Tidak Berharap

Oleh Sinta Ridwan |

Nah, kalau ini cerita beneran, hehe, aku beneran jatuh dan ketemu dengan Teh Iis yang menolongku itu. Aku juga melamar jadi teller di bank tersebut. Dibaca ya sampai selesai, hehe.

Tidak Berharap Balasan

Siang kala itu terik sekali seakan mentari hamburkan apinya ke kota udang ini. Membuat keringat mengucur deras dari ujung kepala hingga ujung kaki. Air mineral tidak pernah lepas dari jemariku yang berbalut perban ala mumi yang juga masih mengeluarkan tetesan darah segar. Antara meringis dan terbakar gerah, kucoba letupkan kembali semangat untuk menghadapi wawancara demi perjuangan untuk masa depanku. Kelingking kiri posisi tulangnya masih terkilir, makanya aku harus sesegera mungkin menyelesaikan misi ini. Ingin rasanya waktu dipercepat hingga aku bisa keluar dari situasi yang sangat menyiksa ini. Lari dan terlelap dalam buaian mimpi.

Mobil kijang hitam melaju lambat memasuki gerbang sebuah gedung megah berarsitektur kompeni bertuliskan Bank Mandiri Kantor Cabang Cirebon. Akhirnya sampai juga setelah perjalanan dua jam dari arah Sumedang. Mobil berhenti di parkiran luas yang sesak oleh mobil yang berbaris rapih. Aku turun dari mobil dengan rasa sakit badan penuh luka. Aku tahan semua rasa perih dari lukaku dan memaksakan langkah kakiku keluar mobil.

Oh, perban tanganku tersangkut pintu mobil. Linu sekali rasanya. Apalagi ketika harus menggerakkan posisi lengan yang tertumpu pada kain penggantung lengan ke bahu. Lapisan kayunya sedikit menggeser akibat tersangkut tadi. Perban yang membalut ini atas inisiatif puskesmas Sumedang, katanya agar lukaku tidak terkena debu dan mencegah infeksi.

Kutapak tanah berlapis aspal yang panasnya menggila. Aku paksa seret langkahku demi mencapai pintu masuk gedung. Tanteku menggiring aku laksana kucing terluka yang baru tertabrak truk tronton. Dia takut aku jatuh dan menambah lagi luka. Suasana dalam gedung kontras sekali dengan kondisi di luar yang panas. Semburan AC merebak menyegarkan setiap sudut gedung. Tapi tetap saja badanku berkeringat. Kuseka sekali lagi keringat yang mengucur melewati kuping. Di kuping pun ada luka dan rasanya perih menyayat saat terlalui keringat. Tapi keperihan itu masih kalah dengan luka di bibirku, sepertinya tergigit saat aku terjatuh membentur permukaan aspal.

Sampainya di pintu masuk langsung berbelok menuju tangga setelah bertanya pada bapak security di mana letak tempat wawancara. Dengan tertatih langkahku dipercepat, menaiki anak-anak tangga. Aku nyaris tidak tahan dengan rasa sakit ini juga tatapan pengunjung bank. Sorot mata mereka membuatku merasa jengah dan tidak nyaman. Sekarang aku menjadi gadis pincang penuh luka-luka segar mirip buah yang dibelah dan meneteskan getahnya. Tapi rasa sungkanku masih terkalahkan oleh rasa gugup ketika harus menghadapi wawancara. Ya sekarang ini. Badanku lemah dan didera lelah. Tapi aku harus siap hadapi semuanya setelah anak tangga terakhir ini aku pijak. Kuteguhkan keyakinanku.

Kulirik antrian kursi samping kanan, masih menyisakan beberapa orang. Tepat depan kursi itu ada batas pagar, di belakangnya ada kesibukan para pegawai. Dua orang bapak-bapak menghampiriku dan terkaget melihat keadaanku. Gaya pertanyaannya mirip wartawan yang kehausan mencari berita. Kujawab dengan senyum, yang banyak bicara adalah tanteku. Dia menjawab lengkap dengan gerakan-gerakan rekonstruksi kejadian.

