. Doain aku ya Ni …,” kataku sambil membalikkan badan. Jejak langkahku menghapus pikiran-pikiranku tadi, lamunanku, kenanganku akan perjalananku berjuang hidup di Bandung ini. Menghilangkan auraku ketika menerawang kata-kata Mamah 7 tahun lalu, yang menginginkan aku tidak meninggalkan Cirebon, ah, sebentar lagi salah satu cita-cita aku akan terwujud.

Jadi Master of Philology.

Sambil menatap para penguji, sapaku kuawali dengan senyuman dan bisikan, Bismillah…, semoga nikmat anugerah Tuhan tidak hanya sampai detik ini saja. Beri aku kesempatan segunung detik-detik lagi untuk dapat menghidupi sisa hidupku.

Beri aku kekuatan untuk melewati 10 Mei nanti. Tanggal yang memberiku banyak makna tentang hidup ini. Hidup harus hidup.

Jatinangor, 24 April 2009

Kategori: Catatan dan Tulisan.