Nonton Reog

Oleh Sinta Ridwan |

 Foto-foto di webzine ini adalah barang koleksi Kiosque Godong Semanggen. Kalau soal ceritanya, enggak mau dibahas ah, malu, haha. Itu salah satu alasan kenapa beberapa bulan kemudiannya aku ambil jurusan kuliah yang jomplang banget dengan sebelumnya, meski sama-sama di ranah sastra.

Nonton Reog di CCL

Aku mendapat pesan singkat dari Kang Iman saat mentari sedang hangat-hangatnya. Ia mengundangku untuk datang dan menyaksikan pertunjukan kesenian reog di CCL. Sebuah komunitas seni yang diurusnya. Berada di sekitar tempat tinggalnya sendiri beserta keluarga besarnya semacam kompleks tradisional. Untuk masuk ke wilayah CCL harus melewati gang sempit persis sebelah Terminal Ledeng. Biasa mengadakan berbagai kegiatan kesenian. Aneka rupanya, mulai dari pertunjukan teater, pembacaan puisi, pameran lukisan hingga pertunjukan seni tradisional. Tanpa lupa melibatkan masyarakat di sekitarnya.

Menerima undangan dari Kang Iman, membuatku antusias dan penasaran ingin melihatnya. Sampai-sampai aku harus merubah semua jadwal untuk Sabtu sore demi melihat pertunjukan reog di CCL. Terus saja terlintas di bayanganku, kalau nanti aku akan melihat reog yang selama ini aku tahu, semacam topeng raksasa penuh bulu-bulu, berwajah sangat dan bisa ditumpangi topengnya. Semacam Reog Ponorogo, yang sedang ramai diklaim Malaysia dalam iklan pariwisatanya.

Aku datang tepat jam tujuh malam. Tampak antrian berdesakan menyusuri gang sempit menuju CCL. Dengan usaha yang tidak sedikit, aku mencari tempat parkir dan berhasil keluar dari gang. Ternyata tempat duduk ala ampiteater sudah penuh oleh penonton yang berjubel, antara warga setempat dan yang dari luar. Aku segera meringsek masuk untuk bisa duduk paling depan. Agar puas dan leluasa menontonnya.

Pembawa acara membuka dengan menyebutkan satu persatu pendukung kegiatan. Disambut riuh tepuk tangan penonton yang duduk berjajar rapih sebagian, sebagiannya lagi berdiri di barisan paling belakang. Saking penuhnya tempat ini. Tetiba, hening menyelimuti. Tidak ada suara satu pun yang berani memunculkan nadanya. Panggung pun gelap, hanya ada bayangan yang hilir mudik mempersiapkan polesan terakhir di bagian artistiknya.

Goong! Kami dikagetkan suara kencang goong yang dipukul. Disambut instrumen gamelan sebagai pembuka. Tampak lima ibu menaiki panggung lengkap dengan kebaya Sunda, kepala diikat oleh ujung-ujung selendang yang menjulur dari balik bahu. Ibu-ibu yang cantik. Untuk bawahan mereka memakai samping atau sinjang semacam kain batik panjang yang dilipat-lipat hingga menyerupai rok pendek.

Kaki mereka tak beralas, telanjang di atas panggung. Tangan-tangan membawa kendang besar dan kecil yang dipangku. Dalam bahasa Sunda alat musik kendang itu disebutnya dogdog. Kelima ibu-ibu berjoget riang di atas panggung. Lalu berbaris rapih dan menyapa penontonnya memakai bahasa Sunda.

Sampurasuuuuuun,” sapa salah satu ibu.

Rampeeeeeeessss,” jawab para penonton serentak.

Lalu para ibu asyik mengobrol menggunakan bahasa Sunda satu sama lainnya. Sedikit-sedikit aku paham beberapa katanya. Para ibu berdialog mengangkat berbagai macam tema. Mulai dari tema politik hingga gosip-gosip selebritis. Banyak mengeluarkan mimik-mimik yang membuat penonton tertawa. Sementara aku sudah mulai tidak sabar ingin segera menyaksikan pertunjukan reog.

Kok, belum main juga ya,” tanyaku bingung dalam hati.

Reog yang kutunggu tak muncul jua. Dalam otakku selalu membayangkan reog yang akan dipertunjukkan akan sama dengan salah satu kesenian Ponorogo sejak berangkat tadi dari rumah. Bahkan sejak menerima SMS dari Kang Iman. Ya, reognya tradisi Sunda mirip dengan reognya Ponorogo. Mungkin hanya berbeda di tampilan topengnya atau bulu-bulu di sekitar atasnya.