*

Kamis, 6 Maret 2008. Pukul 00.15 WIB di Bandung

Sesampainya di rumahku sendiri hawa dingin malam masih tersisa. Seperti baru keluar dari kulkas yang ada di kutub selatan. Badanku kaku membiru dihajar hujan dan hantaman angin. Kubuka pintu rumah. Semerbak kehangatan menghambur serentak ketika pintu terbuka. Kulihat adikku masih terjaga, sepertinya masih menunggu kedatangan aku. Setelah kumasukkan Sidunya, nama untuk Mio putihku, kulepaskan jaket dan helm lalu diletakan atas meja. Adikku nongol dari balik pintu kamarnya.

“Teh, malem amat pulangnya? Tadi ada telepon dari Bank Mandiri yang di Cirebon, katanya Teteh besok jam 10 mau di wawancara. Emang teteh ngelamar ke sana tah?”

“Oya? Alhamdulillah, jam berapa nelponnya?”

“Sore, Teteh mau ke sana? Naik apa? Jangan naik motor lah, naik bus saja.”

“Emm, lihat nanti saja, badannya lagi enggak enak nih”

“Tapi ini kesempatan loh teh, jadi pegawai bank gitu loh.”

“Iya, entar mau salat dulu, sekalian mau mikir ke sana naik apa. Sudah sana kamu tidur, besok kan kuliah pagi,” jawabku sambil berjalan ke kamar mandi. Bersihkan badan dan ambil wudhu.

Sekarang pukul 1 malam, aku harus segera tidur. Sebelum terlelap akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Cirebon menggunakan motor. Selain mengirit ongkos aku juga bisa menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di Cirebon. Perjalanan Bandung-Cirebon memakan waktu 4 jam. Aku harus sampai Cirebon jam 9 pagi berarti aku harus pergi jam 5 subuh. Sementara jadwal interview jam 10 siang. Lumayan ada sisa waktu satu jam buat numpang mandi di rumah tante dan istirahat sebentar. Kulihat adikku masih di depan komputer. Aku hampiri dan jelaskan niatku. Awalnya dia tidak setuju malah mau mengantar. Tapi setelah kucoba pertahankan alibiku dia akhirnya no comment. Hanya berpesan, “Hati-hati saja Teh, jangan ngebut-ngebut.”

Pukul 04.00 WIB

Aku terbangun, untung saja tidak kebablasan tidurnya. Dengan semangat aku bangun lalu salat subuh. Kutegaskan rencanaku sekarang adalah ke Cirebon naik motor dan aku harus berangkat jam 5. Tapi entah kenapa hati aku kok deg-degan banget. Ah, Bismilah saja, yang penting aku harus bisa wawancara dengan pihak Bank Mandiri. Setelah persiapanku beres tepat jam 5 aku berangkat.

Sebelumnya kulihat tatapan adik aku yang penuh dengan khawatir dan tetap memaksa untuk mengantarkan. Aku bilang, “Tenang aku berani kok, aku pasti sampai Cirebon tepat waktu. Kamu tidak perlu khawatir, minta doanya saja.” Aku pun berangkat naik Sidunya, Mio putih berplat E. Pakai jaket rompi hijau di-double pakai jaket bulu angsa warna putih, sarung tangan putih, celana panjang hitam, dan sepatu ceper tipis. Khas perempuan malas, dan tanpa kaos kaki. Helm hitam, dan syal leher juga menutupi sebagian wajahku. Tidak lupa mp3 player Samsung warna putih. Kubenamkan earphone dalam kuping, kutekan volume ke angka maksimal. Biar tambah semangat, pikirku.

Aku melintasi Jatinangor dengan kecepatan sedang. Rasanya semakin tidak sabar untuk wawancara itu. O, iya, hari ini aku sengaja bolos kerja setelah semalam aku menghubungi rekan kerjaku agar dapat menggantikan posisi aku dan bilang jangan beritahu atasan kalau aku mau wawancara di Cirebon.

Mengendalikan motor mio, mengarungi jalan-jalan berbelok tajam dan jurang terjal membuatku semakin bersemangat. Senyumanku masih menempel di bibir kaku yang terkena serpihan sisa embun pagi. Senyum ekspresi tidak sabar untuk sampai di Cirebon. Ditemani irama hentakan dari lagu-lagunya Nightwish, Edenbridge, Burgerkill, Disinfected, Forgotten, Five for Fighting, Theater of Tragedy, dan Within Temptation. Kidung mereka berjejal sesak di rongga telinga makin menambah energiku untuk mengendalikan jalanan ini.

Pukul 07.00 WIB

Pagi yang cerah ketika aku melewati Kota Sumedang. Aku tidak pedulikan perutku yang mulai keroncongan karena tidak sempat sarapan. Setelah Sumedang tiba-tiba banyak sekali bayangan buruk yang terlintas. Entah tabrakan dengan truk lalu motorku terlempar ke jurang, atau motorku terserat angkot. Ah, ada-ada saja pikiranku. Lalu mulaiku lafalkan doa-doa memohon keselamatan mencoba tenangkan hatiku dan menepiskan bayangan-bayangan itu. Alunan lagu-lagu menghentak masih tetap mengiangkan energinya ketelingaku.

Memasuki kawasan Nyalindung jalanan di dominasi oleh turunan tajam dan kondisi jalan yang bergelombang dan penuh lubang yang berserakan. Lagunya Nightwish “Dark chest of wonders (once)” mengalun merambati telinga. Setelah melewati salah satu belokan terjal di Nyalindung, aku melihat di depan ada 3 buah truk yang berjalan lambat menuruni turunan tajam. Ah, lama sekali rombongan truk ini melaju. Aku coba menyalip ketiganya. Sama sekali tidak terpikir bahwa di depan sana ada belokan yang tidak kalah tajamnya.

Truk pertama aku salip, truk kedua aku salip juga. Kecepatan motorku ditambah agar bisa menyalip truk yang terakhir. Kondisi jalan banyak lubang dan bergelombang. Yang terakhir adalah mobil tronton yang besarnya dua kali lipat dari kedua truk sebelumnya. Kuputar gas dan berusaha untuk menyalip lagi. Mengambil arah dari kanan jalan mencoba melewati truk tronton yang terengah berusaha menahan laju badan bongsornya melewati turunan tajam.

Posisi motorku masih di sebelah kanan mobil tronton dengan kecepatan tinggi. Akibat jalan yang bergelombang laju motorku berguncang keras. Tiba-tiba helm yang kukenakan posisinya melorot menghalangi pandanganku. Konsentrasiku buyar. Tangan kananku sibuk membetulkan posisi helm. Begitu tersadar di depanku sebuah lubang besar menganga. Aku terkejut, dan secara reflek mencoba menghentikan laju ban kecil Sidunya dengan tangan satu.

Karena tangan kananku masih sibuk membetulkan posisi helm maka otomatis tangan kiriku menekan handle rem depan secara mendadak. Ban depan motorku berhenti berputar namun kondisi jalan yang berpasir membuat cengkraman ban menjadi tidak maksimal. Ban depan motorku terpeleset lalu menghajar lubang besar itu. Laju motorku limbung hingga akhirnya terpeleset. Motorku terpelanting jatuh dan menyeret  tubuhku hingga 3 meter.

Tubuhku terlempar tepat ke depan truk tronton yang sedang melaju turun perlahan.

Truk tronton yang berniat aku salip. Kejadiannya begitu cepat seperti kilatan cahaya. Sesaat mataku masih sempat melihat ekspresi orang-orang yang kaget mendengar suara keras dari motor yang terhempas ke aspal. Telingaku hanya mendengar suara lengkingan vokalisnya Nightwish, tidak mampu mendengar jeritan ibu-ibu di pinggir jalan.