Aku belum pernah melihat kesenian reog secara langsung. Itu kenapa aku ingin sekali menyaksikannya dan datang ke sini.

Dua jam pun berlalu.

Pertunjukan kelima ibu yang sedari tadi di atas panggung diakhir dengan tarian khas Sunda.

Hmm, ini sudah? Kok kepala singanya tidak muncul juga ya.

Anak-anak kecil yang dicambuk-cambuk juga tidak ada. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Seperti kata SMS Kang Iman kalau acara mulai jam tujuh dan selesai jam sembilan.

Ibu-Ibu yang tadi menari-nari pun menghilang dari atas panggung. Dan penonton pun bubar. Meninggalkan tempat acara. Suasana area pertunjukan perlahan beranjak sepi, keramaian berpindah ke jalur gang menuju keluar berdesakan antara manusia dan kendaraan roda dua.

Aku tidak mau beranjak dari tempat duduk yang kupilih. Masih setia menunggu kepala singa muncul dari balik panggung. Kepala singa yang menjadi simbol dari kesenian Reog Ponorogo yang diiringi barisan pasukan berbaju hitam yang menghentak-hentakkan cemeti di sepanjang kakinya melangkah.

Semua telah pergi. Tiada yang tertinggal lagi. Dan meninggalkan bingung di diri. Ya, aku masih saja bengong. Tidak mengerti. Akhirnya, kuputuskan pulang. Meski membawa rasa yang tidak karuan. Katanya malam ini pertunjukan reog, atau aku salah jadwal ya, tidak ada satu topeng singa pun yang muncul.

Sesampainya di rumah, aku bertemu Mamah. Kebetulan ia sedang ada di Bandung untuk menjengukku dan adikku langsung dari Cirebon.

“Dari mana?” Tanya Mamah saat membukakan pintu.

“Lihat reog, Mah.” Kujawab pelan sambil memasukkan motor ke dalam ruang tamu.

“Tapi, aneh pisan, Mah,” lanjut perkataanku.

“Aneh kunaon?” Tanya Mamah penasaran.

“Reognya tadi enggak ada kepala singa sama debus-debusan begitu. Itu lho kayak reog di Ponorogo,” jawabku.

“Tadi hanya ada ibu-ibu menari sana-sini, mengobrol, menari lagi, ketawa-ketiwi, terus menyanyi lagi lalu joget-joget riang lagi sambil tatabuhan dogdog,” kataku sambil peragakan gerakan tarian ibu-ibu yang hanya kuingat gerakannya saja.

Mamahku malah tertawa. Keras sekali. Lalu bertanya, “Terus kamu pikir kesenian reog Sunda itu sama seperti reog Ponorogo?”

“Iya, kenapa memangnya, Mah?” Tanyaku bingung.

“Kenapa tidak ada singa dan debusnya Mah? ‘Kan namanya reog?” Kataku.

“Terus kenapa Mamah malah tertawa?” Tanyaku lagi, aneh.

Mamah malah semakin keras tertawanya. Tidak bisa menahan, bahkan sampai memegang perutnya sendiri, “Hahaha…”.

“Dasar oon pisan…,” Mamah mengomentari keherananku yang berselimut.

“Pertunjukkan Reog Sunda ya tokoh utamanya ibu-ibu itu,” singkatnya.

“Acaranya mirip sasagon tapi mereka sambil membawa alat musik sendiri, ya tatabuhan itu,” jelasnya lagi.

“Lha? Maksudnya apa, Mah?” Kataku makin bingung.

“Maksudnya begini.” Mamah tarik napas dalam.

“Makanya jadi anak muda itu sering-sering lah nonton acara kesenian traditional, baik langsung atau siaran di televisi daerah. Suka banyak acaranya.” Ledeknya.

“Makanya sering-sering lihat acara budaya sendiri. Gaul dong sama budaya sendiri, kamu itu kan ada darah Sundanya, masa tidak tahu budaya sendiri,” lanjutnya lagi sambil pergi masuk kamarnya. Masih dilanjutkan dengan tawa meledek.

“Waduh.”

Malu’é aku,” bisikku pada diri sendiri.

Ternyata kesenian Reog Sunda berbeda toh sama Reog Ponorogo, tak kira téh sama baé, pantesan bli ana endas singa’é hehehe. Ana-ana baé.” Lanjutku sambil senyum-senyum sendiri sambil berselanjar di internet mencari tahu soal Reog Sunda di komputer yang bertengger di atas meja kerja di lantai dua.

Ujungberung V, 26 Februari 2008

Kategori: Cerpen dan Tulisan.