Perih menyergap ketika helm hitam itu terlempar lepas dari kepalaku. kurasakan ada cairan hangat mengalir melewati lekuk wajahku. Darah. Posisi tubuhku masih telungkup di tengah jalan. Sekuat tenaga aku berusaha bangkit  dengan telapak tanganku yang kurasakan perih dan ngilu. Kakiku sakit tidak tertahan, kucoba lagi untuk berdiri. Rasanya ada beberapa persendian tulang di lengan yang patah. Aku jatuh telungkup lagi ke jalan aspal.

Saat tengadah ke atas aku melihat truk tronton itu. Ah, truk itu masih berjalan perlahan ke arahku. Bannya yang besar berdecit-decit berusaha menahan laju di turunan tajam.

Astagfirullah, aku pejamkan mata dan berkata Allahu Akbar aku pasrah pada Mu, sambil terus berusaha keras untuk bisa lari dengan memangku tanganku, tapi aku terjatuh lagi. Alam bawah sadarku langsung melafalkan syahadat. Napasku tertahan beberapa detik. Kilatan cahaya dan udara terasa sesak. Gelap. Aku pingsan. Sementara truk itu masih melaju bersiap meremukan tulang-belulang tubuhku.

Sekitar satu menit aku tidak sadarkan diri. Kuterbangun saat seorang ibu menjerit, jeritannya mengalahkan vokalis Nightwish dan lengkingan ban yang dipaksa untuk di rem. Dalam kalut dan kondisi setengah sadar kulirik truk itu. Bannya berdecit hebat menggesek aspal berpasir lalu berhenti tepat di depan tubuhku. Nyaris meremukan tubuhku.

Posisiku ada di kolong truk. Kulihat sepasang kaki turun dari atas truk, menarik paksa tubuhku keluar dari kolong truk. Aku bernapas lega berucapkan lafal ucapan syukur yang jarang aku lontarkan. Orang-orang di sekitar tempat kejadian mengangkat aku setelah aku keluar dari truk. Tasku, dia penyelamatku. Kalau aku tidak bawa tas tebal isi pakaian dan tidak memakai jaket dua rangkap tulang-tulangku pasti remuk saat terlempar dan terhempas keras tadi.

Empat orang lelaki mengangkatku ke arah warung pinggir jalan. Ditaruhnya aku di kursi bambu panjang. Sepertinya kursi ini sudah menampung banyak korban, aku merasakan aura yang berbeda. Orang-orang mulai berdatangan dan mengerumuni. Semua tidak menyangka kalau aku ini perempuan. Disangkanya laki-laki. Aku ditanya mau kemana, kenapa sendirian, dan yang lainnya. Aku menelan banyak darah dan tersedak saat aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Di buka, Neng, sarung tangannya, cing atuh Pa pang mukakeun,” kata seorang nenek tua kepada bapak yang ada di depanku. Lalu dia melepaskan sarung tangan putihku yang sudah tidak layak disebut sarung tangan warna putih. Ada lubang sobek menganga disana. Warna putihnya kini kusam merah oleh darah. Saat dilepaskan beberapa kulit telapak tanganku ikut terlepas dari daging ikut menempel di sarung tangan. Aku menjerit kesakitan, tapi lebih perih saat mulutku menganga ada luka di bibirku.

Aku menangis tersedu karena panik, tapi nenek itu menenangkanku. Dia mencoba memberiku minum. Aku tersedak, dan muntah darah. Semua orang terlihat khawatir. Lalu ada yang bercerita, banyak kejadian kecelakaan di belokan itu sebelumnya, bahkan ada banyak juga yang tewas. Langsung saja kepala sang pencerita dipukul pakai gelas sama nenek. Maksudnya jangan sampai aku makin panik dan ketakutan.

Setelah sarung tangan terlepas, nenek menjerit lihat jemariku. Ada dua jari yang tidak lazim posisinya. Aku pun sempat melirik dan oh sepertinya patah. Kurasakan pergeseran sendi-sendi yang mencoba merajut kembali serat daging yang ternganga. Tanganku nyeri sekali, mulutku penuh darah, kaki sakit sekali. Aku pasrah dan bingung hingga menggigil. Orang-orang makin banyak berkumpul dan menanyai aku satu persatu. Aku tidak bisa bicara sedikit pun. Kepalaku pusing rasanya ingin sekali mengeluarkan semua isinya.

Datang seorang perempuan berteriak-teriak padaku. Aku berusaha lepaskan handsfree yang dari tadi belum aku lepaskan agar aku bisa mendengarkan dia. Lalu dia menamparku, katanya biar aku tidak pingsan. Urgh, sakit, aku kan sedang terluka, perempuan aneh. Dia bertanya maukah aku ke rumahnya saja biar tidak jadi tontonan orang-orang sini yang tidak tahu mau melakukan apa padaku. Aku menurut, dengan tertatih dan sedikit dibantu beberapa orang aku bisa sampai ke rumah perempuan itu. Sekitar dua puluh lima meter dari tempat kejadian. Aku langsung dibaringkan di tempat tidur, dibukanya jaket satu persatu, dan diselimuti setelah sebelumnya aku dipaksa minum obat penahan rasa sakit dan air teh hangat. Aku menggigil. Aku lemas. Aku takut. Masih terngiang jeritan ibu-ibu dan jeritan vokalisnya Nightwish. Menggema bagai gelombang berfrekuensi tajam meruncing dan membesar nyaring seperti pekikan kelelawar menyambut senja.

Aku  ditidurkan di kasur, luka-luka dirawat menggunakan kain basah air hangat. Noda darah ditubuhku dibersihkan. Aku melihat jelas mimik perempuan itu saat melihat luka-luka ini. Kami saling meringis. Wajah kami penuh ekspresi ngeri dan jijik, aku semakin meringis, semakin menggigil, lalu aku menangis pasrah. Perempuan itu bilang sabar, tanganku akan langsung diurut. Dia menyuruh adiknya untuk memanggilkan tukang urut. Ternyata semua tukang urut sudah pergi ke sawah.

Lalu aku meminta ijin untuk menelepon adikku, dengan meminjam HP milik perempuan itu, aku tidak punya HP karena sudah aku jual. Aku lupa untuk apa uangnya. Adikku mengangkatnya, sambil terbata aku ceritakan semuanya ke adikku. Terdengar suaranya begitu khawatir, aku menyuruhnya menghubungi salah satu tante di Cirebon.

Oleh perempuan itu aku dipaksa untuk segera ke puskesmas paling dekat, dengan naik angkot, bercelana super pendek warna merah pinjaman perempuan itu. Aku melihat jelas orang-orang pada menyingkir, berbisik-bisik, melihat ngeri ke arah lukaku, dan menjauh. Aku dirangkul perempuan itu, seolah tahu apa yang aku rasakan saat itu. Aku langsung dibawa ke UGD, yang tidak pantas disebut ruang UGD karena perlengkapan di sini sangat tidak memadai untuk melakukan pertolongan pertama. Lalu aku didatangi oleh perawat laki-laki, diobati dengan obat-obatan sederhana, tapi tidak dengan tanganku. Dia tidak berani menyentuhnya. Langsung diperban dan memperbolehkan aku pulang.

Pukul 10.00 WIB

Adikku bilang saat menelepon balik, tadi dia sudah menghubungi tante aku yang ada di Cirebon, dia juga akan menyusul ke Sumedang, katanya. Aku tunggu saja sampai ada yang menjemput. Sambil menunggu tanteku, aku berdiam diri. Duduk bersandar pada tembok di samping perempuan yang asyik menyetrika baju. Aku pandangi isi rumahnya sambil mendengar perempuan itu bercerita tentang hidupnya.

*

Perempuan itu namanya Iis. Umurnya 30 tahun. Saat kuperhatikan parasnya cantik sekali. Tante Iis bercerai dengan suaminya dua tahun yang lalu, mereka memiliki anak. Seorang gadis berusia 6 tahun. Pasti banyak yang mencoba menggoda janda muda ini, pikirku. Suaranya penuh kelembutan, orangnya ramah sekali dan berhati lembut.

Dia kaget saat tahu ada perempuan jatuh dari motor depan rumah. Dia lari ke arah tempat aku terbaring di samping warung dan segera merawatku. Saat aku bertanya kenapa mau menolongku. Dia menjawab dengan sangat polos. Saya pakai motor juga. Suatu saat walau tidak mengharapkan untuk jatuh dari motor, tapi setidaknya ada yang mau menolong saya. Sama seperti apa yang saya lakukan pada kamu. Saya suka bawa motor sendirian kemana-mana. Walau balasannya nanti tidak langsung dari tangan kamu, saya berharap Allah yang menolong saya, lewat orang lain. Kalau suatu saat saya celaka. Huff aku merinding mendengarnya.

Lalu di depan rumah terdengar suara mobil berhenti. Ternyata tanteku yang sengaja datang dari Cirebon. Di waktu yang bersamaan, adik aku juga sampai dari Bandung menggunakan motornya. Tanteku berniat memberikan imbalan karena telah menyelamatkan dan merawatku. Perempuan itu menolak dengan halus. Katanya dia iklas menolong dan tidak mau dibalas dengan uang. Suatu saat Tuhan yang akan membalas kebaikan masing-masing, begitu katanya. Aku tersenyum padanya sebelum pergi meninggalkannya. Adikku balik lagi ke Bandung setelah yakin semuanya sudah beres. Akhirnya aku sampai di Cirebon 2 jam kemudian dan langsung bersiap-siap menghadapi wawancara dengan Bank Mandiri, ganti pakaian di rumah tanteku.

Pukul 14.35 WIB

“Mba Sinta, dipanggil Bapak, disuruh ke dalam”, ujar pegawai memberitahu giliranku tiba. Dalam ruangan bercerita kisah tadi pagi kepada pewawancara.

“Kamu benar-benar pemberani yah, ini pertanyaan terakhir, seandainya Sinta lolos ke tahap selanjutnya, dan berhasil menjadi pegawai di sini, apa yang akan Sinta lakukan kali pertama?” Tanya pewawancara setelah mendengarkan kejadian yang sudah aku alami. Dengan cepat aku menjawab,

“Aku ingin mengucap syukur kepada Ilahi sudah melindungi aku.  Mengucapkan terima kasih yang paling dalam kepada Teh Iis yang sudah menolong dan merawatku ketika kecelakaan. Teh Iis yang tidak mengharapkan balasan dariku, tanpa rasa curiga saat menolong dan ikhlas membantu sesama. Membayari obat-obatan selama di puskesmas dan ongkos naik angkot. Saya tahu keadaannya hanya cukup makan sehari-sehari bersama anaknya dan adiknya, tanpa masukan dari suaminya yang sudah meninggalkannya. Dia begitu ikhlas menolongku,” jawabku sambil menerawang ingat situasi di Sumedang.

“Bagus, tapi kalau kamu tidak lolos berarti tidak akan mengucapkan terima kasih buat Teh Iis itu, dong?” Ledek pewawancara itu.

“Hehehe, ya enggak lah Pak. Saya pasti ngucapin terima kasih ke Teh Iis juga. Bedanya, kalau saya lolos, saya mau gaji pertama saya dari bank ini setengahnya buat bantu biaya sekolah anaknya. Nah, kalau enggak lolos, saya cuma bawa jeruk sama apel sekeranjang, hehehe, yang penting niatnya kan Pak,” ujarku.

“Ah, kamu bisa saja.” Kami pun tertawa bersama. Di otakku masih terbayang sosok Teh Iis yang telah menamparku. Terima kasih Teh, seandainya tidak ada Teteh, aku pasti tidak akan ada di sini. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu, amin. Aku pun tersenyum lebar pada pewawancara. Lukaku seolah tidak terasa lagi. Semuanya terasa ikhlas dan aku dapat pelajaran yang begitu berharga hari ini.

Dipati Ukur, 13 Maret 2008

Kategori: Cerpen dan Tulisan.